KAYSAN HILLEL

1189 Words
Pria dengan potongan rambut Comma Style itu tampak sibuk mengurus beberapa berkas yang berserakan di sebuah meja dekat jendela. Kulitnya putih bersih, sangat mencolok ketika dipadu-padankan dengan pakaian berwarna hitam yang dikenakannya. “Kay, apa yang harus kulakukan? Karya Alta ditolak mentah-mentah untuk di pajang pada pameran yang direncanakan sebelumnya,” teman Kaysan – Vaugh, tiba-tiba saja sudah berdiri merajuk di depan pintu kantornya. Bukan pemandangan aneh lagi, karena ruangan mereka bersebelahan. Ya. Di lantai dua Phos Café sebenarnya ada ruangan lagi yang bersebelahan tepat di samping Phos Clinic. Hanya saja pintunya di cat putih senada dengan dinding Phos Clinic sehingga menimbulkan kesan jika lantai dua itu hanya terdiri dari satu ruangan luas saja. Padahal sebenarnya ada tiga. Satu Phos Clinic, sementara ruangan lainnya terdiri dari dua ruangan. Satu untuk ruang kerja Kaysan dan satunya lagi untuk ruangan Vaugh. “Apanya yang bagaimana? Kau bisa mencari pameran lain kan?” saran Kaysan santai seolah itu bukan masalah besar. Tetapi bagi Vaugh itu adalah masalah besar. Karya yang dibicarakannya adalah sebuah hasil jempretan salah satu member phos yang berbakat yaitu Alta. Bahkan Kaysan yang mempunyai selera seni unik juga sepemikiran dengan Vaugh sebelumnya. Vaugh merupakan teman dekat Kaysan. Sudah hampir tujuh tahun mereka berteman hingga saat ini menjadi partner kerja. Dia pria berdarah asli Australia yang ditemui Kaysan ketika berkuliah di Australia. Setelah menyelesaikan pendidikan di sana, Kaysan mengajak Vaugh ke tempatnya menetap saat ini. Dan semenjak tiga tahun lalu, Kaysan dan Vaugh mendirikan Phos Café dan Phos Clinic di dalam satu gedung yang sama. Di balik kabar buruk yang di dengarnya pagi itu, salah satu barista yang sudah menunggu Vaugh selesai berbicara dari tadi di sudut ruangan, ikut melaporkan berita penting pada Kaysan. Dia berharap kali ini kabar baik yang akan didengarnya. “Kay, kita berhasil mendapatkan kontrak dengan distributor baru dengan harga murah,” lapornya terdengar antusias. Raut wajah Kaysan seketika berubah. “Oh ya? Baguslah.” Kaysan tanpa sadar bediri dari kursi saking senangnya. “Segera atur pertemuan untuk tanda tangan kontrak dengan mereka,” barista yang biasa dipanggil Olin itu menggangguk dan berlalu meninggalkan Kaysan dengan senyuman yang masih mengambang. Beda halnya dengan Vaugh yang memasang wajah sebal pada Kaysan sambil memanyunkan bibir. Merasa Kaysan tak mengacuhkan keluh kesahnya pagi itu. Phos Café dan Phos Clinic merupakan satu kesatuan yang terpisah. Ibarat sendok dan garpu yang selalu bersanding tetapi bisa digunakan secara terpisah. Kaysan memiliki kendali penuh terhadap Phos Café, tetapi tidak pada Phos Clinic yang dipegang penuh oleh Vaugh. Hanya saja Kaysan sering terlibat dengan beberapa project Phos Clinic terutama tentang pameran hasil jepretan member Phos. Karena menurut Vaugh, Kaysan memiliki selera seni yang unik. “Pilihlah satu yang kau suka,” perintah Vaugh pada Kaysan yang baru saja tiba di ruangannya. Kaysan mendekati layar komputer yang menampilkan beberapa hasil jebretan dari tangan yang berbeda pula. Kaysan melipat tangan sambil menyerngitkan dahi. Mencoba menilik satu persatu karya yang di tampilkan layar. “Bukankah ini yang akan di tampilkan di Singapore Art Week?” tanyanya. Vaugh menggangguk. Ia masih sibuk dengan tablet di tangannya. “Story yang diangkat tentang air, kan? Tapi kenapa aku tidak melihat satu pun dari karya ini?” tanyanya sekali lagi dengan mata tetap terfokus pada ketiga pameran di layar. “Iya kan? Sudah kuduga,” kata Vaugh setuju. Dia bangkit dari kursinya, mengitari meja kemudian segera memeluk Kaysan sekali. Ia sudah mengerti meskipun kalimat Kaysan tidak terdengar seperti pendapat apalagi memberi jawaban seperti yang diminta Vaugh. “Oke, kau bisa kembali bekerja.” Vaugh mendorong Kaysan menuju pintu keluar yang langsung terhubung dengan tangga menuju lantai satu. “Terima kasih atas kerja kerasmu pagi ini.” Kaysan terkekeh ringan melihat kelakukan Vaugh yang tiba-tiba bersikap formal. Tentu Kaysan tahu jika temannya itu hanya bercanda jadi dia hanya bisa balas tersenyum dengan kelakuan Vaugh karena itu bukan pertama kali bagi mereka. ***** Jenna bekerja dengan giat hari itu hingga melupakan janji penting yang tak boleh terlewatkan. Setelah pemotretan dengan Kaysan berakhir siang tadi, Jenna hanya mengucapkan terima kasih sekali lalu bilang akan menghubungi Kaysan nanti setelah jam kerjanya selesai kemudian mengantar Kaysan ke depan pintu kantor. Pria itu mengangguk mengerti dengan kesibukan pekerjaan Jenna dan segera meninggalkan kantor gadis itu. Ponsel Jenna berdering. Dia meraih ponsel tanpa melihat nama yang tertera di layar. “Hallo,” sapanya. “Kenapa kau belum datang juga?” Suara ibunya terdengar cemas dari seberang sana. Jenna melirik jam kecil di samping layar. Jarum panjang menunjuk angka delapan. Astaga! Jenna lupa dengan pertemuan makan malam dengan keluarganya karena saking sibuknya ia hari itu. “Aku dalam perjalanan bu, sedang menyetir, kututup telfonnya ya,” bual Jenna menutup panggilan. Ia segera bangkit dan mematikan layar komputer. Ia tidak boleh melewatkan malam ini atau ia akan membuat hubungannya dengan Tuan Ali semakin buruk. “Aku akan mengirimkan file bersihnya besok, aku sudah terlambat, aku harus pergi sekarang,” teriak Jenna pada Miss Lian sambil meraih tas kecil dan bergegas keluar tanpa menunggu izin dari bosnya itu. Begitu Jenna membuka pintu keluar, langkahnya langsung terhenti. Ia terkejut melihat siapa yang ditemuinya di balik pintu. “Hei, kenapa kau masih di sini?” Suaranya yang terdengar penasaran sekaligus kaget membuat Kaysan berbalik menatapnya. Matanya menangkap mata sipit Kaysan seolah saling bertanya dan menjawab satu sama lain. Tak ada waktu untuk bertukar sapa bahkan untuk sesaat. Jenna tidak memberi Kaysan waktu untuk menjawab pertanyaanya. Lupakan rasa penasaran itu. Ia sibuk mencari kunci mobilnya di dalam tas dan berjalan melewati Kaysan. “Aih, kenapa aku parkir di sana,” gerutu Jenna melihat mobilnya yang terparkir di seberang jalan di depan Phos Café. Ia hendak berlari menyebrangi jalan, tapi... Sebuah klakson panjang mobil memekakkan telinga. Sebuah tangan dengan sigap menarik pergelangan tangan Jenna tepat sebelum sebuah mobil melintas di hadapannya. Jenna terhenyak ke dalam sebuah dekapan Kaysan. Ia terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi, sepersekian detik. Hampir saja. “Apa yang kau lakukan? Kau tak lihat mobil barusan?” teriak Kaysan berusaha mengalahkan suara bising mobil yang berlalu-lalang. Jenna menjauhkan badannya, melepaskan tangan Kaysan, tapi Kaysan kembali meraih tangan Jenna. “Jenna.” “Apa? Aku harus segera pergi,” jelasnya sambil menepis tangan Kaysan lalu berjalan melintasi jalan raya. Dipikirannya hanya ada ayahnya. Ia tidak tahu reaksi apa yang akan diterimanya nanti ketika sudah tiba di sana. Sedangkan Kaysan sibuk memperhatikan kanan kiri khawatir ada mobil lain yang kali ini bisa saja menabrak Jenna. “Kau mau kemana terburu-buru seperti ini?” tanya Kaysan sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan Jenna. Jenna menoleh tak menjawab. Ia benar-benar tidak ada waktu sekarang. Ia harus segera tiba di rumahnya. Kaysan kembali menahan tangan Jenna yang hendak mamasuki mobil. “Setidaknya berterima kasihlah padaku,” pinta Kaysan asal berusaha mengalihkan Jenna yang tampak sangat kalut. Gerak tangan Jenna terhenti sambil mendesah pelan. Tapi baiklah. Dia menuruti kemauan Kaysan. “Terima kasih, aku sangat berterima kasih padamu, puas kan?” balas Jenna sambil melepaskan tangan Kaysan dari lengannya. Jenna meninggalkan Kaysan yang mematung. Mobilnya melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. “Apa yang terjadi barusan? Semudah itu?” gumam Kaysan sendiri. Ia linglung. Kepada siapa ia dapat bertanya setelah mendapat reaksi seperi itu? ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD