Keyza baru saja selesai makan siang dan salat zuhur. Gadis itu juga terlihat sudah mengganti bajunya. Ia tampak melangkah untuk kembali ke kamar inap ibunya. Namun, di tengah jalan gadis itu berpapasan dengan seorang suster yang tadi menangani mami di ruang UGD.
"Selamat siang Mbak Keyza," ucap suster dengan ramah, "kebetulan kita ketemu di sini. Mbak diminta datang ke ruangan Dokter Adi sekarang juga," sambungnya memberitahu.
"Siang Sus, baik saya akan segera menemuinya," balas Keyza sambil tersenyum ramah.
"Kalau begitu silahkan ikut dengan saya!" ajak Suster yang segera diikuti oleh Keyza.
Keyza segera menyusul suster yang sudah berjalan di depannya. Sesampai di ruang dokter spesialis penyakit dalam, ia dipersilahkan duduk untuk mendengarkan analisis penyakit mami. Dengan perasaan berdebar Gadis itu tampak fokus untuk menyimak pernyataan dokter yang akan diberitahu kepadanya.
"Jadi begini Mbak, berdasarkan hasil laboratorium. Saya simpulkan bahwa gagal ginjal ibu anda sudah kronis," tutur Bu Dokter yang membuat Keyza terkejut.
"Apa Dok, ibu saya ginjalnya kronis?" Keyza bertanya meminta kepastian.
"Iya Mbak, ibu anda sudah tidak bisa melakukan cuci darah lagi. Satu-satunya cara adalah dengan melakukan transplantasi ginjal," jawab Dokter dengan jelas.
Deg!
Seketika Keyza merasa jantungnya berhenti berdetak mendengar itu. Ia tidak menyangka mami menderita sakit seberat ini. Sorot mata gadis itu terlihat memancarkan kesedihan dan rasa takut yang teramat dalam. Ia mencoba tetap tegar dan akan melakukan apa pun demi kesembuhan ibunya.Namun, Keyza tidak dapat menutupi kepanikan yang mulai melandanya.
"Saya bersedia untuk mendonorkan ginjal buat ibu saya Dok," ujar Keyza menawarkan diri.
"Baiklah, kami akan memeriksa dulu apakah ginjal Mbak cocok dan bisa didonorkan buat Ibu Rosa. Sekarang silahkan ikut suster untuk melakukan pemeriksaan karena pendonoran itu harus secepatnya dilakukan sebelum ibu anda kian kritis," saran Dokter itu kemudian.
"Baik Dok, terima kasih," ucap Keyza Dengan bersiap untuk berkorban demi menyelamatkan nyawa ibunya.
Keyza kemudian mengikuti suster yang membawanya ke salah satu ruangan. Tidak lama kemudian pemeriksaan itu selesai dan Keyza segera kembali menghadap ke dokter lagi.
"Maaf, Mbak Keyza tidak bisa mendonorkan ginjal buat Ibu Rosa karena golongan darah kalian berbeda," ujar dokter memberitahu yang gadis itu tidak mengerti.
"Bagaimana mungkin Dok, saya anak kandungnya?" tanya Keyza sambil menggeleng sedih.
"Itu bisa saja terjadi, jika golongan darah anak sama dengan ayahnya," jawab dokter itu kembali yang membuat air mata Keyza jatuh dengan sendirinya.
Masih diliputi kebingungan Keyza kemudian bertanya, "Jadi apa solusi
untuk menyelamatkan ibu saya, Dok?"
Dokter itu membenarkan posisi duduknya dan menjawab, "Mbak harus cari kerabat dari ibu Rosa yang bersedia mendonorkan ginjalnya."
Keyza makin bingung karena setahunya mami tidak punya saudara sama sekali. Selain itu ibunya juga tidak pernah menceritakan berasal dari mana. Untuk mencari tahu itu tidak mungkin, pasti memerlukan waktu yang tidak sebentar.
"Berapa lama waktu saya harus untuk mendapatkan pendonor itu Dok?" tanya Keyza kembali.
"Secepatnya, kalau bisa dalam seminggu ini sudah harus dapat. Ingat ibu anda sangat kritis, lebih cepat lebih baik." Dokter itu menjawab apa adanya.
"Itu tidak mungkin, tolong beri saya solusi lain Dok!" pinta Keyza yang sudah terlihat menyerah.
"Jangan putus asa Mbak, berusaha lah dahulu. Pasti akan ada jalan keluarnya," saran Dokter itu kembali menyemangati.
"Iya Dok, permisi," ucap Keyza yang kemudian meninggalkan ruangan itu.
Keyza melangkah dengan pikiran yang kalut. Ketakutan akan kehilangan ibunya, membuat gadis itu tidak bisa fokus berpikir untuk mencari orang yang mau jadi pendonor.
"Ya Allah, aku harus cari ke mana?" tanya Keyza dengan pikiran buntu.
Gadis itu pun duduk dan termangu di sebuah bangku taman tanpa tahu harus berbuat apa.
"Key, gue tungguin juga. Lu kenapa duduk di sini?" tanya Dina dengan heran.
Keyza segera menghambur memeluk Dina dengan air mata yang berderai. Lalu dengan terbata ia pun meminta, "Din, to-tolongin mami."
Melihat Keyza yang tersedu membuat Dina heran dan tidak mengerti apa yang telah terjadi, "Tenang Key dan ceritakan pelan-pelan!" seru Dina sambil mengusap bahu gadis itu dengan perlahan.
Setelah merasa lebih tenang, akhirnya Keyza menceritakan jika mami butuh donor ginjal secepatnya, sedangkan ia tidak bisa menjadi pendonor karena beda golongan darah.
"Maaf ya Key, bukannya gue tidak mau bantu. Golongan darah gue juga tidak sama dengan mami," ucap Dina dengan tidak berdaya.
"Apa mami pernah cerita berasal dari mana?" tanya Keyza sambil menatap Dina dengan penuh harap.
"Untuk yang satu itu gue tidak tahu, kita juga tidak mungkin bertanya kepada mami. Barusan beliau drop lagi Key dan sekarang tidak sadarkan diri," jawab Dina yang membuat Keyza jadi panik dan tambah ketakutan.
"Tolong Din! Aku tidak mau kehilangan mami," ujar gadis itu yang tidak siap ditinggal ibunya saat ini.
Dina mulai berpikir keras untuk mencari solusi dari semua ini. Akhirnya ia mendapatkan sebuah ide untuk menelepon seseorang. Mungkin saja bisa membantu Keyza mencari jalan keluar.
[Itu gampang sayang, cari saja orang yang mau menjual ginjalnya. Memang harganya tidak murah,] ujar seorang lelaki yang membuat Dina berpikir.
[Oke beb thanks, oh ya aku minta kita tidak ketemu dulu ya untuk beberapa hari ini,] pinta Dina yang ingin membantu Keyza dalam menghadapi musibah yang sedang dialaminya.
Dina segera menyampaikan solusi itu dan Keyza menyetujuinya. Mereka kemudian mulai mencari orang yang mau memberikan ginjalnya. Dua hari kemudian Keyza mendapatkan seorang pendonor yang cocok buat mami.
Namun, orang itu minta bayaran yang cukup besar. Kezya pun menyanggupi, apa pun akan ia lakukan agar bisa menyelamatkan nyawa ibunya. Gadis itu akhirnya menguras semua tabungan mami dan dengan meminta bantuan Dina, ia menjual rumah dan kendaraan secara cepat dengan harga yang sesuai.
"Akan tetapi Key, mami berpesan sama gue, apa pun yang terjadi dengannya. Jangan sampai menjual harta yang sudah diwariskan kepada lu." Dina awalnya menolak keinginan Keyza.
"Tidak ada cara lain Din, please bantu gue! Semua ini demi menyelamatkan nyawa mami!" Keyza memohon dengan memelas.
"Oke, gue akan bantu lu cari pembeli secepatnya," ujar Dina menyanggupi.
Dina yang mempunyai banyak kenalan orang-orang kaya. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk menjual rumah dan mobil yang sudah atas nama Keyza.
"Key, ini hasil dari penjualan rumah dan uang mobil sudah ditransfer ke rekening lu," ujar Dina sambil menyerahkan selembar cek kepada Keyza.
"Thanks Dina, kok cepat banget sih lakunya? Padahal cuma pakai tanda tangan gue doang,?" tanya Keyza dengan heran
"Asal tahu ya, rumah dan mobil itu sudah dibalik atas nama lu sama mami," ujar Dina memberitahu.
Keyza semakin terharu, ternyata mami sudah mempersiapkan semua buatnya seorang. Namun, ia merasa tidak berhak memilikinya. Bukannya tidak menghargai pemberian mami, tetapi ibunya lebih membutuhkan saat ini.
***
Seminggu kemudian Mami Rosa segera dioperasi untuk melakukan transplantasi ginjal. Keyza membantu ibunya dengan doa, bahkan disetiap habis melakukan salat. Ia yakin sekeras apa pun usaha manusia. Jika tanpa campur tangan dari yang Maha kuasa semua akan sia-sia belaka.
"Ya Allah yang Maha penyayang dan lagi Maha besar. Tolong selamatkan lah mami. Beri lah ibu hamba kesembuhan, agar aku bisa berbakti sebagai seorang anak," doa Keyza dengan berlinang air mata.
Akhirnya operasi transplantasi ginjal Mami Rosa selesai. Keyza segera menghampiri dokter yang keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan ibu saya Dok?" tanya Keyza dengan harap-harap cemas.
"Operasi Ibu Rosa berjalan lancar dan berhasil dengan baik," jawab Dokter memberitahu.
"Alhamdulillah ...," ucap Keyza dan Dina bersamaan dengan penuh syukur.
"Apakah saya sudah boleh melihat beliau sekarang, Dok?" tanya Keyza dengan penuh harap.
"Silahkan ibu anda juga sudah melewati masa kritisnya. Beberapa jam kemudian mungkin beliau sudah sadar," sahut dokter itu kembali yang membuat Keyza terlihat lega.
"Terima kasih Dok," ucap Keyza yang segera berlalu ke kamar inap mami.
"Key, mami kan sudah selesai di operasi
Gue pulang dulu ya?" pamit Dina ketika mereka sedang beriringan.
"Oke, thanks ya Din. Lu sudah menemani dan bantuin gue selama di rumah sakit," balas Keyza yang merasa jadi tidak enak kepada Dina.
"Sama-sama, oh ya kalau mami sudah siuman lu jangan cerita dulu soal operasi ginjal itu. Tunggu sampai beliau tanya sendiri!" saran Dina yang dijawab anggukan oleh Keyza.
"Iya, gue akan tunggu sampai kondisi mami membaik," sahut Keyza dengan mengerti.
"Bagus, sekarang gue pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi gue secepatnya!" pesan Din kembali.
Keyza kemudian memandangi kepergian Dina sampai hilang di balik tembok. Di dalam hatinya ia bertekad akan membalas semua kebaikan Dina suatu saat nanti.
Setelah itu Keyza segera masuk ke kamar inap ibunya. Gadis itu kemudian duduk di pinggir ranjang, sambil memegangi tangan ibunya dengan erat. Di mana mami belum sadarkan diri pasca operasi.
Setelah beberapa waktu kemudian, mami membuka matanya dengan perlahan.
"Key ... za," lirih wanita itu menyebut nama putrinya dengan lemah.
"Iya Mi, aku ada di sini," sahut Keyza dengan senang melihat ibunya sudah sadar.
"Apa yang sudah terjadi dengan mami?" tanya wanita itu dengan bingung sambil merasakan kepalanya yang masih berputar.
"Tidak ada apa-apa, mami baru saja bangun tidur," jawab Keyza berbohong.
"Haduh, kepala mami pusing sekali," rintih Mami Rosa sambil menyeringai.
"Tidur saja, jangan dipaksakan Mi," saran Keyza dengan penuh perhatian.
Mami Rosa mengikuti saran putrinya. Tidak lama kemudian pusingnya hilang dan ia sudah bisa membuka mata. Tiba-tiba wanita paruh baya itu merasa pinggangnya nyeri.
"Key, pinggang mami kenapa?" tanya Mami Rosa dengan heran sambil meraba . Ia lalu menatap putrinya yang masih membungkam, "Key, jawab mami Nak!" serunya kemudian.
"Ma-Mami, habis melakukan operasi transplantasi ginjal," jawab Keyza dengan jujur.
Mami Rosa tampak terkejut mendengarnya. Ia kemudian menghela nafas panjang dan bertanya kembali, "Kamu dapat uang dari mana buat bayar operasi mami?
Kezya tampak membungkam, ia bingung harus kah Keyza memberitahu ibunya saat ini.
BERSAMBUNG