DUA PULUH TIGA

2128 Words
Sedang apa dia disini ?  Tidak sengaja aku melirik, dia membawa satu papan nomor seperti aku dan lainnya. Aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran-pikiran yang terlintas tentang anak gubernur ini. Mencoba kembali fokus pada acara lelang.  Pada lelang Quela pertama kelompok para ajudan resmi berebut. Botol Quela pertama sangat biasa saja, karena itu harga yang muncul tidak lebih dari seribu yach.  Si anak gubenur, terlihat tidak tertarik. Palu lelang di pukul Quela pertama yang terbuat dari peragianbuah berry selama dua puluh tahun terjual dengan harga seribu satu yach.  Lelang kedua di buka. Kali ini dari penampakan botol Quelanya saja sudah sangat megah. Orang-orang kaya mulai mengakat nomor mereka. Sejauh ini yang bisa kupahami kualitas Quela-Quela itu tergantung dari botolnya. Si gendut menyebutkan bahwa Quela kedua berasal dari buah persik. Buah persik yang hanya tumbuh di hutan terpencil di dekat perairan Malaka. Buah persik itu hanya tumbuh lima kali dalam setahun dan Quela tersebut telah melalui proses peragian selama lebih dari enam puluh tahun. Yang benar saja... Quela ini lebih tua dari singgasana Raja Jamal, di Altar.  Quela kedua laku dengan harga limpa puluh ribu yach, ke tangan seorang saudagar kaya. Semua orang bertepuk tangan kepada saudagar itu. Pembawa acara mengumumkan nama Saudagar, dia adaah penjual buah-buah kering, dia adalah orang Pustinya.  Dua Quela lagi yang tersisa ! Quela yang ketiga di beli dengan harga enam puluh lima yach, dan aku rasa itu terlalu mahal, mengingat itu hanya Quela yang berasa dari beras, itukan sejenis Saki (minuman beralkohol di Klan Kwaititi). Yang membuat cairan itu begitu spesial adalah lamanya beras tersebut didiamkan, selama seratus tahun. Aku benar-benar menggelengkan kepala.  "Tuan..."  Aku bingung si gadis anak gubernur ini bicara padaku atau Jon. Aku menoleh padanya, Jon juga melihatnya "Kau bicara pada siapa nona ?"  "Kalian berdua" jawabnya mantap  "Berapapun harganya Quela yang terkhir, aku harus mendapatkannya"  dia berdaham "Masalahnya aku tidak bisa mengangkat nomorku"  Jon tertawa mengejek, Jon tidak tahu gadis ini orang kya raya. Aku melihat papan nomornya.  "Bisakah salah satu dari kalian menyebutkan harga untukku ?" Deba mematuk-matuk telingaku "Hentikan Deba" perhatianku jadi teralihkan "Atau kupotong lehermu"  Burung hantu itu langsung terdiam Si anak gubernur tersenyum "Burung hantumu manis sekali dia mengerti apa yang kau ucapkan"  "Oh dia sangat manis, memang" Jon menambahkan "Tapi nona kami disini punya tuan kami sendri" walaupun itu bohong, kami disini hanya untuk menonton "Kami membawa papan nomor dan mengacungkan harga buat mereka" aku bahagia Jon mengerti bagaimana ajudan resmi bekerja.  "Kalian bisa memiliki dua tuan !? " Dia terlihat antusias dan sedikit memaksa kami "Aku harus memenangkan lelang ini ! uangku tidak terbatas, hanya kau sebutkan saja harga di atas harga siapa saja yang ada di tempat ini"  Jon menggeleng, dia mengira gadis ini pasti sangat kaya raya. Tapi aku tidak ! Aku tahu benar, dia tidak memiliki uang tidak terbatas, satu-satunya orang yang uangnya tidak terbatas di negri Syaka ini adalah Zamir. Sang Raja Tungga.   "Kenapa ?" aku mencoba mengoreknya "Kenapa kami harus mengikuti mau anda, apa yang akan kami dapatkan ?"  "Aku akan memberikan quela sial itu pada kalian, aku tidak membutuhkannya. Aku hanya butuh memenangkan lelang ini. Itu saja"  Aku tersenyum  "Kau mau kan ? tuan.." dia melihatku sejenak, dia mundur beberapa langkah untuk melihat wajahku lebih dalam. Lalu cepat-cepat menggeleng. Aku tidak tahu apa yang membuatnya bertingkah seperti itu. Sepertinya ada yang tersangkut di pikirannya, dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Dia manis sekali "Aku sangat ingin me...."  "Kenapa ? kenapa kau sangat ingin memenangkan lelang ini. Aku butuh alasanmu" maaf, aku memotong kata-katanya  Jon menahanku, karena dia tahu setelah itu aku akan melakukan kesepakatan tidak masuk akal, seperti yang kulakukan terkahir kali dengan Igor "Matiti kumohon, kita tidak bisa terlalu jauh. Kau tahu. Ku mohon" Jon menggelengkan kepalanya sungguh-sungguh. Lalu berlarih ke arah si anak gubernur yang manis "Nona manis, di sana. Ada puluhan ajudan resmi, kau bisa berdiskusi dengan mereka. Kami disini orang baru, kami tidak ingin menyalahi aturan. Kami tidak ingin sembarangan mengambil keuntungan"  "Ini sebenarnya tidaklah sulit.."  Jon mengangguk dengan wajah bijak "Aku tahu..."  Gadis itu terlihat sangat sedih, kesedihannya tidak bisa kugambarkan "Apa keinginanku terdengar tidak masuk akal"  "Jujur iya.., karena tidak mungkin gadis sepertimu memiliki begitu banyak uang. Aku yakin Quela terakhir ini akan berharga ratusan hingga mungkin jutaan yach, harga itu senilai dengan biaya pembuatan satu istana kecil" ujarku jujur padanya, aku membaca gelagat aneh gadis ini  "Baiklah kau benar. Kau pintar ! Aku memang tidak punya uang sebanyak itu. Kalau aku punya, aku sudah lama meninggalkan tempat ini"  Dalam hatiku, aku berbibisik "Kau memiliki kesempatan aku membukakan kau pintu dua hari yang lalu dan apa yang kau lakukan masih saja disini ? Mana kekasihmu ? Kenapa dia tidak membawamu lari ?"  Dia berdaham "Aku tahu kalian jujur. Kalian keliatan baru disini mangkanya kalian tidak mengetahui siapa aku. Aku ini anak gubernur" Aku tersenyum tidak kaget. Jon yang keliatan sangat kaget. Jon melihatku dengan mata tidak percaya "Apa..apa.." dia sampai tergagap-gagap "Apa yang kau lakukan disini ?"  "Aku mau melihat, adakah yang bisa menyaingi harga yang diberikan ayahku. Karena kalau dia berhasil memenang lelang Quela yang terakhir ini maka aku akan berakhir jadi gundik di istana"  Aku menghela nafas, sesak dan pilu mendengar apa yang dikatakannya. Aku memejamkan mata, masih tersengal saja rasa nafasku. Jirit benar tentang orang kaya makin kaya, ini adalah jalan pintas menuju istana, lelang ini adalah karpet merah yang di gelar istana agar orang -orang kaya bisa berlenggak bernegoisasi, bekerja sama dengan raja. Raja memberikan kesemptan, salah satunya dengan pernikahan.  "Aku turut berduka" ujar Jon tidak bisa berkata-kata  "Aku benci sekali, berdiri disini hanya bisa melihat saja. Tanpa berusaha apa-apa. Ayahku sudah merencanakan lelang ini bertahun-tahun lalu. Aku tidak mau ke istana ! Mangkanya aku terus berusaha melarikan diri, sampai-sampai dia mengurungku" dia mulai terisak.  Aku tidak bisa melihat seorang gadis menangis  "Nona...nona..." Jon berusaha menenangkannya "Kau tidak boleh menangis, jangan menangis disini. Aku dan temanku tidak mau jadi pusat perhatian, kami akan..."  "kalian berdua" suara berat seseorang mendatangi kami.  Aku dan Jon langsung tegap, siap melawan. Tapi ketika kami perjelas lagi wajahnya, dia Sezarab. Sedang apa dia disini ?  "Kita harus pergi. sampai disini lelang yang bisa kalian nikamati. Kalian.." Sezarab menggeleng-gelengkan kepala terlihat kecewa pada kami. Paling kecewa padaku, mungkin "Kita tidak punya waktu lagi"  Aku saling pandang dengan Jon, tapi Sezarab hanya menyampaikan pesan itu lalu berbisik pada seorang penjaga dan dia sudah keluar meninggalkan halaman istana pertama. Aku melihat kebelakang, pembawa acara kembali menaiki panggung setelah beristriahat beberapa menit. Dia siap memperkenalkan Quela termahal malam ini.  Si gadis tadi terlihat bingung, dia masih terisak "Jon susulah Sezarab, aku menyusul nanti"  "Jangan buat aneh-aneh Matiti"  "Aku janji" Aku mendorong Jon menjauh "Kalau tidak dia akan membunuh kita"  Aku diam sebentar, melihat mata coklat, rambut hitam dan kulit memerah gadis ini "Namaku Matiti. Dan aku menyelinap di rumahmu beberapa hari yang lalu. Bolehkah aku mengenalmu ? mungkin suatu kesempatan kita akan bertemu lagi" Aku mengulurkan tangan  Dia menjabat tanganku  "Anna"  "Selamat malam Anna" aku mencium tangan dingin nan lembut miliknya sebelum bertolak pergi  "Selamat malam" jawabnya lirih, masih belum sadar situasi macam apa yang ada.  Aku berkedip padanya.  ? Aku sangat ingin tahu, lelang itu berakhir bagaimana, aku ingin bertanya tapi mungkin pada Jirit nanti atau pada Kukuta.  Keadaan jalanan Pasataria mendadak jadi Aneh, tiba-tiba beberapa prajurit menepikan kerumunan orang-orang. Meminta mereka untuk bubar. Apakah lelang ini akan dihentikan ?  Beberapa prajurit  mengenakan pakaian zirah lengkap. Belum sempat aku bertanya, Sezarab mempercepat langkah kakinya. Tapi dia menuju Morgot.  Deba terlihat ketakutan keluar dari bar Jirit. Dia mengikuti kami, berjalan cepat, menyusul Sezarab. Aku tertahan sebentar. beberapa laki-laki berkuda melajukan kudanya tanpa kira-kira dan menggorok seorang warga "JATUHKAN ZAMIR...ZAMIR PENGHIANAT" Teriakan pasukan berkuda itu.  Satu perempuan terkapar besimbah darah. Gerbang pintu istana pertama ditutup paksa.  Anna. Anna... Aku bergerak ingin kembali ke istana pertama untuk menyelamatkan Anna. Tapi Sezarab menarik kerah bajuku "Cepat, anak bodoh !!"  Dia tidak lagi menarikku, tanganya yang kuat menyeretku hampir mencekikku. Aku berusaha menyelamatkan diri "JON" teriak Sezarab  Jon berjalan cepat ke arahku, dengan gerakan ringan dia menggendongku "BINATANG KAU JON. LEPASKAN AKU..., AKU BISA BERJALAN"  "Ini membantumu lebih cepat cungkring" suaranya sedalam lautan.  Deba setengah berlari. Sezarab berjalan paling belakang "Astaga" beberapa pasukan menyusul kami. Aku menyaksikan Sezarap menari-nari dengan pedangnya dalam hitungan detik darah bercucuran di lantai beton, dua orang Syabir terkapar.  "Lepaskan dia ! kita harus beralari. Cepat !!" Sezarab menepuk punggung Jon Sialan itu akhirnya melepaskanku. Sezarab mengayunkan pedang, menekanku agar terus berjalan menyusurusi Morgot. Lorong morgot terasa begitu panjang. Deba berlari melihat kebelakang sesekali. Aku menyusulnya karena takut ada yang menghadang di depan. Dalam acara berlari kami malam itu aku melihat Deba menghapus air matanya yang hampir mengering, matanya terus berkaca-kaca sepanjang perjalanan pulang. Entah kenapa aku merasa bersalah kepadanya.  Kami sampai di gubuk Sezarab.  "Matikan semua lilin !" perintah Sezarab. Sementara dengan cekatan Jon menutupi semua jendela yang biasanya terbuka.  Tersisa satu lilin di letakkan di atas meja. Sezarab mengeluarkan sebuah surat dari dalam jubahnya "Syabir menyerang, ternyata Negri Syaka terlalu lengah teman-teman !" Dia menghela nafas menunjukkan tulisan dalam bahasa yang sama dengan bahasa yang kami gunakan di Altar "Kupikir tidak akan begini" dia menghela nafas  Kami mendengarkannya, menunggu dia melanjutkan. Aku tidak bisa membaca suratnya karena terlalu remang. Debalah yang membaca, matanya turun naik antara surat itu, menatap wajah Sezarab lalu melihatku dengan tatapan nanar.  "Kau akan pergi..."  Air mata kembali mengalir di wajahnya, tanganku gatal sekali ingin menyentuh pipinya. Tapi aku terlalu sadar untuk tidak membuat situasi ini semakin buruk.  "Iya, cantik" Sezarab mengangguk dengan kepastian "Seperti kalian tahu aku gagal mendapatkan buku yang menceritakan hubungan Klan Kwititi dengan langit. Lalu sekarang ? orang lain menggantikan tugasku untuk kembali ke Altar. Dan karena ke gagalanku, aku ditugaskan ke tempat lain"  "Kemana ?" kata Deba terburu-buru "Tidak ada di suratnya"  "Pustinya"  Sezarab terlihat putus asa "Aku harus menculik putri kecil kerajaan itu dan membawanya ke negriku"  Itu lebih berat duapuluh ribu kali lipat dari tugasnya untuk mengambil kitab tentang langit yang menceritakan kisah para raksasa, yang kebenarnya saja tidak bisa ditentukan. Dia menggeleng-geleng "Aku salah langkah" dia menghela nafas "Seharusnya..."  "Bukannya kau sudah memperhitungkan bahwa kau akan di tugaskan lagi menjadi mata-mata" dia pernah mengatakan itu di danau ketika kami berlatih.  "Tapi tidak pernah ke Pustinya"  Kami terdiam, negara itu sedang tidak mengizinkan apapun berbau Negri Syaka memasuki wilayahnya dan apalagi tugas Sezarab membawa putri kecil kerjaan itu hidup-hidup.  "Kupikir, aku akan ditugaskan kembali ke Altar, padahal aku menceritakan pemberontakkan Olexys" dia menggeleng sekali lagi aku melihat gurat kegagalan di wajahnya "Sekarang, tinggal kalian bertiga. Aku harus meninggalkan tempat ini malam ini juga. Besok aku harus sampai perbatasan, dan mengirimkan tanah untuk Sang Raja Tungga sebagai bukti perjalananku"  "Ku siapkan barang-barangmu"  Sezarab menggeleng "Aku hanya membawa dua ratus yach" dia meninggalkan sisa uang kami di atas meja "Gunakanlah dengan sebaik mungkin, kalau kalian kehabisan mencurilah. Tidak apa-apa"  Aku seperti dicampakkan lagi, rasanya sekali lagi dibuang ke entah berantah. Aku kehilangan lagi. Oh. Aku tidak mau mengakuinya tapi sejauh ini aku hidup karena Sezarab.  Aku hanya bisa tertunduk putus asa. Tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan  "Aku yakin sebentar lagi akan ada perekrutan prajurit besar-besaran. Kemarin kerajaan Pustinya sudah menyerang benteng istana ke tujuh, benteng terluar kerajaan ini. Syukurnya mereka tidak bisa menaklukkan benteng tersebut. p*********n itu kabarnya di bantu oleh orang-orang Syamir" Sezarab berdiri. Dia mengambil satu partchman. Membekali dirinya dengan belati di kaki. Hanya itu, dia sudah siap untuk pergi "Bukan Negri Syaka namanya kalau tidak balas menyerang. Bersiaplah kalian berdua"  Sezarab mengenakan sarung tangan kulit, dia menyentuh kepala Deba "Temuila Xiala" bisik Sezarab padanya  Aku tidak tahu Xiala yang dia maksud siapa. Cuma itu pesan terkahir pada Deba. Sebelum pergi dia memerintahkan ku melakukan hal konyol "Beri nama pedangmu itu"  "Cih"  Tidak membantu sama sekali. Dia bersidekap dan menghentakkan kakinya "Aku pergi teman-teman. Kita akan bertemu kembali di waktu yang tepat, Aku yakin"  Dia pergi dari gubuk itu meninggalak kami bertiga dalam keadaan membisu dan kehilangan arah, tidak tahu apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Bertahan hidup di gubuk yang dingin ini. Di negri yang jauh dari tempat yang kami sebut rumah. Tidak ada yang lebih mengerikan dari sebuah Negri yang sedang berperang, hal-hal mengerikan bisa datang kapan saja. Seperti tadi di Pasataria, orang-orang jatuh tersungkur diserang oleh orang-orang Syabir. Aku yakin orang-orang itu pasti mengira mereka masih hidup nyaman besok. Hal tersebut bisa saja menimpa kami.  Pintu tertutup dalam ruangan gelap itu kami saling pandang. Deba bangkit. Berdiri. Menyibak tabirnya. Meringkun di atas ranjangnya. Aku hanya bisa mendengar isak tangisnya.  Jon membisu, terdiam di sudut ruangan menekuk kakinya. Aku mendengar nafasnya naik turun.  Aku ?  Terus terang aku bingung.   Ini terlalu tiba-tiba, setiap hal yang terjadi di hidupku tidak pernah sesuai rencana semuanya tiba-tiba berubah.  Esok yang seperti apa yang akan datang menghampiriku ? Siapa lagi yang akan meninggalkanku ? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD