TIGA BELAS

2157 Words
Ternyata benar, aku masih hidup setelah satu malam berikutnya tidak terjadi apapun padaku. Tidak ada perubahan pada tubuhku, hanya sakit pada pinggangku akibat luka infeksi yang belum sembuh.  Kami tidak bisa berdiam terlalu lama di goa, kami harus melanjutkan perjalanan walaupun kondisiku belum pulih benar.  Aku melarang Deba memberitahukan apa yang terjadi, aku mau dia bersikap seperti biasanya. Dia mengikutiku, dia bukan perempuan pendebat. Dia mendengarkanku, setiap penggal kalimatku, dia mengikuti setiap kemauanku, apapun !  Deba tidak ingin Jon dan Sezarab tahu, alasan sebenarnya kenapa dia keluar dari pulau Lohye. Deba ingin mendapat kesepakatan denganku. Aku tidak pernah tahu seperti apa para penduduk pulau Lohye tinggal, mereka bertarung dengan keterasingan, berusaha bertahan di sepetak pulau tidak subur. Kesengsaran penduduk di pulau itulah yang membuat Deba kemari.  Tentang penyakit wabah Lohye..., wabah itu sudah berubah menjinak, bersatu dengan tubuh manusia. Buktinya aku tidak apa-apa setelah Deba menyentuhku dengan bibirnya. Ah ! Kalau diingat lagi, ciuman itu sangat lembut. Aku melirik Deba, bibirnya semerah strowberry tersegar. Aku menelan ludah, ingin kembali mencicipi strowberry berbentuk daging itu.  Langit ? Garis takdir seperti apa yang kau buatkan untukku dan gadis Lohye ini ? Aku masih tertatih-tatih berjalan menusuri safana kecil berbentuk cekung yang penuh dengan lumpur, kaki kami tertanam terus menerus, hal itulah yang membuat jalanku seribu kali lebih berat di tambah luka yang masih membengkak di perut ini.  Deba sering melihat kebelakang memastikan kondisiku, dialah yang selalu meminta beristirahat karena khawatir padaku. Padahal aku sendiri tidak peduli dia membusuk sekalipun.  Segala perhatian Deba, terlihat berlebihan dimataku karena aku sudah tahu tujuannya. Dia ingin mendorongku mewujudkan masa depan yang dilihatnya dan memberikan kebebasan pada orang-orang Lohye.  Kami beristirahat dulu di tanah lapang, rasanya sudah berhari-hari kami berjalan menuju Negri Syaka dan masih belum bisa melihat negri itu. melewati Bokrok, dan bertemu dengan yubax hampir saja tertangkap Olexys berakhir di Goa berciuman dengan Deba. Ku ingat lagi, ciumannya begitu manis. Sudah berapa lama aku tidak menjinakkan gadis-gadis. Hidupku terasa hampa.  Cekungan tempat kami berisitrahat bertanah padat, rumput-rumputnya menguning, dataran itu agak sedikit tinggi, karena itulah tempat ini tidak tergenang oleh lumpur-lumpur "Yang kita akan lewati adalah Hutan Padam, kita tidak akan melihat cahaya sama sekali disana, hutan itu dipenuhi ular dan berlumpur hitam. Setelah melewati hutan padam kita akan melewati danau es, kita sangat beruntung kalau danau itu mencair dan musim di negri Syaka sedang semi. Tapi kalau danau itu beku artinya kita harus melewatinya dengan berjalan kaki. Berjalan kaki di atas danau yang membeku sangat berbahaya"  "Seharusnya aku mengenakan pakaiyan yang lebih tebal" ujar Deba sedih, pakaiayannya sudah tertutup tapi tidak akan menyelamatkannya bila yang akan kita lewati adalah sesuatu yang berbau es.  Tidak heran, suasana di cekungan berlumpur ini lumayan dingin. Malam belum terlalu laru tapi rasaya dinginnya seperti perpindahan pagi dan malam. Jon, punya banyak lemak ditubuhnya, lemak itu bisa melindunginya dari dingin. Tidak dengan aku dan luka-lukaku, mereka semakin terasa membakar di perutku.  Negri Syaka yang kubayangkan adalah negri musim semi yang cantik di kelilingi puncak pohon cemara dan bunga-bunga. Kalau sampai Negri Syaka adalah dataran es maka sudah pasti, akan sulit bagiku bertahan hidup. Aku merindukan matel-mantel buluku yang tebal dan nyaman yang dibuatkan ibu untukku berpergian seperti ini.  "Tenang, cantik setelah melewati danau es kau akan langsung menemukan rumahku. Tidak jauh dari sana. Rumahku didataran rendah Syaka, agak terasing dari pemukiman lain. Tapi semua yang kau butuhkan ada"  "Termasuk sebuah gaun ?" tanya terlalu polos.  Aku jadi mengalihkan pandanganku ada Sezarab dia tersenyum canggung "Aku pernah menikah sebelumnya tapi istriku meninggalkanku" Jon menepuk pundak Sezarab "Wanita memang sangat kejam Sezarab" "Tidak seperti yang kalian pikirkan, hubungan kami tidak baik. Kami tidak saling menginginkan. Dia pergi dan akupun tidak merasa kehilangan. Kau tahu jenis hubungan seperti itu.."  Aku dan jon saling pandang, kami yang tidak memiliki pengalaman sama sekali soal seorang wanita harus berkata apa ? Memang aku tidak lagi perjaka tapi aku tidak memiliki waktu untuk jatuh cinta dan memikirkan seorang gadis. Di antara kami, kurasa Lio dan Hariti yang paling mengerti soal itu.  Sezarab terkekeh kejam, mendapati reaksi t***l kami "Kau liat Deba, dua laki-laki ini tidak berpengalaman soal wanita. Ku yakin kalian berdua akan berakhir kesepian sepertiku" dia tergelak lagi, menyesap sebotol anggur yang kemarin diberikan Jon padanya.  "Aku akan berlatih mu Matiti, sejujurnya..." dia mengerling dengan wajah mengejekku "Aku kecawa dengan tubuhmu yang lemah"  Aku benci sekali dengan pembicaraan yang berakhir pada postur tubuhku yang tidak sesuai dengan Klan darimana aku berasal. Tanganku mengepal di sisi-sisi tubuhku. Siap untuk menerjang Sezarab "Jika kau ingin menjadi raja, kau harus menaklukkan banyak kerajaan, kau akan berperang dan tidak mungkin kau berperang dengan tubuh seperti itu. Penting untuk membuat mental lawan jatuh sebelum mulai berperang. Kalau kau hanya berlatih dengan kunaimu..."  Aku meraih Kunai dan melemparnya di udara lepas, mengarah ke Sezarab. Sayang lemparanku masih meleset Kunai itu justru mengiris pipi merah Deba. Aku terhenyak. Bukannya bagaimana, reaksi yang kudapat dari Sezarab malah membuatku ingin mencokel matanya, dia tergelak "Sudah ku bilang kita harus berlatih, iya kan ! ini menandakan kau belum bisa apa-apa untuk melangkah jadi raja" Aku melihat Deba, matanya terbelalak menyentuh pipinya. aku sudah mengerat pipi merahnya. Darah tipis-tipis menyisip dari lapisan kulitnya. Lidahku sangat berat untuk mengatakan permintaan maaf pada Deba.  Dia tersenyum "Tidak apa-apa" keliatan sekali dia berbohong "Baguslah" tanggapanku sangat berlawanan Jon menghela nafas, dia menggebuk bahuku hingga aku hampir tersungkur. Keras sekali "Kapan kau akan dewasa"  Aku hanya bisa terdiam, sedikit merasa bersalah pada Deba.  Sezarab semakin kencang tertawa memecahkan kegelapan malam, di sela-sela tawanya dia bergumam "Kau juga harus mengatasi emosimu anak muda"  "Kau yang harus menjaga bicaramu, penghianat"  Aku baru tahu kalau wajah manusia bisa berubah sepersekian detik dari wajah penuh tawa menjadi wajah jengkel. Dia menelik melihatku, dengan marah. Entah kemana perginya wajah riang yang menertawakanku barusan "Krempe**ng ! Pulang sana ke Altar dan membusuk di penjara Olexys kalau kau mau. Tapi kalau kau tinggal bersamaku, ikuti caraku" dia menarik nafas menenangkan emosinya "Gudati menitipkan mu padaku, kalau saja aku lebih egois sedikit aku tidak akan peduli pada mu. Kau bisa kemana saja yang kau mau dan rebut sana singgasana Altar balaskan dendam Klanmu kalau kau bisa"  Aku dapat melihat garis luka di pipi Deba yang berhasil kubuat ketika dia memotong Sezarab "Dia benar Matiti"  Ada jeda yang panjang, ada kemarahan yang meletup-letup disekitar kami. Sampai kapan aku mau menolak, sesungguhnya kemarahanku aku tunjukan kepada siapa ? Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengeluarkan dengusan keras.  Aku melihat Deba, lupakah dia apa yang kami bicarakan sebelum ini ?  Kalau dia bilang akan melakukan segalanya untukku mari kita buktikan "Kau akan jalan pertama kali di hutan Padam. Kami akan mengikuti langkahmu begitupula di danau es, apabila danau itu membeku kaulah yang akan berjalan pertama kali deba"  Jon menarik lenganku "Dengar" dia tidak menerima usalanku, jelas. Aku terdengar seperti pengecut memang.  "Di hutan Padam banyak ular dan binatang. Yang bisa menaklukkan pengelihatan binatang itu  kan dia ? aku tidak bisa..., kau, sezarab juga tidak bisa. Hanya dia. Dan siapa disini yang pernah berlatih menahan nafas ? dia kan ? Aku yakin tenggelam selama satu jam di air dingin tidak akan sulit buatnya "  Semuanya diam  Mataku beralih pada Deba, deba melihatku. Aku menaikkan alis. Katamu kau akan melakukan apapun buatku ? kau tidak akan meninggalkanku ? kita liat, sampai mana kesetiaan seorang penyihir sepertimu. Selain itu, hanya aku yang tahu bahwa sebenarnya dia tidak pernah belajar menahan nafas.  "Matiti benar" Deba menyetujuinya "Deba kau yakin ?" Sezarab Keliatan sangat berbeda ketika dia bicarakan dengan Deba dan ketika dia berbicara padaku.  Deba mengangguk yakin, pandangannya tidak teralih dariku. Apa dia berharap aku menarik ucapanku ?  Aku ingin melihat sampai mana kesetiaanmu. Katamu aku harus percaya padamu .Aku akan percaya, setelah kita semua berhasil melewati hutan padam dan danau es dengan selamat.   ? Hutan Padam, hutan itu memang gelap. Pohon yang satu dengan yang lain saling mengimpit memberikan sedikit sekali ruang untuk kami bergerak. Setiap kali bergerak kakiku langsung terperosok jauh kedalam sampai lutut "Ada yang punya cara lain selain berjalan dengan rumput setinggi lutut ? Kita bisa memanjat mungkin ?" gumamku  "Lihat ke atas" Sezarab memintaku menengadah melihat ke atas, pohon-pohon yang saling bergandengan melengkukung menutupi langit. Aku hanya bisa melihat batang-batang pohon yang besar itu sampai aku melihat dua mata kuning, balik menatapku. Ular-ular. Jumlah mereka banyak sekali melilit-lilit di dahan "Berjalanlah dengan tenang, jalang sampai menganggu mereka"  "Lewat sini" Deba naik di akar-akar yang menjulang di atas lumpur. Gaunnya sudah penuh lumpur, dia memeluk satu batang pohon. Dia menegadah ke atas lalu lompat ke akar pohon yang lain. Mencoba mencari tumpuan-tumpuan lain.  "Beritahu aku bagaimana kau melewati hutan ini dulu ?"  Sezarab mencoba untuk simbang mengikuti langkah Deba "Berjalan pelan pelan di antara lumpur-lumpur ini, berusaha tidak menimbulkan suara" Dia diam sebentar, mencoba seimbang di akar pohon itu "Aku menghabiskan hampir sehari semalam berjalan di antara lumpur-lumpur ini. Dan kita tidak mungkin menghabiskan waktu selama itu di tempat ini. Kau tahu kenapa ?"  bibirku mengerucut sementara kepalaku menggeleng "Perbekalan kita tidak cukup, kita akan kehabisan tenaga"  "Orang bodoh sekalipun tahu kalau yang kau maksud cuma perbekalan" Kataku asal tanpa melihat nya, aku menyiapkan diriku menaiki akar dimana Sezarab berpijak sebelumnya  "Kau pikir energimu tidak akan terkuras berjalan terus di antara lumpur-lumpur itu. Coba saja bertahan disana satu jam saja. Aku berdoa tubu..." dia menahan ucapannya. Sepertinya dia ingin mengatai tubuh cungkring ini.  Aku tidak peduli.  Aku memeluk batang pohon, meloncat ke akar pohon yang lain. Aku berhenti dan memeluk batang pohon yang lain. Melompat sekali lagi dan lagi. Deba berpijak pada akar pohon yang salah, dia menginjak akar yang lapuk, kakinya jatuh kemulut sebuah pohon. Pohon itu menganga dan ratusan ular keluar dari batang pohon yang sobek itu.  Deba bergerak mundur "Tidak..tidak..." bisiknya nanar. Dia segera menarik kembali kakinya dan menjauh dengan posisi terduduk.  Sezerab dengan sigap langsung melompat ke lumpur. Sementara aku menyaksikan mereka. Deba bergerak mundur mejauh tapi ular-ular itu bergarak cepat diantara lumpur-lumpur. Dia medekatiku, aku turun menebas sebagian ular-ular disana.  "Kau membunuhnya ?" Sezerab menatapku tidak percaya  "Aku tidak mungkin mengelusnya dan meminta mereka pergi Sezerab. Mereka berbahaya !" ujarku sambil tanganku terus berusaha menebas mereka dengan pisau sebatangan tangan yang ku miliki "MEREKA ULAR-ULAR DISAKRALKAN SYAKA"  "Masa Bodoh" sangkalku aku cukup bangga dengan gerakanku di antara lumpur-lumpur menebas ular-ulir itu.  Aku mendadat terdiam, menyadari ada sesuatu di kakiku. Kaki terikat kuat oleh sesuatu. Aku tergeret, jatuh terjelembab ke dalam lumpur.  "Oh" Deba menjauh dariku, dia sangat panik.  Aku sekuat tenaga berusaha meloloskan diri dari jeratan kuat di kakiku. Aku tidak bisa melihat sebesar apa ular yang meililit kakiku ini.  Deba  naik ke akar pohon melompat untuk mengambil sebuah ranting. Dia mengambi pematik kecil dari bawah roknya. Dan menyalah api dari batang pohon itu. Dia menyulutkan api di antara ular-ular itu. Sebagian dari mereka lari. Jumlah mereka sangat banyak dan ukuranya seperti lengan Deba.  "Di kakiku" kataku ketakutan ular itu akan menyelukaiku, kakiku tidak bergerak dibuatnya. Ular macam apa yang melilit dengan membuat pembuluh darahku sampai tidak mengalir. Kaki bagian bawahku mati rasa.  "Hentakkan Matiti !"  Jon Mengambil satu dahan melakukan apa yang dilakukan Deba untuk melindungi diri, tempatnya terlalau jauh untuk menggapaiku.   Sementara aku berusaha menghentikkan gerakan ular berkubang di lumpur. Aku memberanikan diri menarik ekornya "Dia kuat sekali" teriakku Deba hanya bisa mematung dan berdiri. Aku melihat berkali-kali matanya berubah berwarna kuning. Dia belum berhasil mengambil pengelihatan ular yang mencekram kakiku.  "Minggir Deba !"  Jon sudah memegang kapaknya, berhasil menghalau ular-ular yang tadi mengelilinginya.  "Jangan.. kau tidak bisa membunuhnya"  Perempuan ini gila. Lalu dia mau membiarkanku mati ?  "Jang dibunuh" ulangnya, menghentikkan langkah Jon "Ular itu punya takdir bersama Matiti"  "KAU GILA, TAKDIR APA SIALAN ! DIA MAU MEMBUNUHKU"  "Tenang Matiti, tenangkan dirimu" Sezarab mencoba menenangkanku. Dia menyodorkan api kebeberapa ular yang berusaha menganggu kami. Jon sedang bertarung maju melawan ular-ular itu agar kembali ke sarangnya. Sementara aku dengan konyolnya tidak bisa melepaskan kakiku dari lilitan seekor ular. Ular ini sangat besar dan panjang, dia melilit kakiku begitu rapat dan padat. Aku yakin tidak lama lagi, ular ini akan menghentikkan peredaran darah di kakiku.   Deba terjatuh, dia kehilangan tenaga  duduk di akar pohon, kedua tangannya menompang tubuhnya. Berlahan lilitan ular di kaki mengendur. Aku bisa melihat kepalanya yang yang bergaris menyerupai mahkota bergerak melewati tubuhku ke dadaku menjurlurkan lidahnya yang bercabang padaku. Matanya hitam dan beriris putih memajang memecah bola mata hitamnya. Ular itu berwarna hitam bercampur kuning keemasan dan ada bagian di kepalanya yang berwarna merah.  Setelah melewati tubuhku dia bergerak ke dekat Deba, dan dengan posisi sangat nyeman menggulung diirnya di pinggang Deba " Namanya Bazar, dia anggota ke lima kita"  Aku menghempaskan tubuh di lumpur. Sekarang aku harus berteman dengan seekor ular ? "Dia akan ikut denganku"  "Kau.." aku ingin sekali marah dan berteriak Tapi mata Deba terlihat yakin "Dia ular yang akan menolongmu kelak. Dia ikut denganku !"  Lagi-lagi karena aku "Ku rasa kita sudah tidak punya masalah dengan ular lagi, Mereka mendadak pergi" Jon mengumumkan situasi yang tidak kusadari.  Aku menghela nafas bangkit dari lumpur 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD