Bab 9

1166 Words
"Kamu dipecat hari ini juga, saya tidak mau perusahaan saya bangkrut karena memperkerjakan karyawan lelet seperti kamu." sentak Darren. Mulut Riana menganga lebar setelah mendengar perkataan Darren. Dia bahkan tidak mau tahu seperti apa usahanya untuk bisa tiba disini. Dan sekarang dia dengan seenak jidat mau memecatnya. "Saya hanya terlambat lima menit, Pak. Saya yakin waktu lima menit saja tidak mungkin membuat perusahaan Bapak bangkrut. Lagi pula saya terlambat gara-gara Bapak. Apa Bapak lupa apa yang Bapak katakan tadi?" Ucap Riana tak terima dengan keputusan sepihak Darren. "Saya tidak menerima alasan, pokoknya kamu saya pecat hari ini juga, karena terlambat dihari pertama masuk kerja." Kekeh Darren. Rasa kesal sekaligus kecewa membuat air mata Riana mengalir semakin deras. Kenapa jalan hidupnya harus sesulit ini. Bahkan Rama yang hendak mengusir Riana kembali melangkah mundur setelah melihat Riana menangis. Riana yang sudah pasrah akhirnya harus merelakan harga dirinya dengan kembali bersimpuh dihadapan Darren. Berharap kali ini hasilnya tidak akan sama seperti sebelumnya. "Saya mohon jangan pecat saya, Pak. Saya sangat membutuhkan perkerjaan ini. Suami saya selingkuh karena saya sudah tidak sencantik dulu, dan dia menghina saya dengan menyebut saya gentong air." Darren sempat-sempatnya terkekeh saat Riana menyebut dirinya gentong air. "Dia juga bilang kalau saya tidak mungkin mampu melakukan apapun dengan penampilan saya yang seperti ini. Saya hanya mau merubah penampilan saya dan membuat suami saya menyesal sudah berpaling dari saya dan itu semua membutuhkan uang, itulah alasan saya harus mempertahankan pekerjaan saya." Riana berucap lirih. "Saya tidak mau tahu alasan kamu dan tidak perduli sama sekali." Darren kembali fokus pada beberapa dokumen dihadapannya. Riana hanya bisa menghela napas berat, ternyata hasilnya sama seperti sebelumnya. Dengan pelan Riana membalikan badan dan hendak keluar dari ruangan itu. Sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk membujuk Bos gila itu. Karena, Riana yakin pria dihadapannya ini adalah sosok manusia berhati iblis. Namun, saat tiba diambang pintu langkahnya seketika terhenti setelah mendengar ucapan Darren yang tak terduga. "Rama!! Kasih tahu dia tugas apa saja yang harus dia lakukan." "Ma.. maksud Bapak?" Rama tergagap karena keputusan Bosnya yang tak terduga itu. "Kuping kamu sudah dibersihkan, kan? Aku yakin kamu mendengar ucapanku dengan baik tadi." ucap Darren ketus. "Ahh iya, baik Pak." Ucap Rama seraya menghampiri Riana yang masih mematung diambang pintu. "Satu hal lagi, katakan padanya kalau aku tidak pernah memaafkan orang dua kali, jadi jangan sampai dia kembali membuat masalah, jika itu terjadi, saya harap dia bisa sadar diri dan pergi dengan tenang dari perusahaan ini." Ucap Darren dengan tatapan penuh intimidasi yang ditunjukan pada Riana. "Iya Pak!" Rama mengangguk patuh lalu menarik lengan Riana keluar dari ruangan itu. "Kamu ikut saya!! Nanti saya kasih tahu apa saja tugas kamu selama disini." "Baik Pak." Riana mengangkuk patuh. Namun, rasa antara percaya dan tak percaya membuatnya kembali mematung selama beberapa saat. "Kenapa masih berdiri disitu? Kamu mau Pak Darren berubah pikiran dan menarik kembali ucapannya jika dia melihat kamu lamban seperti ini?" "Ah iya maaf Pak." ucapan Rama berhasil kembali menyadarkan Riana lalu dengan cepat ia mengikuti langkah Rama. Setelah dua manusia tadi keluar dari ruangan Darren, Darren menghela napas panjang. Entah kenapa melihat tangis Riana membuat hatinya sedikit melunak dan Riana wanita pertama yang berhasil melakukan itu. Namun, bukan berarti ia menyerah untuk membuat Riana tidak betah berkerja disana. Dirinya masih punya segudang rencana untuk bisa membuat Riana menyerah dan meninggalkan perusahaannya dengan sendirinya. *** Selama seharian Riana sibuk berkutat dengan Rama, ia dengan mudah mengerti apa saja yang harus ia lakukan dan tidak boleh ia lakukan selama berkerja dengan Darren karena Riana terbilang wanita yang cukup pintar dalam segala hal. Hanya saja Rendi yang sudah dibutakan oleh cinta tidak dapat melihat kelebihan Riana sama sekali. Rama juga mengakui kalau semua pekerjaan yang dilakukan Riana, ia lakukan dengan baik dan teliti. Meski tubuhnya over size namun sama sekali tidak menghambat ruang geraknya. Ia masih bisa trampil dan cekatan dalam melakukan setiap tugas yang diberikan Rama. Hingga tanpa terasa jam pulang pun tiba. Riana melangkah gontai keluar dari kantor, kakinya terasa lemas setelah berkerja seharian. Namun, ia harus kembali melakukan aksi jalan kakinya karena isi dompetnya menuntutnya untuk melakukan hal itu. Perjalan pulang Riana tentu saja kembali tidak berjalan dengan mulus. Banyaknya godaan aroma makanan terus mengikutinya disepanjang perjalanan. Namun, lagi-lagi ia harus ditampar keras oleh isi dompetnya. Sehingga mau tidak mau, Riana akhirnya berlari untuk segera mengakhiri penderitaan indra penciumannya yang membuat cacing dalam perutnya terus meronta. Hingga akhirnya Riana behasil tiba dikontrakan dengan napas terengah seperti tadi pagi. Ia bergegas membersihkan diri dan makan dengan lauk seadaanya. Sebab, siang tadi ia tidak sempat makan karena banyaknya pekerjaan yang harus ia lakukan. Ia juga merasa malu jika harus makan dikantin kantor dengan lauk seadaanya. Meski Hana akan dengan senang hati membantunya jika ia tahu kondisinya saat ini. Namun dirinya merasa malu karena sudah terlalu sering merepotkan Hana. Sedangkan kedua orang tua Riana sudah meninggal dunia sebelum ia menikah dengan Rendi. Riana kini hanya bisa berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun, saat dirinya hendak makan tiba-tiba saja ia teringat putrinya Byan, membuatnya niatnya untuk makan urung. Akhirnya ia memilih merebahkan diri diatas kasur, meraih ponsel miliknya lalu membuka galeri dan menatap potret Byan demi mengurangi rasa rindu. Padahal baru beberapa hari saja dirinya meninggalkan rumah. "Maafkan Mama ya sayang, Mama terpaksa meninggalin kamu dengan Ayahmu dulu, agar Bunda bisa fokus pada tujuan Mama." Riana berguman pelan sambil mengusap wajah Byan yang berada dilayar ponselnya. Hingga tanpa sadar Riana terlelap sambil memeluk ponselnya erat. *** Riana kembali menjalani rutinitas paginya seperti kemarin. Namun, kali ini ia berangkat lebih pagi untuk menghindari hal yang tidak terduga seperti kemarin. Hingga akhirnya Riana tiba dikantor saat suasana masih sangat sepi. Tapi, matanya seketika menyipit saat melihat sosok pria yang tidak asing tengah berdiri diambang pintu kantor sambil melipat kedua lengannya didepan d**a. "Kenapa pagiku yang indah harus disambut dengan pria gila itu?" Dengan malas Riana kembali mengayunkan langkah untuk masuk kedalam gedung. "Kamu terlambat lagi." Ucapan Darren selalu berhasil membuat Riana menganga. "Bapak serius berkata seperti itu? Apa Bapak tidak melihat jam? Ini bahkan masih belum jam delapan. Jadi mana mungkin saya terlambat." Kali ini Riana tidak ingin terus ditindas oleh Bos gilanya itu. "Kamu berani membantah saya? Kamu mau saya pecat sekarang juga? Kamu harus tahu, sebagai sekretaris saya, kamu harus tiba dikantor lebih dulu dari saya." ucap Darren dengan tatapan tajamnya seperti biasa. "Sejak kapan ada peraturan seperti itu?" Kedua mata Riana menyipit tak percaya. "Sejak kamu menjadi sekretaris saya, jadi ingat itu baik-baik." jawab Darren seraya meninggalkan Riana yang masih berdiri mematung tak percaya. "Mbaknya yang sabar ya, Pak Darren memang seorang Bos yang keras dan disiplin, tapi dibalik semua itu sebenarnya dia seorang pemuda yang baik. Saya yakin sikap kerasnya pada Mbak akan melunak seiring waktu jika Mbak berhasil menjadi karyawan tetap dikantor ini." seorang satpam yang melihat kejadian tadi menghampiri Riana. "Sepertinya dia memang sengaja bersikap seperti itu pada saya Pak, dia mau mengusir saya dari sini secara perlahan." Riana menghela napas berat lalu ikut menyusul langkah Darren. ****** ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD