LIMA BELAS

1567 Words
Deba menghela nafas. Dia memilih berjalan ke sisi danau. Duduk di atas tumpukan kayu yang sudah di ikatnya. Dia mengambil batu-batuan dari danau untuk melembutkan bunga yang kuberikan. bahunya mungil, rambu kelabunya terayun-ayun mempesona.  Lama-lama disini, terus memandangi Deba aku bisa seperti orang gila "Deba aku berburu sebentar"  Deba menoleh, mengulurkan tangannya ke arahku "Bazar akan ikut denganmu"  Dari lengan Deba ular itu melengkung-lengkung keluar berjalan ke arahku  "Aku tidak..."  "Dia akan menjagamu Matiti"  Aku tidak suka di jaga oleh ular. Yang benar saja ! Kami sudah bermusuhan sejak awal, bagaimana konsepnya itu dia akan menjagaku ? Sudahlah aku biarkan saja ular ini mengikutiku. Aku berjalan menaiki bukit ke hutan yang tanahnya landai dipenuhi pohon cemara yang tumbuh rapat. Aku melewati hutan ini tadi, dan melihat se ekor rubah. Deba salah kalau dia bilang Bazar akan menjagaku, ular itu lebih memikirkan perutnya. Begitu melihat kelinci Bazar mengejar kelinci itu dan melilitnya. Lebih cepat daripada aku.  "Si rakus " Aku berjalan ke sisi hutan yang lain. Melihat-lihat hewa apa yang bisa kumakan.  Tidak lama aku melihat kelinci lagi, akupun melempar kunaiku dan tepat mengenai perut si kelinci aku mendekatinya. Tidak jauh dari tempatku, aku kembali melihat kelinci lain. Akupun kembali melempar kunai. Senangnya dapat dua kelinci sekaligus.  Ketika kembali ke danau, Deba masih mengikati kayu-kayu. Aku melepaskan buruanku duduk di dekatnya.  Dia melirikku "Kamu.." dia terdiam, kata-katanya mengantung di udara. Hanya rona di pipinya yang bisa k*****a sebagai kecanggungan yang asing. Dia memalingkan wajah.  kenapa kami jadi secanggung ini ?  Aku menghela nafas, ingin beristirahat  sejenak rasanya. Aku meluruskan kaki. Menikmati apa yang tidak ku nikmati tadi. Yaitu danau yang terkena sinar matahari. Matahari yang biasanya begitu cerah keliatan suram di antara putihnya salju ini. Sinarnya memantul bagai keristal di pecahan-pecahan es di atas danau "Di balik gunung itu Alatar" bisikku entah pada Deba atau pada diriku sendiri.  Tahu-tahu, Bazar sudah melengkung di di atas pahaku.  "Semua ceritaku terkubur disana. Terbakar bersama Klanku" Aku seperti peratap yang menarik keluar kesedihan yang berusaha kutanam "Apa yang kita cari disini Deba ?" matanya mengerjap, bulu matanya yang panjang menyapu kulit pipinya yang memerah karena udara dingin "Kita sudah terlalu jauh meninggalkan semuanya, kita memeptaruhkan semuanya untuk kemari"  Aku tidak kuat terus melihat wajah Deba, karena aku laki-laki normal. Diriku yang lain meronta-ronta ingin menariknya dalam pelukanku. Dan tahu lah.., aku kan laki-laki  Aku memfokuskan pandanganku pada deretan gunung-gunung di sebrang danua yang mengangkasa menyentuh langit "Di pengelihatanmu aku akan jadi raja seperti apa ?"  "Raja yang bijak"  aku tersenyum, terdengar tidak mungkin. Aku terlalu kenanak-kanakan untuk jadi bijak  "Yang ku lihat adalah kau berdiri di tangga yang tinggi, semua rakyat meneriaki namamu. Kau berteriak membela rakyat, kau melepaskan b***k-b***k, pengelihatanku hanya sebatas itu" Kaliamat Deba terdengar ada yang kurang, ada yang terlepas dari ceritanya tapi aku tidak mau memaksakannya  "Yang ku lihat di atas singgasana itu, seorang Matiti yang dewasa. Yang sudah memakan asam garam kehidupan, Matiti yang penuh luka tapi masih punya tatapan seangat mentari. Yang tersenyum pada anak-anak, yang merangkul orang tua dan memberi hak-hak perempuan. Kau memiliki kebaikan yang tidak dimiliki pemimpin sebelumnya" Bisakah ? mampukah ? benarkah itu aku ? Bisakah aku, laki-laki yang biasa saja sepertiku duduk di singgasana ? Tapi seluruh Altar mempercayaiku, kenapa aku masih ragu ? Seperti kata Sezarab, aku seharusnya mempercayai diriku sendiri. Bagaimana seluruh Altar akan mempercayai aku, kalau aku sendiri tidak percaya dengan diriku.  Aku seperti mendengar suara Baba "Bangun Matiti !" suara Ibu "Jangan merengek" suara Hariti "Memang kau mau jadi raja yang bagaimana ?"  Aku lelah, larut dalam kebimbangan ini. Demi mereka, demi Klanku, keluargaku. Aku harus menegakkan diri. Aku harus melawan. Bangun Matiti ! Bangun.... "Deba bisakah kau berjanji ?" suaraku sangat rendah, terdengar aneh, seperti bukan aku yang bicara.  "Tentu, apapun untukmu ku lakukan"  Aku menghela nafas "Apapun yang kutanyakan padamu, jangan pernah berbohong padaku. Aku membenci kebohongan"  Ada jeda yang panjang, aku terpaksa berpaling lagi padanya. Mata kami saling mengunci dalam itungan detik saja, aku melihat sekelebat warna biru dimatanya dan terbius dengan kelembutan yang menari-nari disana. "Kalau begitu berjanji satu hal padaku ?"  Dia malah kembalu melemparkan padaku "Berjanjilah kau akan menjadi raja altar, dan membebaskan penduduk Lohye"  "Selama kau tidak berbohong"  potongku dengan dengusan yang menguap seperti asap di pagi yang sudah menjelang siang itu.  Dia mengulurkan telunjuknya. aku tidak mengerti. Dia mengangkat alisnya yang runcing dan mengedikkan kepalanya, meminta reaksiku. Akupun melakukan hal yang sama. Menyodorkan telunjukku. Telunjuknya dan telunjukku saling bersentuhan "Aku berjanji pada Rajaku" suaranya seperti sapuan tangan yang lembut di pipiku.  "Aku berjanji pada penyihirku ?"  Dia tersenyum tersipu menunduk malu  Oh dewa..., senyum itu "Panjang umur untukmu" gumamnya sambil memalingkan wajah karena malu. Tapi jarinya masih menyentuh jariku.  Ini terasa manis, momen yang bisa ku kecap dengan lidahku. Dan terasa manis sampai ke jiwa-jiwaku. Aku tidak akan melupkan pagi dimana aku berjanji dengannya. Sebelum kami degert-geret nasib dan keinginan kami sendiri-sendiri. Hari itu aku pernah bersamanya di pinggir danau dan berjanji untuk menjadi raja.  ? Jon pulang dengan ribuan cerita di ujung lidahnya, aku dan Deba keliatan sangat bodoh ketika dia bercerita tentang Negri Syaka.  Sezarab mengajak Jon ke tempat pusat kermaiayan negri ini, tempatnya tepat di sekitaran istana. Tidak berebeda dengan Altar. Tapi bedanya mereka tidak memiliki pesisir seperti kami, melainkan keramaiayn itu berada di atas gunung batu. Rumah-rumah keliatan hangat. Semua orang berpakaian tebal, menggunakan kulit domba. Disana banyak menjual kulit-kulit domba, pusat perdagangan mereka sangat ramai. menjual apa saja. dari makanan sampai perempuan. "Kau harus kesana Matiti" Setelah puas bercerita, Jon menyenggol bahuku "Kau butuh perempuan kan ?"  Aku terdiam, ada Deba apa lagi yang lebih indah dilihat selain dia  "Mereka cantik-cantik, yah kulit mereka penuh warna merah" Jon melihat Sezarab "Seperti kulit Sezarab, tapi mereka tidak buruk, mereka cantik. Sungguh"  Aku mengepit tanganku "Semoga kau bertemu jodohmu disini, menikah dan berkeluarga dengan baik"  Dia tertawa "Mana mungkin, kaulah jodohku"  Aku meringis, gatal-gatal rasanya badanku mendengar gurauan aneh Jon "Aku lebih memilihmu dari semua perempuan diamanpun Matiti, ingat itu !"  Kalau dipikir lagi kami meninggalkan segalanya di Altar untuk bisa sampai ke Negri Syaka. Aku dan Jon tidak bisa menyia-nyiakan hidup kami disini. Aku past akan kembali ke Altar, membalas dendam yang kupunya untuk Klanku. Untuk anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena di bantai Olexys. Untuk masa depan Altar, untuk mimpi Deba, untuk orang-orang yang terbelenggu di pulau Lohye. Semoga itu adalah aku ! yang kata Deba, Raja yang memiliki kebaikan yang tidak dimiliki raja-raja sebelumnya.  Sezarab duduk bergabung bersama kami, di antara temeram perapian kami berkumpul "Jadi" katanya sembari membagikan sepotong roti buat kami dan Deba menyebarkan minuman berkadar alkohol redah, sejenis minuman Saki di Altar "Ada dua cara kita bisa bertahan hidup disini"  Sezarab mengambil posisi paling dekat tembok agar dia bisa bersandar sambil meminum Quela, minuman berasal dari fermentasi buah-buahan ditambahkan lemon dan gula yang didihkan sehingga minuman itu sedikit berbuih, apabila sudah diteguk terasa menggelitik di kerongkongan.  "Pertama kita mencuri dan kedua menjadi prajurit kerajaan" Sezarab diam beberapa saat "Untuk bisa menjadi prajurid kerajaan tidak mudah, dilakukan seleksi ketangkasan"  "Mati kau.." Jon menyeringai "Kau tidak perlu menghawatirkanku Sezarab aku pasti berhasil masuk"  Sezarab tersenyum hambar "Kau tidak akan kemana-mana tanpa MAtiti, Jon !"  Jadi permasalahannya ada padaku, selalu saja setiap masalah rasanya bermuara padaku. Apa yang salah dengan diriku ?  "Tentu saja tidak" jawab Jon pasti "Untuk itu kita akan memfokuskan latihan kita disini buat Matiti, tujuan kita mulai sekarang adalah membuat Matiti masuk seleksi prajurit kerjaan"  Deba mengernyit  Sezerab mengeluarkan sesuatu dari dalam pakaiayan kulitnya, dia mengeluarkan kantong Late yang kami curi dari Klan berbisik waktu itu "Kita masih punya ini" dia melempar-lempar kantong itu ke udara "Katanya ada seorang Mixi tinggal di desa Morgot. Aku ingin tahu bisakah kita menukar kantong Late ini dengan Yath"  "Bisakah aku menggunakannya untuk berjudi ?" aku bisa mengandalkan keahlianku yang satu itu, aku bisa memertaruhkan keberuntunganku, aku cukup beruntung di meja judi.  Sezerab menghela nafas "Dilarang ! tidak ada orang yang bisa menjadi raja dengan berjudi. Kita harus mencuri ! keterampilanmu bisa diasah dengan mencuri. Kita akan mulai mencuri dan mempersiapkan peralatan. mempetakan rumah-rumah Gebenur kerajaan dan para pemimpin Persatuan Rakyat untuk kita bobol"  "Kastil mereka luar biasa" Sepertinya Sezerab dan Jon sudah pergi mengunjungi rumah-rumah pejabat-pejabat kerjaan itu  Sezerab mengangguk "Kita gunakan Deba, nantilah kita rencakan. Aku punya rencana. Aku pintar dalam membuat rencana"  Aku berdecak "Benarkah ?"  "Lihat saja Matiti ! Aku akan membuat babamu bangga padamu"  Nafasku seperti di tarik keluar ketika Sezarab mengatakan hal itu. Aku sadar dia melakukan segalanya buat sahabatnya. Benarkah Babaku mempercayai Sezarab ? Akankah Baba bangga padaku  kalau dia melihatku sekarang ? Bangga atau tidak, dia sudah tidak ada di bumi ini.  Ada diam yang aneh disana. Seakan semua orang sedang mengenang babaku sekarang, sama sepertiku.  kata-kata Sezarab tadi seperti paku yang tertancap miring di hatiku.   Astaga !  Jon meremas bahuku "Kau sama sekali belum meminum Quelamu !"  Aku melihat Deba mengangkat gelas Quelanya "Enak sekali" dia sampai bergidik saking enaknya "mmmm" gumamnya sambil memejamkan mata Aku mendengar Sezarab terkekeh di belakangku, tapi aku tidak mau menoleh padanya. Aku sedang emosional. Aku mengakat gelas Quela "Tos" kataku mengajukan gelas itu ke hadapan Deba.  Deba tersenyum manis, dan menyentuhkan gelasnya pada gelasku  "Tos" Jon menubruk gelas kami berdua dengan gelas Quelanya. Dan dia terkekeh "Calon pencuri terhandal se negri Syaka"  "Bisa-bisanya..., kau bangga menjadi pencuri Jon" Sezerab tergelak  "Aku, mau jadi apapun aku tetap bangga, selama aku tidak jadi mayat"  Kami semua tertawa  ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD