DUA PULUH DUA

1944 Words
Kenapa aku ingin menonton pelalangannya sendiri dan tidak menerima tawaran Deba ? Karena aku ingin melihat sendiri, aku ingin tahu bagaimana orang-orang kaya di kota ini berinteraksi, bagaimana permainan mereka. Aku ingin menganali wajah mereka satu persatu dengan mataku sendiri.   Ketika Deba dan Jon sedang menikmati makanannya aku pura-pura pergi ke meja Bar, meminta izin pada bos Jirit agar membiarkan ku bicara dengan Jurit. Aku beralasan ingin berterimakasih padanya. Jurit mendatangiku  "Kau tak punya teman ?" tanyaku langsung tanpa basa basi Jurit bingung, apa yang sebenarnya kubicarakan.   "Aku ingin masuk ke istana pertama. Menyaksaikan pelelangan ini" ujarku sangat jujur padanya "Aku mau melihat aturan mereka melelang Quela dan nama-nama quela..." Jurit terlihat ketakutan dia menggeleng mencoba mencegahku "Kau akan di gantung di tembok benteng pertama. Kalau kau sembunyi-sembunyi masuk ke sana. Mereka akan menyangkamu ingin mencuri Quela kerajaan yang berharga. Mayatmu akan dibiarkan membusuk dan jadi makanan burung bangkai. Pertahanan keamanan mereka tidak main-main, tuan"  "Panggil aku Matiti" ini pertama kalinya aku mengenalka diri pada orang asing "Aku punya lima puluh yach untukmu kalau kau bisa membawa aku dan temanku masuk"  "Kau tidak mungkin berpura-pura menjadi saudagar kaya tuan" Memang "Lalu ?"  Dia menggeleng "Nanti kupikirkan aku harus bekerja. Tunggu saja aku. Sepakat Matiti"  "Sepakat kawan" aku memainkan mata  Jirit cuma menggeleng, terlihat ragu. Tapi dia tetap menjabat tanganku "Duduk lagi sana, nanti aku dimarah bos"  Aku tersenyum kecil dan kembali ke meja kami. Duduk bersama dua kawanku  "Apa yang kau lakukan ? beri tahu aku ! Kita s..."  Aku menepuk-nepuk lengan Jon "Kali ini kita akan melakukannya tanpa sembunyi-sembunyi. Tenang" Tenang biar Jirit yang pikirkan karena lima puluh yach sudah ada di tangannya.  Sambil menunggu Jirit menghampiri kami. Kami menghabiskan makanan. Aku tidak menyangka aku bisa menghabiskan semua makanan dengan sangat cepat. Jon sampai-sampai heran dengan nafsu makanku yang jadi berubah. Aku merasa cocok dengan makanan yang ada di Negri Syaka.  Diam-diam  aku mencuri pandang pada Deba, aku melihat matanya sesekali berbuah hitam pekat, menyisakan sedikit sekali warna putih tapi itu hanya berlangsung beberapa detik saja sebelum matanya kembali sebiru lautan.  "Apa yang kau lihat ?"  Senyum terangkat tipis di wajahnya "Orang-orang mulai berkumpul"  Aku mengangguk, sambil menyesap sedikit Quela, ku sapu mulutku dengan lap berwarna gelap yang berbau apek, rasanya aku berhak mendapatkan lap yang lebih baik mengingat aku menyewa meja ini sebesar lima puluh yach. Dari jendela aku melihat orang-orang mulai berdatangan, berjalan menuju istana pertama, tentunya mereka semua ingin menonton pelelangan Quela yang sangat terkenal itu.  Ini jenis kesenangan baru, yang di luar dugaanku. Negri ini mengadu orang-orang kaya, untuk dilihat siapa yang akan memenangkan perhatian Raja, sehingga  menjadi orang yang makin kaya. Menjadikan kerajaan sebagai relasi bisnis mereka. Ini menarik, Negri Syaka ini memang menarik. Kemajuan negara ini jauh berlangkah-langkah lebih maju ketimbang Altar.  "Matiti" Jirit menepuk bahuku "Ikut aku"  Aku tersenyum. Saatnya.  Melihat Deba ikut berdiri aku memberinya isyarat agar dia menunggu disana "Terlalu banyak orang Deba, kau tunggu saja disini. Nanti Jirit akan kembali untuk menjagamu. Biarkan aku dan Jon saja"  Jirit merasa bingung "Tunggu kau menambahkan tugas buatku ?" Dia merasa tidak terima.  "Kau tidak akan ikut dengan kami kan ?"  Jirit menggeleng "Memang tapi aku...."  "Kuberi kau dua puluh dolar, setelah kau membuat kami bisa masuk kerajaan kau bisa kembali sini. Jaga dia !" aku menunjuk Deba  Deba terlihat tidak sepakat. Aku meruncingkan mataku, kalau tatapan mataku bisa membelah, tubuhnya pasti sudah berhamburan.  Deba terpaksa hanya terdiam "Kau bisa kemana saja dengan matamu Deba" kataku mengikatkannya sementara aku berjalan mengikuti Jirit.  Jalanan Pasataria di penuhi orang-orang. Aku tidak tahu bahwa penduduk negri ini sangat banyak. Aku rasa mereka tidak berasal dari Pasataria saja. Jon berbisik padaku "Ini bahaya, kalau ada orang yang mengenalmu"  "Memang kita di Altar" jawabku tidak peduli. Aku terlalu ingin tahu seperti apa lelang yang membuat semua orang Negri Syaka menjadi setertarik itu untuk melihat prosesnya.  Kebanyakan mereka para laki-laki biasa, bukan kestria. Mereka pedagang biasa, rakyat biasa dan petani. Tidak ada yang membawa senjata kecuali aku dan Jon, mungkin. Orang-orang jadi melihat kami karena  senjata yang kami bawa. Apalagi Jon. Dia menenteng kapaknya yang besar kemana-mana.  Mendekati pintu utama istana pertama, penuh manusia. Hampir-hampir aku tidak bisa bergerak karena banyaknya manusia. Jirit memiliki tubuh kecil, dia tidak jauh krempeng dariku "Ayo Matiti"  "Kau lihat aku tidak bisa bergerak"  Jirit menyelipkan tubuhnya di antara orang-orang "Permisi-permisi aku bawa pesan. permisi"  Yang benar saja, kebohongan macam apa yang dia katakan pada orang-orang. Mudah sekali buatnya untuk berkata-kata. Si Jirit. Pesan macam apa ?  Orang-orang berdesis marah melihat kami yang menyerobot mendekati gerbang utama. Jiri berbicara pada seseorang. Orang itu awalnya tidak mau tapi Jirit memberikan dua pulu yach padanya. Jirit menunjuk aku dan Matiti.  Orang itu bertubuh besar, sangat kontras dengan Jirit, sebelah wajahnya terbakar.  Tapi sayangnya bekas luka di wajahnya tidak lantas membuat dia terlihat seperti orang yang jahat. Dia mudah tersenyum dan berbicara pada saipa saja termasuk Jirit.  "Kau sini !" perintahnya pada Kami.  Di telingaku berkali-kali aku mendengar "Mau apa mereka !! "  "Dasar tukang serobot !!"  "Mungkin mereka orang kerjaan"   Aku hanya bisa bilang maaf. Laki-laki yang menerima dua puluh yach itu mendekati kami, merangkulku tanpa rasa canggung. Yang risih malah aku. Jon tidak bisa berbuat apapun selain mengikuti kami "Maaf-maaf mereka ajudan resmi, maaf"  Apa pula itu ajudan resmi ? kacung jenis apa pula ?  Tapi orang ini melakukan tugasnya "Jadi Jirid memberiku dua puluh yach agar kalian bisa masuk menggantikanku menjadi ajudan resmi.  Lagian orang yang memintaku jadi ajudan hanya punya uang seribu yach. Dia miskin. Jadi kalian saja yang masuk" katanya terlalu ceria "Namaku Kukuta, aku mengerjakan apa saja, kalian bisa panggil aku kalau kalian butuh bantuan" Dia mendekatkan wajahnya padaku "Aku juga pandai bertarung" dia menatap pedang di  bahuku. Sebelum pergi Kukuta memberikan lempengan kepada kami yang bersimbol bintang di tangah lingkaran.  Aku menoleh kebelakang. Jirit sudah melambai tenggelam di kerumunan orang-orang semakin membeludah. Jirit mengisyaratkan padaku bahwa dia akan kembali ke bar untuk menjaga Deba.  "Kalian ajudan resmi ?" tanya seorang penjaga gerbang  "Iya kami" Kataku sambil menunjukkan lempengan yang diberikan Kukuta.  Beruntungnya kami bisa masuk begitu saja. Penjaga pintu membuka palang pembatas di pintu istana pertama. Dan itulah kala pertama aku memasuki istana pertama.  Istananya jauh lebih kecil dari Kerjaan, tapi sangat megah, penuh dengan jendela kaca, bangunanya tampak kokoh terdapat tiga menara kecil satu menara pemantau di kelilingi benteng yang sekokoh bangunananya. Di tengah istana ada air mancur berbentuk putir cantik yang guannya melambai-lambai sedang memegang botol Quela. Tidak aneh, Quela bukan cuma minuman di negri Syaka ini melainkan ciri khas negri ini.  Bersebelahan dengan air mancur beserta patung putri cantik itu di bangun sebuah tenda kecil berpanggung pendek, di sana ada mimbar dan sebuah kursi. Para tamu undangan sudah duduk dengan rapi pada kursi kursi mewah yang berjejer mengadap ke istana pertama. Aku melihat pejagaan di setiap sudut isatan. Pasti sangat sulit bisa meloloskan diri dari mereka semua kalau ada yang mengacau di acara ini.  Seorang prajurti mengarahkan kami untuk bergabung bersama puluhan orang yang menyebut dirinya ajudan resmi. Begitu kami mendekati mereka, Jon mencoba untuk seramah mungkin, tapi itulah Jon dia selalu berlebihan. Dia menghentakkan kaki ketika bergabung dengan kelompok itu. Bodohnya dia, orang-orang itu malah berdengus memalingkan wajah.  Kami diberikan papan berwarna hitam bercatkan nomor berwaran putih. Sementara lempengan yang kami bawa di ambil si penjaga. Aku tidak mau kelihatan bodoh bertanya tentang nomor itu. Kita ikuti saja prosesnya.  Sebuah burung hantu terbang dan hinggap di bahuku, aku sempat merasa aneh karena di perhatikan orang banyak lalu aku lihat mata biru burung hantu ini. Deba ! aku tidak mungkin mengusirnya.  "Awas saja kau mengacau Deba"  Tidak lama kursi-kursi itu mulai terisi. Aku mendekati seseorang yang ada di sana. Berat rasanya menyapa dan memulai pembicaraan dengan orang-orang yang mendengus-dengaus dan terlihat sombong "Maaf tuan apakah Raja datang ?"  Pemuda itu merengut, seolah aku seeogok kebodohan yang dibiarkan masih hidup "Untuk apa Raja datang ? Dia tidak menghadiri acara macam ini, ini dilakukan untuk bersenang-senang. Kau pikir urusan Raja hanya sekedar Quela ?"  Lalu untuk apa dia disini ? Huh Memang seharusnya aku tidak bertanya. Jon sampai menyikutku memintaku menikmati saja acaranya tanpa banyak bicara.  Pelan-pelan kuris-kursi mulai penuh, satu -satu kuris terisi. Aku mulai tegang ketika para dayang-dayang istana pertama keluar membawa kotak kaca berisiki botol quela. Masing-masing kotak bisi satu botol Quela.  Salju mulai turun tipis-tipis tapi tidak ada yang hawatir kecuali aku. Aku salah soal salju, aku pikir dulunya ketika salju turun maka udara akan menjadi semakin dingin. Sayangnya tidak seperti itu, ketika Salju turun malah tidak terasa terlalu dingin. Aku mulai terbiasa dengan udara dan suhu di negri syaka.  Lanjut, ke acara yang mendebarkan buatku. Tidak buat orang lain.  Tidak untuk Raja  Laki-laki bertubuh sangat gemuk, gemuk sekali naik ke atas panggung kecil itu. Dayang dayang istana menaruh satu kotak kaca berisi quela di atas meja di panggung.  Laki-laki gemuk itu menghentakkkan kakinya memberikan salam "SELAMAT MALAM SELAMAT MALAM TUAN-TUAN PEMUDA PEMUDI PASATARIA YANG BAHAGIA"  Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru. Aku jadi teringat suara tawa Jon yang keras. Aku ingin Jon menggantikan bapak-bapak itu nanti kalau dia sudah pensiun karena pekerjaan menjadi pembawa cara lelang sepertinya sangat cocok buatnya.  "SEPERTI PERINTAH SANG RAJA TUNGGA, MALAM PELALANGAN DIPERCEPAT. KARENA BEBERAPA QUELA BERHARGA TINGGI SEMAKIN BANYAK PEMINATNYA, DAN ATAS DESAKAN DIKALANGAN ATAS KAMI AKHIRNYA MENGADAKAN  PELALANGAN INI "  Tidakkah dia butuh waktu sejenak untuk menarik nafas ? kenapa suaranya tidak habis-habis ? apa manusia ini sebenarnya bernafas ataukah dia semacam alat yang dibuat oleh Mixi. Astaga, aku tarik ucapanku tadi. Jon tidak akan bisa berbicara tanpa jeda seperti si gendut itu.  "MALAM INI HADIR BANGSAWAN, KAUM ELIT, KAMU TETINGGI, PARA SAUDAGARA KAYA RAYA. KALIAN SEMUA SAMA BERHARGANYA SEPERTI QUELA INI TUAN-TUAN..DAN..." si gendut melihat kami dan tersenyum "TENTU SAJA KAUM PAS-PASAN YANG ADA DI SISI SANA" suara tawa menggelegar di seluruh istana, menertawakan kelompok kami yang berdiri di sini sambil membawa papan bertuliskan angka.  Yang benar saja ?  "AKU AKAN MEMBELIMU GENDUT, TUTUP MULUT BUSUKMU" teriak seseorang dari kelompok ini.  Aku jadi semakin semangat mengikuti jalannya pelelangan ini.  Mereka semua mulai meneriaki si gendut sampai-sampai si gendut menyadari kesalahan bicaranya. Astaga orang-orang ini lebih brutal ketimbang aku. Rupanya mereka tidak segan-segan berteriak, tidak memedulikan para bangsawan dan para saudagar yang duduk manis di depan mereka. kalau ada raja apakah mereka akan melakukannya ? berteriak-teriak seperti itu ?  Terlepas dari semua itu, aku tahu maksud kata "Ajudan Resmi" mereka adalah orang-orang yang tidak punya uang. Tapi  ingin ikut di dalam lelang ini, karena terlalu malu menunjukkan wajah mereka, biasanya mereka akan membayar orang untuk menggantikan mereka mengikuti pelelangan. Sementara mereka bersembunyi.   Tepat sebelum mulai seorang datang dan membuat semua berdiri  Pembawa acara tersenyum keliatan sumringah " SELAMAT DATANG KAMI UCAPKAN KEPADA BAPAK GUBERNUR PASATRIA YANG SEMAKIN HARI TERLIHAT SEMAKIN KAYA"  Itulah kali pertama aku melihat gubernur yang kuciri minyak rubahnya kemarin. Dia laki-laki yang gagah, dalam pandanganku, dia bertumbuh tinggi semapai dan berperawakan tegap seperti seorang kesatria di Altar. Dia datang mengenakan jubah putih dan pakaiayn putih. Dia terlihat sangat rapi dan tampan. Dia laki-laki tua tertampan yang pernah kulihat. Wajahnya kaku dan dingin, tapi juga menunjukkan betapa cerdasnya dia.  Tidak lama setelah itu seorang gadis menyilinap di antara aku dan Jon. Jon menjauhkan diri dariku. Matanya menunjukkan tanda tanya pada gadis ini.  Awalnya aku tidak mengenalinya karena dia menutup wajahnya. Tapi setelah dia menurunkan penutup wajahnya aku melihatnya dengan jelas.  Dia putri Gubernur yang kubebaskan sehari yang lalu. Karena aku kaget aku tidak melepaskan pandanganku darinya. Dia balas melihatku. Astaga aku terserang kepanikan karena melihat wanita cantik itu.  "Kenapa melihatku seperti itu tuan ?" tanyanya polos dan tajam  Burung hantu yang duduk di bahuku mematuk-matuk ku, membawaku kembali pada kesadaran. Aku hanya menggeleng mencoba kembali fokus pada pelalangan ini.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD