STALKER

1242 Words
Matahari sudah lama tenggelam, kini berganti bulan dan bintang. Setelah pemotretan berakhir, Jenna bilang akan menghubungi Kaysan, tetapi sampai saat ini ia belum mendapatkan panggilan. Kaysan berulang kali memeriksan layar ponsel. Tetap tidak ada notifikasi apapun. Bahkan Kaysan sudah duduk di bangku dekat jendela yang langsung menghadap kantor Jenna. Barangkali ia bisa melihat Jenna keluar. Ia melirik jam yang melingkar di tangan kiri. Lima belas menit menuju pukul delapan. Kaysan memutuskan untuk menunggu Jenna di depan kantor gadis itu. Tidak ada alasan khusus. Hanya saja ia ingin melihat wajah unik Jenna sebelum pulang. Tidak lama setelah ia berdiri, pintu kantor Jenna berderik. Pertanda ada orang yang keluar dari balik bantu. Kaysan berbalik. Gadis itu tampak terkejut melihat dirinya yang berdiri di sana. Dibalik ekspresi wajahnya yang terkejut, raut wajah gadis itu juga tampak khawatir. Jenna tidak menghiraukan Kaysan yang hendak menjawab pertanyaannya. Ia hanya berlalu sambil sibuk mengoceh dan mencari sesuatu di dalam tas kecilnya. Kaysan yang berdiri tidak jauh di belakang Jenna tampak melihat siluet cahaya lampu mobil yang berjalan lurus hendak menghantam badan Jenna. Kaysan segera berlari menarik pergelangan tangan Jenna hingga gadis itu terjatuh ke dalam dekapannya. Setelah kejadian yang mengejutkan itu, Jenna mendorong Kaysan menjauh. Ia tampak bingung, tetapi tetap memaksakan diri menuju mobilnya di seberang jalan. “Kau mau kemana dengan terburu-buru seperti ini?” tanyanya. Jenna tidak menjawab hingga mereka sampai di depan mobil Jenna. “Bukankah kau harus berterima kasih padaku?” lirik Kaysan pada Jenna, “karena sudah menyelamatkanmu,” sambung Kaysan mencari-cari alasan asal. Jenna mendesah pelan. “Terima kasih, sangat-sangat, puas kan?” jawab Jenna terdengar tak tulus. Jenna bergegas masuk mobil dan meninggalkan Kaysan yang kebingungan dengan kelakukan Jenna. “Semudah itu?” guman Kaysan pelan sambil menatap mobil Jenna hingga menghilang setelah menyalip beberapa mobil di depannya. Tanpa pikir panjang, Kaysan bergegas berlari ke arah samping gedung tempat mobilnya terparkir. Ia memutuskan untuk mengikuti Jenna. Bukan karena hal lain, tapi ia takut sesuatu akan terjadi pada Jenna setelah melihat gadis itu tampak panik dan khawatir. Mobil Kaysan memasuki salah satu kawasan elit yang ada di kotanya. Rumah Jenna berada tepat di persimpangan empat yang berada di tengah-tengah kawasan tersebut. Kaysan memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah Jenna setelah melihat mobil gadis itu terparkir di luar. Ia melihat Jenna langsung berlari secepat mungkin memasuki rumah. “Apa yang terjadi?” ujar Kaysan ikut khawatir sekaligus penasaran. Sedari awal, Kaysan sudah menduga Jenna bukanlah berasal dari keluarga biasa. Semenjak pertemuan pertama mereka di hari pertama Jenna bekerja, Kaysan bisa merasakan aura positif nan dingin terpancar dari Jenna. Potongan wajahnya yang tegas dan sorot matanya yang tajam seolah berkata ‘aku sangat percaya dengan penampilanku hari ini’. Meskipun Jenna mengenakan pakaian yang terkesan sederhana, tapi Kaysan langsung tahu kalau pakaiannya adalah rancangan designer terkenal. Kaysan sudah menunggu lebih dari satu jam. Ia menduga kalau Jenna akan menginap. Tangan Kaysan menekan tombol star pada mobil, pertanda ia akan kembali ke phos café. Namun kaki Kaysan gagal menginjak pedal gas setelah melihat seorang pria muncul dari balik pintu dan bersandar pada mobil Jenna yang terparkir. “Suami?” ocehnya asal. Kaysan mulai memikirkan berbagai kemungkinan. Ia mulai berpikir apakah ia salah karna sudah tertarik pada wanita yang sudah menikah? Mata kaysan semakin bingung setelah melihat interaksi antara Jenna dan Argan. “Apa itu? Mereka bertengkar?” Entah kepada siapa Kaysan bertanya setelah melihat Jenna mendorong Argan menjauh dari mobilnya. Tidak lama mobil Jenna meninggalkan halaman rumah itu dengan Argan yang tampak sedih dan juga kecewa. Kaysan yang tidak lagi peduli dengan hubungan Jenna dan Argan menginjak pedal gas mobil. Ia mengikuti Jenna hingga akhirnya Jenna menghentikan mobilnya di pinggir jalan ketika sudah agak jauh dari kawasan rumahnya. Kaysan ikut menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Jenna. Kaysan turun dari mobil lalu menghampiri mobil Jenna. Sekilas ia melihat Jenna menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Kaysan mengetuk kaca mobil tiga kali dan menunggu Jenna memberi respon. Kaysan membungkuk setelah kaca mobil Jenna diturunkan setengah. “Kau tadi ti..” Kalimatnya terhenti setelah melihat Jenna berusaha menutupi bekas air mata yang membasahi pipinya. “Kau menangis?” tanya Kaysan. Dia langsung tahu dari hidung dan mata Jenna yang merah. Jenna tidak menjawab. Ia malah mencurigai Kaysan yang telah mengikutinya. “Kau tak apa?” tanya Kaysan sekali lagi. Kali ini ia bertanya dengan tulus. “Emangnya aku terlihat baik-baik saja di matamu?” balas Jenna. ***** Kaysan mengajak Jenna untuk menyegarkan pikirannya di rooftop gedung Phos. “Banyak sekali yang tidak kuketahui, bahkan tempat secantik ini,” ucap Jenna pelan. Kaysan tersenyum tipis. Mereka berdiri dekat dengan pembatas tepi gedung agar tidak terjatuh ke bawah. “Tempat ini tidak dibuka untuk umum dan orang asing.” Jenna menurunkan kepala yang sebelumnya mendongak menatap langit. “Aaa, seharusnya aku tidak boleh di sini ya,” ucap Jenna sadar diri, “tapi bagaimana ya, aku suka tempat ini, lagian aku tidak datang sendiri ke sini,” lanjut Jenna bercanda ringan. Sampai saat ini Jenna masih menganggap mereka orang asing satu sama lain. Tetapi malam itu Jenna tak menolak saat Kaysan mengajak Jenna ke rooftop café. Ia suka tempat itu. Kini ia tengah menarik nafas panjang, lalu membuangnya perlahan. Lupakan tentang tembok yang berusaha dibangunnya untuk Kaysan, saat ini Jenna hanya ingin menjernihkan pikirannya seiring dengan hembusan angin malam. “Kau bisa datang ke sini kapanpun, aku akan membukakan pintu untukmu.” Kaysan memberi izin. “Kenapa kau tidak bertanya?” tanya Jenna tiba-tiba. Ia masih asik menikmati hembusan angin malam dengan mata terpejam. Kaysan menggeleng. “Karena kita orang asing?” ejek Kaysan, lalu ia terkekeh pelan. Jenna menoleh. “Kau tinggal sendiri?” tanyanya tiba-tiba. “Kenapa?” “Tidak. Aku hanya takut jika besok ada seorang gadis asing lainnya yang datang menyiramkan air padaku tiba-tiba,” canda Jenna. Kaysan kembali terkekeh mendengar ocehan Jenna. “Kau terlalu banyak menonton drama rupanya,” tebak Kaysan masih terkekeh. “Ya sudah kalau begitu,” ucap Jenna terdengar lega mendengar balasan dari Kaysan. Jenna mulai mengemasi tasnnya. “Sudah mau pergi?” tanyanya sambil melirik jam tangan. Hari sudah menunjukkan pukul satu malam. Jenna mengangguk. “Terima kasih sudah mengajakku kesini, aku akan menggunakan kuponku untuk tempat ini.” “Sudah malam, biar kuantar.” Kaysan menawarkan diri. Jenna menolak dengan sopan. “Tidak usah, aku bisa sendiri, lagipula rumahku tidak terlalu jauh dari sini.” Kaysan tetap berusaha menawarkan diri untuk mengantar Jenna, dan berulang kali pula Jenna menolak. Akhirnya Kaysan hanya mengantar Jenna hingga depan Phos Café tempat mobil Jenna terparkir. Jenna berbalik sebelum menarik gagang pintu mobilnya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Hanya memastikan bagaimana raut wajah pria yang sudah menemaninya malam itu. Tidak lama. Jenna kembali berbalik membuka pintu mobilnya lalu masuk mobil. Kaysan yang masih berdiri di sampingnya, mengetuk pintu kaca mobil. Menyuruh Jenna menurunkan kaca mobil. Kaysan menunduk setelah kaca mobil Jenna turun. “Datanglah besok jam tujuh, aku akan gunakan jatahku besok pagi,” ucap Kaysan pada Jenna sambil menunujukkan senyumnya. Jenna tidak memberikan jawaban ya atau tidak, ia kembali menaikkan kaca mobilnya lalu menginjak pedal gas mobil meninggalkan Kaysan. Jenna bisa melihat Kaysan melambaikan tangan padanya sambil tersenyum sembringah. Tanpa sadar, Jenna ikut tersenyum tipis melihat Kaysan melalui spionnya. Ia melirik dirinya yang tersenyum di cermin kecil yang menggantung. Seketika ia merubah ekspresinya kembali dingin. “Apa yang sedang kulakukan?” desisnya pelan sambil memegangi mulutnya. Begitu pula dengan Kaysan yang masih melambai dan tersenyum hingga mobil Jenna hilang di persimpangan jalan. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD