DUA PULUH LIMA

1746 Words
Kami dikumpulkan di depan pintu masuk benteng kerajaan. Kami dibiarkan membawa senjata kami masing-masing. Kami akan meninggalkann Pasataria pagi-pagi sekali.  Di udara dingin itu kami hanya berdiam diri menghitung detak jantung kami sendiri-sendiri, menahan dinginnya udara malam.  Mataku menyipit melihat sesosok mahluk cebol yang kukenali. Astaga itu Gili, dia melihatku. Matanya runcing menatapku tajam, menanamkan dendam disana. Apa dia masih berpikir aku merebut lima ribu yach darinya dan keluarganya ? keluarga cebol itu sangat kaya, dia tidak mungkin kekurangan. Gili melihat pedangku, rupanya dia memang membenciku. Ambil saja sini kalau dia bisa, biar ku kuliti dia seperti Beruang waktu itu. Gili berada tiga deret terdepan, di barisan sebelahku.  "Kenapa mereka kita tidak langsung dibiarkan jalan saja ?" Kukuta berada di barisan di sebelahku. Dia menunduk untuk berbisik "Kita menunggu Sang Raja Tungga"  Ternyata perekrutan dadakan ini lebih penting daripada Lelang semalam. Bagaimana tidak, ibaratnya kami sekarang ini adalah umpan yang diberikan pada Pustanya.  "Raja akan berangkat bersama kita ?" Aku tidak menyangka dia ikut, maksudku biasanya mereka cuma mengerahkan pasukan siap mati dan mengirim panglima-panglima mereka. Kalau sampai Raja ikut aku pasti salut sekali pada Zamir. "Memangnya kau bodoh ? tentu tidak ! Dia datang untuk menyemangati kita"  Aku berdecak "Memangnya kita butuh itu ?"  Kepalaku disodok pegangan pedang  "BISA DIAM KAU, PEREMPUAN !"  bisa-bisanya dia menghinaku.  Aku spontan mendorong tubuhku ingin menerjangnya, prajurit itu menjauh. Dia sudah ancang-ancang untuk menyabitku dengan pedangnya.   Satu tangan menahanku "Tahan dirimu Matiti"  Aku menoleh. Jirit dibelakangku. Aku terpaksa kembali duduk.  Dia berjalan mengelilingi barisan, dagunya di angkat tinggi-tinggi. Angkuh sekali tampangnya, lawan aku sini. Aku ingin duel dengannya "JANGAN ADA YANG BERISIK, APALAGI MEMBICARAKAN RAJA, KALIAN BISA KULAPORKAN KOMANDAN" Aku lupa keanguhannya semata-mata karena kesetiaannya pada Raja.  Tapi aku tetap tidak menyukai prajurit itu. Aku berharap aku punya kesempatan untuk menonjok wajahnya. Ku tandai wajahmu b******k !  "Menyebalkan sekali b******k itu" gumamku, tidak kapok. Tubuhnya tidak seberapa bagiku, aku pernah melawan beruang. Walaupun bisa disebut itu adalah sebuah keberuntungan bagiku, tapi bukannya itu suatu kebanggaan bagi kaum laki-laki.  "Sudah Matiti" Jon berbisik, sambil tertunduk-tunduk Aku merasakan tepukan di bahuku. Aku tidak tahu kalau ada Jirit di belakangku, anak itu masih terlalu muda untuk berperang. Aku pikir dia lebih muda daripada Deba. Sebelum Raja datang kami memakan sekepalan nasi yang tidak berasa apapun di lidahku.  Aku medengar Jon bergumam "Yang benar saja mereka memberi kita makan seperti anjing"  Jadi kupikir kita memang dikirim untuk mati. Kita umpan, kita adalah hal paling tidak berharga yang dibuang sia-sia ke mulut singa. Padahal mereka semua disini tidak terlatih untuk perang. Sementara mereka tentara yang tinggal di barak-barak di dalam benteng kerjaan akan berperang di penjagaan paling dalam demi melindungi Raja. Aku mengerti taktik murahan ini. Ini sungguh biadab. Orang-orang ini punya anak dan istri yang menunggu mereka pulang.  Mulutku terkunci rapat ketika Sang Raja Tungga keluar, bersama prajurit kerajaan. Dia mengenakan pakaiayan tidur yang santai, rambutnya keriting sebahu. bulu-bulu jubahnya berumbai-rumbai berlebihan. Rasanya aku ingin nikahkan dia dengan Yubax.  Disebelahnya ada pasukan elit, orang-orang berpakaiayn zirah yang sudah pasti pergi ke istana tujuh.  Wajah mereka semua kaku, pandangan mereka menyapu kaum payah yang baru saja diberi makan segumpal nasi. Aku kira menu besok pagi adalah kentang yang di potong tujuh. Sementara para prajurit terlatih makan sesuka hati, sebaik dan sebanyak mungkin. Kami umpan mati, bisikku lagi.   Aku mendesah, bibirku menimbulkan senyum sinis. Aku sangsi bisa selamat. Tahu seperti ini aku harusnya tidur dengan Deba. Maksudku, membuat keturunan.  Apa yang ku pikirkan ?  "PARA PAHLAWAN, AKU SEDANG MELIHAT PARA PAHLWAN" Seandainya aku bisa pulang hidup-hidup pasti raja ini sangat mudah untuk ku jilat, dia tipikal manusia berlebihan yang lemah "KALIAN ADALAH ORANG-ORANG YANG AKAN MEMBAWA NEGRI INI KE MASA-MASA YANG LEBIH BAIK" dia berdaham, wajahnya mulai seirus "LIHAT APA YANG ORANG-ORANG SYABIR LAKUKAN PADA ANAK-ANAK KALIAN SEMALAM, MEREKA MEMBUAT TEMPAT YANG BEGITU NYAMAN PENUH DENGAN DARAH, INI TIDAK BISA DI MAAFKAN !"  Aku berandai-andai kalau suatu saat memang aku ditakdirkan untuk jadi raja, apa aku akan seperti dia ? membakar semangat orang-orang yang sudah kutahu pasti akan mati. Lalu aku dengan nyaman tidur bersama gadis-gadis cantik sambil mengangkat gelas Quela tinggi-tinggi.  "MEREKA TIDAK BISA DI MAAFKAN. BENAR ?? BENAR ??" dia menunggu jawaban para laki-laki yang sudah kehabisan semangat sebelum jalan untuk berperang.  Seorang prajuti menyodok salah satu dari kami "BENAR" teriak laki-laki itu  "BENAR" teriak semua orang di bawah tekanan prajurit elit. Aku mendengar Jon berdecak, aku bisa memahami apa yang dibencinya. Akupula tidak suka apa yang mereka lakukan pada orang-orang ini.  "Kalian tinggal di tanahku bertahun-tahun, keluarga kalian mengabdi pada kakek nenekku bertahun-tahun. Pasataria menjadi bagian hidup kalian, apa kalian menginginkan hal buruk seperti semalam terjadi lagi di tanah kita ? Apa kita bisa membiarkan mereka menginjak-ngijak kita ? Aku minta balas budia kalian hari ini" Balas budi, katanya ? Dia lupakah, apa yang dia makan berasal dari pajak nenek moyang orang-orang ini ?  Suara Sang Raja Tungga terdengar mengancam, tapi justru kemarahan Sang Raja membangkitkan semangat juang mereka semua. Mereka saling pandang dan mengangguk-angguk setuju dengan Raja "Kalian adalah pejuang, pahlawan untuk mereka, pahlawan untukku yang tinggal di dalam istana. Selama kepergian kalian, mereka akan dijaga dengan baik. Penjagaan di benteng istana kedua di perketat. Aku hanya bisa menjanjikan itu"  Ada ketenangan di mata orang-orang ini. Seperti kata Sezarab, laki-laki itu hidup untuk orang lain. Dan aku dapat memahami petuah itu hari ini ketika aku melihat wajah lega orang-orang ini ketika Sang Raja menjamin hidup orang-orang yang mereka tinggalkan.  "Selamat jalan para pahlawan, aku menunggu kabar baik dari kalian semua" dia tersenyum, tangannya di d**a dan dia menghentakkan kakinya sekali tanda hormatnya pada kami.  Orang-orang yang berbaris ini meletakkan tangannya di d**a untuk membalas salam Sang Raja aku melakukannya juga dengan gerakkan yang canggung.  Secepat itu Sang Raja Tunggapun hilang di balik pintu benteng yang tertutup. Aku jadi ingin tahu apa yang dia kerjakan didalam sana, kenapa sepertinya hidupnya tertutup dan memiliki batas dan jarak yang jauh dari rakyatnya.  Komandan, mereka menyebutkan Komandan Viz, dia berbadan besar menyerupai Matiti. Dia terlihat sangat nyaman dengan pakaiannya yang seadanya, tidak seperti prajurit lain yang menggunakan baju zirah yang kelihatan berat, dia menggunakan baju zirah yang hanya berantai-rantai kecil pada bagian depannya.  Kapten Viz Menepuk tangannya di udara, meminta perhatian semua pemuda yang duduk bersila habis mendengarkan semangat dari raja.  Komandan Viz, memiliki parutan di wajahnya, aku tidak mengerti sepertinya wajah itu pernah tersobek-sobek dan dijait dengan kasar oleh orang yang tidak propesional. lapisan kulit wajahnya tidak terlihat baik. Tapi dia lebih berkarisma daripada Raja. Dia lebih memiliki jiwa kepemimpinan. Begitu dia berdiri menyapa kami, aku merasakan aura medan perang datang bersamanya.  "Teman-teman ! Kita berangkat sebentar lagi, pastikan persiapan kalian. Senjata kalian tetap pada tempatnya" suaranya sangat dalam dan menakutkan seperti wajahnya, tapi aku bisa langsung menyukainya, karena dia terlihat sangat nyaman, sangat terbiasa dan terlatih dengan semua ini. Aku tahu dia petarung yang hebat "Sebelum kita pergi, aku ingin kalian tahu bahwa tidak ada pilihan buat kita semua. Seperti halnya aku yang akan mendampingi kalian di buritan pertama perang kita nanti"  "Sudah kubilang" ujar Kukuta sangsi kami akan pulang dengan selamat  "Kuharap kalian sudah mengucapkan selamat tinggal pada anak, istri, ibu, bapak kalian. Agar kalian bisa dikenang dalam bingkai yang manis di memori mereka"  Wajah-wajah putus asa ini berubah menjadi takut dan tegang, mereka saling toleh, berharap bisa lari tapi tahu bahwa mereka tidak punya celah untuk bisa lari.  "Aku tidak akan berbohong pada Kalian, aku tidak akan berkoar selayaknya Raja"  Aku memandang beberapa orang yang kurasa berkedudukan sama dengan komandan Viz berdecak mencemooh komandan Viz. Komandan Viz hanya terkekeh pelan. Dia menujuk laki-laki itu, laki-laki berperawakan lebih pendek dan berisi daripada aku "Laki-laki itu kerjanya tidak becus, tapi karena dia pandai menjilat jadi dia bertugas bersama kawanan cupu, yang diletakkan di dalam benteng istana ketujuh"  Lakilaki itu mengacungkan pedangnya ingin menebas Kapten Viz, tapi jelas dia akan kalah talak. Ketangkasan kapten Viz tidak bisa disamakan dengan dia "Aku tidak peduli denganmu bulat, cuh" kapten Viz meludah kesamping.  Dia membuatku tersenyum, keangkuhannya menyenangkan untuk dilihat.  "Aku ingin kalian merasa bangga bisa berada di baris terdepan dalam perang ini " kami semua terdiam, suaranya yang berat mengayun-ayun di hadapan kami seperti energi aneh yang membuat kami ingin mendengarnya terus, ingin bersemangat, ingin merasa bangkit "Itu berarti kalian punya kesemptan lebih besar, lebih luas, kalian akan punya pengalaman dan kemampuan perang tak terkalahkan, diluar teori d***u buku-buku aneh yang pernah diciptakan pendahulu kita. Ini kesempatan kalian untuk meminta bayaran satu juta yach pada Raja kalau kalian pulang membawa kepala ratu biadab Pasataria itu"  Oh tidak  "Jangan berkecil hati kawan ! Selama aku bersama kalian, kita akan sobek wajah Pasatria itu, kita akan kubur mereka di tanahnya sendiri. PANJANG UMUR NEGRI SYAKA"  "PANJANG UMUR NEGRI SYAKA"  Si manusia yang berdecak pada kapten Viz tadi mengayunkan pedang pada Kapten Viz yang seringan kapas Viz manampik pedangnya "Dengar ! Kau yang memberikan mereka padaku, botak-bodoh-sial-tak tahu diri ! Sekarang terserah aku mau memimpin mereka dengan cara apa. Kau ingat. Raja sudah memberi titah, memang siapa yang dimiliki Altar selain aku ? Kau mau menggantikanku cupu ?"  Laki-laki itu gentar, dia tahu kemampuannya tidak sebanding dengan kemampuan Kapten Viiz. Seorang komandan lain mendekati kapeten Viz dan berdiskusi Kapten Viz mengangguk kali ini dia lebih menurut "Karena kita harus mengenali medan, kita akan berangkat lebih dulu. Sebelum kita berangkat aku harus memilih Pleton dan kuberi nama dengan mauku" Matanya menyapu tiap barisan. Matanya tertuju pada Jon. Rasakan kau Jon, kau akan jadi Peleton "Karena kalian berbaris menjadi dua belas baris maka kuputuskan membagi kalian menjadi tujuh peleton" dia mulai memilih satu demi satu dan regu-regu itu diberinya nama sesuai kemamuannya, sangat sembarangan. Mungkin sesuatu saja yang terlintas dalam otaknya.  Regu satu bernama regu katak. Komandan Viz memilih laki-laki bertubuh jangkung, lebih jangkung daripada Jon. Untuk menjadi ketua pleton.  Regu kedua bernama peleton angsa. Dipimpin oleh seorang pemuda botak yang berotot. Jadi nama, nama peleton itu ada katak, angsa, murai, tikus, capung dan kupu-kupu. Sungguh tidak menyenangkan untuk disebut. Jadi tadinya aku berfikir bahwa kriteria pemilihan ketua peleton masing-masing regu itu berdasarkan tinggi badan dan postur tubuh. Ternyata tidak juga.  Barisan ku dan kukuta satu regu peleton. Kami diberi nama peleton tikus. Awalnya lega karena tikus terdengar cukup menakutkan karena mereka berkeliaran dikegelapan. Lalu, tiba-tiba aku ditunjuk menjadi ketu ploton ini. Sumpah ! tadinya aku berpikir bahwa Jonlah yang akan memimpin kami.  Semua mata tertuju padaku, aku pemimpin peleton yang paling kurus dan cungkring bisa apa aku di badingkan n yang lain.  Peperangan ini semakin terlihat tidak mungkin  ?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD