Kami bertiga seperti bocah yang kehilangan ayah. Kami tidak tahu mau memulai hari dengan bagaimana. Deba menangis sepanjang malam, hari ini aku hampir tidak bisa melihat bola matanya, karena kelopaknya yang bengkak.
Aku masih berusaha mencerna situasi ini., Jonpun begitu. Jadi kami bertiga lebih memilih membisu, menyibukkan diri sendiri. Jon pergi berburu pagi-pagi sekali, sementara Deba berdiam diri di dapur menghabiskan semua gandum untuk di olah menjadi roti. Aku sibuk mengasah pedang dan belati-belatiku. Karena Jon belum kembali dari berburu, aku memutuskan melihat siatuasi di Pasataria.
Jalanan sangat sepi seperti bukan Pasataria, tidak ada orang yang peduli dengan salju yang bertumpuk-tumpuk di jalanan, biasanya selalu ada yang membersihkan. Para prajurit berkeliaran di jalan-jalan. Mereka melirik dan melihat dengan curga pada siapa saja yang melintas di jalanan. Noda darah masih belum di bersihkan di beberapa tempat.
Aku terus berjalan naik, desa-desa terlihat sangat sepi, asap mengepul dari rumah-rumah. Orang -orang mungkin enggan kelaur dari rumah mereka. Aku terhenyak begitu melihat mayat-mayat yang di gantung di benteng istana pertama.
"Mereka para peenghianat Syabir"
Kukuta berdiri di sampingku "Kau" kataku mengenali wajahnya "Kemana perginya orang-orang ?" maksudku adalah orang-orang Pasataria.
"Peringatan perang" Jawabnya
Kukuta tidak terlihat sama seperti semalam, wajahnya terlihat kusut. Dia mengenakan pakaian lengkap, rapi dan rambutnya sedikit di potong. Dia membawa pedang, itu yang paling tidak biasa. Mungkin dia mengerti maksudku dari caraku melihat pedangnya
"ehmt.., kau tidak mendengar pemberitahuan kerjaan ?"
Kami masih berdiri memandangi mayat-mayat yang tergantung. Sungguh pemandangan yang tidak layak untuk sebuah diskusi di pagi hari "Kami tinggal di dekat danau, di gubuk kecil. Sedikit terpisah dari Pasataria"
Dia mengangguk memahami
"Aku punya seorang gadis kecil dan istri yang kusayangi"
Aku salah menilai Kukuta !, tadinya kupikir dia laki-laki yang menghabiskan hidupnya dengan berjudi dan hidup liar di Pasataria. Ternyata dia adalah seoang ayah dan seorang suami.
"Aku harus sedikit, memiliki bekal untuk mereka sebelum aku meninggalkan mereka"
"Memang kau mau kemana ?"
Dia terkekeh "Ternyata benar kau belum mendengar pengumuman dari kerjaan. Mereka menginginkan setiap laki-laki di bawah empat puluh tahun untuk bergabung dengan militer, dan harus siap di kirim ke istana ke tujuh untuk berperang melawan Syabir dan Pustinya"
Aku terdiam "Aku..." aku tergagap
Dia memukul bahuku "Kita bertemu nanti malam di benteng kerejaan"
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Dia menonjok bahuku sambil berjalan pergi menuruni Pasatria untuk berburu.
"Apa tidak ada seleksi ?" tanyaku asal
Dia berbalik, berjalan mundur kebelakang "Mana sempat mereka menyeleksi, kita semua di kirim buat mati"
Tidak.
Sezarab benar, bukan Negri Syaka namanya kalau mereka tidak melakukan serangan balik. Dan kali ini dia mengorbankan seluruh pemuda Pasataria untuk dikirim mati. Aku harap aku masih punya waktu untuk berlatih. Tapi tidak mungkin aku melewatkan satu-satunya pintu yang terbuka untuk ke Kerajaan Syaka.
Tubuhku berbalik, kembali memandangi mayat-mayat yang tergantung. Aku memejamkan mata. Bau anyir tercium di udara Pasataria yang sebelumnya disesaki bau-bau makanan yang bikin lapar. Aku menggeleng mengepit tubuhku dalam jubah.
Aku menoleh sejenak melihat bar dimana Jirit bekerja, apa dia selamat ? Lalu aku menginjak darah, entah itu darah para Syabir atau penduduk biasa yang jadi korban kemarahan orang-orang itu. Tapi pantaskah, pantaskah kemarahan pada satu orang, menumpahkan darah sebanyak itu ?
Aku harap darah ini bukan darah Jirit ataupun Anna. Aku masih mau bertemu dengan mereka lagi.
Aku berjalan kembali melewati Desa Morgot menuju ke hutan cemara. Dua orang di gang sempit yang di tembas Sezarab semalam sudah tidak terkapar disana, mungkin salah satu dari mereka tergantung di tembok istana pertama.
Aku melewati rumah Igor, cerobong asapnya mengeluarkan asap hitam, mengepul-ngepul di tengah dinginnya kota ini. Tidak heran dia seorang penempa, dia bekerja dengan api untuk membakar besi-besinya.
Aku berencana membeli sesuatu di pasar. Jalan tercepat menuju pasar adalah lewat tembok pembatas pasar dengan desa hutan cemara. Aku memanjat tembok dan berhasil mendarat pada gerobak dagang yang kosong.
Beberapa pedagang, melihatku dengan tatapan marah
"Aku tidak bisa memutar tuan, rumahku di belakang hutan" aku mencoba membela diri entah pada siapa. Toh mereka tidak peduli, mereka malah memalingkan wajah begitu cepat.
Segera aku berlenggak mencari barang yang kuinginkan. Aku mau mencari sesautu untuk Deba. Pasar tidak ramai, jarang ada yang jualan. Para prajurit sangat banyak di sini, jumlah mereka bahkan lebih banyak dari para pedangan.
Aku menengadah ke menara jaga yang di bengun tepat di tengah-tengah pasar, menghadap ke pintu masuk benteng kerajaan. banyaknya prajurit yang berjaga membuat nyaliku ciut, aku tidak bisa melihat ke dalam benteng.
Fokus ke sesuatu yang ingin kubelikan buat Deba !
Sarung belati kulit yang bisa memuat beberapa belati "Nona..." aku memanggil si pedagang "Aku minta satu"
Dia tersenyum gigi si nona ini mengingatkanku pada Yubax "Kau beruntung ini yang terkahir, harganya kunaikkan sedikit jadi dua ratus yach"
"Hah ?" bibirku menganga tidak percaya dengan apa yang kudengar. Kenapa dia tidak lelang saja sarung belati sial yang katanya terkhir itu. Yang benar saja. Karena terlalu malas buat mencari ataupun mencuri dalam siatuasi menegangkan seperti ini. Aku mengeluarkan seratus limapuluh yach "Ini, kau bisa pulang lebih cepat"
"Tuan kurang limpa puluh.." katanya menolak uangku
Cepat-cepat aku mengambil sarung belati itu "Kubayar kalau aku sudah pulang dari istana ke tujuh" Aku mengembangkan senyum termanis untuknya "Kau bisa berdoa untukku nona"
Si nona penjual berdengus kesal, mengusiriku dengan gerakan tangan. Mau tak mau dia mengambil seratus limapuluhku.
?
Ternyata Jon masih belum kembali dari berburu. Dia memang payah soal berburu, dia menguliti buruannya terlalu hati-hati kurasa itulah yang membuatnya lama. Aku juga berkeliling Pasataria tidaklah lama. Wajar saja
Tadi sebelum kembali ke gubuk, aku mengambil senjata yang kucuri dari rumah gubernur. Belati-belatinya ku asah dan ku masukkan ke dalam sarung belati yang kubeli di pasar.
"Kau pulang" Kata Deba
Deba sudah menyajikan kentang rebus sederhana bersama keju, roti dan buah peach yang terlihat sangat segar. Kapan pula dia membeli buah ini ?
"Kau bisa makan lebih dulu"
Aku mengangguk, duduk di kursi. Dia duduk berhadapan denganku. Melipat tangannya di atas meja. Aku memberinya sarung belati yang berisi tiga belati dan satu kunai yang biasa ku gunakan "Kami akan pergi nanti malam"
Deba menunduk lemah, kepalanya mengangguk-angguk berusaha menerima semua ini. Aku meraih tangannya
"Kau harus bisa bertahan Deba" bisikku menguatkannya
Deba mengangkat wajahnya "Bagaimana kalau ada yang menyentuhku, bagaimana kalau pada akhirnya aku menjadi penghibur di rumah bordir. Aku..." suaranya mulai berat, ternyata inilah yang dia pikirkan sejak semalam. Semenjak Sezarab meninggalkan kami untuk tugasnya yang baru.
"Menurutmu bagaimana aku akan bertahan hidup Matiti ? Di tempat ini, manusia ditempat ini bergerak dengan mata yach. Aku ? apa yang aku punya untuk mengumpulkan yach-yach itu ?" dia menangis pilu "Kau tahu Xiala, dia tidak semahir itu. Dia juga hanya seorang b***k"
Aku kehilangan kata-kata
Deba justru memiliki masa depan lebih buram dari pada aku dan Jon. Kami hanya tinggal di kirim ke istana ke tujuh, bertaruh dengan maut, berharap kami bisa kembali ke kekerajaan Syaka dalam keadaan masih bernyawa.
Aku menarik tanganku "Bagaimana kalau kita lakukan saja yang bisa kita lakukan saat ini. Kemana hidup membawa kita dan jalani saja. Sampai kita bertemu muaranya ?"
"Sungguh indah kata-katamu Tuan. Kau selalu punya pilihan Matiti. Semuanya terbentang di hadapanmu. Seharusnya kau berusaha untuk bisa masuk ke dalam benteng kerjaan tapi kini takdir membukakannya untukmu, dengan sangat mudah. Kau hanya harus bertahan hidup dan menjilat terus menjilat maka kau akan selamat. Sementara aku ? KAU LIHAT AKU MEMBUANG SEGALANYA BUATMU"
Deba yang setiap kali bicara selalu mengeluarkan kata-kata yang menengkan. Gadis yang selalu setuju dengan keputusanku. Gadis yang di pinggir danau lalu, berjanji padaku bahwa apapun keadaannya dia akan jujur padaku. Kali ini dia sedang jujur padaku, inilah ketakutannya yang terjujur yang pernah kudengar. Dan aku tidak menyukai itu.
Aku ingin mengingat suara lembut Deba untuk terkahir kalinya. Mungkin itulah yang ingin kudengar mangkanya aku memberikannya belati itu. Aku ingin dia bilang "terimaksih" dengan suaranya yang lembut. Suara itu akan menanangkanku dikekalutan ini.
"Apa yang kau lihat seburuk itu ? Kali ini kau melihat dirimu, bukan aku ?"
Dia terdiam, dia mau membuka mulutnya tapi dia kembali menutupnya ragu untuk berkata yang sebenarnya padaku.
Tangannya mengunci di atas meja "Aku tetap melihatmu, aku benci karena aku tidak bisa melihat nasibku sendiri. Kau puas ?" Mata birunya menyemburkan amarah "Karena itu aku...aku takut, disini sendirian. Kau mengerti tidak ?"
"Aku tidak bisa mengajakmu Deba !"
Dia mulai terisak, aku mengelus punggung tangannya "Tadi malam aku sempat berpikir untuk pura-pura menjadi laki-laki dan ikut kalian berperang" Dia menepis tanganku, dan memilih mengusap wajahnya dengan kasar "Kau tahu kan aku bodoh ?"
"Deba kau pasti bisa bertahan disini"
"Dengan tidak mengizinkan mereka semua menyentuhku ? untuk bisa bertahan disini aku harus menjaul diri, dan itu tidak bisa dilakukan kalau aku tidak bisa disentuh !"
Akupun tersenyum "Sadarkah kau, aku berusaha menjagamu Deba"
Dia terdiam, pupilnya membesar.
Aku menghela nafas "Kau tidak punya siapa-siapa disini ! Kau tidak bisa mempercayai sembarang orang. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri, salah satu caranya adalah memberi tahu orang-orang kau berasal dari Lohye, atau sebarkan rumor kau menderita sakit kulit" Aku terlalu bersemangat, aku meredakan emosiku sedikit saja dengan membuang nafas kuat-kuat keudara "Kau terlalu berharga, untuk berkahir seperti gadis-gadis Amor. Dunia ini diciptakan buat kita, lakukan apapun untuk bertahan hidup sampai suatu hari kita akan bertemu lagi"
Matanya berkaca-kaca
"Belati itu gunakanlah untuk berlatih, ikutilah petujuk Sezarab. Temuilah perempuan bernama Xiala itu. Jangan beritahukan kemampuanmu pada siapapun, kau akan dimanfaatkan"
"Aku tahu" suaranya antara pura-pura tangguh dan marah, suaranya bergetar karena dia sekarang menangis.
"Jon pernah bilang padaku bahwa kita bukan putra mahkota yang hidup dilayani, kita hidup di alam terbuka. Apa saja bisa terjadi dalam sekejapan mata, dan saat itu terjadi kita harus siap. Deba seperti halnya kau percaya, suatu hari aku akan menjadi raja, percayalah pada dirimu sendiri kau bisa bertahan disini"
Deba tidak berkata-kata dia berdiri mengambil bungkus senjata berisi belati dan kunaiku "Makan makananmu" Dia berjalan meninggalkanku. Dia menarik kelambu penutup ranjangnya.
Dia pasti menangis.
Akan ada hari ketika kita tidak akan bisa lagi menangisi apapun. Itu terjadi padaku. aku sudah tidak bisa menangisi apapun lagi.
?
Jon pulang hampir petang, aku memarahinya. Tapi dia pulang dengan lima kelinci dalam pikulannya. Kelinci-kelinci itu sudah dikuliti dan diasap, dagingnya akan awet dimakan sampai beberapa hari kedepan. Dibelakang sana, ada bertumpuk-tumpuk kayu bakar. Pantas saja dia lama "Semua ini persediaan untukmu" maksudnya untuk Deba.
Deba kembali menangis
Aku menghela nafas, mulai bosan dengan tangisnya.
"Mereka berkumpul saat malam" Jon memberi tahu hal yang sudah kuketahui
"Aku ke Pasataria tadi"
Dia mengangguk, tapi wajahnya sulit untuk kutebak "Aku..., rasanya aku tidak sudi berperang untuk negara lain, bukan Klanku bukan tanahku" dia duduk menghepaskan tubuhnya "Ini bukan yang kuinginkan"
Aku mengasah pedangku dengan tenang "Dari awal semuanya tidak kita inginkan, kita di geret-geret nasib Jon"
Dia setuju "Aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk berpikir. Kadang aku ingin kembali ke Altar"
"Aku tidak akan memaksamu, kalau kau ingin kembali ke Altar, atau sembunyi saat perekrutan. Itu terserah kau"
"Tidak, aku belum menyelesaikan bicaraku. Matiti takdirku bersama kau, aku akan mengabdi padamu. Aku bersum..."
Aku menahan tangannya agar dia tidak mengucapkan "Raja" lagi dengan lidahnya atau mengingatkanku atas keluargaku yang sudah tiada "Aku orang yang sulit mendadam Jon, kau tahu aku. Tapi aku akan kembali ke Altar karena satu hal, untuk kehidupan orang-orang Altar. Mereka layak hidup lebih baik. Aku berperang untuk Negara lain, ini kulakukan bukan lagi untuk orang tuaku, untuk dendam pribadiku pada Olexys. Tapi untuk anak-anak yang kehilangan orang tua mereka di tiang gantungan, untuk mereka yang tidak punya pilihan selain jadi gundik, selain jadi b***k, selain di peras tenaganya dan akhirnya berakhir di tiang gantungan"
Aku tidak mendengar apapun selain sorot mata layu Jon dan Deba "Aku ikut Matiti, apapun yang kau inginkan akupun menginginkan itu"
Aku tidak mau mendebatnya
?
Malam lumayan larut aku mendenger keriuahan, para pemuda sudah berkumpul. Jon berpamitan pada Deba. Dia melapisi tangannya dan menyentuh kepala Deba. Mengelusnya dengan kelembutan. Memberikan semangat pada Deba. Dia bilang dia akan berjalan lebih dulu. Aku setuju.
Hanya aku dan Deba berdua. Perpisahan macam apa yang pantas untuk kami kenang dalam jangka waktu yang lama ?
Deba melihatku, matanya berkaca-kaca, aku bisa menyelami mata biru itu dan tahu dasarnya adalah semua rasa takut.
Aku meraih kedua tangannya "Kau bisa Deba, kau perempuan hebat. Kau menyebrangi danau mati untuk menemuiku. Kau berteriak di tengah Klan yang mungkin menggorokmu. Kau berhasil membuatku percaya pada mimpimu, kau yang paling pertama kali berjalan di danau es demi membuktikan kesetiaanmu padaku"
Dia mengangguk tapi satu butir air mata jatuh. Dia sama denganku, kami sedang pura-pura kuat. Pura-pura percaya bahwa kami bisa melakukannya dan menepikan segala kemungkinan menyakitkan lainnya.
Aku menariknya dalam pelukanku. Dan dia menangis dalam pelukanku. merengkuhku, tidak ingin aku meninggalkanya. Bau tubuhnya sama seperti bau dapur tapi terasa hangat, hangatnya sampai-sampai ke jiwaku.
"Sempai bertemu lagi Rajaku"
Aku melepaskan pelukannya, mencium dahinya.
Dan pergi.