Riana merasa sangat kesal saat ini, ia bahkan sudah menunggu sangat lama untuk wawancara tapi justru malah ditolak secara tidak hormat.
"Astaga, mengingat wajahnya saja sudah membuatku sangat kesal, memangnya ada ya Bos sejahat itu, kalau dia tidak mau menerima kami sebagai sekertaris, setidaknya perlakukan kami dengan baik." Riana terus menggerutu saat membuka bungkusan nasi padang kedua yang dibelinya saat perjalanan pulang tadi.
"Ingin sekali aku bakar saja kantornya saat ini juga." Riana terus menggerutu hingga bungkus kedua hampir habis.
Namun tiba-tiba saja Hana melakukan panggilan Video Call.
"Apa?" Jawab Riana dengan mulut yang masih penuh.
"Astaga Riana, apa yang kamu lakukan?" Hana melotot saat melihat mulut Riana yang penuh dan tiga bungkus nasi yang masih belum terbuka disampingnya.
"Aku sedang makan."
"Makan dengan siapa? Kenapa masih ada tiga bungkus nasi yang masih utuh dan juga yang sudah bekas disana?"
"Aku sedang kesal, jadi aku melampiaskannya dengan makan." jawab Riana masih dengan mulut penuh.
"Ya ampun Riana! Bagaimana kamu akan kurus jika kamu belum bisa mengontrol makanmu? Lalu wawancaranya bagaimana? Berhasil tidak?" Hana membrondong Riana dengan pertanyaan.
"Iya, padahal aku mengatakan enam bulan pada Mas Rendi, tapi kalau keadaannya seperti ini, bagaimana aku bisa tampil cantik dihadapan Mas Rendi. Aku pasti sudah gila saat mengatakan akan kurus dalam waktu enam bulan dihadapan Mas Rendi. Lalu sekarang bagaimana Han? Dua bungkus nasi padang sudah masuk keperutku, dan sekarang pasti sudah menjadi lemak." Riana mulai terisak.
Riana mengutuk dirinya karena tidak bisa mengontrol makan ketika sedang kesal, dirinya kini bahkan sudah bulat seperti ikan buntal dan sekarang ia masih ingin menambahnya.
"Sudah jangan nangis, mending sekarang kamu lari keliling lapangan yang ada didekat kontrakanmu, agar nasi yang kamu makan tadi bisa dicerna dengan baik dan tidak menjadi lemak." ucap Hana.
"Lari?" Kedua alis Riana seketika bertaut.
"Iya.. lari, karena itu cara satu-satunya agar kamu bisa kurus, mau sedot lemak kamunya tidak punya uang kan?"
"Tapi aku mana sanggup lari Han?" Rengek Riana.
"Ya sudah tidur saja dirumah, dan kamu tidak akan bisa menunjukkan sama Suami kamu yang berengsek itu kalau kamu bisa terlihat cantik dan selamanya kamu akan hidup bersama lemak-lemak jahat ditubuhmu itu." meski terdengar kasar tapi Hana sengaja melakukan itu agar Riana kembali sadar dan mau merubah dirinya.
"Oke, aku akan mencobanya." jawab Riana pasrah.
"Oh iya, bagaimana wawancaramu tadi?" Tanya Hana penasaran.
"Jangan dibahas, gara-gara kejadian tadi pagi, aku jadi khilaf dan beli nasi padang lima bungkus."
"Memangnya ada kejadian apa?" Hana semakin dibuat penasaran.
"Bos perusahaan itu memang benar-benar gila, masa ada lima orang yang melamar tapi tidak ada satupun yang lolos. Bayangkan empat wanita cantik diusir dari sana hanya karena ketauan bergosip sebelum wawancara, gila banget kan?"
"Dan yang lebih parah, aku yang tidak ikut bergosip juga kena imbasnya hanya karena aku gendut, dia bilang kalau aku tidak akan bisa melakukan apa-apa karena tubuhku yang gemuk, ingin sekali aku membakar kantornya agar dia jatuh miskin." Riana terus nyerocos.
"Sabar, besok cari kerja ditempat lain, kalau kita terus berusaha pasti akan ada hasilnya." Hana terus menyemangati sahabatnya agar tidak putus asa.
"Tapi aku tidak yakin Han, benar kata Bos gila itu, kalau tidak akan ada yang mau menerima wanita yang gemuk sepertiku, bahkan Mas Rendi juga mengatakan hal yang sama, sepertinya aku tidak bisa melakukan apapun dengan tubuhku yang seperti ini." Riana kembali murung.
"Jangan menyerah dong Ri, aku yakin kamu pasti bisa, nanti kalau hari libur aku temenin kamu olah raga sekalian aku ajarkan bagaimana caranya diet sehat agar kamu bisa kurus dalam waktu enam bulan. Pokoknya untuk saat ini jangan dulu makan nasi padang, pokoknya kamu harus berjuang selama tiga bulan ini, kita buat Si Rendi sialan itu menyesal karena sudah selingkuh dari kamu."
"Iya Han, aku akan terus berusaha."
"Ya sudah aku tutup dulu ya, keluar sana jangan diam terus, lari sana, atau setidaknya jalan kaki agar nasi padang tadi tidak menjadi lemak."
"Oke Han, aku akan coba."
Setelah panggilan terputus Riana mulai melangkah malas keluar rumah. Namun efek nasi padang tadi mendera matanya dan membuatnya ngantuk.
"Tidur dulu sebentar tidak apa-apa kan? Setelah itu baru lari." Riana memutar balik langkahnya dan memutuskan untuk tiduran sambil berselancar diakun media sosial miliknya.
Saat dirinya mulai bosan, ia teringat perempuan yang bersama Rendi, ia ingat kalau namanya adalah Jihan.
Ia iseng-iseng mencari nama itu dikolom pencarian, ada banyak nama Jihan disana, namun matanya tertuju pada sebuah foto wanita yang tidak asing.
Riana membukanya dan melihat banyaknya foto-foto Jihan yang sangat cantik dan seksi bersama kedua anaknya.
Detik itu juga Riana teringat perkataan Rendi.
"Jihan itu sudah memiliki dua anak, tapi tubuhnya masih sangat bagus, tapi kamu baru anak satu aja sudah tidak bisa menjaga penampilan." ucap Rendi saat itu.
Rianapun segera bangkit dari tidurnya dan mulai melangkah keluar rumah, ia menuju lapangan yang dibicarakannya dengan Hana tadi.
Riana sedikit termotivasi setelah melihat beberapa foto Jihan.
Setelah berjalan hampir 30 menit, Riana sudah sampai kelapangan yang dituju, terlihat banyak orang yang juga sedang berolah raga disana.
Tempat itu masih terlihat ramai meski waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang, karena tubuh Riana masih terasa berat, ia memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Setelah dua kali mengelilingi lapangan, ia memutuskan untuk berlari kecil dan ternyata dia bisa, dan tanpa terasa ia sudah melewati dua putaran, Riana akhirnya memutuskan untuk semakin menambah kecepatannya.
Karena saat ini ia teringat saat Rendi berciuman mesra bersama Jihan, ia memejamkan matanya agar menghilangkan bayangan itu dari pikirannya, namun bukannya menghilang, ia justru menabrak seseorang karena ulahnya itu.
Bruukkk..
"Astaga, punya mata gak sih lo?" Teriak wanita yang ditabrak Riana.
"Maaf Mbak, saya sungguh tidak sengaja, saya benar-benar minta maaf." Riana panik karena sudah membuat wanita itu jatuh terjengkang.
Riana mencoba menolongnya dengan mengulurkan tangan, namun dengan cepat ditepis oleh wanita itu.
Wanita itu bangkit lalu menyiram wajah Riana dengan air dari botol minumannya yang hanya tinggal setengah.
"Rasain tuh, itu hukuman karena lo udah nabrak gue." ucap wanita itu ketus.
Riana dibuat ngap-ngapan karena siraman air itu.
"Vika, kenapa kamu kasar begitu?" Seorang pria menghampiri wanita yang menyiram Riana tadi.
"Dia lari gak pake mata, makanya nabrak aku, aku jatuh dan kakiku sakit, jadi dia pantas mendapatkan itu."
"Ya tidak sekasar itu juga Vik, dia juga pasti tidak sengaja." bela pria itu.
"Iya tidak sengaja, tapi aku kasakitan karena ketidaksengajaannya." wanita bernama Vika itu melipat kedua tangannya didada dengan bibir mengerucut.
"Bu, aku minta maaf atas sikap kasar pacarku, Vika." ucap pria bernama Arvin kekasih Vika.
"Bu?" Dahi Riana seketika berkerut, setua itukah Riana dimata mereka, padahal umurnya baru 25 tahun, apa wajahnya sudah mirip Ibu-ibu?.
"Ngapain sih kamu pake minta maaf segala." protes Vika.
"Dia lebih tua dari kita Vika, jadi tolong jangan bersikap kasar, kalau begitu kami permisi dulu Bu." Arvin menarik lengan Vika dan pergi menjauh dari sana.
"Ibu..?? Astaga!! Apa aku setua itu??" Riana menatap pantulan dirinya dalam sebuah kaca jendela.
"Astagfirullah!!!" dengan cepat Riana membalikkan tubuhnya karena tak sanggup menatap keseluruhan tubuhnya.
Karena hari sudah mulai terik Riana memutuskan untuk segera pulang dan membersihkan diri, selasai membersihkan diri Riana kembali melangkah keluar rumah.
Namun baru beberapa langkah saja sudah ada dua orang yang menghampir Riana, satu pria dan satunya lagi wanita.
"Apa anda wanita yang menolong Bu Windy tadi pagi?" Ucap si wanita.
"Bu Windy? Siapa ya?" Dahi Riana berkerut.
"Bu Windy yang tasnya anda selamatkan dari jambret tadi pagi." ucap si pria menjelaskan.
"Oh iya saya ingat, kenapa memangnya Mas?"
"Apa Mbak sedang mencari pekerjaan?"
"Iya benar Mbak." jawab Riana ragu.
"Bu Windy menawarkan pekerjaan menjadi sekertaris dikantor putranya untuk membalas kebaikan anda."
"Benarkah?" mata Riana membulat sempurna.
"Iya benar, jika anda mau, bersiaplah besok pagi-pagi, karena Bu Windy sendiri yang akan mengantar anda ke kantor putranya."
*****
*****