Bab. 7 Arti cinta sejati

1571 Words
Keyza tampak terperanjat ketika waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan segera gadis itu menuju ke kamar mandi untuk menunaikan salat subuh yang kesiangan. Setelah selesai menunaikan kewajibannya, ia membuka jendela untuk mendapatkan udara yang segar. Sekalian untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih mendera. Keyza memang semalam tidur hampir pagi. Hal itu karena ia mencari lowongan pekerjaan di internet. Entah sudah berapa email lamaran pekerjaan yang telah dikirimkan ke perusahaan dan semua belum ada yang memberikan jawaban satu pun juga. Tiba-tiba gadis itu tersadar jika hari ini ada yang aneh. Mami tidak membangunkan seperti biasanya. Sebuah kebiasaan yang tidak pernah berubah. Belaian yang lembut dan sebuah kecupan di kening. Selalu Keyza dapatkan setiap menjelang subuh. Gadis itu pun berpikir jika ibunya kesiangan juga. Keyza segera keluar dari kamarnya ketika merasa lapar. Sekaligus ingin membangunkan ibunya. Dengan langkah yang santai, gadis itu hendak menuju ke kamar Mami. Namun, ia tampak terperanjat ketika melihat wanita yang dicintainya itu tidak sadarkan diri di depan pintu kamar. Dengan spontan Keyza berlari menghampiri untuk mengetahui apa yang telah terjadi. "Mami, bangun! Mi," seru Keyra dengan cemasnya. Keyra terlihat mengguncang bahu ibunya pelan. Namun, mami masih diam bergeming. Gadis itu memapah ibunya ke tempat tidur dan mengambil minyak kayuh putih. "Mami bangun!" pinta Keyza sambil terus menggosokkan minyak kayu putih ke telapak tangan dan hidung ibunya agar cepat siuman. Setelah setengah jam berlalu, mami belum juga siuman. Akhirnya Keyra memutuskan menghubungi Dina untuk meminta bantuan. Gadis itu mulai panik ketika Dina tidak juga menerima panggilan telepon darinya. [Halo ... ada apa? Gue masih ngantuk ni,] sahut Dina dari seberang sana. [Din, tolongin gue mami pingsan,] ucap Keyza yang terlihat panik. [Apa? Yang benar?"] tanya Dina yang terdengar sangat terkejut. [Iya Dina, tadi mami pingsan di depan kamar. Sudah setengah jam belum sadar juga,] jawab Keyza dengan cemasnya. [Lu tenang ya! Sekarang cepat bawa mami ke rumah sakit terdekat. Lu bisa bawa mobil kan?"] saran Dina sambil bertanya. [Ga, gue bisanya bawa motor,] sahut Keyza kemudian. [Ya udah, lu siap-siap saja. Jangan lupa bawa dompet mami! Sebentar lagi gue sampai,] seru Dina dan panggilan itu pun terputus. Untung apartemen Dina tidak jauh dari rumah mami. Dua puluh menit kemudian Keyza sudah melihat kedatangan temannya itu, meskipun hanya memakai baju tidur yang dibalut cardigan. "Ayo cepat kita bawa mami ke rumah sakit!" seru Dina yang dijawab anggukan oleh Keyza. Dengan dibantu Dina, Keyza memapah mami ke mobil. Dina segera mengemudikan mobil dan membawa mami ke rumah sakit terdekat. *** Akhirnya mobil yang dikemudikan Dina memasuki salah satu Rumah Sakit. Ia segera menghentikan kendaraan itu tepat di depan pintu masuk UGD. Dua orang petugas medis langsung datang menyambut dan mami pun segera mendapat pertolongan. Keyra dan Dina segera mengurus administrasi. Setelah selesai, mereka duduk di ruang tunggu depan pintu UGD. "Din, jujur sama gue! Mami sakit apa?" tanya Keyza dengan serius. Dina menghela nafas panjang dan menjawab, "Gagal ginjal, ini sudah ketiga kalinya mami pingsan. Yang pertama ketika lu mulai indekost. Lalu tiga tahun kemudian dan mudah-mudahan ini yang terakhir." Keyza tampak tercengang mendengarnya. Ia tidak percaya jika ibunya selama ini sakit gagal ginjal. Mata gadis itu pun terlihat mulai berkaca-kaca dan suaranya seperti tercekat di d**a. Belum sempat ia bertanya lebih jauh lagi, tiba-tiba seorang suster keluar dari ruang UGD. "Keluarga, Ibu Rosa!" panggil seorang suster dengan jelas. "Saya, Sus," sahut Keyza sambil berdiri dan menghampiri. "Ibu Rosa sudah ditangani oleh Dokter. Sambil menunggu hasil laboratorium, Beliau akan dipindahkan ke ruang inap," tutur Suster itu, "apakah Mbak sudah mengurus administrasinya?" tanyanya kembali. Keyra segera menyodorkan lembaran bukti pembayaran sambil menjawab, "Sudah Sus, ini." "Baik, kami akan segera memindahkan Ibu Rosa sekarang," ujar Suster itu setelah membaca berkas di tangannya dan kembali ke ruang UGD. Tidak berapa lama kemudian mami dibawa ke ruang inap. Keyza dan Dina segera mengikuti. Sesampainya di dalam, Keyza memandang mami dengan sedih. Melihat wanita yang paling dicintainya kini terbaring lemah. "Ikut gue sekarang juga!" seru Keyza sambil menarik tangan Dina keluar dari kamar itu. Keyza mengajak Dina ke tempat yang sepi. Kemudian ia menatap wanita itu dan bertanya dengan serius, "Kenapa lu ga pernah bilang kalau selama ini mami benar-benar sakit?" Dengan tenangnya Dina pun menjawab, "Mami yang melarangnya. Dia ingin lu fokus kuliah dan menjadi seorang sarjana sesuai impiannya. Asal lu tahu mami sangat sayang sama lu. Demi anaknya dia rela mengais rezeki dengan cara seperti ini. Agar bisa mencukupi semua kebutuhan dan menyekolahkan anaknya dengan tinggi. Lu sangat beruntung punya ibu seperti mami, sedangkan gue dijual ke tempat pelacuran sama nyokap gue sendiri." Dina berhenti sejenak menahan perasaannya yang mulai bergejolak, tetapi ia tidak menangis. Mungkin air matanya sudah kering meratapi nasibnya yang malang. Sementara itu Keyza tampak terisak pilu. Air mata gadis itu tampak berderai mengetahui pengorbanan mami yang begitu besar. Tiba-tiba perasaan bersalah dan menyesal pun menyeruak di dalam dadanya. Dina melanjutkan ceritanya kembali, "Sudah lima tahun ini mami bolak balik ke rumah sakit untuk cuci darah. Di saat seperti itu gue ingin bilang agar lu pulang, tetapi mami tidak mau lu tahu akan penyakitnya." Keyra duduk di bangku yang ada di dekatnya. Gadis itu tampak sesegukan, seolah menumpahkan semua air matanya. Sementara itu Dina melihatnya dengan penuh prihatin. [Lima tahun bukan waktu yang sebentar, pasti mami merasa sangat merindukanku selama itu. Maafkan aku mi,] batin Keyza sambil terisak pilu. "Tuh kan gue jadi melow, sudah diem! Kayak habis nonton drakor saja lu. Jadi cengeng begitu," seru Dina yang masih sempat bercanda dalam keadaan seperti ini. "Lebih baik lu kembali ke kamar temani mami! Gue mau pergi dulu sebentar," sarannya dengan berlalu. "Lu mau ke mana?" tanya Keyza sambil menyeka air matanya Dina menghentikan langkahnya dan menjawab, "Sudah siang dari tadi pagi belum sarapan. Lu juga lapar kan?" "Jangan lama-lama!" seru Keyza yang seperti anak kecil tidak mau ditinggal sendirian. "Mau nitip dibeliin balon berapa, cantik?" ledek Dina sambil tersenyum yang membuat Keyza seketika menghentikan tangisnya. Tanpa menjawab lagi Keyza segera membuang muka dan berjalan kembali ke kamar inap mami. Melihat itu Dina hanya menggeleng dan pergi dari tempat itu. *** Keyza terus memandangi mami dengan penuh cinta kasih. Ia kini mengerti akan arti cinta sejati yaitu pengorbanan tulus seorang ibu. Gadis itu mengakui jika ibunya bukan wanita yang baik, tetapi bagi Keyza mami adalah perempuan yang hebat. Itu terbukti dengan status mami yang singgle parent sampai saat ini. "Key, di mana ini?" Mami memanggil putrinya sambil melihat ke langit-langit kamar. Keyza yang melihat ibunya sudah siuman begitu senang dan ia pun berucap, "Alhamdulillah ..., iya, Mami sekarang ada di rumah sakit," jawabnya sambil memegang erat tangan ibunya. "Mi, maafkan Keyza, cepet sembuh ya!" sambungnya dengan penuh sesal. Mami menatap putrinya dengan cinta kasih, kemudian ia menggeleng dan berkata, "Ini semua bukan salah kamu, Nak. Mami yang minta maaf, belum bisa menjadi seorang ibu yang baik untukmu," ucapnya dengan lemah. Keyza tampak menggeleng dan berkata, "Bagiku Mami adalah ibu terbaik yang kumiliki. Mami Rosa sangat terharu mendengar nya."Key, jika umur mami tidak panjang lagi. Jaga diri baik-baik ya dan jangan pernah gunakan kecantikanmu untuk mendapatkan segalanya!" pesan mami dengan pelan yang membuat Keyza terkejut mendengarnya. "Jangan bicara seperti itu, Keyza tidak akan pernah sanggup hidup tanpa Mami," sergah Keyza dengan mata yang berkaca-kaca. Tiba-tiba ponselnya berdering, Keyza segera mengangkat telephon yang ternyata dari Dina. [Halo,] ucap Keyza membuka percakapan. [Key, mau gue bawain baju ga atau mau ambil sendiri?] tanya Dina dari seberang sana. [Bawain saja dan cepat ke sini, gue laper banget,] jawab Keyza sambil memegang perutnya. [Tahan, sebentar lagi gue sampai!] sahut Dina dan panggilan itu pun terputus. Keyra segera menutup ponsel dan kembali duduk menemani ibunya. "Kamu pasti belum makan, pergi lah ke kantin, Nak!" seru Mami dengan penuh perhatiannya. "Sebentar lagi Dina datang Mi, mau bawa makanan dan baju ganti buat aku," ujar Keyza yang tidak mau meninggalkan ibunya sedetik pun Setengah jam kemudian Dina sudah datang membawa makanan, minuman, buah dan sebuah tas jinjing. "Selamat siang," ucap Dina sambil meletakan bawaannya di atas meja. "Oh ya, Key, ni gue bawain baju ganti," sambungnya kembali yang dijawab anggukan oleh Keyza. "Thanks Din," ucap Keyza sambil memperhatikan penampilan Dina yang seksi, "Mau kondangan ke mana Din?" tanyanya kemudian. "Ke Jonggol," jawab Dina dengan sewot. Mami apa kabar?" tanya Dina kepada Dewi penyelamatnya itu. "Baik Din," jawab Mami sambil melirik ke arah Keyza, "Makan lah Nak, nanti kamu sakit!" serunya kemudian. "Ya sudah, aku makan di luar saja ya Mi, sekalian ke mushola," pamit Keyza yang tahu jika mami ingin bicara dengan Dina. Setelah mami mengangguk, Keyza keluar dari kamar itu. Ia membiarkan mami dan Dina untuk bicara. Nanti tinggal mendesak Dina untuk cerita. "Jangan sampai Keyza tahu tentang sakitku ini Din," pinta mami dengan lemah. "Maaf Mi, Keyza tadi mendesak aku untuk menceritakannya. Sudah waktunya ia tahu semua," sahut Dina dengan jujur. "Ya sudah, aku merasa sakitku sudah kian parah. Jika terjadi apa-apa denganku, tolong bantu Keyza dan berikan semua yang aku miliki!" pesan mami yang terlihat sudah tidak kuat lagi. "Mami jangan khawatir! Aku berjanji akan menjaga Keyza agar tidak mengikuti jejak kita," ucap Dina yang membuat mami terlihat lebih tenang. "Terima kasih Din dan buatmu selagi masih ada waktu kembalinya ke jalan yang benar!" ucap mami sambil memberikan nasihat kepada Dina. Mendengar itu Dina tampak tersenyum getir. Entah apakah ia bisa keluar dari lembah gelap itu. Di mana semua kenikmatan duniawi dengan mudah bisa ia dapatkan dengan mudahnya. Setelah berpesan kepada Dina untuk menjaga Keyza, Mami Rosa terlihat pasrah jika malaikat maut menjemputnya sekarang juga. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD