"Kita harus menahan nafas kawan"
Sejak kapan aku jadi kawannya ? Satu kalajengking berjalan di antara lenganku
"Matilah kau Matiti, sepertinya kau tidak akan jadi raja kalau tertusuk cangkang mahluk itu"
"Mahluk pergilah ke lengan Jon, darahnya lebih banyak" bisikku pada kalajengkik yang berjalan di antara lenganku
"Mereka tidak memakan darah" Deba bisa-bisanya dia mengontrupsi "Mereka mengeluarkan racun dari capitannya untuk melindungi diri" aku bisa lihat wajag sombongnya mencemooh aku dan Jon "Kaukan bisa menggunakan lengan kekarmu itu untuk menepisnya"
"Culun kau" gumam Jon menambahkan hinaan menyakitkan padaku "Raja Culun kau, dasar !"
Aku memejamkan mata, berusaha menghela nafas dalam dan menghentakkan tanganku kuta-kuat. KLajengking itu terjatuh bersama temannya yang lain
"Berjalan lebih tenang kalian berdua. Kesatria macam apa. Yang akan kalian temui di medan perang bukan lagi kalajengking berbisa tapi monster yang mengeluarkan api"
"Masa bodoh" jawabk acuh
Aku mendengar helaan nafas putus asa Sezarab, aku merasakan tatapan mata yang sebentar lagi akan mengayunkan pedang dan menggrokku.
Deba menyipitkan matanya. Aku hampir tergelak jatuh ketika melihat matanya jadi merah di tengah kegelapan. Sekarang jadi apa pula perempuan ini. Kenapa ada manusia seaneh dia ? sedetik kemudian matanya kembali normal "Kita harus menahan nafas, didalam sana sempit sekali. Hati-hati ular dan kalajengking"
"Aku berharap bisa memutar waktu dan memilih menghadapi dua penjaga Mixi itu" bisik jon ditelingaku
Akupun sama.
Jon berbisik "Mau kabur ?"
Tidak untuk hal itu Jon ! "Bukannya kau percaya aku akan jadi raja ?"
"Aku akan menjadikanmu raja kalajengking. Mau ?"
"bre^^ngsek kau"
Dia menyikutku. Sudah giliranku untuk masuk goa sempit itu "Sampai ketemu di ujung jalan sempit Jon. Aku berdoa kau tidak keluar dengan tubuh membiru karena dicapit kalajengking"
Aku hampir kehilangan diriku ketika memasuki goa kecil itu, bau pengit menonjok hidungku. Aku harusnya mendengar Deba agar menahan nafas. Sekarang perrsediaan oksigenku berkurang, terbuang sia-sia menghirup bau apek ini. Aku mengambil nafas tipis-tipis di kesempitan tempat itu. Aku bisa merasakan Jon bergerak di belakangku. Aku merangkak, terus begerajak maju. Aku ingin cepat-cepat melalui tempat ini. Deba lebih kuat dari yang ku kira tubuhnya yang yang kecil membuat dia bergerak lebih cepat di depan ku.
Kami mendekati cahaya dan akhirnya terbebas dari semepitnya lubang bau itu "Hati-hati" Sezarab mengingatkan.
Aku merangkak dengan hati-hati. Sangat hati-hati.
Dan ternyata memang harus hati-hati ! Karena kalau tidak aku akan terjatuh diliang penuh semak-semak, yang dibawahnya entah ada binatang apa bersarang disana. Kepalaku mengadah melihat tangga batu di sepanjang dinding tebing, meliuk tersusun sampai ke atas gunung batu.Terlihat seperti tangga kasti terbuat dari batu, tanpa pegangan tangga dan sedikit curam.
Kami menaiki tangga itu dengan posisi menempelkan tubuh ke dinding, terus menempel sambil terus bergerak naik. Lama-lama lantai tangga sedikit lebih lebar dan bisa untuk kami naiki tanpa harus menempel seperti cicak.
Dipertangahan ketinggian Sezarab merasa sedikit ragu dengan batu-batu di hadapan kami. Dia melempar tangga batu satu demi satu. Takut batuan yang membangun tangga itu melapuk. Matilah kami, kalau seperti itu. Kalau melihat kebawah semuanya begitu jauh dan terlihat semakin kecil. Diatas sini lumayan berangin.
Aku terdiam sesat menatap dari ketinggian. Aku bisa melihat hutan ek. Aku melihat Jon memandangi hal yang sama denganku. Kami dirangkul satu emosi yang sama. Kami akan meninggalkan tempat ini dan tidak melihat hutan itu lagi. Bagaimana jadinya tempatku tinggal ? apa baba, ibu dan Hariti di kebumikan dengan baik atau hanya dibiarkan di antara reruntuhan kastil. Aku harap ada orang baik yang sudi menguburkan jasad mereka.
"Kira-kira apa yang dikatakan Hariti pada Lio ?" Tiba-tiba Jon bertanya, membuatku langsung menoleh padanya.
"Agar menyelamatkanku, Mungkin" jawabku asal saja, sambil mengedikkan bahu.
"Menjadikanmu raja mungkin" Jon menjawab sendiri
Aku menghela nafas, masih tidak nyaman dengan ungkapan itu. Setiap kali itu keluar dari mulut Jon, rasanya sepertin jarum tipis yang menusuk-nusuk kulitku, aku tidak mungkin tidak terusik, aku akan memikirkannya, rasanya nyerinya masih akan terus kurasakan. Seolah Jon sedang bilang "Pertimbangkanlah Matiti, Altar sangat berharap padamu"
Tiba-tiba saja dia tersenyum "Dia meninjuku, waktu aku menertawaimu"
"Kau memang pantas mendapatkannya"
"Hariti sangat menyayangimu bo^doh ! dia sering memikirkan bagaimana kalau dirinya mati dalam perang dan kau akan menggatikan babamu memimpin Klan" senyumnya pudar "Dia percaya padamu, dia percaya kau akan sebijak babamu dia malah meragukan dirinya sendiri"
Memang terkadang Hariti mirip ibu di beberapa sisi sikapnya dan caranya memandang sesuatu, dia seringkali gagal bernegosiasi seperti malam itu juga. Hariti mewarisi tubuh baba dan aku mewarisi tubuh ibu tapi untuk pemikiran mungkin sebaliknya, bukannya aku jadi tinggi hati atau bagaimana. Tapi aku juga tahu Hariti punya kekurangan. Dia akan jadi pemimpin hebat kalau dia masih hidup. Dengan caranya, bukan versi yang seperti babaku.
Di masa kepemimpinannya Baba ku juga sering salah. Tidak ada pemimpin yang sempurna. Mereka juga manusia.
"Bagaimana dia ketika berperang ?"
Jon tertawa lagi "Dia sepengecut kau, tapi dia pantang menyerah walaupun tangannya sudah gemetar memegang kapak dia masih ingin tetap maju membawa nama keluargamu"
Terdengar seperti Hariti memang
"Peperangan..." Aku menoleh pada orang yang bicara. Apa mereka mendengar percakapan yang harusnya jadi milikku dan Jon saja ?
Deba tersenyum menyesal pada kami yang tidak lagi memiliki privasi.
Apa seharusnya tidak ada rahasia antara kami berempat ? Aku lebih suka punya rahasia sih, aku belum terlalu percaya pada Deba dan Sezarab "Kalian itu dulunya ras raksasa.." Sezarab melanjutkan langkahnya
Aku yang kebetulan ingin mendengar cerita tentang Klan Raksasa, memberikan kode pada Deba agar aku bisa berjalan di belakang Sezarab. Tangga itu cukup sempit untuk kami jejaki berdua. Ketika melewatinya, nafasnya berhembus hangan di wajahku. Aku menyangga tubuh dengan tangan kanan yang ku letakkan tepat pada tembok di belakang Deba. Aku menahan nafas, ketika matanya bertemu dengan mataku. Sedetik aku tenggelam dalam birunya mata Deba.
Dia menunduk, aku sadar kami tidak bisa berlama-lama di atas tangga yang sama. Toh, kami tidak bisa berciuman, melakukan hal kotor apapun juga tidak bisa. Di belakangku ada Jon yang melihat kami, di depanku ada Sezarab dengan cerita tentang Klan raksasa yang dari dulu ingin ku dengar.
Aku melompat cepat dua anak tangga sekaligus, untuk mengejar langkah Sezarab.
Dibelakangku Deba berdesah lega.
"Si bodoh cungkring" Jon mengatai. Dia pasti lebih tegang dari pada aku.
"Sebelum bertemu para Mixi penting buatku menjelaskan kalian berdua seperti apa nenek moyang kalian dulunya" Sezarab menengok kebelakang, agak mengernyit melihatku ada dibelakangnya.
"Apa benar kami berasal dari langit ?" Jon sedikit berteriak dibawah sana
Aku tertawa mendengar pertanyaan bodohnya, aliran udara kebetulan tidak sampai ke otaknya. Macet di dengkulnya. Nalarnya nol.
"Iya"
Bagaimana ? maksudnya ? benar ? iya ? kami dari langit ?
Awas saja kalau Sezarab berbohong aku akan membuangnya, heh. Aku tidak mengkin melakukannya ! laki-laki yang terlihat tua dan bertubuh dua kali lebih kecil dari tubuh Jon ini jauh lebih kuat dari kita semua. Kecepatannya dalam bertarung, bisa ku sebut gila. Aku kira aku terlalu berlebihan mengatakan bahwa aku akan membuangnya. Justru akulah yang paling mudah disingkirkan di sini, saking cungkringnya diriku kukira aku bisa diterbangkan angin.
Jangan sampai aku mendnegar kebohongan yang pernah disampaikan Met pada semua Klan. Kata Hariti dia bercerita seperti itu agar Klan lainnya segan dengan kita. Cerita-certa rumor yang seperti itu memang sengaja di munculkan untuk menciutkan mental lawan. Itulah yang mungkin coba dilakukan Sezarab. Memprovakasi kami untuk mengatakan kebenaran kalau kami raksasa yang ternyata adalah kebohongan yang hanya dibuat-buat.
"Nenek moyang kalian sangat besar, sebelum pada akhirnya menikah dengan klan lain dan darah kalian menjadi darah campuran dan tidak murni. Apa kalian pernah bertemu Riadura ?"
"Siapa itu ?"
"Dia adalah keturunan murni, tubuhnya tiga kali tubuh Jon. Sewaktu aku menemani Sang Raja Tungga, Raja kehormatan negri Syaka ke Altar, kami dipertemukan dengan Riadura. Mereka mengurung Riadura di penjara kerajaan. Jafar menunjukkan Riadura dengan tujuan menakut-nakuti kami. Apa ada dari kalian yang pernah mendengar tentangnya ?"
Aku dan Jon kompak menggeleng
"Raja Jafar meneruskan titah ayahnya Gyalalsan, untuk mencampur Ras kalian, kalian harus di nikahkan dengan gadis di luar klan kalian. Sementara para wanita ..."
"Dibunuh ?" aku sudah menggertakkan gigi mematahkan cerita Sezarab
dia tersenyum kecut "Apa yang kau harapkan Matiti ? Tentu saja dibunuh ! mereka dimusnahkan, tidak ada satupun perempuan keturunan asli Kwaititi dibiarkan hidup"
"Lalu bagaimana dengan kami yang berasal dari langit ?"
"Coba kau tanyakan itu pada Riadura kalau kau bertemu dengannya nanti, mahluk itu selalu di keluarkan untuk menakut-nakuti kerajaan sekutu"
Cerita Sezarab membuatku dan Jon sangat semangat mendengarkan sampai sampai kami tidak merasakan perjalanan kami sudah hampir sampai di sebuha mimbar kecil. Seperti balkon yang dibuat oleh pahatan batu. Jon mempercepat langkahnya melihat kami yang hampir sampai.
Cerita Sezarab patah untuk sesaat.
Sezarab mengambil ancang-ancang. Dia menyiapkan pedangnya. Gerakan awasnya membuatku dan Jon melakukan hal yang sama pada senjata kami. Tapi tidak ada apa-apa.
Jon melewati tempat berdiri Deba seperti caraku. Dia berbisik terlalu keras "Bunuh aku Matiti ! aku bernafsu sekali pada perempuan ini. Jangan salahkan aku kalau suatu hari aku terkena wabahnya. Kau ganti saja nama wabah Lohye itu jadi wabah cinta. Aku rela mati buatnya"
Aku mengangguk sungguh-sungguh "Iyeet, aku akan pastikan kau mati"
"Baj**ingan palingan kau membunuhku agar kau bisa menikahinya..."
Aku tergelak "Mau jadi apa keturunanku ? belut cungkring berwarna putih. Kau tak liat kulitnya seperti perut katak"
"Sialan kau"
Kami akhirnya beristirahat sejenak disana. Jon menuntut Sezarab melanjutkan ceritanya. Aku bertanya-tanya, untuk apa jalan ini dibuat ? Kupikir kami akan bertemu satu di antara mereka yang melewati jalan ini. Tapi jalan ini tetap sepi.
"Ini" Jon memberikan sebuah botol minuman untuk Sezarab "Kau perlu minum kawan"
Sezarab mengangkat ujung bibirnya "Pintar sekali kau memberiku alkohol disaat aku harus konsentrasi"
Biar begitu Sezarab meneguk alakohol yang diberikan Jon
"Agar kau bercerita dengan benar, lanjutkan masalah Riadura" pinta Jon tanpa basa-basi, dia sudah bersandar santai di tembok batu.
Deba yang tahu bahwa cerita ini akan panjang dan menjemukan memilih duduk di dua tangga terkahir melihat kebawah. Pemandangan malam dengan lampu-lampu kecil yang hangat bisa lebih menyenangkan dari pada cerita lagenda tua yang tidak ada hubungan dengannya.
Jon bersandar pada pegangan teras, aku khawatir batu itu tidak cukup kuat dan dia akan jatuh. aku berdiri di antara lorong hampa melihat ke ujung kegelapan, kalau-kalau aku melihat ada yang mencurigakan.
Dia menengadah ke langit "Aku belum membaca buku itu. Buku yang menceritakan hubungan langit dengan klan kalian. Buku itu disimpan rapat oleh Met. Aku ingin mengambilnya, itulah tujuanku pergi ke Klan kalian. Lalu wabah Lohye melanda semua penjuru di awal pemerintahan Jafar, aku kebingungan untuk bertahan hidup. Semua orang di skelilingku butuh bantuan. Aku tidak lagi memikirkan buku sialan yang seharusnya ku cari. Aku sibuk membantu dan membantu, menyakitkkan melihat ibu dan anak-anak yang dibiarkan. Wabah itu benar-benar gila..., dan..." dia suka sekali bercerita patah-patah
"Ada yang berbeda di darah Kwaititi, aku mengamati ini cukup lama dan Gudati membenarkan pengamatanku ini"
"tentang apa ?"
"Kebanyakan pemuda Klan kalian fisiknya akan berubah setelah berperang"
Itu yang pernah disampaikan Hariti kepadaku
"Ada adrenalin yang terpacu didarah kalian, adrenalin yang memuncak itulah yang membuat kalian semakin besar, adrenalin itu seperti bara dan pemantiknya adalah peperangan. Hal-hal yang menegangkan. Kalian harus diberi ketegangan barulah tubuh raksasa kalian akan terbentuk"
Entah kenapa, selalu saja tatapan Deba selalu berakhir. Ada apa ? Apa dia sedang meremehkan bentuk cungkringku ini ? Dia seakan-akan membacaku dengan tatapannya.
"Apa kau pernah berperang atau melakukan perlawanan atau jenis pemberontakkan apapun Matiti ?"
"Kenapa kau pedulikan aku !" aku berpaling tidak mau membahas lebih lanjut tentang kelaianan pada tubuhku "Kapan kita mau lanjutkan perjalanan ini ? Apa kita mau mabuk-mabukan dulu ?"
Jon menggerakkan botol minumannya. Berapa botol yang dia bawa sebenarnya ? "Dia tidak pernah" wajah mencibirnya membuatku muak, pantas saja Hariti menojoknya, akupun sangat ingin melakukan itu sekarang "Apa yang kau katakan benar, aku juga dulu tidak sebesar ini" dia melihatku, meyakinkanku dengan anggukan "Mendadak aku jadi banyak makan ketika di kamp" Jon tertawa kecil "Jangankan ikut pembeornatkkan apapun. Ku rasa inilah perjalanan terjauh Matiti, Dia selalu sembunyi di ketiak ibunya. Kau tahu Sezarab, dia belum pernah melakukan itu..."
"itu...?"
Aku tahu itu yang di maksud Jon. Sial^an memang dia
Melihat kebingungan di wajah Sezarab Jon melanjutkan "Se*(x"
Yang terbatuk malah Deba. Malang sekali memang nasipmu nak mendengar kata-kata Jon yang tidak berisi sama sekali.
Aku bangkit, tidak memedulikan mereka. Aku menyusuri jalan gelap. Aku mendengar langkah mereka mengikutiku. Ku pikir Sezarab karena dia yang berjalan paling dekat denganku "Dia benar" suara lembutnya seperti mengelus tengkukku, seakan suaranya berjalan di antara kulitku.
Deba dengan mata birunya menatapku penuh arti.
"Matiti yang kulihat disinggasana, tidak keliahatan sepertimu. Dia besar dan menakutkan"
"Kalau begitu, mungkin kau salah orang" aku menelan ludahku tidak tahan terlalu lama menatapnya "Kau masih kuberikan kesempatan untuk mencari Matiti yang menakutkankan itu, di sini cuma ada si cungkring Matiti"
Aku meneruskan langkahku. Klan Raksasa, buku tentang Riadura dan hubungan Klan kami dengan langit, aku baru mendengar buku seperti itu ada di Klan kami.
Jon pikir dia tahu segalanya tentang aku. Dia bodoh kalau dia katakan aku tidak pernah meniduri gadis manapun. mengingat betapa tergila-gilanya semua gadis di Klan kami pada tubuh cungkringku yang unik ini. Aku pernah melakukan itu, dan sering... Asal dia tahu aku tidak perjaka lagi. Karena itu kepalaku terkadang jadi liar ketika melihat Deba. Sial ! kenapa harus perempuan pembawa wabah seperti dirinya yang mengusikku ?