KECEWA

1179 Words
Jenna menepati janjinya pada Kaysan. Dia bisa melihat Kaysan sudah menunggunya pada salah satu bangku café dari posisinya saat itu yang masih berada di dalam mobil. Sepertinya Kaysan sengaja memilih bangku dekat dengan jendela kaca besar yang menghadap ke jalan agar Jenna dapat segera melihatnya begitu sampai. “Sudah lama?” sapa Jenna. Tangannya menarik kursi di depan Kaysan. Kini mereka duduk saling berhadapan. “Tidak juga,” sahut Kaysan sambil tersenyum. Lagi-lagi senyum itu. Kini Jenna mulai terbiasa dengan senyuman Kaysan yang bisa dibilang sangat memikat. Terlihat manis sebelum ia mengeluarkan suara beratnya. “Caramel Macchiato?” tebak Kaysan. Ia memastikan minuman untuk Jenna, teringat dengan pesanan Jenna terakhir kali. Jenna pura-pura terkejut. “Apa kau selalu mengingat setiap pesanan dari pelangganmu, sampai-sampai kau tahu apa yang kumau,” kata Jenna. Ia memicingkan sebelah matanya sambil menilik reaksi apa yang akan diberikan oleh pria bermata sipit di hadapannya. “Tidak juga.” Kaysan memiringkan kepalanya, “aku hanya ingat pesananmu,” goda Kaysan. Sekali lagi, Kaysan menunjukkan sikap yang tidak biasa pada Jenna hingga ia sudah mulai terbiasa dengan jawaban-jawaban Kaysan yang dapat mengundang kesalahpahaman. Bekerja sebagai fotografer paruh waktu juga memberikan sedikit waktu luang bagi Jenna yang hanya akan bekerja ketika mendapatkan project dari tempatnya bekerja. Jenna juga sudah menghubungi Miss Lian kalau ia akan datang terlamat hari itu. Khawatir kalau Miss Lian benar-benar menepati perkataannya waktu itu yang akan memotong bonus kerjanya. Ia tidak mau waktu lemburnya terbuang sia-sia. “Aku akan perg…” kalimat Jenna terpotong setelah melihat seseorang yang sangat dikaguminya mendorong pintu café. Kaysan yang tengah menyimak mengikuti arah pandang Jenna. Gadis itu sudah bangkit duluan menghampiri wanita dengan setelan jas berwarna pastel itu. Gayanya rapi dengan potongan rambut yang tampak elegan, hitam panjang dan lurus. “Halo kak Sharon,” sapa Jenna sambil membungkukkan badannya. Wanita yang disapanya itu tampak terkejut dengan kedatangan Jenna yang tiba-tiba. Wanita yang dipanggil Sharon itu mundur selangkah sambil memegangi dadanya. “Siapa?” tanyanya tidak mengenali Jenna. Jenna kembali memperkenalkan diri. “Jennaira kak, yang mengirimkan portofolio seminggu yang lalu, apakah kau sudah mengeceknya?” Jenna mengingatkan. Meskipun ia tidak bertemu langsung dengan Sharon ketika menyerahkan portofolionya dua minggu yang lalu pada Sharon Studio. Jenna tidak beruntung karena hanya bisa bertemu asistennya. Sharon mencoba mengingat Jenna, tetapi ekspresinya tidak menunjukkan kalau ia senang dengan Jenna. “Tapi bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya wanita itu. Jenna tersenyum. “Sepertinya begitu, aku penggemar beratmu. Sangat senang bisa bertemu denganmu disini,” ujar Jenna. Ia tidak dapat menyembunyikan kesenangannya. Kaysan yang masih duduk di kursinya ikut tersenyum melihat ekspersi senang Jenna “Kau melamar untuk posisi asisten bukan?” tanya Sharon memastikan. “Tapi bagaimana ya? Aku tidak menerima asisten, sayang sekali,” jelas Sharon menyayangkan jawaban yang diberikannya pada Jenna, lalu berlalu melewati Jenna menuju kasir untuk membuat pesanan. Jenna segera menyusul Sharon. Ia merasa tidak terima dengan penjelasan wanita itu. Jelas sekali kalau ia belum melihat portofolio Jenna. “Keadaan memaksaku untuk tak mengambil kuliah di jurusan fotografi, tapi aku sudah belajar fotografi selama hampir sepuluh tahun.” Jenna mencoba menjelaskan situasinya. Setidaknya ia berhak mendapatkan penjelasan dari Sharon kenapa karyanya tidak lulus kualifikasi. Sedangkan Jenna melamar posisi itu karena memang Sharon Studio membutuhkan seseorang untuk dipekerjakan. Jenna melamar bukan karena ingin bekerja, tetapi ia ingin menjadi rekan kerja bagi orang yang diidolakannya. Jenna sangat menyukai karya-karya Sharon yang mampu menyampaikan sebuah story di dalam setiap hasil jepretannya. Jenna ingin mendapatkan ilmu itu darinya. Sharon menghela nafas, mencoba menghindari Jenna. “Aku tak bermaksud keras kepala, tapi mohon pertimbangkanlah sekali lagi, aku benar-benar ingin belajar darimu,” jelas Jenna terdengar memohon. Itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kalau Jenna sangat menyukai Sharon. Kaysan yang mulai merasakan situasi yang aneh, mulai berjalan ke arah Jenna dan Shanon yang berdiri dekat dengan kasir. “Kau sungguh tidak tahu malu, belajar selama sepuluh tahun tapi hanya itu kemampuan yang bisa kau tunjukkan? Aku tidak bisa melihat satupun pesan yang kau sampaikan melalui potret gambar yang kau ambil, dan karena itu aku tidak menerimamu.” Penjelasan Sharon membuat senyum Jenna menghilang. “Kurasa penjelasanku bisa membuat kau mengerti,” tutup Sharon meninggalkan Jenna yang masih mematung setelah mendengar penjelasan Sharon. Kaysan yang sudah berdiri di samping Jenna dapat mendengar dengan jelas setiap kata yang disampaikan Sharon. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Jenna saat ini. Sakit hati, kesal, kecewa, marah bercampur menjadi satu. “Jenna,” Kaysan memanggil nama Jenna sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Jenna yang masih berdiri kaku menatap kepergian Sharon. Jenna tidak menjawab. Kini Kaysan menepuk pelan pundak Jenna. Barulah gadis itu sadar. Ia menoleh menatap Kaysan yang sedang menatap iba ke arahnya. Meskipun bukan itu yang dirasakan Kaysan. Jenna berjalan ke bangku yang didudukinya tadi untuk mengambil tasnya, lalu segera meninggalkan café tanpa meninggalkan sepatah katapun pada Kaysan. Kaki Kaysan sontak maju selangkah hendak menyusul Jenna, tapi dia tak mampu berkata-kata apalagi menahan Jenna agar tetap tinggal. Kaysan memilih untuk tidak menyusul Jenna, mencoba memberikan waktu tenang bagi gadis itu. Kaysan juga tidak mau terkesan seperti terlalu ikut campur kehidupan Jenna. Terlebih lagi bagi dua orang yang baru bertemu. Orang asing. **** Sudah beberapa hari semenjak Jenna meninggalkan Kaysan begitu saja di Phos Café pagi itu. Bukan karena kesalahan Kaysan, tetapi ia tidak mau Kaysan kembali melihat sisi lemahnya. Jenna bersiap untuk merangkai kenangan baru di hari baru. Berharap hanya hal-hal baik yang akan terjadi padanya. Ia sudah melupakan kejadian yang menyakitkan hatinya di café waktu itu. Ia menepuk lambat kedua pipinya. Menyadarkannya dari berbagai pikiran negatif. Jenna meraih ponsel di atas meja nakas. Hari ini adalah hari temunya dengan Dokter Agnes. Sesuai dengan janjinya dengan Tuan Ali. Suara klakson terdengar dari luar. Nyonya Alina sudah sampai untuk menjemput Jenna. Tentu ini juga permintaan Tuan Ali. Jenna bergegas keluar. “Kau sudah sarapan?” tanya ibunya. Jenna mengangguk pelan. Ibunya menyerngitkan kening tidak percaya. “Sudah, aku sudah makan roti,” ulang Jenna berusaha meyakinkan ibunya. “Sabuk pengamannya.” Nyonya Alina mengingatkan. Hanya butuh waktu dua puluh menit, mereka sampai di tempat praktek Dokter Agnes. Jenna terlihat ragu untuk melangkah memasuki gedung itu. Ia berdiri cukup lama di depan gedung. Ini mengingatkannya pada trauma lama yang sudah lama dilupakannya. Tapi tak ada pilihan kecuali ia ingin menikah saat ini juga. Nyonya Alina mengusap pelan punggung Jenna lalu tersenyum hangat menenangkan Jenna. Jenna menggangguk, meyakinkan diri. Mereka langsung menuju ruangan Dokter Agnes karena Nyonya Alina sudah membuat janji sebelumnya. “Halo Jenna, bagaimana kabarmu?” sapa Dokter Agnes begitu Jenna dan ibunya memasuki ruangan. Mereka saling bersalaman dan bertukar sapa. Tak lama setelahnya Nyonya Alina mengusap pelan punggung Jenna lalu segera keluar dari ruangan. Meninggalkan Jenna dan Dokter Agnes. “Sudah lama sekali ya, padahal aku berharap kita tidak akan bertemu lagi di sini,” kata Dokter Agnes sedikit bercanda. “Apa kau kembali melihat wajah-wajah aneh itu lagi?” tanya Dokter Agnes. Jenna yang sedari tadi sudah duduk di balik meja kerja Dokter Agnes tersenyum ke arahnya, lalu menggeleng. “Dokter, kumohon tolonglah aku!!” pinta Jenna pelan tertunduk lesu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD