Sejak malam itu. Malam ketika ia berusia sembilan tahun, ketika teriakan dan tembakan membangunkan tidurnya. Ketika ia melihat wajah ayahnya yang penuh darah tergeletak di lantai marmer, mata terbuka lebar, tangan masih menggenggam pistol yang tak sempat digunakan. Ibunya—wanita cantik yang selalu menyanyikannya lagu pengantar tidur—terkapar di sampingnya, jari-jarinya masih mencengkeram gaun malam Isabella seperti cengkeraman terakhir. "Jangan keluar, sayang," bisik ibunya sebelum menutup pintu lemari tempat ia bersembunyi. Dan Isabella patuh. Dia duduk diam di antara pakaian hitam orang tuanya, mencium bau mesiu dan darah, mendengar suara langkah kaki asing mengobrak-abrik rumah mereka. Hingga pagi datang. Hingga polisi menemukannya. Hingga ia dipindahkan dari panti asuhan ke pant

