Nomor yang anda tuju tidak dapat men…
Bukannya sapaan Kaysan yang didengarnya, melainkan operator yang sudah menjawabnya untuk ke empat kali. Sebenarnya Jenna sadar kalau ia sangatlah tidak sopan melakukan panggilan di tengah malam seperti ini, tetapi tidak ada pilihan lain. Ia harus mendengar kata “Ya” dari mulut pria itu.
“Apa dia sudah tidur atau memang tidak mau mengangkat panggilanku?” Jenna bertanya pada dirinya sendiri sambil mengitari tempat tidur. Berjalan bolak-balik. Berbagai pikiran tidak masuk akal terus menjalari otaknya.
“Bagaimana kalau dia memang tidak mengangkat panggilanku?”
“Tapi dia kan tidak tahu tahu nomorku, bagaimana bisa mengabaikannya bergitu saja?”
Jenna hanya bisa berteriak tertahan sambil telungkup di kasurnya, sambil memukul-mukul ponsel di tangan. Khawatir tetangganya akan mendatanginya tiba-tiba jika ia berteriak saat itu juga.
Apa yang harus kulakukan? Pikirnya cepat. Jenna memikirkan berbagai cara untuk mendapatkan Kaysan sebagai model satu harinya esok. Bukan untuknya, tapi untuk masa depan perusahaannya. Itulah prinsip yang dipegang Jenna. Hanya untuk sementara.
Tidak terasa. Ayam tetangga sudah berkokok. Hari sudah pukul setengah enam pagi. Tapi ia belum menerima panggilan lagi dari Miss Lian yang artinya bosnya itu belum mendapatkan model pria.
Jenna bergegas bangun meskipun sebenarnya ia tidak tidur. Ia mengenakan sembarang pakaian. Tak lupa ia mengenakan topi karna tak sempat mencuci rambut subuh itu. Jenna bertekad untuk berjuang demi perusahaannya.
Jalanan masih sepi. Belum banyak kendaraan yang melintas. Ini kesempatan bagi Jenna untuk memacu mobilnya. Semoga ia bisa bertemu dengan orang yang sangat dibutuhkannya itu.
Jenna memarkir mobil tepat di depan pintu masuk Phos Café. Terdapat tulisan closed yang terselip di depan pintu. Sepertinya belum ada yang datang sepagi ini. Jenna memutuskan untuk menunggu sebentar di samping pintu masuk café sambil memainkan krikil yang berserakan dengan kaki, sesekali menendang batu kecil.
Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Jenna mulai bisa melihat bayangannya memantul di lantai. Bukan hanya satu, Jenna melihat ada bayangan lain di sana. Ia mengangkat kepala. Keningnya terlipat, pandangannya silau karena sinar matahari langsung menembus pupil matanya. Jenna bergeser selangkah. Barulah ia bisa melihat jelas sosok yang sudah berdiri di hadapannya.
“Astaga, bagaimana kita bisa bertemu di sini?” sapa Kaysan hangat, pura-pura terkejut. Sebuah lengkungan membentuk senyuman di wajahnya.
“Aku mau minum kopi denganmu.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jenna sambil menunjukkan senyum selebar yang ia bisa.
Alis Kaysan terangkat sebelah. Sudut bibirnya semakin naik. Siapa sangka justru gadis itulah yang datang sepagi ini untuk mengajaknya minum kopi.
****
“Katakanlah sesuatu, kenapa diam saja?” Kaysan menegur Jenna yang tampak termenung menatap uap kopi yang tersaji di meja. Setidaknya Jenna sudah melakukannya selama tujuh menit.
Kini Jenna dan Kaysan duduk berhadapan. Bukannya termenung, Jenna sedang memikirkan kalimat yang pas agar Kaysan bersedia menjadi modelnya.
“Begini…” Jenna memulai. Ia mengangkat pandangan. Matanya bertemu dengan sepasang bola mata hitam yang sedang menunggunya.
Jenna memperbaiki posisi duduk dengan menumpu kedua tangan di atas meja. Terlihat lebih sopan. “Begini..” Tidak ada kata lain yang terpikirkan olehnya.
“Kenapa?” tanya Kaysan yang masih menunggu Jenna dengan sabar sambil bersandar santai.
Jenna menunduk. “Kumohon jadilah modelku dalam satu hari,” pinta Jenna sambil memejamkan kedua mata. Ia yakin Kaysan pasti terkejut mendengar permintaannya yang sangat acak pagi itu.
Benar saja. “Apa?” Kaysan memiringkan kepalanya, kembali menanyakan kalimat yang baru saja diucapkan Jenna.
“Aku meminta bantuanmu, aku mohon jadilah modelku untuk hari ini,” ulang Jenna kembali memicingkan kedua matanya. Ia masih belum tau ekspresi apa yang terpampang pada wajah pria yang sedang bingung di hadapannya itu.
“Aku tiba-tiba mendapatkan project untuk melakukan pemotretan pakaian pria, tapi kami tidak punya model pria. Semalam aku tidak sengaja melihat kartu namamu di meja dan kebetulan lokasi kita berdekatan, jadi aku ingin tahu apakah kau bisa membantuku atau tidak,” jelas Jenna dengan posisi kepala masih tertunduk dan terpejam.
“Hmm, begitu rupanya.” Kaysan teringat ponselnya yang terus berbunyi semalam. “Jadi kau yang menghubungiku semalam? Maaf, aku tidak pernah mengangkat nomor tidak dikenal sebelumnya.” Kaysan mengangkat sebelah tangan dengan telapak tangan menghadap Jenna. “Sorry,” katanya.
“Dan tentang tawaranmu, oke. Akan kulakukan,” jawab Kaysan tanpa ragu.
Jenna sontak menegakkan kepala dengan mata yang membesar setelah mendengar jawaban Kaysan. Dia tidak menolak permintaan Jenna. Bukankan dia terlalu baik untuk orang yang baru di kenalnya? Itulah yang dipikirkan Jenna sesaat.
“Benarkah? Kau bersedia?” tanya Jenna memastikan.
Kaysan mengangguk. Jenna langsung bangkit karena saking semangatnya. Tak perlu pikir panjang. “Ayo! Kita berangkat sekarang.” Tangannya tanpa permisi langsung menarik pergelangan tangan Kaysan yang bebas di atas meja.
Mereka langsung menuju kantor Jenna. Untunglah tempat kerja Jenna dan Kaysan hanya dipisahkan ruas jalan raya, sehingga tidak membutuhkan waktu lebih lama. Kaysan mengikuti Jenna menyebrangi jalan. Kini ia tengah tersenyum diam di belakang gadis yang masih memegangi tangannya. Setelah tiba di depan kantor, barulah Jenna melepaskan pergelangan tangan Kaysan kemudian berbalik menghadap Kaysan. Jenna tidak perlu mendongak untuk menatap wajah Kaysan karena tinggi mereka tidak berbeda jauh.
Tiba-tiba saja Kaysan mencondongkan wajahnya ke arah Jenna. “Kopi pagi ini bukan permintaanku, jadi aku belum menggunakan kuponku untuk mengajakmu,” bisik Kaysan memotong Jenna yang hendak mengatakan sesuatu.
Jenna menghembuskan napas pelan. Ia memilih mengalah. “Baiklah, aku mengerti, aku tidak akan lupa,” balas Jenna. Ia akan mengurus hal itu nanti. Saat ini, pekerjaan paling utama baginya.
“Oke,” jawab Kaysan singkat. Ia mendorong pintu masuk mendahului Jenna.
Begitu masuk Kaysan langsung bertemu dengan Miss Lian yang sudah bolak-balik mengitari ruang kerja yang tidak terlalu besar. Wanita itu berhenti ketika matanya menangkap sosok Kaysan yang baru saja melewati pintu.
“Hallo,” sapa Kaysan hangat dengan sedikit membungkukkan badan. Miss Lian membalas dengan anggukan kepala.
“Siapa?” tanya Miss Lian bingung. Pandangannya langsung beralih ketika melihat Jenna muncul dari balik punggung Kaysan.
“Dia model untuk pemotretan hari ini,” jelas Jenna memberi pengumuman singkat. “Hanya hari ini!” Tegas Jenna. Ia khawair Miss Lian akan berharap lebih pada pria yang dibawanya.
“Tidak, jadi,” Miss Lian memegangi mulutnya, tidak mengerti dengan apa yang akan dikatakannya. “Jadi maksudku, dimana kau menemukan pria setampan ini? Aku belum pernah lihat, pacar?” bisik Miss Lian pada Jenna yang berjalan menuju ruang ganti. Kaysan yang di belakang terbatuk ketika mendengar Miss Lian. Kaysan bisa mendengar setiap kata yang keluar dari mulut bos Jenna itu.
Jenna berhenti. Memutar badan. Matanya membelalak. “Bukan,” sahutnya spontan membantah.
“Jadi?”
Jenna kembali berjalan mengabaikan rasa penasaran Miss Lian. “Kau bisa berdandan dulu di sana, Lisa akan membantumu.” Jenna mengarahkan Kaysan pada ruangan di samping tempat pemotretan.
“Mari kita bersiap, dalam lima belas menit, kita akan mulai,” sorak Jenna pada semua staff yang bertugas sambil menepukkan tangan tiga kali.
Jenna memeriksa kamera. Memastikan tidak ada yang bermasalah. Itu bukan kameranya yang rusak karena kejadian di cafe waktu itu. Beberapa hari yang lalu Jenna membeli kamera baru. Ia akan merasa bersalah jika hasil fotonya tidak memuaskan hanya karena masalah kecil kameranya, sedangkan ia mampu membeli yang baru.
Lima belas menit berlalu tak terasa. Semua sudah berada pada posisinya. Begitu pula dengan Kaysan yang tampak gagah dalam balutan jas hitam. Tidak formal, tetapi casual. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Sangat cocok dengan konsep dari brand Liar and Co.
“Oh?” Kaysan menyadari kamera Jenna. “Kamera baru rupanya,” ungkapnya sambil duduk di kursi yang telah disediakan.
Jenna yang berada di balik kamera hanya bisa memanyunkan mulut sebagai balasan, tak terlalu peduli dengan komentar Kaysan yang seperti biasa sok tahu. Pertanda untuk Kaysan agar segera bersiap.
Jenna mengintip dari balik lubang kecil lensa kamera. Tampak wajah Kaysan sangat santai di depan kamera. Tidak menunjukkan rasa tegang ataupun demam kamera atau apalah itu. Ekspresinya sangat cocok untuk menjadi seorang model. Dia jelas tahu apa yang harus dilakukan seorang model saat berada di depan kamera. Layaknya profesional.
“Ouu, bagus bagus, lebih santai, lemaskan juga ototmu,” puji Jenna. Tak hayal Kaysan semakin menunjukkan pose andalannya.
Dari balik kameranya, Jenna bisa melihat sudut dari setiap wajah pria yang sedang tersenyum hangat ke arah kamera. Komposisi wajah yang sangat di sukai para fotografer, hidung mancung, mata sipit dan kulit putih. Tampak polos tapi seksi di saat bersamaan. Sangat menggoda dan menjual. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia bukanlah seorang amatir di dunia ini.
“Apa dia pernah menjadi model sebelumnya?”
Tanpa sadar, Jenna ingin tahu siapa sebenarnya pria yang sudah berbaik hati mau membantunya hari itu.
****