70

1071 Words

Malam di Penthose Isabella. Lampu temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang saling terikat di atas seprai sutra berwarna hitam. Isabella berbaring di bawah Leonardo, napasnya pendek-pendek, jari-jarinya menggenggam erat rambutnya yang terurai di atas bantal. Leonardo menelusuri garis lehernya dengan bibir, dari rahang hingga ke tulang selangka, sementara tangannya yang besar meraba perlahan di bawah gaun malam Isabella yang sudah tergeser. "Leonardo..." Isabella menghela, mencoba fokus meski pikirannya dipenuhi oleh bisikan panasnya. "Kita harus... membicarakan... saham Venticelli..." Leonardo mengangkat wajahnya, matanya gelap oleh nafsu dan sesuatu yang lebih dalam—kekuasaan. "Sekarang?" suaranya rendah, menggoda. Tangannya bergerak lebih tinggi, membuat Isabella menggigit bibir. "

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD