Terpaksa Dilan membawa gadis itu pulang ke rumahnya. Walaupun tak menyukai Bunga, namun Dilan tak tega membiarkan gadis itu pulang dalam keadaan kotor, basah dan bau. Bunga asik mengamati rumah Dilan begitu memasukinya. Terlalu sederhana. Bagaimana mungkin Dilan bisa bertahan hidup di dalamnya? Bunga tak habis akal. Dia jadi berangan-angan, andai mereka telah jadian ... dia akan meminta Dad mencarikan rumah yang layak huni buat Dilan. Yang dekat rumahnya, supaya Dilan tak kerepotan mengapelinya. Tak sadar Bunga tersenyum senang membayangkan hal itu. Dilan yang baru muncul dari dalam kamarnya, mencibir sinis. “Baru sekali ini aku melihat nona kaya sepertimu tersenyum dengan dandanan belepotan lumpur, Apa kamu menganggap dirimu sedang menggunakan masker lumpur laut mati?” Lama-la

