Aku dan Mas Ardi masuk ke dalam mobil dan sama-sama memasang seatbelt kami masing-masing.
“Gak ada yang tinggal lagi kan?” tanya Mas Ardi kepadaku
“Kayaknya gak ada deh, Mas. Semua udah mas masukin ke bagasi kan?”
“Tas-tas yang ada di ruang tamu tadi kan? Udah semua kok,” jawab Mas Ardi sambil mengangguk
“Oke. Ayo kita ke rumah ibu.” Aku tersenyum pada Mas Ardi
Mas Ardi membalas senyumku lalu segera menekan pedal gas mobilnya keluar dari garasi rumah kami.
Jarak rumah orangtuaku dengan rumah kami tidak terlalu jauh, hanya sekitar setengah jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Oleh karena itu juga Bapakku berani menikahkan aku dengan Mas Ardi. Bapakku sedikit banyak bisa mencari tahu soal orangtua Mas Ardi.
Mobil kami tiba di depan rumah orangtuaku. Aku melihat Bapak dan Ibuku sedang duduk santai didepan rumah. Begitu melihat mobil kami tiba di deoan halaman rumah, Ibu dan Bapakku datang dengan tergopoh-gopoh.
“Loh, datang kok gak ngasih tahu dulu, Mbak?” tanya Ibuku begitu berada tepat di sampingku yang baru saja keluar dari mobil.
“Maaf bu. Semalam mbak lupa ngabarin. Mas Ardi tiba-tiba disuruh pelatihan ke Semarang hari ini. Jadi Mbak disini dulu selama Mas Ardi pelatihan. Boleh gak bu?” jawabku sambil mencium tangan Ibu dan Bapakku secara bergantian, diikuti oleh Mas Ardi yang dengan segera berjalan ke arah kami.
“Iya Bu, Pak. Kami minta maaf mendadak begini datangnya. Karena informasi dari kantor juga mendadak kemarin. Ardi boleh minta tolong titip Gita selama Ardi di Semarang, Bu, Pak?”
“Aduh, kayak orang lain aja, Nak. Ya udah, ayo masuk. Kita sarapan dulu ya. Ibu udah masak soto tadi pagi.”
“Mas Ardi gak bisa ikut sarapan kayaknya, Bu karena harus di bandara dua jam lagi,” jelasku pada Ibu.
“Iya bu. Nanti waktu Ardi pulang, kita sarapan bersama ya bu, Pak.” Mas Ardi tersenyum kearah ibu dan bapak sambil sedikit menundukkan kepalanya santun.
“Gak apa-apa, Nak Ardi. Semoga selamat sampai tujuan ya. sukses buat kegiatannya di Semarang,” ucap Bapak
“Tasnya Mas,” ingatku pada Mas Ardi agar menurunkan tasku dari dalam mobil.
“Oh iya.” Mas Ardi segera membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan tas dari dalamnya kemudian meletakkan tas itu di depan teras rumah.
“Ardi pamit dulu ya Bu, Pak.” Mas Ardi mencium tangan Ibu dan Bapak secara bergantian begitu berada di dekat Ibu dan Bapak.
Aku pun juga ikut mencium tangan suamiku itu. Ada rasa sedih dalam hatiku karena harus berpisah selama seminggu. Belum juga sempat bulan madu, sekarang harus terpisah selama seminggu.
“Kami adalah pengantin baru yang kuat dan hebat,” batinku sendu.
“Hati-hati dijalan ya Mas. Kabari kalau sudah sampai,” ucapku setelah mencium tangan Mas Ardi.
“Iya, pasti nanti Mas kabari.” Mas Ardi mengusap lembut puncak kepalaku.
Mas Ardi berjalan dengan cepat masuk ke dalam mobil kemudian berlalu meninggalkan halaman rumah setelah membunyikan klakson mobilnya satu kali.
“Ayo kita masuk,” ajak Bapak.
Aku berjalan mengikuti Bapak dan Ibuku.
Aku ambil tasku dari depan teras, “Gita taruh tas dulu ke dalam ya Pak, Bu.”
Ibu dan bapak mengangguk hampir bersamaan. Aku berjalan masuk ke dalam kamar yang dulu merupakan tempat ternyaman dan sangat pribadi bagiku sebelum menikah dengan Mas Ardi.
Aku tersenyum melihat sekeliling kamarku. Belum lama aku meninggalkan kamar ini. Melihat segala gambar dan foto yang terpajang di kamar itu membuatku terharu. Aku sekarang seorang istri, bukan seorang gadis yang bebas lagi. Ada nama suamiku yang kini aku sandang dan aku jaga.
“Mbak, sarapan dulu yuk. Ibu udah siapin soto di meja makan,” ucap Ibu yang mengejutkanku dari lamunan.
“Iya, Bu,” jawabku kemudian bergegas keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan dimana Bapak dan Ibuku sudah menungguku.
Ibu menyendoki setiap piring kami dengan soto kemudian meletakkannya di depan kami. Seminggu meninggalkan rumah ini, rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Aku benar-benar rindu dengan suasana seperti ini, makan bersama.
“Gimana rasanya jadi seorang istri, mbak?” tanya Ibu sambil menikmati makanannya
Aku tersipu malu mendengar pertanyaan ibu padaku, “Rasanya apa ya bu? Mbak bingung ngomongnya.”
“Ardi baik kan, Mbak?” tanya Bapak
“Banget, Pak. Mas Ardi persis seperti bapak, gak segan buat turun tangan bantu mbak di rumah, gak manja dan kalau ngomong itu lembut ke istri.” Aku memuji Mas Ardi dengan semangat
“Sepertinya bapak gak salah nih menjodohkan laki-laki kepada putri satu-satunya,” ucap Ibu sambil tersenyum ke arahku dan Bapak secara bergantian
Aku tersipu malu mendengar ucapan ibu.
“Bapak senang mendengarnya. Kamu juga harus bisa jadi istri yang baik buat Ardi ya, Mbak,” ucap bapak memberi nasehat padaku.
“Dulu Bapak sempat menolak penawaran Pak Hasan saat memperkenalkan Ardi untuk menjodohkannya dengan mbak.”
“Kenapa Pak?” tanyaku serius
Aku dan ibu menghentikan suapan kami dan menatap bapak dengan tatapan serius.
“Keluarganya terkenal sangat tertutup. Bahkan bapak sudah mencari informasi dari kenalan bapak yang tinggal di daerah tempat tinggal mereka. Semuanya mengatakan bahwa mereka kurang mengenal bagaimana keluarga Ardi.”
“Kok bapak baru cerita sekarang?” ucap ibu dengan bingung, “Terus, apa yang buat bapak jadi menerima Ardi?” tanya Ibu lagi
“Bapak salut dengan keberanian Ardi menemui bapak, dan bapak nilai karakter Ardi sangat meyakinkan. Dia sepertinya baik dan bertanggung jawab.”
“Tapi ibu melihat kedua orangtuanya saat melamar kemari sepertinya orangnya baik dan sangat bersahabat. Mungkin mereka orang sibuk Pak, makanya kurang bergaul dengan masyarakat di sekitarnya,” sanggah Ibu
“Menurut kamu bagaimana, mbak?” tanya Ibu padaku
“Gak ada yang aneh sepertinya, bu. Setelah pesta memang aku dan Mas Ardi sudah sepakat akan langsung pindah ke rumah kami sendiri. Jadi mbak belum begitu kenal persis bagaimana sifat keluarga Mas Ardi. Tapi selama ini mereka sangat welcome dengan mbak sih.”
“Sudahlah. Kita gak boleh suudzon. Ardi itu laki-laki yang baik dan sopan. Bapak yakin dia pasti akan menjadi suami yang terbaik untuk Mbak,” ucap Bapak yang membuat aku tersenyum senang.
Aku membereskan meja dan membawa piring kotor ke dapur setelah selesai sarapan bersama Bapak dan Ibu.
Sedang asyik mencuci piring di dapur, tiba-tiba aku dikejutkan oleh tepukan seseorang di punggungku.
“Hai istri orang.”
Aku membalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang sedang mengejutkanku
“Nissa!” teriakku histeris. Aku segera mendekatinya dan berniat untuk memeluknya.
“Eits, cuci dulu dong tangannya bu. Ya kali aku mau di lulur pakai sabun cuci piring,” seloroh Nissa, sahabat karibku sejak kami masih kecil. Rumahnya terat berada di belakang rumahku.
“Bentar ya, aku selesaikan sedikit lagi piringnya.”
“Oke. Aku tungguin.” Nissa berdiri di dekatku sambil memperhatikan aku yang sedang menyelesaikan cucian piringku
“Kapan kamu datang? Gak sama Mas Ardi?”
“Tadi pagi, Nis. Mas Ardi ada pelatihan di Semarang selama seminggu,” jawabku sambil terus mengerjakan pekerjaanku
“Jadi kamu disini selama seminnggu?”
“Iya. Kamu ngapain pagi-pagi kesini, Nis?”
“Nganterin kue. Semalam tanteku datang bawa banyak banget kue, jadi tadi pagi ibuku nyuruh anterin ke rumah kamu sebagian,” jawab Nisa, “Jalan yuk. Selagi kamu disini, kita jalan bareng yuk. Kan susah buat dapet kesempatan gini.”
“Kamu gak jalan sama pacar kamu, Nis?”
“Gak. Dia sibuk kerja. Katanya semangat cari uang buat halalin aku.” Nissa memajukan mulutnya.
“Ya bagus dong, Nis. Berarti dia serius sama kamu.” Aku selesai merapikan piring-piring yang sudah aku cuci di rak piring.
“Ayolah kita jalan ya. Nonton atau apa gitu di mall,” ajak Nissa lagi.
“Oke. Sebentar aku siap-siap dulu ya.”
“Aku juga mau siap-siap. Nanti aku kesini lagi ya.” Nissa dengan terburu-buru keluar dari rumah berlari menuju rumahnya.
“Mau kemana, Mbak?” tanya Ibu begitu melihatku berpakaian rapi dan menenteng sebuah tas.
“Mau ke Mall bu. Tadi diajakin Nissa,” jawabku, “Itu Nissa.”
Nissa masuk ke dalam rumah
“Yuk,” ajak Nissa
“Bu, Kami pergi dulu ya.” Aku mencium tangan Ibu
“Nissa juga pamit ya, Budhe.” Nissa ikut mencium tangan ibu
“Hati-hati dijalan ya.”
Aku dan Nissa berjalan keluar menuju motor milik Nissa yang sudah terparkir di depan rumah. Aku dan Nissa melaju mennuju Mall terbesar yang ada di kota kami.
“Emang bioskopnya udah buka jam segini, Nis?” tanyaku sambil turun dari motornya dan meletakkan helm yang barusan aku buka di atas motornya
“Bentar lagi palingan udah buka, Git. Temenin aku belanja dulu ya. Pembalut aku habis buat persediaan.”
Aku menganggukkan kepala. Kami berjalan masuk ke dalam Mall.
“Git, cerita dong gimana malam pertama kamu. Aku penasaran tahu. Kan bisa jadi referensi aku nanti kalau udah jadi istri kayak kamu.” Nissa tersenyum kearahku.
“Malam pertama apaan, Nis? Aku kan lagi dapet waktu acara kawinan. Baru juga selesai eh di tinggal suami pelatihan.”
“Ya ampun, Git. Jadi kamu belum jebol gitu?” Nissa histeris melihatku sambil membelalakkan matanya.
“Nissa, suara kamu gak bisa lebih besar lagi? Apa perlu aku ambilin toa?”
“Malang banget sih kamu,Gita. Padahal aku udah bayangin kamu kayang dan salto malam itu loh, Git.” Nissa melanjutkan perkataannya sambil mengurangi volume suaranya.
“Ngapain kamu bayangin sih?” Aku kaget dengan pemikiran sahabatku ini. Memang dia dari dulu anak yang unik dan pemikirannya dewasa lebih cepat dari pada aku.
“Mas Ardi gak geregetan gitu tidur bareng kamu tapi gak nganu gitu.”
“Nissaa.. aku nangis nih disini. Kamu buat aku sedih loh Nis.” Aku merengek.
“Oke. Kita bahas yang lain aja.” Nissa mengalah. Dia mengambil keranjang dan mulai memilih barang belanjaannya.
Selagi Nissa sibuk memilih barang belanjaannya, Aku melihat-lihat ke sekitar sambil memikirkan apakah ada sesuatu yang mau aku beli. Tiba-tiba netraku terpaku pada penampakan seseorang yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri. Seseorang itu sangat mirip dengan mas Ardi, suamiku.
Laki-laki itu memakai kaos oblong, celana pendek dan topi, mendorong sebuah troli belanja yang penuh dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga.
“Bukannya Mas Ardi seharusnya lagi terbang ke Semarang ya?” batinku.
Aku mengambil ponselku dari dalam tas dan menghubungi Mas Ardi. Nomornya tidak aktif.
Laki-laki yang tadi aku lihat berjalan keluar dari Mall sambil membawa belanjaannya yang sudah dibayarnya di kasir.
“Nis, aku ke sana sebentar ya,” ucapku pada Nissa sambil terus berjalan mengikuti laki-laki yang mirip dengan Mas Ardi tadi.
“Kamu mau kemana, Git?” teriak Nissa yang bingung melihatku
“Bentar. Tunggu disitu aja,” jawabku
Aku mengikuti laki-laki itu sampai ke parkiran. Dia memasukkan barang belanjaannya ke dalam mobil. Mobil yang dipakainya bukan mobil Mas Ardi.
“Mungkin hanya mirip saja. Ponsel Mas Ardi gak aktif, pasti masih di dalam pesawat,” batinku mengambil kesimpulan
Baru saja aku mau membalikkan badanku kembali masuk ke dalam Mall, laki-laki itu tiba-tiba membuka topinya dan masuk ke dalam mobilnya.
Darahku berdesir, bulu kudukku berdiri dan jantungku berdetak sangat cepat. Dia benar-benar mirip dengan Mas Ardi.
“Apa mungkin orang bisa semirip ini dengan orang lain?” pikirku.
Mobil laki-laki itu berlalu pergi meninggalkan Mall. Aku masih mematung terdiam di depan pintu Mall.
“Aneh, apa bisa semirip ini?” ucapku pelan.
Aku segera berlari menuju ke jalan di depan Supermarket dan masuk ke dalam taksi yang sedang berhenti di depan supermarket.
“Ikuti mobil itu, Pak,” ucapku pada supir taksi itu.
Dengan segera supir taksi itu melajukan mobilnya mengikuti mobil laki-laki yang menurutku mirip dengan Mas Ardi tadi.
Aku melihat sekeliling jalan yang kami lewati.
“Ini kan jalan menuju rumah mama,” batinku menyebut rumah mama mertuaku.
Sebuah truk berhenti tepat di depan taksi yang sedang membawaku. Jalanan yang tidak terlalu besar membuat mobil taksi yang aku naiki tidak bisa langsung melewati truk itu.
Begitu berhasil melewati truk itu, mobil yang sedang kami ikuti sudah menghilang entah kemana. Aku menggigit bibirku menggeram.
“Mobil tadi sudah tidak tampak lagi, Bu,” ucap supir taksi yang aku naiki.
“Kita kembali ke supermarket tadi saja, Pak,” ucapku lemas.
Aku benar-benar penasaran dengan apa yang aku lihat tadi.