Jenna menghempaskan badannya pada ranjang tidur yang sedikit berantakan. Ia menghela nafas sekali, lalu meletakkan lengannya di dahi untuk menutupi wajah. Jenna memejamkan mata. Berharap segera tertidur hingga malam berganti siang. Rasa malunya tadi masih melekat di benaknya hingga kini.
Baru saja Jenna akan memasuki dunia mimpinya, ponsel Jenna berdering. Tangan satunya yang bebas meraba-raba sisi kasur yang kosong, tempat dia melempar ponsel tadi. Jenna langsung terbangun ketika melihat nama yang muncul di layar.
“Datanglah untuk makan malam bersama besok malam,” suara berat di seberang sana memberi perintah.
“Tapi besok aku mendapatkan jatah lem..”
Ayah Jenna, Tuan Ali, segera memotong agar Jenna tak beralasan. “Aku tunggu kau pukul tujuh malam di rumah, jangan sampai terlambat.”
Jenna hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil tertunduk. “Baiklah, aku akan datang,” jawabnya menurut.
Gadis itu kembali merebahkan badannya. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Jenna sudah tidak bisa mengelak lagi kali ini. Ini bukan pertama kalinya Tuan Ali mengajak Jenna untuk makan malam bersama, tetapi Jenna selalu menolak dengan berbagai alasan. Jenna merasa malu untuk bertemu Tuan Ali. Belum ada sesuatu hebat ataupun pencapaian yang pernah dijanjikannya dulu untuk ditunjukkan di hadapan ayahnya besok. Jenna belum mampu membuktikan kalau keputusan yang dipilihnya tepat. Meskipun ayahnya bersikap dingin semenjak Jenna berhenti dari perusahaan, tetapi Tuan Ali tak pernah melepaskan tangannya dari Jenna. Ini jugalah yang membuatnya semakin ciut ketika berhadapan langsung dengan Tuan Ali. Meski ibunya, Nyonya Alina selalu mendukungnya apapun yang terjadi. Tetap saja Jenna merasa seperti anak yang tidak tahu terima kasih.
“Ibu, berhentilah mengirimiku uang,” pinta Jenna pada ibunya yang sedang mencuci piring di dapur kecilnya.
Ibu Jenna selalu datang setiap hari minggu hanya untuk sekedar membersihkan flat kecilnya itu. Hari Minggu hari libur bagi Jenna, meskipun terkadang dia sering mendapatkan panggilan mendadak dari perusahaan.
“Mana bisa ibu berhenti mengirimimu uang, aku takut satu persatu barangmu hilang dari rumah kerena kau jual,” jawab ibunya sambil bercanda.
Jenna berbaring di sofa panjang di tengah ruangan sambil memainkan ponsel. “Ayolah, aku tak seperti itu,” rengek Jenna tidak terima candaan Nyonya Alina. “Aku juga punya duit bu, biarkanlah aku hidup bebas, benar-benar mandiri, anak ibu ini sudah berumur dua puluh tiga tahun dan bekerja,”
“Nanti, ibu akan berhenti setelah kupastikan flatmu ini rapi setiap kali ibu datang,” ujar Nyonya Alina sambil membuka simpul celemek yang dikenakannya semenjak tadi.
Jenna bangkit dari sofa, mengayunkan langkah menuju ibunya. Jenna memeluk hangat Nyonya Alina dari belakang. “Ibu,” Jenna menikmati aroma tubuh ibunya, membenamkan kepala di pundaknya.
Ibunya tersenyum hangat. “Tidak biasanya kau seperti ini,” Nyonya Alina mengelus lembut kepala putrinya. Berharap hanya hal baik yang akan terjadi pada Jenna.
Ponsel Jenna kembali berdering membangunkan Jenna dari ingatan masa lalunya ketika pertama kali meninggalkan rumah.
“Hallo Jenna, kau belum tidur? Baguslah,” suara wanita di seberang sana terdengar semangat. Berbeda dengan Jenna yang masih kesulitan membuka matanya.
“Jenna,” Miss Lian kembali menyebut namanya, memastikan gadis dari seberang sana itu masih sadar.
“Ya?” jawab Jenna.
“Begini, kita baru saja mendapatkan project baru dari brand Liar and Co,” teriak Miss Lian tidak dapat menyembunyikan kesenangannya.
Jenna langsung bangkit setelah mendengar kabar dari Miss Lian. Bagaimana tidak? Liar and Co merupakan merek pakaian terbesar yang ada di kotanya. Sangat kecil kemungkinan mereka untuk bekerja sama dengan perusahaan Miss Lian yang masih terbilang rintisan, belum terlalu besar. Tapi terlepas dari itu, Jenna ikut merasakan kesenangan dari Miss Lian, karena ia bagian dari perusahaan itu.
“AAAA!!!!!” Jenna ikut berteriak. “Tapi bukankah mereka brand pakaian pria?” keceriaan Jenna seketika terhenti mengingat perusahaan Miss Lian adalah penyedia jasa model dan fotografi untuk pakaian wanita. Entahlah dari mana pihak Liar and Co mendapatkan informasi tentang perusahaan tempatnya bekerja tanpa memeriksa fokus utama perusahaannya. Sejauh inipun, perusahaan Jenna belum pernah menerima project untuk pakaian pria.
Miss Lian juga terhenti. “Oh ya, aku lupa, sialnya aku langsung menerima projectnya, apa yang harus kita lakukan?” suara Miss Lian berubah terdengar panik.
“Apa?” kali ini Jenna benar-benar bangkit dari tempat tidurnya. Rasa kantuknya luruh ke lantai. “Projectnya kapan?”
“Besok,” jawab Miss Lian.
“Besok?” Jenna kembali mengulangi jawaban Miss Lian, menepuk pelan kening tidak percaya. Hari sudah pukul satu malam, Dimana mereka bisa menemukan model pria dalam waktu kurang dari delapan jam dengan koneksi yang terbatas?
“Cobalah pikirkan seseorang, apakah kau tidak pernah bekerja dengan seorang model pria?” Miss Lian memohon, suaranya kali ini terdengar sangat memelas. Berharap Jenna punya sesuatu. Sebuah keajaiban.
Jenna tidak memiliki project sebanyak itu, dan seingatnya, dia juga belum pernah bekerja sama dengan model pria sebelumnya. Lagi pula ia juga tak mungkin meminta Miss Lian untuk membatalkan sebuah kerjasama yang sangat sulit untuk didapatkan. Perusahaannya mungkin tak akan pernah bisa bermimpi jika menolak tawaran kali ini.
“Baiklah,” kata Jenna berusaha menangkan diri dan juga wanita yang tengah berbicara dengannya. “Aku akan mencoba mencari beberapa kenalan dulu dan kuharap kau juga melakukan hal yang sama denganku disana. Segera hubungi aku begitu kau mendapatkannya,” tutup Jenna mengakhiri panggilan.
Jenna terduduk. Badan dan pikirannya lelah. Tapi kini masalah baru datang menghampiri. Tiba-tiba saja mata Jenna menangkap sesuatu ketika ia tidak sengaja melirik meja nakas di samping tempat tidur. Sebuah kertas kecil bertuliskan sebuah nama. Kartu nama berwarna hijau itu seketika menjadi sebuah harapan baru bagi Jenna dan untuk perusahaanya.
Apakah dia pernah menjadi model? dan yang lebih penting adalah, apakah dia mau menjadi model? Terlebih lagi bekerja sama dengan Jenna? Seorang gadis yang telah mengabaikan sikap baik dari seorang pria yang berusaha untuk membantu sebelumnya.
Jenna berteriak dalam diam dengan mulut terkatup. Dia menggeliat di kasur dengan kedua tangan di kepala, mengacak-ngacak rambut. Dia teringat kejadian saat di Phos Clinic malam itu. Kesan pertama yang diberikan Jenna saat pertamuan pertama mereka sangatlah buruk. Dingin dan penuh curiga. Tapi itu semua ada alasan mengingat sikap Kaysan yang terkesan mencoba menggoda.
Astaga! Jenna sangat bingung dengan apa yang harus di lakukannya. Disatu sisi dia sangat butuh Kaysan untuk keberlangsungan perusahaannya. Disisi lain, dia masih memilih harga dirinya saat berhadapan dengan Kaysan nanti.
Berbagai pertanyaan terus saja menghujani Jenna tak henti, mengingat sikap dinginnya pada Kaysan. Tapi tak ada pilihan lain. Jenna harus mendapatkan Kaysan apapun caranya.
****