DUA BELAS

2268 Words
Aku tidak diberikan kesempatan merespon, Yubax sudah tertawa terbahak-bahak. Suara tertawa Jon kalah dengan suara tawa peempuan kecil ini. Mataku kunang-kunang, karena mengeluarkan banyak darah. Tapi aku akan bertahan. Aku menggelengkan kepalaku.  "Tidak mau ?" Dia pikir aku sedang menjawab pertanyaannya padahal aku sedang menghilangkan kunang-kunang yang mengusikku, kalau tidak aku akan terkapar menyedihkan.  Dia  mendekatkan wajah dramatisnya ke dekat wajahku. Aku berbisik keras pada diriKU, aku tidak sudi mencium bibir dengan gigi sehitam Yubax "Kedatanganmu kemari membuatku ingin menguasai Altar"  Satu lagi manusia serakah, yang kutemui  Kalau boleh memberi saran, lebih baik dia menikah saja dengan Olexys. Kenapa aku ? Belum tentu juga aku akan jadi raja.  Dengan kata lain, semua ini menandakan dia tahu identitasku. Tubuh Jon menegang, tubuh responsif ala Klan Kwaititi yang selalu ingin menyerang. Deba menahannya.  "Kita pernah bertemu, ingat ?"  Aku menggeleng. Aku tidak pernah bertemu dengan Yubax sebelumnya. Salah satu anak buahnya mungkin saja, tapi aku memang tidak mengingat wajah orang dengan baik. Aku pernah bertemu beberapa wanita Mixi tapi tidak benar-benar mengingat mereka. Aku bertemu Klan Mixi pertama kali pada acara kerajaan. Terlalu banyak wajah orang-orang yang perlu dikenalai, Baba memperkenalkanku pada mereka satu persatu dan aku tidak mampu mengingat wajah sebanyak itu.  "Aku mengingatmu Matiti, asal tahu saja aku sangat mengingat wajah kurusmu yang tidak seperti Klanmu" dia bersidekap, menjauhkan wajahnya. Aku menghela nafas lega "Kau ku ijinkan meninggalkan tempat ini, tapi berjanjilah dengan darahmu bahwa kau akan kembali dengan menyandingku sebagai ratumu"  "Itu omong kosong" kataku akhirnya "Apa yang dikatakan penyihir itu cuma omong kosong "  Mata Deba melebar, dia paham aku akan melemparnya menjadi santapan anjing liar. Tapi sebaiknya dia diam dan biarkan aku menyelsaikan pembelaan diriku.  "Kwaititi pernah hampir menghabiskan seluruh orang-orangku. Cerita di masa lampau itu beranak pinak hingga sampai ke telingaku. Dan kami semua masih menaruh dendam dengan Klan raksasa. Menurutmu apa yang membuat mu akan lolos dari tiang gantungan Olexys ? Kau musuh terbesar yang sedang di cari Olexys, kalau kau berhasil lolos dari sini itu artinya dia harus mencarimu ke Pustinya ? Syaka ? Gyrofzha ? Kurkusla ? Dan dia tidak mungkin melakukan itu, pemerintahannya akan ambruk kalau dia memulai perang dengan kondisi Altar seperti saat ini. Dan dia tidak mungkin memerangi semua kerajaan hanya untuk mencarimu Matiti"  Jadi kenapa kami tidak dibiarkan pergi ? "Bayangkan apa yang akan kudapatkan kalau aku membawamu padanya ?"  Aku mengedikkan bahu  Dia merengut tidak suka dengan reaksi datarku. Dia mencodongkan kembali wajahnya.  Tidak ! Aku berusaha menahan nafas, nafasnya tidak terlalu enak untuk dihirup rasanya seperti kembali ke celah kecil penuh kalajengking tadi. Uch "Segalanya Matiti, mungkin aku bisa jadi ratunya" dia mengangkat alis terlihat senang  Aku mengangguk "Kau memang cocok, kalian serasi. Maksudku kau dan Olexys" luar biasa setelah berpura-pura punya teman dipatuk ular sekarang aku mencoba menjadi mak comblang. Kuucapkan selamat pada diriku sendiri.  Dia menggeleng dramatis, aku hampir bergerak untuk menyangga rambut kebeserannya yang oleng ketika menggeleng - gelengkan kepalanya "Kau lebih menarik menurutku"  Ya tentu saja, Apa yang menarik dari Olexys dibandingkan ketampananku yang tersebar di seluruh Klan. Anak kedua yang seperti malaikat ini. Aku memang turun dari langit.  Tapi tolonglah tahu diri Yubax !  Kalau satu-satunya pilihanku mati atau menikahi Yubax, aku akan memilih mati.  "Ayolah buat perjanjian denganku" Dia merengek seperti anak-anak "Aku ingin berumah tangga dengan mu. Kita akan melahirkan anak-anak yang lucu"  Akhirnya Jonpun tidak bisa menahan tawanya. Luar biasa penghancur memang kau Jon. Tidak akan pernah ada kesepakatan apapun, gelak tawa Jon sudah menghancurkan diskusi kami. Aku yakin empat tiang gantungan langsung di pasang sekarang juga. Kita akan sama-sama melayang bersama bola-bola baja berduri itu. Oh  Deba berlutut di sebelah Jon. Lykas mengacungkan tombak ke leher Jon. Tombak sekecil tusuk gigi itu tidak akan berhasil menyayat kulit Jon yang seperti Badak. Aku melihat mata Deba, mata itu bergerak jauh kebelakangku ! dia menunjukkan aku jalan keluar untuk kami.  danau, lubang, lompat. Itulah gambaran yang dikatakan Deba padaku dengan matanya.  Dia mengangkat sebelah alisnya  Aku memberinya senyuman.  Tiba-tiba datang seorang penjaga mengabarkan dengan tergesa-gesa "Puan, mereka datang. Kesatria Roga datang...mereka... mereka datang.." Mixi penjaga itu masih sangat muda dan dia keliatan sangat ketakutan. Ini tentu tidak baik. Wajah Yubax yang tadinya begitu centil merayu-rayu aku, sekarang jadi menengang, aku jadi tahu wajah sebenarnya dari Yubax ya seperti ini. Jelek, tua mengerikan dan bergigi hitam. Atas dasar apa dia mengatakan dirinya yang paling cantik ? Pernahkah dia keluar dai gua ini ? dan melihat bagaimana penampilan gadis-gadis Amor ?  Aku memberi kode pada Deba dan Jon bahwa ini waktunya. Ketika perhatian tertuju tidak pada kami.  Satu  dua  Tiga. Aku berbalik cepat tidak memikirkan nyeri yang menyerangku secara bersamaan. Aku mengayunkan Kunaiku. Menggrok satu penjaga di depanku. menendang jatuh Yubax hingga mainan kepalanya jatuh tergeletak. Aku baru tahu rambut yang digulung rumit dan sangat itu, ternyata adalah Mahkota. Mahkota terkonyol yang pernah kulihat.  Sezerab menahan Lykas, Jon menyusul kami berlari ke ujung ruangan.  Dan dengan indah melompat dari ketinggian tak terkira mempertaruhkan nyawa kami semua.  "UHU...." teriak Deba senang  Aku memegangi perut dan memejamkan mata merasakan angin kencang seakan mengulitiku. berharap tidak satupun dari bola-bola baja tergantung itu memukul kepalaku. Aku pasti sudah mati kalau seperti itu.  Aku selamat ! Ku rasakan pukulan air danau berdenyut nyeri di punggungku dan tubuhku sudah melemah tenggelam dalam air yang terasa payau.   Aku tenggelam tidak dapat melihat apapun, danau sangat keruh. Aku tidak bisa melihat apapun selain air danau yang seperti mengandung s**u. Berwarna putih. Darahku melayang-layang, memisahkan diri dari warna putih air danau.  "Aku tidak boleh mati disini ! Aku harus cepat !" perintahku pada diriku sendiri Aku mengayuh kakiku, berenang kepermukaan. Menjejali tubuhku dengan oksegen.  Deba lebih dulu berenang di permukaan, lalu tidak jauh dari kami ada Jon dan Sezerab  "Pembuangan, Kita harus cepat. Olexys sudah datang, lukamu harus di rawat" Sezarab mengarahkan kami ke sisi sebrang. Setelah sampai ke pinggir danau, aku berpijak pada batu batu licin. Sulit mempertahankan keseimbangan kalau aku tidak di sokong oleh Jon mungkin aku akan kembali jatuh. Sayang sekali kami tidak berhasil menukar Late yang kami punya dengan Yach. bisa dipastikan di Syaka nanti hidup kami akan miskin  "Kita harus mencari terowongan kecil tempat pembuangan" Deba memberi tahu kami "Maksudmu seperti yang ditangga ?"  Deba mengangguk "Itu mengarah ke sungai tandus, kalau sudah melewati sungai itu kita sudah aman. Mereka tidak akan berani mengejar kita lagi"  "Aku tahu itu dimana" sezerab, sepertinya mengingat sesuatu ketika melihat sebuah celah sempit bersimbolkan sesuatu seperti dedaunan bermata ular. Sezarab segera menuju ke arah simbol itu.  Kami mengikutinya. Aku di tompang oleh Jon. Aku sudah sangat lemah "Kuatlah Matiti"  "Heh" erangku kehabisan tenaga, kupikir aku akan mati di danau tadi "Pastikan tidak ada jeruji besi"  "Jeruji itu tidak di pasang di lantai teratas dan lantai dasar Matiti. tenang saja"  "Aku ingin brepura-pura jadi raja yang baik memantingkan nyawa kalian ketimbang nyawaku"  "Ini pertama kalinya kau memperhatikanku" goda Deba dan tertawa kecil.  Sezerab memberikan kode agar kami tidak bersuara. Seperti sarannya kami menyusup kembali ke koridor batu yang sempit,  dipenuhi dengan warna obor yang menyala di balik pahatan berbentuk genggaman tangan.  Kami harus cepat, karena kalau tidak mereka akan menangkap kami. Anak buah Olexys...  Kami menemukan trowongannya, Sezerab tanpa takut langsung menaruh tubuhnya ke sana dan Terowongan itu sudah membawanya menghilang dari pandangan kami. Disusul Deba lalu aku dan Jon. Sekali lagi kami jatuh ke dalam kubangan. Kali ini kubangan lumpur yang membuat p****t cenat-cenut nyeri karena lemparan yang kuat.  "Wah ini menyenangkan sekali" Deba berdiri "Kita sekarang mandi lumpur"  Kami melihat ke gunung batu yang baru saja kami masuki dan berhasil keluar dari sana.  Katanya sungai tandus ? sungai ini berlumpur, apanya yang tandus "Apa kita sudah aman ?" tanyaku pada Sezerab, suaraku ternyata berubah lebih dalam karena manhan sakit.  "Dia butuh pertolongan" Jon mencemaskanku Aku tidak menolak, aku memang harus di tolong. tombak kecil yang menyurapai tusuk gigi itu menyodok pinggangku terlalu dalam dan menyebabkan inveksi.  "Kita sudah keluar dari tanah Altar !" Ada perasaan sedih ketika aku mendengar kenyataan itu dari Sezarab. Kini aku sudah terlalu jauh dari rumah "Sebentar lagi kita aman ! Kita harus sedikit memutar ke tenggara, ada goa yang aman untuk kita menginap"  Kamipun memutar. Aku pikir aku sudaha tidak sanggup lagi. Mungkin Jon kehilangan seluruh tenaganya hanya untuk menggeret aku. Aku sudah seperti benda tak bergerak yang digeret Jon. Akhirnya kami sampai dan aku merebahkan tubuh dengan pakaiyan yang basah. Kami semua basah. Tidak ada alasan untuk mengganti baju. Kami menyalakan api unggun yang besar agar menghangatkan kami.  Tapi aku tetap merasa dingin. Sepertinya tidak lama setelah itu aku sudah jatuh, entah tidur atau pingsan.  Ada jari yang menyentuh hidungku, aku mengerjab, tidurku terganggu oleh sentuhan kecil yang aneh itu. Hidungku disentuh lagi, kali ini aku merasakan jarinya di ujung bibirku. Ini benar-benar. Aku mengerjab setengah sadar aku melihat rambut peraknya. Aku terlalu lelah untuk membunuhnya, aku memilih berisitirahat.  beristirahat Matiti, Kamu harus tetap hidup. Aku meringkuk, mengerang menahan sakit.  Nyala api unggun semakin mengangguku. Lama-lama api unggun itu terasa terlalu panas. Aku akhirnya terbangun. Aku melihat Deba duduk tidak jauh dariku. Pakaiyannya sudah mengering akupun sama. Bagian atasku tela*9jang pinggangku terbalut kain panjang yang Deba gunakan untuk menutupi rambutnya.  "Luka infeksi, membesar dan membengakak. Aku menutupinya dengan Daun Mayang, sekarang Sezerab dan Jo sedang keluar mencari makanan" Jelasnya Aku meraih pakiaan terluarku "Bisa kau kecilkan api unggun itu. Bisa-bisa kita terbakar disini"  Di memngikuti perintahku tanpa banyak bicara. Dia mengeluarkan bagian kayu yang membara memukul-mukulnya ke pasir hingga api di kayu itu mati. Aku menggeret tubuhku mundur hingga membentur batu-batu goa tempat kami bersembunyi.  Tempat ini sangat sunyi hanya ada aku dan Deba saja, aku memperhatikannya di balik api unggun. Dia menarik satu-satu kayu-kayu yang nyalanya besar untuk dimatikan. Dia terlalu berlahan-lahan dalam melakukannya  Mata biruny berkelabat di balik api unggun, mata biru itu sedang melihatku "Aku punya permintaan Matiti"  "Kau pikir aku bisa mewujudkannya ? aku terkapar, sulit bergerak, Klanku dibantai, aku sebatang kara. Apa yang bisa kulakukan buatmu Deba ?" kataku sinis Dia mengalihkan pandanganya, dia kembali melihat api unggun "Kelak kalau kau menjadi seorang Raja, bisakah kau mengeluarkan orang-orang Lohye dari pulau itu ?"  "kau gila "  "Kami sudah lama menderita, tempat itu seperti penjara. Kami di kelilingi danau, kedingianan, kami makan makanan yang tidak layak, anak-anak tidak bisa berlarian bermain di tanah yang datar, kami sering kesulitan makanan, setiap hari yang kami makan hanya ikan. Setiap kali ke daratan untuk mencuri para laki-laki sering tidak kembali pulang karena terbunuh di perjalanan. Karena jumlah kami yang sedikit sebagin dari kami menikah dengan saudara atau keluarga terdekat mereka, kalau terus seperti itu mereka tidak akan bisa punya keturunan lagi. Jumlah kami semkain sedikit"  "Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup Deba ? aku mungkin juga akan membunuhmu kalau wabah Lohye kembali menyebar"  "Kami sudah berubah Matiti, tidak ada lagi wabah di tubuh kami. Tubuh ini terbuntuk karena wabah dan wabah itu sudah menjadi gen kami, seperti ini. Kami tidak menyebarkan apapun dengan tubuh ini" matanya berkaca-kaca  "Dari mana kau tahu"  Dia menelan ludah, keliatan sulit berkata-kata  "DARI MANA KAU TAHU KAU BAHKAN TIDAK PERNAH MENYENTUH MANUSIA LAIN SELAIN ORANG-ORANG LOHYE"  "Kau tidak apa-apa"  Alisku berkedut karena suaranya yang sangat pelan, dia selalu terdengar seperti bisikan.   "Aku menyentuhmu dan kau masih hidup" Matanya bergerak menembus mataku  Gigiku gemeletuk marah. Aku menyambar kunaiku ingin ku gorok lehernya. Dia menggeser tubuhnya ketakutan. Padahal aku juga masih tidak bisa berdiri. Aku menahan diriku. Nafasku memburu karena letupan amarah. Aku kembali duduk, lukaku menahanku, mereka membuat dunia ini nampak memudar. AKu kembali terjatuh. Aku bersandar, marah tapi tak bisa melakukan apapun. Aku melepaskan kunaiku "Jal**ang"  Toh aku juga akan mati. Siapa peduli, jadi raja apanya...  Dia mendekatiku, dia berlutut di hadapanku dan menangis "Kau tidak akan kenapa-napa" ujarnya dengan suara yang parau  aku masih tidak mau membuang-buang tenagaku untuknya.  Rambut peraknya yang indah, terurai jatuh menutupi wajahnya, dia menunduk dan menangis didepanku "Aku bersumpah kau tidak akan kenapa-napa"  "Dari mana kau tahu ?"  Matanya terangkat ragu-ragu menatapku, wajahnya penuh dengan air mata "Aku melihat masa depanmu Matiti, lebih jelas daripada aku melihat masa depanku sendiri. Aku tidak berlatih bernafas dalam air. Itu juga aku berbohong"  "cih" aku membuang ludahku ke samping. Ternyata aku benar, dia memang tukang bohong !  "Tetua kami mengizinkanku pergi meninggalkan pulau, karena mereka percaya padaku. Aku membawa harapan bagi mereka. Semua ini tidak adil buat kami Matiti. Kami sudah sembuh, tidak ada wabah lagi yang ikut bersama kami. Tubuh kami telah berubah seiring berjalannya waktu, kami menyesuikan diri dengan lingkungan kami" Dia meraih tanganku.  Aku mendorongnya hingga tersungkur  Berani-beraninya perempuan ini  "Aku tidak membutuhkanmu kau tahu"  Dia menggeleng "Kau sangat membutuhkanku ! lihat apa yang kulakukan dua malam ini untukmu sampai kau selamat dari Olexys dan bisa bernafas sampai sekarang, dan tidak berakhir di tiang gantungan Altar. Matiti aku akan melakukan segalanya buatmu. Segalanya !" dia diam dia kembali mendekat padaku dengan berlutut, berurai air mata "Hidupku untukmu, tapi aku hanya minta satu. Ketika kau jadi raja bebaskanlah orang-orang Lohye. Kami punya hak hidup yang sama. Kami bukan lagi aib, kami bukan lagi penyakit"  "Dari mana aku tahu"  Jalan*g itu mendorong tubuhnya padaku dan mencium bibirku. Bibirnya terasa penuh dan manis, manis sekali. Bibirku yang pahit tidak terasa lagi. Tapi aku gila kalau aku membuka bibirku dan menerima ciuman manusia berbentuk wabah ini. Aku mendorongnya Breng#Sek !  Sedikit lagi dia jatuh ke dalam api unggun.  Dia melihatku dengan nanar  "Kau..." suaraku bergetar, aku menggusap-ngusap bibirku. Seolah bibirku adalah benda yang tidak akan merasa sakit kalau aku mengusapnya dengan keras "Berani sekali kau menciumku Jal^^ang"  Dia terdiam, dia juga keliatan kaget dengan reaksinya "Kau tidak percaya"  "Menjauhlah.. dariku. Sekelai lagi kau mendekat aku bersumpah akan membunuhmu Deba. Aku tidak main-main" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD