Keesokannya aku terbangun dengan kulit yang sudah menyatu kembali. Tidak ada sedikitpun luka di tubuhku. Tubuhku sudah kembali normal. Aku kebetulan tidur di dekat perapian dan bertelanjang d**a. Aku sudah tidak melihat luka sama sekali.
"Kau sudah tidur dua belas jam"
Aku menengadah, ada Sezarab. Aku langsung terbangun ketika melihat apa yang dia lakukan "Kau apakan pedangku ?"
"Ku asah, bagian bertakuknya. Sebagain sudah tumpul" Aku melihatnya dia mengasah dengan sangat hati-hati. Aku tidak percaya Sezarab yang baisanya bertampang sangar memiliki kelembutan seperti itu ketika dia sedang mengasah pedang. Tapi ! Kalau dipikir-pikir dia memang memiliki gerakan tangan seperti seorang penari, ketika dia menggerakkan pedangnya dia juga seperti itu. Dia melakukannya dengan gerakkan yang lembut seakan sedang menari, tapi kalau pukulannya selalu tajam tepat sasaran dan berbahaya.
Kalau kupikir lagi, semalam memang aku sempat menggunakan bagian mata pedang yang tertukak-tukak dan tidak berhasil mengerat si beruang. Aku tidak sadar pedang itu sedikit tumpul.
Aku mengambil pakaianku, menutupi tubuhku dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Aku mengamati bagaimana dia mengasah pedangku.
"Kenapa ?" tanyanya "Kenapa kau melihatku seperti itu ?"
"Kau punya tangan dan jari-jari yang cantik, seperti permepuan"
Sezarab terkekeh "Orang punya kelebihannya masing-masing"
Untuk itu aku belum tahu kelebihanku apa
"Kau mengawasi kami semalam di rumah gubernur ?"
Sudut bibirnya terangkat "Aku selalu mengamatimu, aku sudah berjanji pada Gudati. Bagiku janjiku adalah tulangku aku tidak akan meninggalkannya sampai aku mati" Dia melihatku dengan sudut matanya sementara tangannya masih bergerak anggun mengasah tiap takuk yang ada di sisi pedangku "Kau berjanji menjadi raja, kau harus melakukannya"
Aku menghela nafas. Terasa tenggorkanku terganjal benda asing setiap kali aku di ingatkan akan hal itu.
"Aku melihatnya Matiti, terkadang aku bisa menerka kau akan jadi raja seperti apa" Seakan bayang-bayangku yang sudah menduduki tahta Altar terlempar ke hadapannya dan dia tersenyum tipis "Kau berbeda Matiti, kau tidak sama dengan Babamu"
Aku berharap aku sama dengannya, satu satunya pemimpin yang kujadikan panutan adalah Baba
"Kau mirip ibumu"
Aku tahu, kalau aku seperti Baba tubuhku...ah sudahlah tidak pernah ada yang salah sebenarnya
"Kau tidak bisa mengikuti rencana, kau selalu mengikuti caramu. Kau seorang pemberontak"
Deba datang entah dari mana yang jelas dia membawa nampan berisi roti dan sup kentang yang wanginya langsung memenuhi ruangan ini. Dua butir telur rebus di letakakan di sisian yang lain bersama keju yang terlihat begitu nikmat "Makanlah"
Aku meraih makanan itu, kebetulan aku lapar. Aku terduduk menekuni piringku. Deba duduk di renjangnya. Melihatku makan. Kelambu yang mimisahkan ranjangnya dengan ruangan ini sudah digeser. Deba memangku tangannya melihatku makan "Bagaimana caramu mengalahkan beruang ?" tanyanya
Aku melirik Sezarab, laki-laki itu selalau saja tersenyum setiap Deba mengajukan pertanyaan padaku. Jon belum pulang dia bermalam dengan seorang perempuan dan sepertinya belum pulih dari mabuk di rumah perempuan itu. Dasar Jon !
"Aku lupa persisnya. Tapi aku menusuk lehernya dengan belati kecil" aku melihat Sezarab "Apa yang kau dapatkan di bar ?" tiba-tiba aku ingin mendalami masalah orang-orang Syabir
"Perempuan yang bisa menyayangiku" dia mengelak, padahal dia tahu apa maksudku.
Aku mendengus, tak sabar "Soal Syabir dan Pustinya ?" sementara aku menunggunya menjawab dua potong roti sudah masuk ke dalam mulutku.
"Berita itu belum pasti" dia terlihat aneh, sorot matanya seperti sedang berkelana entah kemana meski tangannya terus bergerak mengasah pedangku "Sepertinya aku harus kembali"
"Maksudmu ?"
"Kembali ke kerjaan, bertemu dengan panglima dan tangan kanan raja"
Seperti dugaanku. Dia memang orang penting di kerjaan Syaka. Bukannya dia sendiri yang bilang bahwa tidak mudah masuk ke kerajaan Negri Syaka. Sekarang tiba-tiba saja dia mengajukan diri untuk masuk ke tempat itu. Seharusnya sejak lama, aku bisa mudah bergabung dengan prajurit kerjaan itu.
Aku menunggu Sezarab melanjutkan, Deba sepertinya mengharapkan hal yang sama denganku. Aku meninggalkan makananku, duduk lurus-lurus menghadapnya "Katakan..." Aku mengayunkan tanganku "Aku tidak suka di bohongi ! Siapa kau ? Apa hubunganmu dengan kerajaan"
"Aku kan sudah pernah cerita"
Aku menggeleng "Apa posisimu dulunya di kerjaan sebelum kau masuk ke Klan kami ?"
"Mata-mata"
Jawaban singkat yang tidak memuaskan. Aku memutuskan kembali saja menekuni sarapanku. Sial Sezarab ! dia pandai memainkan emosiku. Andai aku tidak ingat bahwa aku menumpang di gubuknya, piring deba sudah ku lempar mengenai wajahnya. Sialnya, dia malah terkekeh.
?
Rupanya Sezarab tidak mau membuang waktu lagi dalam membagikan ilmu pedangnya padaku. Dia mengajariku bagian tubuh-tubuh manusia yang harus ku jadikan sasaran saat bertarung. Katanya sebelum mengincar perut aku harus pastikan aku bisa menusuk tengkuk atau leher. Paling bagus kalau aku bisa langsung mengerat bagian pangkal paha. Pertemuan paha dan tulang pinggang, kata Sezarab melukai bagian itu akan langsung melumpuhkan.
Mula-mula aku masih sangat sukar untuk menjatuhkannya. Tapi kerana setiap gerakannya, dia berceloteh aku jadi sadar masukan-masukannya tertinggal di kepalaku dan pelan-pelan aku menggunakan trik-nya untuk menyerang balik.
Dia bermain-main dengan pedang, seperti menari. Semantara aku bertingkah lebih agresif. Dia tersenyum padaku, dan aku tahu aku melakukan hal yang benar ketika melawannya dengan memindah posisi tubuhku, aku terus bergerak sementara tanganya juga bergerak, aku menghentakkan kakiku mengalihkan perhatiannya dan aku bisa meletakkan pedangku di lehernya "Hehe, bagaimana ?"
Dia mencibir, menggelakkan kepala ke kiri "Kalau seperti ini" dia memutar tangannya hampir mengibas leherku. Aku mendorong tubuku kebelakang. Ujung pedangnya yang bergerak berada dekat hidungku. Aku menunduk secepat itu pula, aku mengayunkan pedangku ke pahanya.
"Sial" katanya
Aku tertawa puas
"Aku mendengar apa yang kau ucapkan Sezarab, kalau kau tidak mau aku kalahkan seharusnya kau tidak memberi tahu aku apapun"
Sezarab mengangguk melepaskan pedangnya "Aku mengakui kemajuanmu dalam semalam. Mungkin ini karena si beruang.."
Kami memutuskan untuk berisitiraat "Mungkin" aku juga tidak tahu.
Kami duduk pada kayu-kayu di sisian danau "Mungkin juga karena, aku mulai menyadari sesuatu"
Aku merasakan tatapan Sezarab padaku
Aku memasukkan pedangku ke dalam sarungnya "Aku tidak bisa mengandalkan siapapun selain diriku sendiri. Bahkan kau, karena kita semua bisa pergi ke jalan hidup kita masing-masing. Kau bisa saja terbunuh ,Jon dan Deba mereka, bisa saja meninggalkanku. Aku...sadar kita hidup didalam duania yang kejam, kita orang-orang yang dikelilingi dengan kekerasan dan perang. Segala halnya bisa berubah dalam satu kedipana mata. Mempertaruhkan hidupku dalam keberuntungan sungguh tidak cukup" aku menggendong pedangku "Yang terpenting aku harus bisa bertahan"
"Kau benar" dia terdiam sesaat, matanya seoalah laurung dalam air danau. Seperti abu yang ditebar dan hilang "Setelah aku kembali ke istana, tidak lama tugas baru akan ku dapatkan dan aku akan pergi ke negri lain" Dia memukul bahuku "Tapi jangan hawatir aku akan tetap menjagamu"
Aku berterimakasih untuk itu, tapi aku sudah memutuskan aku akan melakukannya sendiri dengan caraku.
?
Setelah berlatih aku jadi sangat lapar aku menghabiskan satu ekor kelinci sendirian bersama roti sobek yang di bubuhi keju. Ku teguk segelas Quela tanpa jeda, kebutulan Quela yang kami miliki tidak terlalu memabukkan.
Jon sampai menggeleng-geleng melihatku "Kau tidak pernah makan sebanyak ini sebelumnya"
Sezarab hanya tersenyum, senyumnya selalu misterius bagiku "Aku harus bertemu sahabatku di Rakdak" Dia bangkit dari duduknya mengambil satu pedang dan menyembunyikan satu belati di punggungnya.
Sezarab tidak terlihat seperti seseorang yang akan bertemu dengan sahabatnya.
Sezarab mengambil jubah untuk di kenakannya sebagai luaran. Dia menutupi wajahnya dengan tudung Jubah dan meninggalkan kami bertiga.
Aku bersiap untuk keluar. Aku menyelipkan belati dan kunai pada sabuk senjata. Ku ikatkan satu belati di pahaku. AKu tidak mau keluar tanpa senjata siapa saja bisa memburuku.
"Kau mua ikut ke bar lagi denganku kawan ?" tanyaku pada Jon
"Kau tidak punya yach !" gumamanya malas.
Aku menunjukkan seratus yach yang masih kumiliki. Mungkin dia pikir uangku habis untuk ku berikan pada laki-laki pengantar persediaan makanan kemarin, dia salah ! Sezarab memberikan aku tambahan untuk menyogok pekerja di rumah gubernur, karena dia berfikir aku akan mengikuti rencananya.
Deba berjalan cepat ke dalam biliknya dan keluar dengan jubah berwarna hitam seperti jubah yang dikenakan Sezarab tadi. Dia membawa sebuah kantong "Aku masih punya seratus yach, untukmu asal aku diizinkan ikut"
Aku melirik Jon, berharap dia keberatan.
Deba selalu menjadi pusat perhatian dimanapun dia berada, dia terlalu mencolok. Karena rambut dan mata birunya terlihat berbeda. Berjalan bersama Deba seperti membawa barang paling mewah. Apalagi kami akan ke bar, dimana disana kebanyakan berisi laki-laki mabuk dan perempuan penghibur. Aku takut, bukannya mendapatkan informasi tentang perekrutan prajurit kami malah menimbulkan keributan.
"Kasian dia, dia menghabiskan sepanjang hari berkutat dengan dengan dapur, membersihkan rumah" Jon malah membelanya
Deba membuat mimik sedih, minta di kasihani
Aku berdaham, memalingkan wajah tidak bisa bertahan dengan dengan wajah menis Deba ketika mengeluarkan mimik itu "Baiklah, jangan sampai ada masalah ! Kau harus menutupi dirimu"
Seratuh yach yang Deba miliki lebih berharga daripada dirinya.
Lalu, aku melihat Bazar melilit-lilit di kakinya yang telanjang
"Deba, Bazar sepertinya tidak bisa ikut"
Dia menggeleng "Tidak...tidak dia tidak akan ikut, Bazar akan berburu"
"Bagus"
Kami menaiki jalan menanjak Pasataria, melewati rumah-rumah khas. Memang seperti kataku Deba ini selalu mencuri perhatian, setiap kali ada laki-laki yang berpepaapasan dengan kami, mereka selalu melihat ke arah Deba. Untungnya ada si tubuh besar Jon yang menatap mereka dengan tatapa awas sambil memain-mainkan kapaknya.
"Mau berjudi ?" tanyaku pada Jon
"Kita ke bar dekat istana pertama, disana lebih baik"
Sebenarnya, aku butuh tempat yang lebih rusuh, lebih banyak laki-laki brengseknya. Tapi ya sudahlah. Memang tidak bisa. Aku memandangi Deba dengan kesal "Kau ini membuat repot saja"
"Maafkan aku" dia meminta maaf dengan suara lembut tertunduk menyadari rencana kami sedikit berubah karena keikutsertaannya.
"Sudah-sudah kita duduk saja di sana, aku kenalan dengan beberapa orang semalam. Kita coba mencari tahu di tampat itu"
Pasataria penuh sesak dengan manusia manusai yang mencari kebahagiaan, makanan, judi, Quela dan perempuan. Kami duduk di salah satu meja di sebuah bar yang dipenuhi aroma rempah.
"Maaf tuan penyewaan meja ini..."
"lima puluh yach..." Sambut Jon pada seorang pelayan laki-laki yang menegur kami karena tiba-tiba duduk di salah satu meja. Aku tidak tahu peraturan yang berlaku di tempat ini. Jon lebih tahu rupanya. Dia siap untuk jadi orang Pasataria.
Pelayan laki-laki berusia sangat muda tersenyum canggung pada kami
"Bawakan kami tizzhuila, basrker dan masing masing segelas penuh Quela persik terenak"
Aku menggeleng-geleng melihat kemanatapan sahabatku, dia sekaan-akan sudah jadi orang Pasataria sekarang. Akupun tidak tahu apa-apa tentang masakan yang disajakikan orang-orang sana. Yang kutahu hanya telur rebus dan kentang yang sering dibuatkan Deba.
"Kami kehabisana Basker"
Basker itu apa ? akupun tidak tahu. Deba rupanya sama bodohnya denganku dia meminta penjelasan padaku. Aku mengedikkan bahu tidak tahu makanan jenis apa Basker itu.
"Kalau begitu Montela"
"Apa lagi makanan itu Jon.." aku mendesah sambil memalingkan wajah
Si pelayan tersenyum, dia tahu kami baru berada di sini "Montela itu daging kambing yang di di sajikan dengan sup quela sangat enak, beserta rempah lainnya"
Yang benar saja, dia sudah makan tadi
Aku tidak habis pikir "Aku harus mengisi perutku Matiti ! kau menghabisi persediaan makanan kita. Aku yakin Deba tidak sanggup membuat roti malam ini"
"Baik tuan-tuan, kita butuh beberapa menit untuk menyiapkan pesanan kalian, dikarenakan Bar kami sangat ramai, malam ini adalah malam pelelangan"
"Maaf..." aku membuat langkah pemuda pelayan itu berhenti "Malam pelelangan ?"
"Kerajaan melelang Quela-quela terbaik, sebentar lagi mereka akan melakukan pelalangan di istana pertama"
Deba tersenyum "Menarik"
"Iya sangat menarik, menarik untuk melihat para pedagang yang gila akan Quela menggasak kantong mereka hanya untuk menjilat raja"
"Maksudmu ?"
Dia menoleh ke belakang melihat seseorang yang tubuhnya lebih besar dan kerjanya memerintah, berdiri di mimbar bar untuk melihat setiap orang dengan mata runcing. Kurasa itu bosnya. Bosnya masih sibuk. Dia memutuskan untuk kembali mendekati kami, menjelaskan tentang malam pelalangan quela.
"Setelah memenangkan Quela - Quela termahal itu, nama pedagang itu akan dilaporakan pada Raja dan dia akan diundang raja minum teh di kerajaan. Begitulah cara mereka menjilat Raja. Mereka akan mulai mengenalkan dan membanggakan dirinya, menjual anak-anak gadisnya hanya dengan sebotol Quela. Kerjaan Syaka selalu menyediakan jalan pintas untuk orang-orang kaya supaya makin kaya"
"JARIT SEDANG APA KAU ?"
Jarit, pelayan muda itu terlihat semakin kaku "Tuan berikan aku lima puluh yachmu, sebelum aku di gorok oleh dia"
Aku mengeluarkan lima puluh yach. Jirit berterimakasih dan berjanji akan menyiapkan makanan kami lebih cepat. Aku melihat ke luar jendela bar "Jam berapa pelelangannya"
"Sebentar lagi" Jawab Deba
Secepat itu, dia mendapatkan informasi dengan mencuri pengelihatan hewan di istana pertama
"Pintu utama istana pertama sudah di buka, banyak prajurit. Orang biasa tidak bisa masuk. mereka hanya bisa menonton dari luar pintu utama. Kecuali kau adalah orang terpandang"
"Sezarab tidak memberi tahu kita hal ini"
"Kurasa tidak ada hal besar dalam pelelangan Quela ini" Sergah Jon
Mungkin memang benar, tapi aku tetap ingin tahu mengenai pelelangan ini. Aku ingin lihat siapa saja yang datang dan suguhan apa yang bisa ditawarkan dari lelang ini "Aku tetap ingin menonton pelalangannya"
"Bagaimana kalau aku saja yang menonton dan kau duduk makan disini. Ada burung camar yang punya sudut pandang bagus. Aku bisa menggunakan pengelihatannya"
Aku menggeleng "Aku akan mengendap ke dalam istana"
Jon menaikkan kapaknya di atas meja "Berani melakukan itu, kubuat kepalamu gepeng. Matiti"