Tidak seperti biasanya, alih-alih memakai rok, hari itu Jenna mengenakan celana jins panjang dan longgar. Dia ingin menghirup udara segar sambil menemukan inspirasi dan juga meringankan beban yang sudah lama bersarang di otaknya. Banyak hal-hal tak jelas yang terus berkeliaran di pikirannya.
Jenna mengayuh pelan pedal sepeda menyusuri jalan kecil yang dilalui setiap pagi dan sore. Pulang dan pergi. Sesekali rambutnya menutupi sebagian wajahnya karena tertiup angin. Ia menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, berharap angin akan membawa bebannya terbang menjauh. Percakapan dengan Ayahnya beberapa hari yang lalu masih saja melintas di benak seperti kaset rusak.
“Ayah, maafkan aku telah membuat kau kecewa, tapi aku yakin dengan pilihanku, semoga kau memahami keputusanku ini. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu,” ucapnya sambil meletakkan aplop yang bertuliskan pengunduran diri di atas meja.
Ayahnya hanya mendesah pelan. Sebenarnya Jenna sudah membicarakan masalah ini selama enam bulan belakangan. Selama waktu itu pula, hubungan Jenna dan ayahnya perlahan retak karena ayahnya sangat menentang keputusan Jenna. Ayah Jenna, Tuan Ali sangat menginginkan Jenna sebagai penerusnya meskipun Jenna mempunyai saudara laki-laki.
“Aku tidak akan berkata-kata lagi, kau tidak akan mendengarkanku bukan? Ini terakhir kalinya aku memenuhi keinginanmu.” Tuan Ali meletakkan surat pengunduran diri Jenna ke dalam laci dengan kasar.
“Pergilah, lakukan apa yang kau suka, aku tidak akan menghalangimu lagi,” kata ayahnya terdengar pasrah.
Semenjak saat itu, hubungan Jenna dan ayahnya menjadi canggung. Terlebih lagi saat ini Jenna belum mampu membuktikan kemampuannya pada Tuan Ali. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Dua tahun terakhir ia memutuskan untuk hidup sendiri, di sebuah flat kecil yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kamar lamanya. Ia takut dirinya akan terlihat bodoh ketika bertemu Tuan Ali. Sekali-kali ibunya, Nyonya Alina, datang membawakan lauk dan membersihkan tempat yang ditinggalinya itu.
Matanya berair. Hembusan angin pagi itu cukup kuat ditambahkan langit yang berwarna abu-abu. Matahari seperti kalah perang dengan awan hitam yang kini sudah membungkusnya.
Jenna membelokkan sepedanya ke arah kedai kopi alih-alih kantornya yang letaknya bersebrangan. Sudah selayaknya rutinitas pagi sebelum bekerja. Begitu pula dengan Phos Café yang sudah banyak mendapatkan pesanan berupa minuman hangat pagi itu. Sama halnya dengan seorang gadis yang mengenakan skirt sebatis dengan baju rajut berwarna hijau tua, senada dengan suasana cafenya. Casual tetapi sangat elegan.
“Aku mau pesan empat Hot Americano dengan tambahan sirup, ya,” pinta Jenna sambil merapikan poninya.
Kaysan yang kebetulan sedang menggantikan Olin bertugas pagi itu segera menerima kartu yang digunakan gadis itu untuk pembayaran.
“Adakah tambahan lain?” tanya Kaysan sebelum menyebutkan total belanja Jenna.
Jenna menggeleng sekali.
Kaysan yang tengah menyiapkan pesanan Jenna sesekali melirik padanya. Matanya tidak bisa beralih dari wajah unik Jenna. Entah mengapa, potongan wajah barat dengan freakless di wajah Jenna dan rambut hitam panjangnya sangat menarik di mata Kaysan.
Kaysan iseng bertanya karena itu baru pertama kali ia melihat Jenna mengunjungi cafenya. “Pertama kali datang ke sini?”
Jenna mengangguk.
“Bekerja?” tanya Kaysan sekali lagi.
Jenna mengangguk untuk kedua kalinya sambil tersenyum ramah pada Kaysan. Tidak lama kemudian, Kaysan menyerahkan pesanan Jenna. Dengan cepat Jenna menerima pesanannya. “Terima kasih,” ucapnya.
“Selamat menikmati. Semoga datang kembali,” balas Kaysan.
Hari itu adalah hari pertama Jenna bekerja dengan Miss Lian. Dan pertemuan pertamanya dengan Kaysan. Tetapi Jenna yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya dengan cepat melupakan pertemuannya dengan Kaysan. Semenjak saat itupun Kaysan tidak pernah bertemu lagi dengan Jenna. Hingga pada hari kejadian pagi itu, Kaysan kembali bertemu dengan Jenna yang pernah mengalihkan pandangannya.
*****
Jenna tengah mempersiapkan kamera dan lighting yang dibantu dua orang staff dari kantornya. Monic dan Lisa. Hari itu Jenna mendapatkan project untuk melakukan pemotretan outdoor di salah satu taman modern dekat pusat perbelanjaan terbesar di kotanya. Sesuai dengan tema yang diangkat untuk pemotretannya, summer, cuaca hari itu dangat mendukung. Bahkan Jenna bisa merasakan aliran keringat yang meluncur di kedua pelipisnya. Rambutnya terasa sudah sangat lengket karena tertutup topi untuk melindungi kepalanya dari sinar matahari.
“Ada berapa baju hari ini?” tanya Jenna pada Monic yang duduk di sampingnya.
“Sekitar sepuluhan, kita bisa selesaikan dalam satu hari jika tak ada halangan,” jelas Monic bersemangat.
“Berdoalah supaya hari ini tidak hujan,” ucap Jenna sambil bangkit dari bangku kecil. Bersiap untuk melakukan take photo yang pertama.
Untunglah model yang bekerja sama dengannya kali ini cukup professional sehingga Jenna tidak banyak bersuara untuk mengarahkan pose sang model. Setidaknya ini dapat menghemat energinya yang terkuras cepat karena cuaca panas siang itu.
“Break sepuluh menit,” sorak Jenna pada model dan juga tiga orang staff lainnya.
“Ada berapa lagi?” Jenna kembali bertanya pada Monic yang sedang memegang kipas kecil di tangannya.
“Dua,” jawab Monic singkat.
Jenna meminum air putih di botol kemasan dalam sekali tegukan. Kerongkongannya terasa kering. Tidak terasa, sepuluh menit berlalu. “Kita selesaikan dalam sekali take,” tegasnya pada semua staff yang bertugas.
Setelah satu jam kemudian. Semua pekerjaannya telah selesai. Jenna dan rekan-rekannya berkemas. Bukan pertanda pulang. Mereka harus kembali ke kantor, terutama Jenna. Ia harus segera membuat back up untuk semua foto yang diambilnya hari itu. Pekerjaan rutin yang dilakukan seorang fotografer.
Hari itu Jenna membawa mobil karena menurut ramalan cuaca akan turun hujan. Namun tak ada yang pernah tahu sampai hujan benar-benar turun. Jenna mengambil jalur berbeda dengan rekannya yang lain. Ia berjalan menuju basement salah satu gedung terdekat tempat ia memarkir mobil.
Rasa lelah dan juga kantuk membuat Jenna kehilangan fokus. Dia bahkan tidak menyadari ada mobil lain yang sangat mirip dengan mobilnya sedang parkir tepat di samping mobilnya. Jenna menekan tombol yang menyatu dengan kunci mobil sekali.
Bib! Bib!
Mobil berbunyi. Jenna kemudian berjalan mendekati mobilnya. Tangannya terangkat untuk menarik knop pintu mobil. Tetapi gagal, pintunya tidak bisa terbuka. Ia kembali menekan kunci mobil yang ada di tangan. Sial, tetap tak bisa terbuka.
“Astaga, apa yang salah dengan mobil ini? ayolah,” gumam Jenna mulai kesal. Tangannya masih saja menekan tombol kunci berulang kali. Kini dia sedikit menjauhkan badan untuk memastikan bahwa itu adalah benar mobilnya. “Ini mobilku, kan?”
“Apa yang kau lakukan di depan mobil orang lain?” Sebuah suara berat mengejutkan Jenna dari belakang sehingga membuatnya terkesiap. Waktu itu ia benar-benar tidak sadar kalau ia salah hingga suara berat dari jauh datang mengejutkannya.
Jenna membalikkan badan. Matanya membelalak. Tangannya reflek terangkat menunjuk pria itu. “Kau..”
Pria itu tersenyum sambil mengangkat bahu. “Jennaira? Siapa sangka kita akan bertemu lagi di sini.” Kaysan berjalan mendekat ke arah Jenna.
“Jangan bilang kau mengikutiku.” Jenna balik menuduh Kaysan menaruh curiga. Jarak mereka semakin tipis. Satu langkah. Kaysan sudah berdiri di hadapannya.
Kaysan mengeluarkan sesuatu dari saku. Sebuah kotak hitam kecil berwarna hitam yang sama dengan milik Jenna, lalu menekannya sekali. Mobil di belakang mereka berbunyi dengan keras. Sontak Jenna menoleh ke belakang. Bergantian menatap dua mobil itu, menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Seketika Jenna menjadi salah tingkah karena sudah menuduh Kaysan yang tidak-tidak. Justru dirinyalah yang sebenarnya punya masalah. Saat itu juga ia ingin menyembunyikan wajahnya dalam saku.
Kaysan masih tersenyum menatap gadis yang termangu didepannya itu. Satu detik kemudian Jenna tersadar lantas bergeser beberapa langkah karena menghalangi pintu mobil terbuka. Mempersilahkan Kaysan.
“Oh ya,” kata Kaysan sebelum masuk ke dalam mobil. “Sepertinya pertemuan kita berikutnya akan berakhir di cafeku,” ramal Kaysan.
Mata Jenna bertemu dengan mata Kaysan. “Aku tidak yakin,” balas Jenna hati-hati. Berusaha tak menatap mata Kaysan saat menjawab.
“Kita tidak pernah tahu,” ujar Kaysan pelan lalu memasuki mobil. Tidak butuh waktu lama, mobil Kaysan pun melaju meninggalkan Jenna yang masih berdiri di tempat yang sama menatap mobil Kaysan hingga mobil itu tak lagi ditangkap oleh pandangannya.
Barulah Jenna bisa melihat mobilnya, kemudian dia menekan tombol buka sekali. Mobilnya menyala dan pintu berhasil di buka.
“Kenapa kau bodoh sekali Jenna? hingga tidak bisa mengenali mobilmu sendiri,”
****