Bab 7

1286 Words
Riana sangat senang karena sebentar lagi ia akan mendapatkan pekerjaan, ia tidak menyangka hanya karena menolong seseorang dari jambret ia akan mendapatkan pekerjaan. Jika saja Riana bertemu lagi dengan Bos yang kemarin, ia akan memamerkan jika ia juga bisa mendapatkan pekerjaan meski tubuhnya gendut. Riana bersenandung ria setelah keluar dari kamar mandi, ia bersiap-siap pagi hari sekali sambil menunggu kedatangan Bu Windy. Tepat jam 7 pagi Riana mendengar suara mobil berhenti didepan kontrakannya, dan ternyata benar dugaannya, Bu Windy datang bersama wanita yang kemarin. Bu Windy melangkah menghampiri Riana."Kita bicara dulu didalam." ucapnya setelah tiba dihadapan Riana. "Maaf Bu, kontrakan saya agak kurang layak." ucap Riana segan. "Tenang saja, saya bukan tipe orang yang pemilih kok." jawab Bu Windy. "Syukurlah kalau begitu." Riana sedikit bernapas lega. "Kita langsung ke inti pembicaraan saja. Begini, karena kamu kemarin menolak uang pemberian dariku, jadi saya mau menawari kamu pekerjaan, aku dengar kamu sedang butuh perkerjaan??" "Benar Bu, saya memang sedang membutuhkan pekerjaan." jawab Riana. "Baguslah, kebetulan putra saya sedang membutuhkan seorang sekretaris di kantornya, kalau kamu mau, saya bisa membuat kamu berkerja di kantornya." "Saya mau sekali Bu!!" Mata Riana berbinar bahagia. "Tapi selain itu, sebenarnya saya punya rencana dengan menempatkan kamu sebagai sekretaris putra saya." "Rencana?" Kedua alis Riana bertaut. "Putra saya adalah seorang pemuda yang ditinggal kekasihnya saat dirinya belum memiliki apa-apa, dia bahkan berselingkuh dengan sahabat dekatnya dan meninggalkan putra saya setelahnya, jadi sejak saat itu dia sangat membenci seorang wanita. Selama bertahun-tahun ia berkerja keras sampai memiliki segalanya seperti sekarang. Sayangnya, karena penghianatan kekasihnya, ia selalu memandang rendah setiap wanita yang datang padanya. Kamu tahu? Dia bahkan hanya bersenang-senang dengan seorang wanita, dan setelah itu membayarnya. Lalu, kembali mencari kesenangan dengan wanita lain. Dan, itu membuat saya takut jika putra saya akan terkena imbas dari perbuatannya itu." Riana menarik napas panjang, mendengar cerita dari Bu Windy ia jadi merasa simpati pada putranya. "Saya berencana menjodohkan putra saya dengan wanita baik-baik, tapi sebelum itu kamu harus mengawasi semua kelakukan putra saya, jangan sampai dia kembali jajan sembarangan atau berbuat m***m di kantor, jika dia sampai ketahuan melakukan hal itu, orang tua pihak perempuan pasti akan menolak perjodohannya." "Saya bingung harus melakukan apa Bu, nanti kalau putra Ibu tahu saya ikut campur urusannya, lalu dia marah bagaimana?" "Kamu tenang saja, kamu hanya perlu melaporkan apa saja kegiatan putra saya. Dia selalu menurut kalau sama saya, hanya saja saya tidak bisa terus memantaunya selama 24 jam. Jadi, saya sering kecolongan. Saya sering mendengar beberapa kabar jika putra saya sering membawa wanita ke kantornya." "Kalau kamu bisa melakukan tugasmu dengan baik, bukan hanya gaji dari kantor yang akan kamu dapat, kamu juga akan mendapat gaji dari saya setara dengan gaji di kantor. Bagaimana?" Riana meneguk salivanya beberapa kali. Membayangkan jika ia digaji dua kali lipat setiap bulan membuat khayalannya melambung tinggi. "Aku bisa melakukan apapun dengan uang sebanyak itu. Bahkan, untuk sedot lemak sakalipun. Dengan begitu aku akan menjadi cantik lebih cepat dan membuat Mas Rendi kembali bertekuk lutut padaku" batin Riana. "Bagaimana? Kamu setuju?" ucapan Bu Windy berhasil membuyarkan lamunan Riana. "Saya.. coba dulu ya Bu." jawab Riana ragu. "Saya mau jawaban yang pasti, kalau hanya coba-coba, kamu bisa saja mundur suatu saat nanti, kalau kamu tidak bisa, saya bisa cari sekretaris lain." "Baik Bu saya bersedia." Riana mengangguk yakin. Jika hanya menjaga sang Bos dari mahkluk akhir jaman, ia pasti akan bisa melakukannya. "Bagus..!! Kalau begitu kamu harus menandatangin surat perjanjian ini." Bu Windy menyodorkan secarik kertas. "Saya sampai harus tanda tangan?" "Iya, kamu harus berjanji untuk menjaga putraku dari wanita-wanita haram, kalau kamu mundur kamu harus ganti rugi sebanyak 5x lipat dari gaji kamu." Riana kembali meneguk salivanya, tapi kali ini bukan karena tergiur, melaikan karena takut jika dirinya tak sanggup dan membayar ganti rugi yang pastinya sangat banyak. "Bagaimana? Kamu sanggup Riana?" Tanya Bu Windy. "Bismillah.. saya sanggup Bu." jawab Riana mantap. Jika hanya menjaga Bosnya dari sesuatu yang diharamkan cukup mudah menurut Riana saat ini. Setelah tanda tangan dan berjabat tangan dengan Bu Windy. Rianapun segera berangkat ke kantor putranya Bu Windy. Saat dalam perjalanan jantung Riana terus berdebar, entah kenapa. Padahal tidak biasanya ia seperti itu. Apa karena hari ini adalah hari pertamanya berkerja atau entahlah, Riana juga tidak mengerti. Setibanya didepan kantor, mata Riana membeliak sempurna, masih terpatri dalam ingatannya saat Bos di kantor itu memgusirnya dengan paksa. "Ayo turun, katanya mau kerja." ucap Bu Windy seraya mengetuk jendela mobil. "Putra Ibu berkerja disini?" Riana menatap sebuah gedung pencakar langit yang menyimpan kenangan buruk Riana disana. "Iya!! Dia bekerja disini, ayo masuk sebelum kita terlambat. Karena putraku sangat membenci orang yang terlambat." Bu Windy menarik lengan Riana untuk masuk. Dengan terhuyung Riana mengikuti langkah Bu Windy, disepanjang perjalanan ribuan doa ia langitkan. Berharap putranya Bu Windy buka Bos gila yang kemarin bertemu dengannya. Saat Riana tiba didepan ruangan putranya Bu Windy, d**a Riana seketika berdegup cepat, seolah hendak melompat dari tempatnya. Bagaimana tidak, ternyata ruangan putra Bu Windy sama dengan ruangan yang Riana datangi kemarin. "Rama? Darren ada?" Tanya Bu Windy pada Rama asistennya. "Ada.. tapi..." Jawab Rama ragu. Saat Bu Windy memegang gagang pintu dan hendak mendorongnya, dengan cepat Rama mencegahnya. Sebab, didalam sang Bos sedang bersama tamu spesialnya. "Pak Darren ada, tapi beliau sedang ada tamu penting dan tak ingin diganggu" Rama tahu jika Bu Windy akan membawa Riana ke kantor ini, tapi ia tidak menyangka akan datang hari ini, dia pikir besok atau lusa Riana baru akan datang. "Tamu apa sampai melarangku untuk masuk?" Bu Windy menepis tangan Rama dan buru-buru masuk. Sementara Rama dibuat kelabakan dengan mengekor dibelangkang Bu Windy. "Darren, apa yang sedang kamu lakukan?" Teriak Bu Windy saat melihat Darren kini tengan memangku seorang gadis seksi dan b******u dengannya. "Mami!!" "Rama!! Aku pasti akan membunuhmu." umpat Darren kesal, sebab dirinya baru saja akan memulai aksinya dan harus berhenti secara tiba-tiba. "Saya sudah menjelaskan kalau Bapak sedang ada tamu." jawab Rama. Darren terus mengumpat kesal, karena ia tadi lupa mengunci pintu. "Berhenti terus mengumpat pada Rama, Mami kan sudah bilang, kalau kamu mau melakukan hal seperti ini, menikah saja, kamu bisa melakukannya setiap saat jika bersama Istrimu." cecar Bu Windy. Meski terlihat kecewa, wanita itu segera berlalu dari ruangan itu, sedangkan Darren membenahi pakaiannya yang berantak akibat wanita tadi. "Mau sampai kapan kamu seperti ini? Mami bilang menikahlah dengan wanita baik-baik. Jangan terus bergonta-ganti pasangan seperti ini, mana semua wanita yang kamu bawa tidak jelas asal-usulnya dari mana." "Semua wanita itu mata duitan, Mi. Mereka hanya mau sama aku karena sekarang aku kaya dan banyak uang, kalau suatu saat aku kembali jatuh miskin, dia pasti akan meningalkanku seperti wanita itu." ucap Darren seraya membuang muka. "Jangan seperti itu Nak, tidak semua wanita seperti mantan kekasih kamu. Mami juga wanita, kamu mau imbas dari perbuatanmu juga berimbas pada Mami?" "Jangan bicara seperti itu dong Mi. Mami adalah orang paling berharga bagiku. Aku tidak akan biarkan siapapun berbuat jahat sama Mami." "Maka dari itu, Mami mohon kamu berhenti dan menikahlah, tidak semua wanita itu sama dengan Luna." Bu Windy mengusap lembut punggung putranya. "Aku pikir-pikir dulu Mi, tapi untuk saat ini, aku masih belum siap. Tolong beri aku waktu sedikit lagi." jawab Darren. "Baiklah, Mami kasih waktu kamu tiga bulan, kalau dalam waktu tiga bulan kamu masih belum berubah, jangan salahkan Mami kalau Mami akan memaksamu." "Iya Mi, tapi hal penting apa yang membawa Mami sampai datang kesini? Apa ada yang melapor pada Mami tentang wanita tadi?" mata Darren menatap tajam Rama. "Bukan saya Pak!!" Ucap Rama sambil melambaikan kedua tangannya. "Jangan menuduh Rama, dia tidak tahu apa-apa, Mami datang kesini karena mau memperkenalkan sese.." "Kan aku sudah bilang kalau sekarang aku masih belum siap." Plaakk!! Bu Windy memukul kepala putranya karena sudah dengan lancang memotong pembiacaraannya. ***** *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD