"Belikan makan siang, aku lapar." Ucap Darren pada Riana.
"Bapak kan bisa minta OB?" Jawab Riana polos.
"Kamu mau membantah saya?"
"Enggak, Pak. Pak Darren yang tampan mau makan apa? Biar saya belikan." Riana berkata semanis mungkin meski hatinya sangat kesal.
Mendengar ucapan Riana barusan, Darren justru malah menatap Riana dengan tajam.
"Apa saya melakukan kesalahan, Pak?" Tanya Riana masih dengan raut wajah polosnya.
"Saya tahu kalau saya memang tampan. Tapi, saya tidak suka kalau mulut murahanmu yang mengucapkannya. Saya tidak suka wanita murahan."
"Saya juga tidak suka pada laki-laki pemarah, Pak! Apalagi yang sedikit gila."
"Jadi kamu bilang kalau saya laki-laki pemarah dan sedikit gila?"
"Tidak Pak, Aku tidak bilang kalau Bapak laki-laki pemarah dan sedikit gila." Ucap Riana membela diri.
"Pak Rama, apa tadi saya bilang kalau Pak Darren pemarah dan sedikit gila?" Riana mengalihkan pandangannya pada Rama untuk mencari pembelaan.
"Tidak!!" Rama menggelengkan kepala.
"Rama!! Jadi kamu membelanya?" Darren mengalihkan tatapan tajamnya kearah Rama.
"Tidak Pak, Tapi, apa yang diucapkan Riana memang benar, dia tidak bilang kalau Bapak pemarah dan sedikit gila." Ingin sekali Rama meledakan tawanya saat itu juga.
Namun, sekuat mungkin ia tahan. Sebab, ini pertama kalinya ada orang yang berani berdebat dengan Darren.
"Ternyata kamu sama dia sama saja, sama-sama tidak waras." Ucap Darren kesal.
"Beri dia uang, suruh dia membeli makanan ditempat ini." Darren menuliskan alamat pada secarik kertas.
"Jangan sampai terlambat, kalau terlambat gajimu, aku potong, mengerti!!"
Rama menyodorkan beberapa lembar uang pada Riana.
"Berangkat sekarang juga, jangan sampai kamu terlambat." ucap Rama.
Riana meraih uang yang disodorkan Rama lalu segera keluar dari ruangan itu.
Namun, sampai jam makan siang hampir habis, Riana masih belum juga kembali, membuat Darren yang kelaparan belum makan siang merasa gelisah.
"Jangan-jangan dia kabur membawa uangnya." ucap Darren pada Rama.
"Tempatnya kan memang jauh, Pak. Lagi pula kalau pas jam makan siang gini, di restorannya pasti antri. Seharusnya tadi saya memesannya satu jam sebelum makan siang." jawab Rama.
"Kamu tidak usah membelanya, memang dianya saja yang lambat." Ucap Darren dengan raut wajah kesal.
Hingga tak berselang lama, Riana muncul dari arah pintu dengan napas yang terengah-engah.
"Maaf Pak, saya terlambat."
"Gajimu saya potong." Darren berkata tanpan menoleh.
"Tidak bisa begitu dong, Pak. Ini kan bukan salah saya kalau saya terlambat, restorannya antri tadi." Riana kembali membela diri.
"Saya tidak perduli, gajimu tetap saya potong, sepuluh persen." lagi Darren berkata tanpa menoleh kearah Riana.
Riana yang malas kembali berdebat hanya bisa melangkah pelan lalu meletakan makanan tadi diatas meja Darren.
Riana sudah kehabisan tenaga untuk berdebat setelah belari dari lantai bawah tadi, terlebih dirinya akan tetap terus disalahkan.
Dengan langkah gontai, Riana melangkah menuju toilet dan menumpahkan tangisnya disana.
Tadi pagi dia hanya sarapan sedikit dan sekarang ia merasa lapar karena belum sempat makan siang, ditambah lagi ia dimarahi dan bulan depan akan dipotong gaji.
Riana merasa ujiannya semakin berat saja, rasanya ia ingin sekali melempar Darren kedalam kandang singa agar dia bisa bergabung dengan yang sejenis denganya.
***
Setelah dua minggu bekerja dikantor Darren, yang hampir membuatnya ikut-ikutan tidak waras akibat ulah Bosnya yang sedikit diluar nalar.
Riana dibawa Darren kesebuah hotel untuk menghadiri rapat bersama beberapa klien dari luar negri dan kini mobil yang mereka tumpangi tengah berhenti didepan lampu merah.
"Semua berkasnya sudah kamu siapkan?" Tanya Darren tanpa menoleh, tatapannya masih fokus pada ponselnya.
"Sudah semua, Pak."
"Saya tidak mau ya kalau sampai ada berkas yang tertinggal, kalau sampai ada, aku akan menyuruhmu berlari untuk mengambilnya."
"Bapak tenang saja, selama saya menjadi sekertaris Bapak, Bapak hanya perlu lebih banyak tersenyum agar tidak cepat tua."
"Itu sama sekali tidak lucu!!" jawab Darren ketus.
Melihat Darren yang tidak bisa diajak bercanda, Riana hanya bisa memalingkan wajahnya keluar jendela.
Namun, bersamaan dengan itu, Riana melihat Rendi bersama sekretarisnya, wanita itu terlihat merangkul Rendi dengan mesranya.
Hati Riana seketika terasa hancur lebur. Padahal Rendi sudah berjanji tidak akan bersentuhan lagi dengan Jihan, tapi sekarang mereka justru malah asyik bermesraan, bahkan di depan umum.
"Mana berkasnya, aku mau lihat." Darren menengadahkan sebelah tangannya pada Riana.
"Riana, kamu tuli ya?" Darren menoleh ke arah Riana yang tak merespon ucapannya.
Darren mengikuti arah pandangan Riana yang menatap ke arah luar jendela, lalu kembali menatap kearah Riana yang kini mulai berderai air mata.
Bahu Riana berguncang bersamaan dengan kedua tangannya yang terkepal erat. Ingin sekali Riana melompat dari mobil dan melabrak mereka berdua. Namun, lampu merah sudah berubah hijau.
Riana kini hanya bisa menatap nanar kearah mobil Rendi dengan air mata yang membasahi pipi.
***
"Kenapa? Kamu lihat hantu?" tanya Darren heran.
Namun, Riana hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan Darren. Tatapannya masih menatap nanar ke arah luar jendela diiringi deraian air mata.
"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu lihat tadi. Tapi, aku minta kamu cepat bersiap. Aku tidak mau kita menghadari rapat dengan penampilan kamu yang seperti ini." Darren melempar sekotak tisu ke pangkuan Riana.
Lagi-lagi Riana sama sekali tidak merespon, hanya saja dia menarik tisu lembar demi lembar dan menyeka air matanya.
Riana tidak menyangka kalau Rendi mengingkari janjinya. Tapi, apa yang ia bisa harapkan dari Rendi?
Berharap Rendi akan menepati janjinya dan menunggunya selama enam bulan? Memangnya Rendi akan bisa melakukan semua itu?
Riana berulang-ulang kali menghela napas panjang, untuk meredakan rasa sesak dihatinya.
Saat tiba dihotel, Riana meminta ijin pada Darren untuk ke toilet sebentar agar bisa merapikan diri.
Beruntung rapat hari itu berjalan dengan lancar. Namun, tidak selancar perasaan Riana saat ini.
Sepanjang perjalanan Riana hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun, membuat Darren diam-diam memperhatikannya.
***
Keesokan harinya, saat Riana baru saja selesai mengcopy beberapa berkas yang diminta Darren, ia tanpa sengaja mendengar bisik-bisik para karyawan dikantor itu.
"Kok bisa ya, Pak Darren menerima sekertaris yang bentuknya tidak jelas seperti gitu, biasanya kan selera Pak Darren itu tinggi. Ini kok malah milih ikan buntal begitu sih."
"Sama aku juga heran. Tapi, aku yakin, dia tidak akan bertahan lebih dari satu bulan dikantor ini. Aku dengar, Pak Darren terpaksa menerima dia bekerja disini. Lihat saja perlakuannya selama ini, padahal sebelumnya, dia tidak pernah sampai sekejam itu pada para mantan sekretarisnya." Bisik dua karyawan wanita yang berada tepat dibelakangnya.
Namun, saat Riana hampir sampai kedepan lift, tiba-tiba saja dua karyawan itu melangkah mendahuluinya.
"Kamu naik lift berikutnya saja, kalau kamu ikut masuk, nanti liftnya penuh."
Riana yang malas berdebat hanya bisa kembali melangkah mundur.
Semenjak bekerja disini, Riana memang sudah sering mendengar para karyawan yang bicara buruk tentangnya.
Namun, selama itu tidak melukai fisik, Riana lebih memilih untuk bungkam.
Setelah lift berikutnya tiba, Riana bergegas masuk dan melanjutkan langkah menuju ruangan Darren lalu menyerahkan berkas yang dia minta.
"Apa yang kamu lakukan di bawah? Diberi pekerjaan kecil begini saja lelet sekali." Darren berkata dengan raut wajah kesal.
"Memangnya Bapak pikir ada taman bermain dibawah? Sehingga saya bisa mampir dan bermain disana." jawab Riana tak kalah kesal.
"Kamu itu ya, selalu saja beralasan. Kalau bukan karena Mami, aku malas bekerja denganmu."
"Aku juga malas sekali bekerja denganmu, kalau bukan karena kontrak bodoh yang sudah aku tanda tangani."
**************
**************