Bagaimana kalau suatu hari aku tidak memiliki kesempatan untuk pulang ?
Aku memejamkan mata. Masih tersuruk-suruk kembali kebarisan. Viz mendorong bahuku "Tegakkan bahumu Tikus ! Jangan seperti banci !"
Kemarin aku masih merasa pilihan terbentang di depan mataku. Tapi kali ini tidak. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengikuti cara kerja mereka. Aku bukannya putus asa, atau bagaimana dengan kondisi ini, aku tidak mau kena masalah ! Aku yakin Sezarab pasti menurunkan egonya untuk meminta Viz menjagaku.
Jirit berlari menghampiriku "Kau,," wajahnya hampir menangis "Kau tidak apa-apa ?" Ini pertama kalinya ada orang sekhawatir itu padaku "Kau hampir membuatku pingsan, tahu..." dia menghela nafas.
Jon dari kejauhan sedang merapaikan tenda, dia hanya mengangguk padaku. Tenda yang mereka berikan pada kami sangat membantu di udara dingin pegunungan Luith. Pegunungan ini berkabut, dan udara dingin bertiup dari arah Pasataria.
Aku menghampiri Jon "Kau menyelamatkanku" kataku ikut membantunya merapikan tenda, terbuat dari tenunan kasar yang di lapisi kulit hewan.
"Sezarab menyelamatkanmu" balasnya. Dia menghadapku, wajahnya terlihat tegang "Dengar !"
Aku mendegarkan
"Tidak ada lagi membangkang ! Kita bukan di Altar, kita di negri orang. Kau tahu mereka orang-orang ini tidak ada yang tahu tentang mimpi Deba. Jadi berhentilah merasa dirimu itu spesial"
Aku mencibir, kesal mendengarnya "Kenapa kau seperti..."
Jon memegang bahuku, gerakannya terasa janggal buatku "Banyak dari peleton lain kini menganggap peleton kita mengungguli, mereka menjadi musuh kita"
Aku mendengus kesal mendengarnya "Kita"
"Dengarkan saja aku Matiti, ku mohon"
Aku menarik nafas berat "Jadi aku harus bagaimana ?"
"Jangan banyak tingkah ! Tindakanmu semalam membuat kami semua tidak mungkin mendapatkan makanan yang lebih baik dari pada segenggam nasi. Mereka semua sangat marah padamu"
Aku jengah mendengar semua ini. Dulu aku tidak sudi memikirkan masalah makanan, semua sudah tersaji di meja makan, kapan aku mau makan aku hanya tinggal berteriak. Sekarang ? aku tidak percaya, sekarang aku rela mati untuk mendapatkan makanan.
Setelah kejadian semalam, setiap kali nasi kepal dibagikan pada orang orang di peleton, mereka akan melihatku seolah aku pantas masuk neraka.
?
Istana ke lima tidak terlalu spesial untukku. Aku melihatnya lebih seperti kastil yang terdari batu-batu dan kayu yang di bangun serampangan tanpa peduli dengan keindahan. Mungkin Istana itu dibuat bukan untuk istri kesayangan Raja. Karena setiap perempuan suka keindahan, dan setiap laki-laki sangat suka memberikan yang terbaik bagi kekasih yang dia sayanginya. Jadi menurutku istana ini tidak sesuai dengan dua hal tersebut.
Desa-desa di wilayah istana kelima lebih serampangan lagi, selayaknya istana mereka. rumah-rumah penduduk hanya terdiri bilik-bilik bambu, tembok-tembok terbuat dari tanah liat. Aku tidak melihat kemewahan Pasataria sedikitpun di tempat ini.
Kami menunggu Kapten Viz untuk masuk ke dalam istana pertemu dengan seseorang yang penting. Lalu dia keluar bersama dengan laki-laki muda sudah lengkap dengan baju zirahnya. Pakaian mereka sangat khas, pakaian laki-laki terlihat seperti gaun. terbuat dari pintalan benang-benang kapas dengan corak yang menyala dan berlapis-lapis. Bagian tangan mereka diikan kain untuk mengencangkan bajunya.
Namanya Aditya, dia berlari menghampiri seseorang. Mengampiri Khamir. Mereka berpelukan sangat erat. berbincang-bincang bertiga sebelum kembali ke barisan dan melanjutkan perjalanan. Aditia membawa lima tambahan regu peleton tambahan. Sekang kami berjumlah lebih dari seratus lima puluh orang.
Semakin mendekati Hanuin, udara semakin terasa berbeda. Aku tidak lagi melihat salju, salju digantikan hujan yang tiada henti membasahi kami. Pada malam hari kami harus berjuang dengan udara dingin, baju yang tak bisa kering dan tidur di atas genangan lumpur. Teman-teman peleton yang berasal dari pasataria sudah mulai berguguran satu persatu. Masing-masing peleton menguburkan teman-temannya.
Aku sungguh menyalahkan diriku, kenapa aku harus berburu malam itu. Apa Viz memag akan memberikan mereka makan dengan layak kalau aku tidak membangkang untuk pergi berburu. Kami berjalan bermil-mil, kami laki-laki dewasa yang membuang energi begitu banyak, seharusnya kami makan dengan layak.
Ketika peleton kupu-kupu menguburkan salah satu temannya. Aku menghampiri Viz. Kami kembali menghadapi malam yang basah, pakaiayan penuh lumpur. Kami harus tidur seperti itu tanpa diberikan kesempatan untuk membersihkan diri. Bisakah ku katakan bahwa ini adalah penyiksaan.
"Kapten" aku bersitegap sambil menghentakakn kaki dan menyilangkan lengan di d**a, memberikan hormat padanya.
Dia berdecak, dia keliatannya malas sekali melihat wajahku. Viz sedang menikmati tembakau di tendanya yang hangat, di terangi lilin-lilin. Aku hampir mengurungkan niatku ketika aku melihat Khamir ada di tenda Viz. Tapi aku sudah kepalang tanggung masuk ke dalam tendanya.
"Mau apa lagi kau Tikus ?" tanyanya menghembuskan asap tembakaunya tinggi-tinggi
"Mau ku buat biru-biru lagi, sepertinya tulang rusukmu tidak pernah patah ya ?" tanya si khamer meremehkanku "Tapi mematahkan bukan keahliku. Kahlianku adalah mencabut tulang rusuk dari tubuhmu"
Kau orang gila, pembunuh, berwajah tampan, tak punya hati, yang kau lakukan sibuk menjilat Viz. Sementara orang diluar sana tersiksa dan hampir mati kelaparan. Tahu tidak !!
"Aku ingin mengajukan diri untuk berburu, untuk makanan yang layak buat mereka"
Khamer tertawa
"Memang kau pikir apa yang bisa kau dapatkan di hutan hujan seperti ini ? selain kumbang dan kodok beracun"
Mereka tidak tahu akupun berasal dari hutan seperti ini dan aku biasa makan rubah, kijang , kelinci dan burung punai, mereka juga hidup di tempat seperti ini.
"Kalau kau bisa dapatkan bukan cuma untuk peletonmu. Untuk semua peleton, kau ku izinkan berburu. Kau tidak boleh kembali kalau belum mendapatkan buruan sejumlah dua belas peleton"
Senyumku mengembang, aku senang sekali mendengar Viz membelaku di depan Khamer, mengingat bagimana dia memulai semuanya denganku. Aku selalu punya masalah dengannya. Aku tidak bisa melupakan tendangan beberapa waktu lalu.
"Kapten, itu tidak mungkin" Khamer tidak terima
Setidaknya aku punya satu malam berkalan di tengah hutan untuk mengumpulkan buruan, aku rasa aku bisa "Khamer ini salah satu caraku mengusirnya, kau tidak perlu khawatir ! Kita lihat apa yang bisa dia temukan di hutan yang hanya bersisi katak"
Aditia datang bergabung bersama kami di dalam tenda, dia lebih santai dari pada Khamer. Karena dia belum tahu apa yang terjadi disini "Ada apa ini ? siapa itu si pembuat masalah ?" dia melirikku, jelas siapa lagi yang membuat masalah. Satu orang asing di luar pasukan elit. Pasti aku !
Khamer kelihat garang, wajah pucatnya memerah. Dia memilih hengkang dari tempat ini. Aku masih tidak bisa menghilangkan senyumku. Aku senang karena dua hal, pertama aku melukai ego janggal si khamer dan kedua teman-temanku bisa makan.
"Anak ini ingin beburu seorang diri untuk dua belas peleton" jelas Viz pada Aditia
"Tidak mungkin !" kata Aditia
ketidakmungkinan itu membuatku semakin tertantang untuk melakukannya. Mereka tidak tahu betapa mahirnya aku melempar kunai.
Viz terbahak, ketawanya misterius merupakan pertanyaan baru buat aditia.
?
Aku berjalan dengan membusungkan d**a, begitu bangga pada diriku sendiri karena berani berbicara dan membuat mereka pada akhirnya bisa makan dengan layak. Paling tidak peletonku sampai sekrang belum ada yang terkapar sakit.
Sebelum berangkat berburu Khamer mendatangiku, dengan empat orang prajurit elit. Jon melihatku dengan tatapan marah dan gelisah takut sesuatu terjadi padaku. Ketika aku di bawa ke belakang hutan dia mau mengikuti ku, tapi di tahan salah satu dari mereka. Aku menggeleng, melarangnya. Mereka tidak mungkin mengenyahkanku.
Khamer memojokkanku, dia menyilangkan pedang di leherku "Dengar anak haram jadah"
Aku menikmati u*****n itu telingaku, bibirku tersenyum mengejek. Diaa menguatkan pedangnya terlihat kesal luar biasa "Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan tanpa memedulikan Viz"
"Kenapa kau tidak langsung membunuhku, kenapa harus mengoceh tak jelas ? silahkan, dagingku tinggal kau cincang-cincang"
Wajahnya sangat dekat denganku, nafasnya memburu karena kesal terasa hangat menyapu telingaku "Apa hubunganmu dengan Viz ? Kenapa dia membela dan membiarkanmu berburu ?"
Aku menggeleng "Dia tahu aku benar ! Dia mau memberikan kesempatan padaku. Kau mau lihat orang-orang ini mati ?" terdengar seperti bukan suaraku "Kami berjalan bermil-mil meninggalkan keluarga kami untuk mati. Kami tahu. Tapi bukankah seharunya itu terjadi di medan perang ? Kenapa kau tidak punya sekali belas kasihan pada mereka yang membayar pajak untuk makanan kalian di dalam benteng kerjaan. Kalian bawa kami ke sini untuk mati, tidak pantaskah kami mendapatkan makanan enak sebelum kami semua mati ?"
Khamer meregangkan senjatanya dari leherku. Dia mundur satu langakah melihatku baik-baik "Siapa kau ? itu yang ingin ku ketahui"
"Aku adalah aku" Aku melihat teman-temannya
Tidak peduli apa yang akan dia lakukan aku memilih meninggalkannya dengan kawan-kawannya. aku berjalan menuruni lembah hanuin dimana kita membuat tenda "Pangeran kenapa kau membiarkan b******k itu pergi ?"
"Aku ingin melibasnya di arena yang benar"
Dia pangeran ! aku sempat menghentikkan langkahku ingin menoleh dan melihat wajah pangeran tampan itu. Tapi tidak, tidak ! Aku lebih memedulikan bagaimana caraku mendepat makanan untuk seratus lima puluh orang yang harus di bagi rata.
Aku berkelana lebih jauh dan lebih jauh. Aku hanya mendapatkan beberapa ekor kelinci yang hanya akan cukup untu peletonku. Sementara hari sudah semakin gelap, dan kalau sampai besok aku hanya mendapatkan ini maka mereka akan meninggalkanku. Tidak ! Tidak ! mendadak aku teringat wajah jengkel Khamer, aku tertantang membuatnya semakin jengkel padaku. Aku harus mendapatkan buruan lebih banyak. Aku ingin pangeran kecil itu murka padaku !
Aku salah soal Zamir, kupikir dia mengorbankan orang-orang pasataria saja, dia juga mengorbankan anaknya. Aku jadi penasaran dengan kemampuan sesungguhnya dari pangeran ini.
Sambil menunggu di tengah hutan hujan ini aku memainkan kunaiku, melempari kayu kayu. Melihat kecepatan mereka. Lima kelinci sudah ku kuliti. Itu tidak cuku buat kita.
Tunggu, apa itu di balik semak !
Aku mendekat. Dua ekor rusa ! iya rusa yang gagah dan besar. Ini adalah santapan yang benar. Tapi seekor rusa terlihat memiliki bola mata berebeda, berwarna biru.
"Deba" bisikku mengenali matanya pada dua rusa itu.
Aku mendekati satu rusa yang matanya sangat ku kenali. Aku menjamanya dan mengelusnya dengan pelan. Ku letakkan kepalaku di kepalanya. Rusa itu hanya terdiam, seakan-akan dia sudah mengenalku sejak lama. Iya ! karena dia adalah Deba. Sementara itu ujung mataku melihat ke arah rusa yang laian. tanganku siap untuk membidik lehernya. Si rusa terlihat ragu antara ingin berlari pergi atau mendekatiku.
Aku melempar kunaiku dan mengenai lehernya, dia berkikik. Saat itulah keluar si ular, pedangku. Aku berlari menebas lehernya. Darah muncrat mengenai bagain depan pakaianku. Aku puas melihat satu rusa terkapar.
Aku berpaling pada Deba, matanya kini tumbul tenggelam dalam masa si rusa.
Aku mengelusnya "Keluar" Bisikku ke telinga rusa itu
Ketika mata si rusa sudah tidak biru Lagi pedangku mengayun dan merobek lehernya. Rusa itu terkapar. si Ular. Aku ternganga melihat bagaimana banyaknya darah rusa itu. Ini karena pedangku, si ular.
Aku melihat pedangku dengan takjub, Bagaimana cara Sezarab mengasah pedang ini, hingga jadi setajam ini ? Aku hampir hampir tidak memberikan tekanan untuk mengoyak leher rusa, kulit rusa ini tiba-tiba sudah terbelah.
Sezarab ajaib. Aku duduk menyaksikan rusa itu untuk memastikan matanya tidak berwarna biru.
Aku bisa bernafas lega...
?
Akhirnya kami semua makan besar, Kukuta memelukku bangga. Tidak sia-sia dipukuli beberapa malam lalu dan kini kita sudah hampir sampai ke benteng istana ke tujuh. Kami jalan bermil-mil untuk itu. Semoga tidak ada lagi teman-teman yang mati dalam perjalanan. Ketua peleton kupu-kupu mendatangiku. Dia memelukku "Terimakasih tikus"
"Kalian berhak mendapatkannya"
Dari kejauhan aku melihat seringai sang pengeran jatuh padaku. Aku sudah mencincang-cincang ego sang pangeran di hadapan prajurit elit, terpenting di hadapan Viz.
Malam terakhir dalam perjalanan. Kukuta, Jon dan Jirit masih disini menemaniku di api unggun bersama orang-orang peletonku yang coba membaur dengan peleton lain "Ini perbuatan si cebol" Jirit memulai "Aku mendengarnya bicara pada salah satu peleton Katak, dia bilang kau kabur, dan dia mengatakan pada khamer"
Aku cuma menghela nafas. Salah satu dari kami pasti memberitahu dan menghianati "Aku akan memberikan pelajaran pada si cebol itu" aku berdaham masih tidak mengalihkan padanganku dari arah khamer, dia berdiri bersidekap berbincang dengan Aditia "Tidakkah kalian merasa aneh mendengar nama Khamer ? sebelumnya pernakah kalian mendengar nama itu"
Jirit dan Kukuta menggelengkan kepalanya dengan wajah polos "Dia pangeran, anak raja. Jadi sepertinya kita salah tentang Zamir. Dia lebih mengerikan dari pada yang kita kira. Raja mana yang mengorbankan anaknya untuk mati....kecuali...." aku terdiam "Khamer memang siap di garis terdepan"
"b******k" umpat Jon "Dia pangeran, pantas dia... uh..."
Aku tersenyum penuh semangat dengan peperangan ini
Jirid dan Kukuta ikut melihat Khamer "Dan aditia itu ? semuda itu sudah menjadi kapten di istana kelima. menurutmu dia juga pangeran ?"
Aku menepuk pundak Jirid "Kau kan punya keahlian menguping pembicaraan orang, bagaimana kalau kau lakukan itu buatku. Dan kita..." ide-ide mulai berdatangan dikepalaku, ide untuk memasuki kerajaan negri syaka "Harus buat stretegi agar bisa kembali pulang ke pasataria"
"UHU..." teriak Kukuta bersemangat "Aku suka kau kawan, tikusku.." Dia merangkulku dengan semangat
Aku punya cara agar kita bisa kembali, punya cara. pertama-tama aku harus bertarung dengan pangeran ini. Tanganku gatal ingin tahu sampai mana kemampuannya.
?