2. PERTEMUAN PERTAMA

1123 Words
“Ouh, akhirnya,” ujar Jenna sambil menghempaskan badannya ke sandaran kursi yang sudah didudukinya hampir delapan jam. Jenna melirik jam kecil di samping layar komputer. Hari sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Jenna terdiam sejenak. Ia merasa seperti melupakan sebuah janji, tapi tidak bisa mengingatnya karena sudah terlalu lama berkutat dengan pekerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga. Sekali lagi ia mencoba untuk mengingat. Tapi usahanya sia-sia. Gadis itu menguncir rambut panjangnya, lalu bangkit dari kursi. Membereskan meja dan mematikan layar komputer. Bersiap untuk pulang. Hari yang sangat panjang dan melelahkan. Tepat saat Jenna hendak menyimpan kameranya ke dalam tas, sebuah kartu nama hijau itu kembali muncul dari baliknya. Ah, akhirnya Jenna ingat sesuatu. Begitu Jenna keluar dari pintu utama kantor, gedung bernuasa hijau tua di hadapannya menarik perhatian. Sangat mencolok. Matanya langsung tertuju pada lantai dua gedung. Lampunya masih menyala. Sedari awal ia memang berencana datang karena kameranya membutuhkan bantuan sesuai perkataan barista pagi tadi, tetapi ia lupa. Sekali lagi ia melirik jam tangan, hari sudah pukul sembilan malam. Ia tidak yakin untuk datang karena sudah melewati batas janji dengan barista tadi pagi. Jenna menuju parkiran sepeda di samping gedung. Belum sampai ia di parkiran, kakinya malah berbalik melangkah menyebrangi jalan. Ia berubah pikiran. Entah kenapa, Jenna merasa bersalah jika tidak datang karena mengingkari janji yang tidak pernah dibuatnya itu. “Tidak ada salahnya mengunjungi tempat itu, bukan?” gumam Jenna dalam hati. Lantai dua gedung hanya bisa di akses dari lantai satu, café yang sering dikunjungi Jenna. Gadis yang menyandang tas besar berisi kamera itu memasuki café. Matanya liar memenuhi seluruh ruangan dan berhenti pada sebuah tangga di sudut belakang ruangan. Di sampingnya tertulis Phos Clinic. Pantas saja Jenna tidak pernah mengetahui fungsi dari lantai dua gedung ini. Selain memang Jenna langsung meninggalkan café begitu mendapatkan pesanannya, tulisan kecil itu tidak membantu sama sekali. Butuh sedikit perjuangan agar bisa melihat tangga yang berada di sudut ruangan yang tertutup etalase pernak-pernik bertemakan kopi. Jenna menginjakkan kaki di lantai dua gedung. Ornamennya tidak mewah. Dinding ruangan di cat putih. Terlihat klasik karena dipenuhi beberapa perabotan dari kayu dan juga lantai bermotif kayu coklat terang. Tidak ada sekat yang membatasi ruangan. Hanya beberapa meja dan kursi panjang yang menempel pada dinding ruangan. Jenna bisa melihat beberapa orang sedang bercengkrama satu sama lain, ada pula yang mengotak-ngatik kameranya pada salah satu meja. Mata Jenna beralih, di sisi lain tampak beberapa pajangan. Jenna menebak itu adalah karya orang-orang yang sedang berada di sini. Menurutnya ruangan itu tampak seperti museum karya seni. Seketika Jenna terpaku di tempat, matanya terfokus pada sebuah tulisan yang ditulis permanen di tengah-tengah dinding. Tulisan itu begitu menyita perhatian Jenna karena di sinari lampu LED. Memory Stay and Never Departs – Kaysan Hillel Jenna membaca pelan. Kata-kata yang begitu berarti bagi seorang fotografer, termasuk dirinya. Seketika ia kembali mengingat nama yang tertulis pada kartu nama yang ada di dalam tasnya. Tangannya dengan cepat merogoh tas untuk memastikan sekali lagi. Tepat saat itu seorang pria tiba-tiba menepuk pelan pundak Jenna dari belakang. Sontak Jenna langsung menoleh terkejut. “Ternyata kau datang juga, kupikir kau tidak akan datang,” sapanya dengan senyuman yang sama ketika ia menyambut pelanggan pagi tadi. Ramah dan hangat. Ya. Dia Kaysan Hillel. Nama yang tertera pada kartu nama di tangan Jenna. Pria itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. “Kaysan Hillel,” sapanya sekali lagi sambil memperkenalkan diri. Jenna dengan cepat menerima uluran tangan Kaysan. “Jennaira.” “Kaysan Hillel,” sapanya sekali lagi sambil mengulurkan tangan ingin berjabat tangan. Jenna dengan cepat menerima uluran tangan Kaysan. “Jennaira.” Tidak lama. Jenna kembali melepaskan genggaman tangan Kaysan dan teringat dengan tujuannya datang ke sana. “Oh ya, dimana aku bisa memperbaiki kamera?” tanyanya tanpa basa-basi sambil melirik tas besar yang menggantung di bahunya. Kaysan berjalan mendahului Jenna menuju salah satu meja yang terletak paling ujung. “Di sini kami tidak memperbaiki, tapi mereka memperbaiki sendiri,” jelas Kaysan sambil menunjuk beberapa orang yang duduk di meja sedang memperbaiki kamera mereka sendiri. “Jadi?” Jenna yang sedari tadi mengikuti Kaysan hanya bisa kembali bertanya. Tentu saja ini sangat berbeda dengan apa yang ditawarkan pria bermata sipit itu padanya tadi pagi. “Sebenarnya ini tempat apa?” Jenna kembali bertanya tanpa menunggu Kaysan menjawab pertanyaan sebelumnya. “Aku bahkan tidak pernah tahu ada tempat seperti ini sebelumnya,” gumamnya pelan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sekali lagi tanpa menunggu tanggapan dari Kaysan. Kaysan tertawa tiba-tiba. Ia bisa mendengar gumaman Jenna dengan jelas. “Baiklah, sepertinya kau bingung, bagaimana? Kau mau minum kopi denganku?” ajak Kaysan. Alis Jenna terangkat. Tawaran Kaysan sangat tiba-tiba untuk dua orang yang baru saja bertemu. Dan untuk Jenna yang pada dasarnya sangat tertutup dengan orang baru. Entah mengapa, Jenna mulai merasa aneh dengan senyuman manis Kaysan. Ajakan Kaysan lebih terdengar seperti godaan di telinganya. Terlebih lagi, Jenna bukanlah tipe yang seramah itu untuk menerima ajakan dari orang asing. Jenna melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi kehidupan di kotanya tidak pernah tidur. Lihatlah jalanan tampak masih ramai dipenuhi mobil dan orang-orang yang asik menikmati angin malam. Seakan mengerti. Kaysan langsung memotong Jenna yang hendak mengatakan sesuatu. “Apakah sekarang sudah terlalu malam bagimu? Kalau begitu, kita bisa minum kopi lain kali,” katanya memutuskan sepihak. “Aku tak masalah.” Pada awalnya Kaysan tidak menduga Jenna adalah gadis yang sangat memperhatikan waktu jika dilihat dari penampilan dan pekerjaannya. Tapi Kaysan lebih tidak menduga jawaban yang diberikan Jenna. “Bukankah ini terlalu tiba-tiba bagi dua orang yang baru saja bertemu?” tanya Jenna mengutarakan isi pikirannya. Kaysan mendengus. “Orang asing? Kita bukanlah orang asing. Aku sebagai barista cafe dan kau sebagai pelanggan setia.” Jari telunjuk Kaysan teracung ke arah Jenna. “Tetap saja asing karena kita baru saja bertemu.” “Bukankah tidak masalah bagi kita karena ini bukan pertama kalinya kita bertemu?” Kening Jenna berkerut tujuh lapis. Justru lebih terkejut mendengar jawaban Kaysan. Hancur sudah tameng yang berusaha dibangunnya. Jenna salah. Itu bukan pertemuan pertama mereka. Lagipula tidak ada alasan bagi Kaysan untuk menggodanya. Suasana menjadi canggung dan seketika hening. “Sepertinya kau lupa kalau kita pernah bertemu sebelumnya,” ucap Kaysan lagi yang memasang wajah kecewa. “Ya. Bukankah kita sudah bertemu tadi pagi? Tentu ini bukan pertemuan pertama kita. Tapi tetap saja rasanya sangat aneh. Entah mengapa aku merasa seperti kau tengah berusaha menggodaku, ya?” balas Jenna sambil menunjukkan smirk di sudut bibirnya. Jari telunjuknya bergantian menunjuk dirinya dan pria yang sedang berdiri di hadapannya sambil memasukkan kedua tangan ke saku. Entah darimana kepercayaan dirinya datang malam itu. Hanya saja ia tidak mau jatuh pada perangkap Kaysan. Pria yang membuatnya mendatangi Phos Clinic malam itu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD