"Mr. Damiano," suaranya keluar lebih serak dari yang diharapkan. Ia segera batuk kecil, lalu tersenyum lagi—seolah hanya salah ucap biasa. "Selamat datang. Kami sedang mendiskusikan beberapa opsi untuk baju istri Anda." Dia berdiri untuk menyambut, berharap tak ada yang memperhatikan bagaimana ujung jarinya yang halus bergetar saat menyerahkan katalog. Lututnya terasa seperti agar-agar, tapi gerakannya tetap anggun, terlatih oleh tahun-tahun bersandiwara. Damiano memandanginya dengan tatapan yang membuat kulit Isabella merinding. "Isabella... Ruzzo?" ujarnya sengaja menekan nama pernikahannya, bibirnya melengkung dalam senyum yang hanya Isabella yang paham maknanya. "Waktu terakhir kita bertemu, kamu masih—" "—masih magang di rumah mode Milan," Isabella cepat memotong, matanya berpaling

