EMPAT BELAS

2049 Words
Kami keluar dari hutan Padam dalam keadaan penuh lumpur. Lumpur mengering dingin di tubuhku. Setiap gerakanku menjadi lebih kaku. Semakin kami bergerak ke selatan udara semakin dingin. Medan berbentuk perbukitan, kami melewati tanjakan dan turunan tebing dalam keadaan membeku, berselimut lumpur yang mengeras di tubuh kami.  Deba terlilit Bazar, Ular itu masuk di antara gaun Deba. Deba menyelimuti dirinya lebih erat, tidak merasa canggung dengan Bazar. Deba tidak menggunakan penutup kepala, penutup kepalanya di gunakan untuk menutupi lehernya. Rambutnya dia kuncir rapih sekali, rambut putihnya menjadi abu-abu karena lumpur yang menempel.  Sezarab menunjukkan aliran sungai. Mau mati aku, ketika pertama kali ku sentuhakan telapak kakiku "Air ini.." aku heran sungai ini masih bisa mengalir di udara yang sedingin itu.  Deba memeluk dirinya, bibirnya sudah membiru.  Aku berjalan lebih ketengah untuk membasuh seluruh tubuhku, dan rasanya lumayan menghangatkan ketika seluruh tubuh ku sudah tersentuh rendam di air.  "Deba kau harus membenamkan seluruh tubuhmu" lihat siapa yang begitu baik, memberikan perhatian pada gadis pucat yang mulai membiru karena kedinginan, iya siapa lagi kalau bukan aku.  bibirnya bergemeletuk, tapi dia mengikuti saranku. Dia berjalan mendekatiku. Arus sungai itu tidak begitu deras. Deba berjalan pelan-pelan tapi dengan langkah gemetar. Sezarab dan Jon mengikuti, merekapun merasakan dinginan yang sama. Sezarab mulai membasuhi seluruh tubuhnya. mengepak-ngepakkan air seperti bocah.  Jon meringis sebal, karena sepertinya dia butuh waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan dinginnya air.  Deba bergerak mendekatiku, mengigil, tubuhnya yang mengigil membuat kakinya terpleset batu kali, spontan aku mengulurkan tanganku menarik tangan telanj##angnya. Dia memegang tanganku kuat, untuk menahan tubuhnya sendiri.  Deba menegakkan diri, tapi syock melihat tanganku yang menarik tangannya.  Ku lihat Jon dan Sezarab di depanku, untungnya dua orang itu memunggungi kami. Aku menghela nafas, lega. Deba menggerakkan tangannya.  Astaga ! tidak tahu malu kau cungkring ! ternyata aku masih menggenggam tangan gadis ini. Aku melepaskan tanganku canggung sambil berdaham, memalingkan wajah karena malu. Aku berjalan lebih ketengah menjauh dari Deba.  Dia menunduk sama malunya denganku.  Kami ini kenapa ?  ? Sezarab melarang kami berisitriahat, salju mulai turun tipis-tipis. Dinginnya tanah ini semakin tidak masuk diakal. Aku ingin sebuah pelukan hangat sebelum aku mati kedingan. Ada yang bisa memelukku ? aku tidak mau dipeluk Jon, dia bAu sekali.  Kami terus berjalan. Roti di tangan kami sudah membeku tapi harus tetap kami makan, sambil terus berjalan. Melewati hutan Padan tadi, menguras energi kami, kami harus mengisi tenaga kami karena tidak mau dibunuh oleh dinginnya tempat ini. Tapi kami juga tidak bisa beristirhat karena akan terasa semakin dingin kalau kami diam. Setidaknya energi yang dihasilkan tubuh kami bisa sedikit menghangatkan.  Sangat disayangkan kami tidak memiliki Kuda, kuda akan sangat membantu bukan ? berjalan di udara ekstrim seperti ini seperti berjalan menuju kematian.  Aku melirik Deba. Dia memeluk dirinya. Aku melihat kepala Bazar mencuat dari gaunnya. Lidahnya yang bercabang terjulur keluar. Baju kami sudah dikeringkan oleh udara dingin, dan menjadikan kain-kain yang menutupi tubuh ini mengeras keculi lapisan paling dalam bajuku. mereka terasa normal mungkin karena terkena hangat dari tubuh ku.  "Ayo terus anak-anak" Roti yang ditangan Sezarab sudah membeku  Salju tipis-tipis mulai semakin tebal kami, berjalan menuruni bukit menunju danau es. Apa aku harus menggantikan Deba untuk menjadi orang pertama yang menyebrangi danau es ?  Ku rasa tidak ! Aku belum mau mati. Tapi kasian juga dia, dia perempuan dan rasanya aneh mengorbankan seorang perempuan dalam perjalanan ini. Kalaupun bumi langit ini butuh tumbal untukku agar jadi raja, bukannya mereka sudah mendapatkan-nya? baba, ibu, hariti dan Lio ?  Deba kau tidak akan mati, aku berbisik yakin diriku sendiri Aku berjalan di samping Deba "Deba.." kita hampir sampai dan aku tahu danau itu pasti membeku. Tidak ada perahu yang bisa kami gunakan untuk menyebranginya danau, dengan cuaca seperti ini. Jangankan air, akupun sudah sejak tadi membeku.  Deba menoleh, di antar kedingininnya. Dia memeluk dirinya  "Kalau kau bisa melewati danau ini aku akan percaya padamu"  Dia mengerutkan alis yang berwarna lebih gelap satu tingkat dari pada rambutnya.  "Aku sedang menguji sejauh mana kau berkorban untukku"  Deba tertawa aneh "Seharusnya kau tidak mengatakan maksudmu itu" Dia berjalan dengan langkah percaya diri "Aku akan berjalan lebih dulu. Tenang saja" dia kembali melihatku "Dan kau harus jadi Raja, ini semacam taruhan antara kau dan aku Matiti. Iya kan ?"  Aku mengangguk  Memang ini adalah taruhan yang kubuat sendiri untuk membuktikan apa yang bisa dia lakukan untukku. Kalau aku dihianati suatu hari nanti bagaimana ? pertanyaan itu berbisik di diriku. Cukup percaya saja padanya, tapi tidak sepenuhnya.  Aku yakin satu hal  Baba pernah bilang padaku, dan sudah lama ku tanamkan ini pada diriku  "Kalau kau baik maka kebaikan akan menuntunmu padanya"  Kalau Deba menghianatiku, kebaikan akan memperlihatkan kebenarnya padaku. Bukan begitu, maksud kalimat Babaku itu ?  Akhirnya kami sampai. Dan keadaan menjadi tegang ketika Sezarab melirikku. Tidak ada yang berani berkorban disini. Jon bahkan Sezarab, tidak ada yang mau menggantikan posisi Deba sebagai pejalan pertama di atas danau yang membeku itu.  Deba mencari sesuatu di antara tumpukan salju. Jon mendekatinya "Kau cari apa ?"  "Batu"  Dia berniat melempar batu itu sambil berjalan agar dia tahu lapisan es yang mana yang mudah retak.  Dia tidak mau salah menginjakkan kaki.  "Kalian juga harus melempari batu !, tubuhku yang paling ringan di antara kita semua, aku yang pertama-tama berjalan. Menurutmu bagaimana kalau yang berjalan setelahku adalah manusia yang bobotnya lebih besar ?"  Jon segera mengantongi batu. Dia membawa banyak sekali batu. Sezarab hanya mengambil kayu panjang.  Deba sudah di pinggir danau.  Dia  menepakkan kakikya menginjak pelan-pelan lapisan air yang membeku "Deba tunggu"  Aku memberinya tali tambang "Pegang ini, setelah sampai seberang, ikatkan kuat-kuat pada sebatang pohon"  Deba mengangguk, diapun mulai menyusuri lapisan rapuh es danau itu. Dia berjalan pelan-palan melempari batu ke segala arah dan memilih lapisan mana yang akan di jejakinya.  "Gadis itu sangat berani" ujar Sezarab "Dia juga sangat cantik" lanjut Jon "Aku tidak pernah melihat gadis secantik dia"  "Memang tidak pernah kan ? semua gadis seperti dia tinggal di Lohye, mereka tidak boleh keluar dari pulau itu" lanjutku mematahkan sanjungan Jon pada Deba  "Dia terlalu polos untuk berbohong" Jon kembali berpendapat "Dia masih sangat muda, tujuh belas tahun Matiti" dia menghela nafas "Kenapa dia belum menikah ya ?"  "Memang kau sudah bertanya ?" aku sedikit terganggu dengan pertanyaan yang jauh dari keseriusan kami menangapi danau beku ini. Sialnya, aku tetap mau tahu.  Jon mengangguk penuh semangat "Dia bilang, seandainya dia masih dipulau itu, dia pasti akan menikahi sepupunya yang seusia dengannya atau tetangganya yang sudah punya empat orang  istri" Jon teridam mengamati Deba yang berkutat di atas danau beku "Di pulau itu sepertinya tidak banyak pilihan"  "Di sinipun tidak banyak pilihat" Sezarab menanggapi "Memang dia bisa menikahi siapa ?"  Aku terdiam, padahal aku tahu dia bisa bersama siapa saja, menikah dan punya anak dengan siapa saja yang Deba inginkan nanti. Tapi bukan itu tujuannya kemari. Dia ingin membebaskan kaumnya. Dengan mendorongku menjadi raja. "Aku percaya padanya, Matiti" bisik Sezarab  "Aku juga" sambung Jon "Kalau dia bisa melewati danau hidup-hidup aku putuskan akan jadi Raja"  "Akhirnya..." Jon menghela nafas "Semoga gadis ini bisa"  Aku melirik Jon dengan ujung mataku, dia benar-benar mengarapkanku jadi Raja ? Padahal Jon tahu benar seperti apa karakterku, dia masih berharap aku jadi raja ? terserahlah, mereka semua percaya pada pengelihatan Deba.  "Apa kalian percaya padaku, apa aku.." "Pertama-tama kau harus mempercayai dirimu sendiri Matiti, tidak ada yang akan percaya padamu kalau kaupun tidak mempercayai dirimu sendiri"  Aku menghela nafas "Aku tidak bisa melempar kapak"  "Kau akan mengunus pedang Matiti" Sezarab mengangguk kecil Jon meremas bahu kecilku yang tidak sebanding dengan genggamannya. Rasanya tulang bahuku dipatahkan oleh tangan itu.  Deba berhasil mencapai ujung danau  "AKU BERHASIL MATITI..AKU BISA !!! HOP HOP HOP" dia menari, berlari bolak balik seperti gadis gi^la "MATI KAU KAU AKAN JADI RAJA. KAU..... DENGAR AKU ! KAU SUDAH BERJANJI..." dia berputar dan meloncat seperti kupu-kupu.  "IKATKAN TALINYA, bodoh !"  Sudut mata Sezarab menatapku, aku baru sadar aku sedang tersenyum melihat tingkah gadis itu. Entah kenapa melihat dia sebahagia itu membuatku tidak terbeban dengan kata "Raja" lagi  Tidak lama tali yang kuberikan padanya sudah terikat kuat dengan satu pohon di sebrang sana, di sisi lain aku, Jon dan Sezarab sudah mengikat pohon cemara di belakang kami. Paling tidak kami bisa berpegangan pada tali itu, kalau-kalau lapisan es dibawah kami pecah.  Pelan-pelan Aku, Jon dan Sezarab berjalan sambil menerka-nerka dimana Deba memijakkan kaki. Terus berjalan. pelan-pelan . Tangan kami memegang tali. Aku bisa melihat aliaran air di bawah kakiku. Tidak bisa kubayangkan bagaimana dinginnya air itu.  Dan kami berhasil menyebrangi danau es dengan selamat ? Kami tiba di gubuk Sezarab, kami belum bertemu rumah lain. Rumah Sezarablah rumah pertama yang kami temui. Rumah itu masuk ke dalam ke tengah hutan di dekat tebing yang tinggi.  Seperti katanya semua memang ada di gubuk itu. Kecuali kuda yang sangat kami butuhkan saat ini. Gubuk Sezarab cukup kecil jika diperuntukkan untuk kami bertiga. Apalagi dengana adanya Jon.  Sezarab membuat pembatas untuk tempat Deba tidur. Walau pembatas itu hanya sekedar tirai kelabu gelap yang menggantung tidak stabil pada tiang bambu.  Jon menyalakan perapiannya, lalu menutupi lantai dengan bulu-bulu domba yang tebal dan hangat. Deba membuat minuman hangat. Dia  bergabung bersama kami bertiga. Masih dengan ular yang melilit-lilit tidak wajar di tubuhnya. Kadang di lengannya kandang melingkari perutnya dan kadang tidur di da**danya. Kalau ular itu sudah tidur di da^^da Deba aku tiba-tiba jadi sakit kepala Kami sudah mengganti pakaiyan dengan pakiyan yang lebih hangat, Deba menggunakan mantel bulu yang tebal. Karena terlalu dingin kami memakan sisa roti dan keju kami tanpa suara. Terdengar suara perut Jon. Dia mengutuk dirinya sendiri. Aku memperhatikan luka di pipi Deba yang mulai membiru. Dia pasti kesakitan, luka itu akulah yang menyebabkannya.  Keesokan harinya aku dan Deba ditugaskan Sezarab untuk mencari kayu bakar, sementara dia dan Jon melakukan seusatu agar mereka bisa mendapat makanan buat kami berempat. Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan untuk mendapatkan makanan buat kami. Jon akan memberi tahuku nanti, mulut besarnya tidak pernah bisa menyimpan rahasia.  Tanah di jalanan setapak di hutan cemara tempat gubuk Sezarab di tutupi salju tipil-tipis. Rumah itu lebih tinggi ketimbang danau. Aku dan Deba mencari kayu bakar turun sampai ke danau.  Kami menemukan kayu-kayu tumbang di pinggiran danau, aku memotongi kayu-kayu itu menjadi potongan yang lebih kecil supaya bisa kami bawa pulang ke gubuk Sezarab.  Deba melihatku dengan tatapan curiga "Itu kau bisa menggunakan kapak ? Kenapa kau hanya menggunakan kunai ?"  Aku menghela. Kalau dia pikir menggunakan kapan sama dengan menggunakan pedang, dia sungguh bodoh. Diamana-aman orang memotong kayu pasti degan kapak. Tidak bisa memotong kayu dengan pedang. Pernah liat ? mungkin di pulaunya dia memotong kayu dengan panah.  "Kalau hanya memotong kayu, semua orang bisa. Kesatria Kwaititi bisa menembus tubuh musuhnya dengan sekali lemparan kapak. Itu yang tidak bisa kulakukan Deba" Aku terdengar sangat sabar, seperti sedang bicara pada anak kecil.  Mulutnya mengerucut, mengumpulkan kayu-kayu yang sudah kubelah  Danau di hadapan kami mulai mencair "Kita beruntung melewati danau ini pada malam hari, akan banyak lapisan yang mencari kalau kita menyebranginya di pagi hari, dan sejauh ini aku belum melihat satupun perahu" Danau ini terlihat lebih luas ketika mencair. Aku tidak menghitung berapa lama waktu yang kami butuhkan untuk melewati danau semalam. Yang pasti berenang melewati danau ini tidak akan mudah.  "Kau bisa bayangkan bagaimana dinginnya danau itu ?"  Aku melihat Deba, mata teduhnya, sebingkai senyum terangkat di wajahnya yang putih memerah. Menurutnya pemandangan pagi berkabut di danau Negri Syaka ini sangat indah. Iya memang  sangat indah. tapi aku lebih mengagumi tempat tinggalku. Menurutku Altar jauh lebih segalanya. Yang paling penting Altar lebih hangat.  "Lihat !" dia menujuk gunung batu, jauh di sebelah gunung batu ada gunung es yang  sangat tinggi membentang kaki gunung menjulur menggapai danau "Itu tempat para Klan berbisik"  "Kita bisa saja lewat sana"  "Kalau kita lewat sana, kau tak bertemu dengan cinta pertamamu" Deba menahan tawa "Yubax, dia menunggu untuk dipinang"  Deba tertawa Oh, lihat ! Siapa yang merubah dia jadi mudah mencanda-iku seperti ini ? Tapi aku juga akhirnya tertawa memingingat wajah mengerikan Yubax.  Aku mengeluarkan bunga Bakun dari sakuku "Ibuku menghentikkan luka dengan bunga ini"  Tawa di wajah Deba hilang, melebur dengan wajah yang tiba-tiba jadi kaku melihat bunga setengah layu yang kuberikan padanya. Matanya pelan-pelan naik melihat wajahku. Aku tidak percaya, tapi itulah yang kuihat wajah pucatnya bersemu merah. Sangat merah  "Gunakanlah untuk mengobati wajahmu, aku tidak sengaja.." aduh begitu sulit rasanya bicara.  Sudahlah aku diam saja.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD