Devan melirik jam rolexnya yang menunjukan hampir waktu pulang kerja. Ia mulai resah karena Jon yang merangkap jadi supir dan bodyguardnya belum kembali juga. Lelaki itu tidak tahu apa maksud Steve menyuruh pengawal pribadinya itu untuk pergi. Devan kemudian mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi seseorang.
“Aku sudah datang,” ujar Steve yang membuat Devan mengurungkan niatnya.
“Kamu suruh Jon ke mana sih?” tanya Devan dengan heran.
Steve tampak menggeleng sambil duduk di sofa. Setelah itu ia menatap Devan dan menjawabnya dengan santai,
"Jon aku suruh ke kampus Keyza untuk meminta nomor ponsel dan alamat gadis itu."
“Kenapa kamu perintahkan Jon yang ke sana?” tanya Devan dengan heran.
“Kamu kan menyuruh aku untuk meeting di kantor cabang,” sahut Steve setelah menghela nafas panjang.
Devan lupa jika hari ini Keyza diwisuda, kalau saja ingat pasti tidak menyuruh Steve untuk menggantikannya meeting. Entah mengapa ia tidak yakin Jika Jon bisa menjalankan tugas itu dengan baik. Tidak lama kemudian terdengar pintu diketuk.
Tok …! Tok …!
“Masuk!” seru Devan.
Pintu ruang kerja Devan terbuka dan Jon masuk menghadap untuk memberikan laporan atas tugas yang dikerjakannya hari ini.
“Bagaimana Jon dapat?” tanya Steve dengan santai.
“Beres Pak, tetapi ...," sahut lelaki itu yang terlihat ragu untuk melanjutkan.
“Cepet katakan Jon!” seru Devan yang sudah tidak sabar ingin mengetahui di mana Keyza tinggal.
"Setelah saya cek, gadis itu ternyata memberikan alamat palsu Tuan. Nomor ponselnya juga salah," lapor Jon yang membuat Devan dan Steve tampak tercengang.
“Kamu yakin tidak salah alamat?” tanya Steve kepada Jon.
“Bener Pak, alamatnya sama kok dengan yang tertera di papan nama sekolah itu,” sahut Jon dengan serius.
"Sekolah?!" tanya Steve dan Devan bersamaan dengan spontan.
Sambil mengangguk Jon menjawab, "Benar Tuan, sedangkan nomor ponselnya salah sambung," jelas Jon kemudian.
Steve tampak menepuk jidatnya kemudian ia menghela nafas panjang dan berkata, “Aku yakin sekali pasti gadis itu sengaja membohongi kita.”
“Kamu sih, pakai nyuruh Jon segala. Dia itu cuma jago beladiri.” Devan menyalahkan Steve yang tidak turun tangan langsung menemui Keyza.
“Terus kamu pikir aku amoeba yang bisa membelah diri dan berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan?” tanya Steve yang tidak mau di salahkan begitu saja.
Devan tidak dapat menjawab lagi, tetapi tetap saja ia tidak terima dikerjai oleh Keyza. Dengan kesal kemudian lelaki itu pun berseru, “Cepat kamu pergi ke kampus itu!"
“Buat apa ke sana? Ini sudah jam empat sore pasti sudah tutup,” tanya Steve sambil melirik arlojinya.
“Besok saya tugaskan kamu pergi ke sana dan cari tahu info apa pun yang bisa menemukan di mana gadis itu berada!” seru Devan kepada Steve dengan serius.
“Kamu lupa besok kita harus pergi ke Jepang? Sudah lah Dev, kita tidak punya waktu buat mengurus hal-hal ga penting seperti ini,” ujar Steve mengingatkan
"Selamat sore semua," ucap seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja Devan.
Semua mata tampak terpesona akan kecantikan wanita itu yang tersenyum manis ke arah Devan. Jon yang merasa tidak punya kepentingan lagi langsung undur diri.
"Hai Dev," sapa Mona sambil melangkah mendekat ke arah meja kerja Devan.
"Hai," balas Devan dengan menarik seulas senyum
Merasa dirinya tidak dianggap, Steve segera menyindir, "Oh ... jadi cuma Devan saja yang disapa."
Mona segera menoleh ke arah Steve dengan tertawa kecil, "Hi ... hi ... ada kamu Steve. Benar loh aku tidak lihat, sory ya," ucapnya kemudian.
Steve sambil menaikan satu alisnya dan meledek, "ketutupan cinta ya?"
Mona tampak mengernyitkan dahinya dengan tersipu malu dan bertanya "Kamu bicara apa sih Steve?"
"Jangan dengarkan dia Mon! Kamu mau minum apa?" seru Devan sambil bertanya.
"Tidak usah repot-repot Dev! Aku datang ke sini cuma mau bilang. Besok berangkat bareng ya! Kita ketemuan di bandara," ajak Mona yang ingin terbang ke Jepang bersama Devan.
Devan yang tidak mungkin menolak permintaan Mona segera menjawab, "Oke."
"Mona, malam ini kamu ada acara tidak?" tanya Steve dengan serius.
Mona tampak menggeleng dan menjawab, "Tidak ada."
"Devan tadi bilang mau ajak kamu Dinner!" ujar Steve sambil pura-pura tidak melihat ke arah atasannya itu.
Seketika mata Mona berbinar mendengar itu dan bertanya, "Benarkah Dev? Boleh kalau begitu." Ia menerima ajakan itu dengan senang hati.
Devan menatap Steve dengan tajam, ia tidak mungkin mengelak. Pasti itu akan membuat Mona kecewa. Dengan santai lelaki itu pun menjawab, "Iya, Steve yang traktir karena hari ini ia dapat teman kencan baru."
Steve tampak terbelalak mendengar hal itu. Ia tidak menyangka jika Devan bisa membalikan fakta. Lelaki itu tampak memicingkan matanya ke arah Devan yang sedang menahan tawa.
"Oke, ayo kita berangkat sekarang. Nanti keburu macet loh!" ajak Mona yang tampak tersenyum senang.
Kemudian mereka segera berlalu ke luar dari ruang kerja Devan.
"Awas kamu! Jangan pernah menyuruhku untuk mencari Keyza lagi!" bisik Steve ketika mereka jalan beriringan menuju lift.
"Santai kita bicarakan nanti setelah aku pulang dari Jepang," balas Devan dengan pelan agar Mona tidak mendengarnya.
"Tidak mau, pokoknya ganti dulu uang aku buat beli bunga untuk Keyza tadi!" tolak Steve sambil mendesak.
"Tidak usah bawel, nanti makan malam aku yang bayar. Makanya jangan suka ngerjain orang, kena batunya kan," sahut Devan dengan tersenyum girang.
Devan dan Steve segera menghentikan percakapan itu ketika sampai di lift khusus. Setelah sampai di parkiran, mereka segera menuju ke mobil masing-masing.
"Mona kamu bareng saja sama Devan!"saran Steve yang membuat Mona kembali senang.
"Oke," sahut Mona dengan girangnya. Kemudian wanita itu menyuruh supirnya untuk pulang.
[Awas kau Steve,] ancam Devan sambil menatap wakilnya itu dari kejauhan. "Kamu sekalian satu mobil saja sama kita Steve!" ajaknya setengah berteriak.
"Oh No, kalau pulang nanti rumah kita beda arah Bro, kalau kamu dan Mona kan satu jalur," tolak Steve yang terdengar sangat masuk akal.
"Ya sudah kita bertemu di tempat biasa ya!" seru Mona yang dijawab anggukan olah Steve.
Tidak lama kemudian mobil yang membawa Devan dan Mona meluncur meninggalkan kantor itu dan kendaraan Steve menyusul di belakangnya.
"Ada yang pasti di depan mata, malah cari yang entah siapa. Bodoh kamu Dev kalau tidak mau sama Mona," gerutu Steve sambil mengendarai. Setelah terjebak kemacetan di jalan raya, lelaki itu membelokan mobilnya berlawanan arah dengan kendaraan Devan.
"Sorry Dev, he ... he ...." ucap Steve yang terus menuju pulang ke rumahnya.
Ketika menjelang magrib Steve baru sampai di kediamannya. Sambil berdendang lagu alamat palsu dengan santai ia masuk ke rumah. Aktivitas seharian di kantor membuatnya ingin cepat-cepat mandi dan merebahkan diri di kasur yang empuk
"Di mana ... di mana ....." Steve masih saja menyanyikan lagu itu.
Baru saja Steve ingin menghempaskan tubuhnya di atas kasur sehabis mandi, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan malas ia menerima panggilan masuk yang ternyata dari Devan.
[Di mana kamu, kenapa belum datang?] tanya Devan dengan geram.
[Ban mobilku bocor, Sorry Bro sepertinya aku langsung pulang. Salam buat Mona ya.] Steve memberikan alasan yang masuk akal agar Devan tidak marah kepadanya.
[Kamu kira aku percaya begitu saja?"] sahut Devan yang mulai curiga.
[Pernah aku bohong kepadamu?] Steve balik bertanya.
[Oke, awas saja kalau kamu kalau berani ngerjain aku,] ancam Devan dengan serius dan panggilan itu pun terputus.
"Rasain dapat alamat palsu," ujar Steve sambil mematikan ponsel dan melemparnya ke atas tempat tidur. Bersamaan dengan itu ia menghempaskan diri di kasur yang empuk.
***
Malam mulai merambat jauh ketika Devan mengantar Mona pulang. Gadis itu terlihat sangat senang sekali bisa dinner dengan Devan malam ini.
"Kamu yakin tidak mau mampir?" tanya Mona ketika mobil Devan berhenti di depan rumahnya.
"Lain kali ya, aku mau istirahat untuk persiapan besok ke jepang," tolak Devan dengan halus.
"Oke, thanks untuk malam ini," ucap Mona sambil turun dari mobil Devan.
Devan membalas dengan seulas senyum yang menawan. Sehingga membuat jantung Mona berdebar menatapnya. Gadis itu terus memandangi mobil Devan yang kian menjauh dan sampai hilang oleh jarak.
"Jon, seperti apa raut wajah Keyza?" tanya Devan ingin tahu.
"Mbak Keyza sangat cantik, Tuan," jawab Jon menjelaskan.
"Cantikan mana sama Mona?" tanya Devan penasaran.
Jon tampak berpikir sesaat dan menjawab, "Sama cantik nya, tetapi beda. Miss Mona terlihat lebih dewasa, sedangkan Mbak Keyza lebih muda."
Bodyguard itu melirik bosnya lewat kaca spion dan bertanya, "Maaf, kenapa Tuan penasaran sekali dengan Mba Keyza. Saya lihat tadi Miss Mona suka sama Tuan."
"Entah lah." Devan menjawab singkat ia tidak memberitahu jika dirinya sering mimpi saat dinner bersama Keyza. Hal itu tidak pernah dialaminya dengan wanita lain, meski dengan Mona sekali pun.
Mendengar jawaban bosnya Jon pun jadi bingung sendiri kenapa Devan bisa seperti itu.
"Kenapa dia memberi alamat palsu ya Jon. Apakah Keyza tidak mau mengenalku?" Devan bertanya kembali dengan penasaran.
"Menurut saya, Mbak Keyza hanya berhati-hati dengan orang yang belum dikenalnya. Itu terlihat dari sorot matanya yang memancarkan ketakutan tadi, entah karena apa?" sahut Jon memberikan pendapatnya.
Devan tidak bertanya lagi, ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mencoba untuk menepis setiap debaran aneh yang terus menjalar di hatinya.
"Mungkin Tuan jatuh cinta kepada Mbak Keyza?" tebak Jon dengan spontan.
"Jatuh cinta dari mana? Saya kan belum lihat wajahnya," elak Devan yang membuat Jon menggaruk kepala.
"Tuan mau saya menyelidiki terus Mbak Keyza, tetapi tidak janji bisa cepat," tanya Jon menawarkan diri.
Devan menyapu mukanya dengan kedua tangan dan menjawab, "Tidak usah, saya ingin fokus mengurus proyek besok di Jepang."
[Mungkin benar apa kata Steve jika aku akan membuang waktu mencari Keyza. Buktinya gadis itu tidak mau mengenalku,] batin Devan sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil.
Namun, hati kecil Devan yakin jika suatu hari ia akan bertemu kembali dengan Keyza. Jika itu memang terjadi dirinya berjanji akan mengenal gadis itu lebih jauh lagi.
BERSAMBUNG