Jenna berlari menaiki anak tangga menuju ruang utama rumahnya. Tempat berkumpul keluarganya malam itu. Jenna bahkan mengabaikan sapaan dari beberapa pelayan rumah yang ia lewati.
Ibunya – Nyonya Alina, langsung bangkit dari kursi ketika Jenna memasuki ruangan dengan nafas yang sedikit tersengal.
Jenna mencoba mengatur nafas sejenak lalu segera berjalan menuju bangku kosong di samping Nyonya Alina. Meja bundar itu sudah diisi oleh Tuan Ali, Nyonya Alina, kakak laki-laki pertama Jenna – Argan, dan dua orang adiknya, Lola dan Loli. Tampak meja sudah dipenuhi oleh berbagai jenis makanan yang belum tersentuh sama sekali.
“Kenapa mereka belum makan? Jangan bilang mereka menunggu kedatangannku,” tebak Jenna dalam hati.
Jenna melirik satu-persatu raut wajah orang yang duduk bersamanya di meja makan itu. Kakak laki-lakinya terlihat iba melihat dirinya, sedangkan kedua adiknya hanya terdiam menatap tajam ke arahnya. Lalu mata Jenna beralih pada ayahnya yang duduk di kursi tengah. Tidak ada raut wajah marah ataupun kesal yang terpancar dari wajahnya. Ekspresi ayahnya tenang dengan tangan terlipat di d**a. Hanya ibunya yang tampak khawatir. Jenna bisa merasakan suasana canggung bercampur tegang memenuhi langit-langit ruangan.
“Mari makan,” ajak Tuan Ali. Semua menurut tanpa membantah, termasuk Jenna. Benar saja. Mereka menunggu lebih dari satu jam untuk bisa makan bersama Jenna.
Tidak ada percakapan selama sepuluh menit pertama. Semuanya asik menikmati makanan hingga akhirnya Tuan Ali bersuara memecah sunyi.
“Kau harus segera mengunjungi Dokter Agnes lagi,” perintah Tuan Ali tiba-tiba setelah menyuap beberapa potong daging panggang di piringnya.
Jenna yang menyadari kalau perintah itu ditujukan padanya berhenti makan. Nafsu makannya seketika lenyap. Semua masih terdiam setelah mendengar ucapan Tuan Ali hingga Nyonya Alina mencoba menenangkan suaminya. Nyonya Alina menyadari kalau suaminya itu sudah mulai marah terhadap putrinya. “Sayang,” ucapnya pelan.
Hubungan orang tua Jenna sangatlah rukun. Meskipun Tuan Ali sangat keras jika menyangkut putra-putri mereka. Jenna pernah bermimpi suatu saat nanti ia bisa mempunyai hubungan yang kuat dengan pasangan hidupnya nanti. Sama halnya dengan orang tua yang paling disayanginya, terlepas dari hubungan canggungnya dengan Tuan Ali.
“Jenna sudah sembuh, sepertinya tidak perlu lagi, lagi pula kau juga mendengar penjelasan Dokter Agnes waktu itu kan,” bela Nyonya Alina.
“Kalau sudah sembuh, ia tidak akan terlambat dan ini bukan pertama kalinya,” lanjut Tuan Ali sambil asik menyuap daging ke mulutnya. Ia tetap bersikukuh dengan raut wajahnya yang masih datar seakan-akan itu bukan masalah besar.
Jenna menurunkan tangannya dari meja makan ke pangkuan paha. Ia bisa merasakan elusan hangat dari tangan Nyonya Alina yang menyelinap menggengam tangannya, berusaha menenangkan Jenna jikalau emosinya tak bisa lagi dikendalikan.
“Kalau kau memang sudah sembuh, menikahlah!” Perintah Tuan Ali tiba-tiba. lagi-lagi perintahnya membuat semua orang terdiam. Entah dari mana Tuan Ali mendapatkan ide seperti itu.
“Sayang,” tahan ibunya. Suara Nyonya Alina mulai meninggi. Semua mata teralih pada Jenna.
Jenna seperti mencoba bertahan hidup di tepi jurang hanya dengan memegang seutas tali. Ia berusaha mengendalikan nada bicaranya. “Akan kulakukan,” jawab Jenna dengan nada suara bergetar.
Seketika sunyi. Semua orang menunggu pilihan Jenna.
“Aku akan mengunjungi Dokter Agnes lagi,” pilih Jenna. Ia terpojok. Nyonya Alina menghembuskan nafas pelan. Begitu pula dengan kakaknya Argan yang tampak sedih dengan pilihan Jenna. Argan paling mengerti bagaimana keadaan adiknya ketika sedang sakit dulu. Rapuh dan kehilangan arah. Namun, Jenna tak bisa memilih pilihan Tuan Ali yang lainnya yaitu menikah. Setidaknya pilihannya saat ini lebih baik. Meskipun secara tidak langsung Jenna mengakui kalau ia belum sembuh dari trauma masa lalu yang pernah dialaminya dulu.
“Bagus.” Tuan Ali meminum seteguk air. “Kau bantulah Jenna buat janji dengan Dokter Agnes.” Tuan Ali mengingatkan Nyonya Alina untuk mengawasi Jenna, menuduh putrinya hanya membual saja malam itu.
Setelah itu, tidak ada percakapan lagi. Semua diam menikmati makanan di piring masing-masing. Jenna berencana langsung pulang meskipun ibunya sudah memintanya untuk menginap. Tapi Jenna kembali menolak dengan beralasan kerjaan yang menumpuk.
“Akan kuhubungi ibu nanti.” Jenna memeluk ibunya lalu menuruni anak tangga menuju gerbang utama. Ia masih memaksakan seulas senyum sebelum meninggalkan Nyonya Alina.
Saat menuruni anak tangga perlahan, Jenna sudah bisa melihat kakak laki-lakinya yang biasa dipanggil Argan itu sudah menunggunya di samping mobil di depan pagar rumah.
“Kenapa di luar?” tanya Jenna saat tiba di anak tangga terakhir.
“Jenna,” panggil Argan ramah. “Kau yakin?” Argan kembali memastikan pilihan Jenna. “Tidak bisakah kau menuruti kemauan ayah sekali ini saja?” Suara Argan terdengar seperti memohon pada Jenna.
“Kemauan yang mana? Menikah?” Jenna menggeleng sambil menyerngitkan hidung. “Lebih baik aku memilih Dokter Agnes.”
“Tapi.”
“Aku sangat lelah, kita bahas lain kali ya,” sahut Jenna lesu.
Argan tidak mengerti dengan jalan pikir adiknya. Jenna adalah satu-satunya yang berani melawan perintah Tuan Ali. Bahkan setiap keputusan yang diambil Jenna selalu melibatkan kakaknya. Argan sepenuhnya juga sudah mengalah pada Jenna. Mematahkan prinsipnya untuk tak terlibat dengan bisnis keluarga. Meskipun sebenarnya dia mempunyai mimpi untuk menjadi seorang pembalap professional, tapi urung diwujudkannya demi Jenna. Dia memilih untuk menggantikan Jenna sebagai penerus bisnis keluarga dan mengubur impiannya untuk hidup bebas. Pada awalnya, Argan memang marah, kesal dan juga kecewa. Tetapi melihat penderitaan Jenna yang lebih besar darinya, dia pun luluh dan rela berkorban demi adiknya yang sudah hampir kehilangan kesadaran waktu itu. Kini Argan pun masih merasa kasihan melihat Jenna yang masih berjuang melawan penyakit yang terus mengekori Jenna. Ia ingin membantu Jenna, tetapi tak banyak yang bisa dilakukannya.
“Argan, aku benar-benar lelah hari ini. Dan aku terpaksa harus meminta maaf sekali lagi padamu.” Jenna sedikit mendorong pelan badan Argan yang menutupi pintu mobilnya.
Jenna segera masuk mobil dan menekan tombol star pada mobil. Tak perlu diminta pun, Argan sudah lebih dulu mengalah dan memilih mundur menjauh dari mobil adiknya. Satu detik kemudian, Jenna memacu mobilnya meninggalkan Argan di belakang.
Jenna kehabisan kata-kata. Air matanya seperti ingin lari dari mata. Sudah tak tertahankan. Jenna tidak mau Argan melihat sisi lemahnya, terpaksa ia meninggalkan Argan begitu saja di sana tadi.
Jenna menepikan mobilnya setelah agak jauh dari rumah. Dadanya terasa sesak. Ia bisa merasakan panas dari air mata yang jatuh di pipinya. Ia terisak menangis tersedu-sedu. Jenna menelungkupkan kedua tangan menutupi wajah, lalu berteriak sekuat tenaga. Itu adalah kesempatan baginya untuk melepaskan semuanya tanpa diketahui orang lain. Itulah yang dilakukannya tepat sebelum seseorang datang dan mengetuk kaca mobilnya tiga kali.
Jenna berhenti menangis. Tangannya refleks terangkat mengusap air mata di pipi sebelum menoleh melihat siapa yang mengganggunya. Jenna sekilas melihat gambaran wajahnya di kaca kecil yang menggantung di depannya lalu menurunkan kaca mobil.
Jenna menoleh dan orang itu membungkuk agar bisa melihat Jenna. “Tadi kau ti…” Pria itu terhenti setelah melihat wajah Jenna yang basah dan lembab.
“Hei, kau menangis?” tanyanya terdengar khawatir. Ya. Untuk kedua kalinya di hari yang sama. Pria yang sedang menatap iba ke arah Jenna itu adalah Kaysan.
“Kau mengikutiku?” tanya Jenna curiga.
“Kau tak apa?” Kaysan balik bertanya.
“Emangnya aku terlihat baik-baik saja dimatamu?” balas Jenna.
****