Akhirnya, istana ketujuh.
Istana ini membuatku membuang pakaian dinginku jauh-jauh dan hanya menggunakan baju tipis saja. Salju sangat jauh dari sini, bermil-mil jauhnya. Setelah di guyur hujan, inilah pemandangan yang selalu aku inginkan. Hijau di mana-mana, sejujurnya pemandangan ini jauh dari imajinasiku tentang tempat ini. Tadinya kupikir tempat akan di penuhi gurun gersang. Tapi syukurlah tidak seperti itu...
Aku seperti melihat rumah di benteng istana ke tujuh. Istana ini di kelilingi gunung dan bukit-bukit berwarna hijau. Air mengalir menembus benteng ini. Benteng ini memiliki dua lapis benteng, yang disebut benteng besar dan benteng kecil. Benteng besar berada paling luar dan seperti namanya benteng ini tinggi dan menjulang, disana terdapat empat menara jaga. Benteng kecil lebih pedek dibuat untuk menjaga privasi di dalam istana ketujuh.
Kami tinggal di luar benteng kecil, sedang prajurit elit memisahkan diri ke dalam benteng kecil. Khamer dan Aditia mungkin tinggal di dalam istana. Seringkali kami melihat gadis-gadis penghibur masuk ke benteng kecil dan keluar lagi keeseokan harinya. Aku tidak perlu tanya kan apa yang mereka lakukan.
Aku tidak masalah dengan pola kehidupan seperti itu, walaupun kami hanya tinggal di tenda-tenda kecil. Tapi ini cukup baik daripada malam-malam yang dingin dan basah. Disini kami bisa mengatur pola hidup sendiri, sembari berlatih untuk mempersiapkan diri. Air sungai yang mengalir ke dalam benteng besar memberikan kemudahan untuk kami menggunakan air.
Makanan di benteng ini diberikan dengan layak, walaupun jauh jika dibandingkan dengan makanan yang disajikan untuk prajurit elit, Tapi kurasa dapat disukuri daripada diberi nasi kepal lagi. Kami makan di meja-meja terbuka yang sudah dibuat sebelum kami datang kesini. Setelah mengambil satu piring penuh basker, Makanan sejenis bubur kentang dicampuri dengan ayam. Aku duduk berhadapan dengan Gili "Gili" kataku menyapanya. Aku sudah sejak kemarin ingin punya waktu berdua dengan mixi ini.
"Kau.." dia mendengus kesal, dia mungkin ingin pergi dari sini dan makan dengan tenang di meja lain. Tapi harga dirinya terlalu tinggi.
"Kau tahu, kau tidak bisa menghindariku terus. Bagaimana tidak kah mau minta maaf ? karena aku tidak bisa membantumu di medan perang"
Gili meminum air satu tegukan "Kau pikir dirimu yang paling hebat ? Mereka tidak tahu kau berasal dari mana"
Aku tersenyum "Tidak penting kan ? kita sudah disini sekarang" aku menusuk kentang dengan satu sendok kayu "Katakan kenapa kau memberi tahu Khamer aku berburu ?"
Gili terlihat sudah tidak mau makan lagi "Aku benci pada mulutmu dan aku mau uang lima ribu yach yang kau ambil dari keluarga kami kau kembalikan"
"Ayahmu akan mendapatkan lebih banyak" aku menyuapi kuah basker yang terasa hambar dengan santai, ku sesap daging ayam yang ada di dalamnya "Itu bukan uang yang banyak"
"Karena mulutmu itu, ayahku kembali ke tempat paling tidak diinginkannya. ALtar. Tempat itu katanya seperti neraka" jadi sepertinya dia marah, wajahnya hampir membiriu menahan amarah ingin menggorkku. Ngomong-ngomog dia tidak bisa melakukan itu, karena sekali tebas aku pasti sudah memotong lehernya seperti memotong leher rusa itu
"Dia akan mendapatkan uang yang banyak"
"Dan kau tahu, mungkin sekarang dia di Pustinya, dalam keadaan perang seperti ini. Mungkin saka...ah..!" dia putus asa. Kasian dia, karena terlalu pintar, pikirannya jadi rumit. Bagaimana mungkin bisa pergi dari Altar dan Pustinya hanya dalam waktu beberap minggu ?
Entah kenapa bibirku terangkat mengembangkan senyum. Aku tidak bisa tidak tertawa melihat ikatan ayah dan anak ini. Aku tidak tahu kalau orang-orang mixi memiliki kasih sayang begini, bagiku mereka adalah orang-orang tamak yang dibuat memiliki kepala pintar untuk suatu hari merusak dunia ini. Yubax adalah bukti ketamakan mereka, cara klan mixi membuat perangkap...uh iya. aku bisa memanfaatkannya "Gili"
Dia merengutkan alis melihat perubahan diwajahku yang terlalu tiba-tiba
"Aku memutuskan untuk memaafkanmu" kataku terlalu tiba-tiba, wajahku berubah ramah tamah padanya.
Gili menggeleng-geleng tidak pecaya dengan reaksiku
"Kita bisa mendapatakan uang lebih banyak dari pada ayahmu"
Tangan Gili mengepal dia ingin menghajarku, aku sangat hafal sikap orang-orang yang mulai kehabisan kesabaran padaku
"Biar ku jelaskan. Kau tidak berpikir kau akan selamat di peperangan ini kan Gili ?" aku meneguk segelas air dari wadah tempurung kelapa "Kau bisa membuat kita menang"
"Kau bicara omong kosong"
"Teman..." aku punya kemampuan baru menghasut dan membuat perjanjian. Ingat, aku mempertaruhkan nasib orang lain dan mengelabui mereka. Kalau hal-hal ini tetap kubawa ketika aku menjadi raja kelak. Akan jadi apa rakyatku. HIDUP RAJA ALTAR MATITI ! Pufft...
Jon harus lihat bagaimana Gili membuang muka ketika aku memanggilnya teman.
"Aku punya bubuk mesiu, kau bisa gunakan ? maksudku. Aku ingin kita memenangkan perang ini. Kita bisa pulang ke Pasataria"
Dia sepertinya tidak tertarik dengan tawaranku. Kenapa ? Apa ada yang salah denganku ?
"Tidak ada jalan untuk kembali, Tikus"
"Ada asal kau pakai otakmu itu, gunakan. Kau bisa ! Kau ahu sebagaiman kau tahu Klanku yang berasal dari langit, kami cekatan besar dan gemar bertarung tapi kami tidak punya kecerdasan lebih baik dari Klan Mixi. Kau tidak usa memungkiri nenek buyutmu Gili. Kau tetap berasal dari Altar"
Dia masih diam tidak tertarik, mulutnya terbuka dan menutup seperit ikan. Aku masih menunggunya untuk bicara
"Kita bisa membantu mereka pulang pada anak dan istri mereka, Kita bukan prajurit, keahlian mereka cuma memasak, bertani dan berdagang"
"Kau bukan..." sanggahnya "Aku tahu kau bukan orang biasa kau bersama Sezarab, kau bersama mata-mata paling dicari di Negri Syaka. Dia adalah gurumu !"
Aku mengusap-ngusap wajahku, bicara dengan orang ini tidak mudah. Aku lebih suka bicara dengan laki-laki d***u. Orang pintar kerjanya cuma berbelat-belit.
"Aku dan Sezarab hanya bertemu ketika kami sama-sama kabur ke negri Syaka, dia mengajarkanku bertarung, sedikit pelajaran pedang, sisanya aku belajar karena situasi. Kalau berburu aku memang pandai berburu sejak kecil. Aku tumbuh di Klan yang rata-rata orang-orangnya memang makan dengan hasil buruan mereka"
Dia mengerutkan alis
"Dan asal tahu saja, aku bisa menghubungi guruku untuk mencari ayahmu di Pustinya. Aku bisa menawarkan sesuatu padanya dan pasti dia akan kembali pada kalian. Kalau kau bersedia, dan kalau kita semua tidak berakhir disini" Aku terkekeh merasa menang, kenapa baru terlintas sekarang. Karena dia membawa-bawa nama Sezarab aku jadi ingin membuat kesepakatan dengannya.
Luar biasa Matiti,
"Sezarab di Pustinya"
Aku mengangguk
"Lalu bagaimana caramu berkirim pesan padanya ?"
"Itu biar aku yang mengatur, tugasmu adalah berpikir bagaimana cara kita agar bisa memenangkan perang ini dan kembali di Pasataria. Gili.." aku memanggil namanya dengan sungguh-sungguh "Kita bisa melakukan semuanya dengan maksimal. Kau lihat mereka, mereka juga punya keluarga Gili ! Tenaga mereka setiap hari diperas untuk membayar pajak pada kerjaan lalu mereka berkahir disini, di garis terdepan siap mati, memebela Raja"
Gili terdiam keliatan berfikir "Kita memang harus membela Raja"
Aku menggeleng "Bagiku. Aku adalah raja buat diriku sendiri, kalau aku mau hidup maka aku akan hidup kalau aku mau jasadku berakhir di koyak burung pemakan bangkai, maka akupun aku berkahir disana" Aku sudah kehilangan minat makanku, aku sudah terjun bebas dalam diskusiku dengan Gili. Karena otak ini mendadak punya rencana. Aku mencondongkan tubuhku "Kita adalah Raja. Pernah ada yang bilang padaku bahwa dunia ini milik kita dan kita bebas melakukan apa saja"
Gili menautkan tangannya tertunduk, si Mixi sedang berfikir. Tidak berapa lama kepalanya kembali terangkat "Persetan pasukan elit"
"Persetan mereka"
Balasku
Itu kali pertamanya mixi ini tersenyum padaku "Jangan peledak" katanya pelan "Kita butuh sesuatu yang lebih baik, dan menimbulakan kebingungan. Aku suka melihat orang-orang ketika mereka keliatan bodoh" dia tertawa
"Aku juga suka itu"
?
Malam itu kami berkumpul di meja kayu sehabis menyantap makan malam, teman-temana peleton yang lain akan menghabiskan malam mereka bermain kartu atau sekedar membincangkan kehidupan, sebagian tidur dan yang memiliki tugas jaga di menara pemanatu akan bertugas.
"Aku tidak suka cebol ini masuk dalam kelompok mau pulang kita" Jon duduk di sebelahku dengan kasar setelah tadi makan di meja yang berbeda bergabung bersama Peleton Murai "Apa diskusi kali ini berkaitan dengan dia ?" Jon masih tidak mau melihat Gili
Aku mengangguk dramatis
Jirit adalah tipikal manusia yang emosinya terpampang di wajahnya, jika dia tidak suka kita akan tahu, jika dia menyukai sesuatu dia tidak akan merasa lelah tersenyum sepanjang hari, dan kalau dia ketakutan itu gampang sekali dilihat. Sekarang ini wajahnya seperti orang mau mati "Sebelum...kalian merencanakan sesuatu aku mendengar " dia mengerjab "Mereka sudah datang, pasukan Pustinya. Mereka membuat barak di sepanjang padang rumput di bawah bukit Alfold"
Tidak !
"Ku pikir kita yang akan menyerang mereka" Pada pidato terakhirnya, Zamir mengatakan kita harus menuntut balas atas orang-orang yang mati di Pustinya. Kalimat itu kuartikan sebagai, 'kitalah yang akan menyerang mereka lebih dulu'
"Kalau begitu kita harus percepat rencananya" Gili bersemangat "Kata mu mereka membuat barak di bawah bukit Alfold ?" Gili mengeluarkan arang bekas bakaran kayu dan juga secarik partchmant. Dia menjadikan kayu yang sudah terbakar itu untuk menggamabar lokasi kita saat ini "Ini istana ketujuh " Dia mulai menggambar dengan gambaran kasar istana ke tujuh " mereka kira-kira tiga mil atau sama dengan sepuluh ribu langkah kaki jauhnya dari tempat kita" Gili berfikir lagi "Kau tidak tahu kapan mereka akan menyerang ?"
Jon menanggapai "Mungkin ketika pagi hari, arah matahari menguntungkan bagi mereka "
"Menurutmu dia akan langsung menyerang bentang dari arah depan ?" tanyaku, karena menurutku itu terlalu mudah.
Kukuta menggeleng "Peperangan disini tidak seperti itu. Kalau langsung main serang, mereka akan menyalahi aturan yang dibuat leluhur mereka sendiri. Bahwa negosiasi terakhir di butuhkan sebelum perang dimulai. Dan setelah mereka datang mendekat ke benteng ketujuh, mereka akan mengirim salah satu panglima mereka bernegoiasi dengan panglima perang Syaka, yaitu Vilagit"
Vilagit lagi, aku tidak tahu seperti apa wajah Villagit, setahuku panglima perang kita adalah Viz "Diamana Villagit ? Aku tidak pernah melihat batang hidungnya" kataku kasar
Kukuta menunjuk ke dalam istana "Tidur cantik di dalam istana"
Mendadak aku bersimpati pada Khamer karena biar kata dia adalah seorang pangeran dia masih mau berlatih di luar benteng kecil bersama kami. Dia masih mau turun dan berbicara, bahkan denganku. Sedangkan Vilagit ini sedikit tertutup "Kau kan pernah bertemu dengannya, si gendut waktu itu, yang ingin di sobek mulutnya oleh Viz"
Aku mendengus. Aku hampir lupa kalau pasukan elit yang lain sudah lebih dulu sampai dan bermukim dadalam benteng kecil diketuai oleh Vilagit
"Maka kita tunggu mereka datang" Jirit bergumam memecahkan keheningan
Gili mengengguk "Selama menunggu mereka, kita harus memutuskan kira-kira dimana mereka akan berperang, sehingga kita bisa membuat ranjau disana dan mulai melempari mereka dengan asap buatanku. Tapi asap itu akan sia-sia kalau di siang hari"
"Asap macam apa ?" tanyaku penasaran
"Aku butuh kayu Muaram, dan daun Liliat"
Aku mengerjap merasa aneh mendengar daun itu "Siapapun yang bisa keluar untuk berburu kumpulkan dua benda itu untukku, aku akan membuat senjata untuk kita"
"Tapi perburuan dihentikkan oleh Aditia, terlalu beresiko, mereka akan membagi persediaan makanan di dalam istana"
Kukuta menghela nafas "Jangan bilang aku kan di berikan nasi kepala lagi" dia mendesah kesal
Kita tertawa. Sambil melanjutkan memetakan daerah sekitaran benteng malam itupun berlalu.