Beberapa kali Baba juga mengatakan hal yang sama tentang tubuh kami yang berubah karena adrenalin yang bergejolak, salah satu yang memacu adrenalin itu adalah berada dalam situasi yang bahaya salah satunya peperangan dan perkelahian.
Tapi cerita tentang Riadura sungguh mengangguku, terjawab sudah kenapa Sezarab datang ke Altar. Buku yang bercerita tentang hubungan kami dengan langitlah yang dia cari. Buku itu tidak pernah diungkit-ungkit Baba, ataupun Met. Aku curiga buku itu tidak ada di Klan kami, tapi berada di kerjaan. Jafar sengaja menyembunyikannya, agar tidak terjadi keribuatan dengan Klan kami. Itu masih kecurigaanku.., aku harus mencari kebenarannya nanti.
Dulu aku seperti Baba, aku sangat menghormati Kerajaan. Tapi setelah hari ini, aku merasa tidak berdosa memanggil rajaku hanya dengan penggalan namanya saja. Jafar.
Deba menahan tanganku, Aku spontan menyudutknya dan hampir mencekeknya. Dia mengisyaratkan agar aku menahan diri. Deba meletakkan jarinya di bibir "Ssstttt"
Aku melepaskan cengkaramanku di lengannnya. Hampir saja aku menyentuh kulitnya. Hampir saja. Aku dan Jon sama-sama bernafas lega. Bersandar ke dinding batu, melakukan perayaan kecil atas tidak terjangkitnya aku dengan wabah lohye.
Dalam kegelapan mata Deba mulai menguning, tubuhnya terdiam. Bersandar pada bebatuan. Tidak lama, dia terkesiap seperti terbangun dari mimpi buruk. Setiap dia menganti pengelihatanya dengan pengelihatan hewan, dan akhirnya tersadar yang pertama kali dilihatnya adalah aku "Mereka 4 orang, mereka mengetahui kedatangan kita" wajahnya terlihat cemas
"Biar aku" Sezarab segera memasang badan
Sezarab seumur Babaku. Jeruji-jeruji penjara tidak membuatnya lupa bagaimana cara bertarung. Dia tidak terlihat seperti mantan tawanan. Kemampuan bertarungnya tidak bisa diremehkan. Di balik pakaiayan serba tebal milik Klan berbisik lengan kekarnya mencuat. leher dan tangannya keliatan kaku.
Tubuhku malah lebih menyedihkan dari tubuh mantan tawanan.
Aku ? aku sipemerhati tubuh dan selalu saja iri dengki mengakar di hatiku, melihat tibuh orang lain jauh lebih bagus dariku. Seperti inikah calon raja yang adil, yang dikatakan Deba ?
"Kau harus berhati-hati banyak sekali ranjau, mereka menggantung bola-bola baja yang bisa melayang mengenaimu"
Ini pertama kalinya selama duapuluh tahun hidupku yang tidak beguna ini aku masuk ke sarang para Mixi. Hariti mungkin pernah kemari. Semakin mendekati cahaya masuk ke dalam gunung batu Mixi, Kecemasanku meletup-letup, menunggu apa yang akan kami temui di ujung cahaya itu. Kami sudah siap dengan senjata masing-masing. Aku melirik Deba ketika berjalan.
"Mereka datang" kata Deba
Sedetik setelah peringatan Deba, mereka sungguhan menunggu kami. Satu di antara mereka bersidekap sangat angkuh "Kwaititi ?" tanyanya mencemooh.
Klan mereka tidak disentuh sama sekali oleh Olexys. Apakah pemimpin mereka semudah itu berlutut pada Klan Roga ? aku tidak tahu. Banyak sekali yang tidak kuketahui.
"Sayang sekali badan kalian yang besar tersumbat lemak, hingga tidak ada yang lebih dari sekedar kekuatan. Belajarlah berpikir dan menggunakan keahlian selain tubuh besar itu... haha..." tangannya memegang jenggot yang panjang, alisnya tertaut. giginya yang hitam membuat wajah itu sesuram malam "Pantas saja Klanmu dihabisi"
Tanganku mengepal ingin menerjangnya satu langkah saja, kalau Deba tidak menahan lenganku aku sudah tertusuk Jeruji yang mereka pasang di sana. Jeruji bergerak yang mengarah ke masing-masing sisi tembok seperti sebuah gigi runcing.
Sekarang jeruji itu memisahkan kami "Tidak mudah kan ?, Kami tidak mudah di sentuh. Apalagi di injak-injak mahluk tak berotak seperti kalian"
Dia tertawa, di sambut tawa anak buahnya yang berdiri di belakang. Para Mixi ini tingginya tidak lebih dari pinggangku. Mereka selalu berbicara angkuh sombong seperti itu. Memang kelebihan mereka ada pada kepala mereka yang pintar menciptkana senjata. Mereka melakukan peniruan-peniruan barang-barang berharga. Bagi Olexys kemampuan mereka sangat penting untuk dipertahankan. Sedangkan kekuatan pada Klanku tidak lain adalah sebuah ancaman untuknya.
Benar katanya seandainya Klanku sepintar Klannya.
"Ku injak juga enyah kau cebol" gumam Jon marah di belakangku
"Kawan" Sezarab terlihat lebih tenang, dia menyarungkan kembali pedangnya. Sezarab mencoba meleburkan suasana "Kami kesini tidak untuk bermusuhan dengan kalian"
"heh" cara si Mixi ini merendahkan selalu bisa memantik kemarahan-ku. Sepertinya aku memang belum dewasa. Cara Sezarab menanggapi Mixi ini membuatku malu, pada ketidak dewasaanku.
"Kalau kau pikir mudah untuk bernegosiasi dengan kami, kau salah besar" Mixi itu menggeleng-geleng tidak menurunkan tangannya dari janggut panjangnya.
"Susungguhnya kami hanya ingin melewati gunung ini, kami bermaksud ke Pustinya" Baiklah aku seharusnya punya keahlian sebagai soerang pembohong "Mereka mengumpulkan pekerja untuk pembuatan makam ratu Pustinya"
Pustinya daerah gurun, orang-orang Pustinya adalah orang-orang buangan. Mereka terdiri dari para pedagang yang tidak bisa kembali pulang ke negri asal mereka. Kehidupan di Pustinya sangat sulit. Orang-orang Pustinya kebanyakan menjadi seorang pedagang, tapi mereka mahir memainkan alat musik dan juga seorang pembangun. Tidak jarang orang-orang kaya di Altar memanggil, buruh-buruh Pustinya untuk membangun kastil mereka. Mereka sangat mahir mengukir dan menyusun batu yang kokoh.
Orang-orang Pustinya, mereka bertubuh kelabu dan berambut hitam. Mereka adalah negara kecil sangat kecil terdiri dari gurun saja. Perjalanan ke Pustinya lebih jauh sangat jauh dari pada ke Syaka. Untuk bisa sampai ke Pustinya harus melewati dua kerjaan. Pengetahuanku tetang Pustinya ini kuketahui karena aku punya teman kecil. Ayahnya adalah seorang saudagar dari Pustinya, sangat jarang ada orang yang kaya di Pustinya. dan ayahnya adalah salah satunya. Dia perempuan yang manis bernama Soraya. Aku menyukainya, aku pernah menciumnya dan dia menamparku. Sebatas itu kisah cinta kami. Ada yang mau memberikan aku selamat ?
"Aku dari Kwaititi kami semua" Sezarab menerangkan "Kami dibantai seperti yang kalian dengar"
Si Mixi mengerutkan dahinya, gaya yang mengelus-elus janggut itu masih dilakukannya. Matanya bergerak melihatku "Kita bisa bicarakan, kalau hanya itu tujuan kalian"
Sezarab melihatku tidak percaya lalu kembali menatap si Mixi "Tentu, diskusi lebih dibutuhkan untuk sekarang" Sezarab terdengar sangat bijak.
"Aku cuma penjaga tuan-tuan, kalian akan bertemu pemimpin kami"
Raut wajah Sezarab berubah, dia seperti kejatuhan benda tumpul ke kepalanya. Raut wajah ini menandakan bahwa dia tidak mengatisipasi bertemu dengan pemimpin Klan Mixi.
Aku mundur memberi jarak ketika jeruji-jeruji tajam yang memisahkan kami terbuka kembali. Masuk ke sela-sela tembok batu. Aku bergeser ke dekat Deba, berbisik pelan "Carikan aku jalan"
Dari raut wajah Sezarab aku rasa, akan sulit lari dari Pemimpin para Mixi ini. Bernogosiasi dengan Pemimpin mereka mungkin akan menemukan jalan buntu.
Aku tidak mau dipenjarakan disini, dan diserahkan pada Sezarab untuk di gantung.
"Bisa kau pegang tanganku, aku tidak bisa menyangga tubuhku kalau sedang melihat"
"Jon" bisikku. Deba menghela nafas melihatku dengan putus asa "Jon akan membantumu berjalan"
"Ada apa tuan-tuan ?"
Bisakah aku berpura-pura ? Bisa.Bisa. Pasti bisa. Aku membenamkan keraguanku, dan maju selangkah, wajah Sezarab sudah menegang ketika aku melangkah mendatangi salah satu dari mereka "Temanku tidak bisa berjalan" kalau saja situasi kami sedang tidak seperti ini, aku sudah pasti mendengar suara tawa Jon menggema di gunung batu ini "Dia digigit ular, lukanya sudah aku obat tapi dia masih belum bisa berjalan"
Dia memutar bola matanya "Bukan masalahku nak, selama kau mengurusi kekasihmu dengan baik" dia diam sejenak melihat deba, Deba tertunduk "Dia pucat sekali"
"Sangat pucat" tambah Jon, dengan mimik terlalu berlebihan
"Namaku Lykas, kalian ikut aku" Dia berbalik dengan wajah sombong, dua penjaganya yang lain mengekor di belakang kami. Sementara kami mengikuti Lykas. Memangnya mereka tidak takut kami menyerang mereka lebih dulu, kenapa mereka berjalan di belakang kami. Tapi itu lebih baik, aku tidak mau mereka melihat warna mata Deba yang berbah.
Sezarab melihat ke sekeliling mencari celah kami untuk bisa keluar dari gunung Batu. Kami ada di dalam gunung batu yang di pahat dan di bentuk seperti lorong-lorong panjang. Aku melihat sisian tembok, pantas saja Deba berjalan meraba tembok, ada segaris besi yang tersembunyi di antara gua. Besi yang sama yang menghadang kami tadi, besi berbentuk jeruri. Bagaimana cara mereka menggerakkannya. Itu adalah rahasia. Aku tidak mengerti. Mereka memang pintar.
Satu-satunya jalan masuk yang terlihat hanyalah tangga di sisian tebing yang baru kami lewati. Aku menghela nafas, tempat ini berbau tembikar, berbau karat dan kami seperti berjalan di dalam mulut api. Rasanya panas sekali. temeram kecil-kecil berasal dari sumbu yang di letakkan dipahatan-pahatan kecil berbentuk genggaman tangan. Mereka punya waktu banyak untuk memahat tempat lampu keliatan seperti tangan.
Deba di gendong di punggung Jon. Jonlah yang paling kuat di antara kami. Dia sudah makan banyak sore tadi. Dia menghabisi dua ekor ayam seorang diri. Jadi kupikir tenaganya cukup. Sezarab mendekatiku, berbisik pelan "Tidak ada jalan keluar" bisiknya, dia tahu kebohonganku berdasarkan ideku mencari jalan dengan bantuan Deba.
"Ada. Deba sedang mencarinya"
"Dia akan mati kalau terus mengeluarkan energinya"
Jujur, aku tidak terlalu peduli soal nyawa Deba. Salah satu pilihanku membiarkannya menjadi penghibur para Mixi ini. Aku tidak menjawab Sezarab. Aku membiarkan dia berdecak marah "Tidak mudah Matiti, sungguh"
Aku masih tidak menjawabnya. Aku tahu tidak mudah, tapi selalu ada kemungkinan. Dia sendiri tidak pernah bertemu dengan pemimpin Klan Mixi ini, tapi aku tahu pasti ada sesuatu hal tentang pemimpin para Mixi ini. Kalau para anggotanya saja pintar, bisa aku simpulkan dia adalah peria terpintar. Kalau tidak dia tidak akan memimpin Klan ini. Aku rasa karena itulah Sezarab enggan bertemu dengannya, dia tahu kami semua bodoh.
Mataku tidak bisa berbohong dengan keterkejutanku atas tempat ini. Di ujung sana adalah sebuah jurang. Jadi gunung ini berbentuk seperti lingkaran yang bolong di bagian tengahnya dan kehidupan di gunung ini berada di dinding-dingding yang mengelilingi si pusat yang berlubang. Aku menoleh pada jurang di depan kami, danau mengapung di bawah sana. Berwarna biru keabuan. Aku bisa melihat bola-bola besi yang menggantung melayang-layang di atas danau itu. Dan satu bola menggantung sejajar dengan kami. Kalau bola itu bergerak pasti kami sudah habis. jadi mainan dinding batu. Kegencet dengan tidak pantas.
Mereka memang tidak butuh pasukan yang banyak untuk mengawal kami pada pemimpin mereka, mereka hanya butuh menggerakkan batu-batu itu seperti cara mereka menggerekan jeruji yang tertanam di dalam tembok. Habislah kami. Tanpa kami sadari, sebenarnya posisi kami sedang terkepung.
Sezarab menyadari apa yang ku lihat wajahnya semakin menandakan keputus asaan, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Deba masih tertunduk lemas di bahu Jon. Aku tahu Jon menikmati menggendong gadis itu. Otak m***m nya sedang melayang entah kemana.
Ku tengok sedikit ke bawah kami, posisi tebing batu ini melingkar dan orang-orang Mixi membuatnya bertingkat-tingkat, aku bisa melihat pekerja yang bekerja di salah satu ruangan yang terbuat dari galian batu, sedang bertarung dengan api dan besi. Di sisi lain aku melihat tempat makan yang sibuk denganmanusia yang memberikan makan, berbincang dan menghabiskan waktu tertawa, ada suara menderu tingkatan paling bawah. Suara dentingan besi bertemu dengan besi. Suara itu menggema seperti keributan yang menganggu tapi berpusat ke lingkaran di atas danau.
"Tempat apa ini ? " aku mendongak ke atas melihat palang-palang besi menahan bola-bola gantung yang besar. Palang itu dihubungkan dari satu batu kebatu yang lain. saling mengait untuk menyalurkan beban agar tidak tertumpu hanya pada gunung batu.
Kami berbelok ke ruangan sempit tapi temeramnya lebih terlihat dan pekat, aku sampai bisa menghitung jarak jeruji-jeruji besi yang ditanam di antara batu-batu ini. Astaga, mereka menanam ranjau di semua tempat. Aku menginjak lempengan besi, aku berhenti dan melihat sebuah lubang di bawah kakiku. Kemana lubang yang di halangi dengan jerujji jeruji kawat ini menuju. Ukurannya cukup untuk dimasuki Jon.
"Hmmpt" satu tusukan kecil mengakar di pingnggaku yang lemah.
"Jalan kawan" peritah si Mixi
Aku sedikit kaget dengan tusukan Mixi ini. Tombak mungilnya mengerat pinggangku cukup dalam, hingga mengeluarkan darah ketika aku sentuh.
Ketika mataku bertemu pandang lagi dengan mata biru laut Deba, aku tidak banyak bicara. Aku melihat perempuan itu mengangguk padaku. Aku kembali berjalan mengikuti Sezarab yang sudah menaiki tangga menunggu ke lantai berikutnya di gunung batu ini. Aku tidak tahu lantai berapa.
Darah mentes dari pinggangku. Tapi tidak ada yang menanyakan atau memperhatikanku. Aku sudah yatim piatu memang, dan seharusnya orang-orang yang tadinya begitu yakin aku akan jadi raja ini menanyakan keadaanku kan ? sedihnya aku..
Aku kembali melihat Deba, dia mengerjipakan mata. Aku melihat mulutnya berujar "Lubang"
Oh..., yah... jalan itu.
Tidak bisa, kami tidak bisa kabur lewat lubang yang kulihat dibawah tangga. Terlalu berbahaya, selain itu Sezarab sudah satu lantai di atas kami. Rasanya semakin tidak mungkin begitu ku lihat lempengan besi tertanam di tembok-tembok tangga. Kami tidak bisa kemana-mana lagi.
Aku menoleh pada Deba dan menggeleng. Wajahnya terlihat sedih.
"KALIAN MENUSUKNYA ?"
Dia adalah seorang perempuan, berapa banyak pemimpin perempuan di Altar sesungguhnya ?
Pemimpin para Mixi ini adalah perempuan cebol yang memakai gaun yang keliatan seperti gulungan kain di tubuhnya. Rambutnya disusun sangat rumit, bagaimana dia bisa melakukan aktifitas dengan rambut setinggi itu ? Perempuan ini cerdas atau gila sebenarnya ? begitu melihatku dia berteriak histeris. Dia menyentuhku, aku di paksa berlutut seperti orang bodoh. Aku berlutut, bukan karena aku bodoh kawan. Aku cuma ingin hidup. Sungguh. Hidup anak yatim piatu ini begitu terasa berharaga sekarang setelah darah bercucuran menakjubkan dari tubuh kurusku.
Sezarab membuka mulutnya melihat darahku
"Aku Yubax, aku ratu paling cantik di seluruh Altar"
Tidak Yubax kalau boleh jujur, gigimu harus kau gosok dulu sebelum mengatakan bahwa dirimu cantik. Oh aku terlalu pusing, sampai sampai yang terlihat bukan lagi wajah Yubax tapi hanya giginya. Gigi hitam Yubax.
"Apa kau mau menikah denganku ?"
Bagiamana ? Apa ?