“Dokter, kumohon tolonglah aku!” Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Jenna.
Dokter Agnes menegakkan punggungnya, mendengarkan Jenna dengan serius. Dia tahu kalau pasiennya sedang tidak baik-baik saja meskipun Jenna tersenyum padanya.
“Ayah ingin aku segera menikah, aku tak punya pilihan selain pura-pura sakit seperti ini,” jelas Jenna. Dokter Agnes masih menyimak penjelasan putri dari teman yang sudah lama dikenalnya itu. “Kau sendiri juga sudah bilang kalau aku sudah sembuh kan? Tapi sekarang aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.”
“Jadi, kau bersedia menikah? Sudah ada calon?” tanya Dokter Agnes menggiring Jenna.
Jenna kembali menggeleng. “Tolong resepkan saja aku obat apapun, aku akan meminumnya dengan rutin,” jawab Jenna mengalihkan pertanyaan Dokter Agnes.
Dokter Agnes sudah tahu betul bagaimana perangai Jenna semenjak ia duduk di bangku kuliah. Tuntutan dari Tuan Ali, jurusan kuliah yang tidak disukainya, mimpi yang ingin di kejarnya, semua itu membuat Jenna sempat kehilangan kesadarannya. Gadis kecil periang yang dulu di kenalnya berubah menjadi gadis dingin, sama halnya dengan ekspresi wajah datar nan dingin yang ditunjukkan Jenna padanya kini.
Selama hampir dua tahun Jenna meminum obat rutin yang di resepkan Dokter Agnes untuk mengendalikan emosi dan menghilangkan ketakutan Jenna pada wajah-wajah aneh yang selalu muncul entah dari mana. Di dinding, di atap, di jalan, di buku, dimanapun seolah-olah wajah itu mengikuti Jenna kemana-mana. Dokter Agnes mendiagnosa Jenna menderita Pareidolia, yang memungkinkan penderitanya melihat wajah pada suatu objek mati.
“Kau kembali melihat wajah-wajah itu?” Dokter Agnes kembali memastikan kondisi Jenna sebelum meresepkan obat.
“Tidak,” jawabnya.
“Syukurlah kalau begitu, aku akan berikan kau vitamin dan penenang,” ucap Dokter Agnes lega. Sejujurnya ia khawatir kondisi Jenna kembali seperti dulu. Jenna yang tidak bersemangat selalu dibalik selimut, ataukan dia yang bisa menangis seharian tanpa henti. Hal ini jugalah yang dikhawatirkan Nyonya Alina jika Jenna tinggal sendiri.
“Segera beritahu aku jika terjadi sesuatu padamu, mengerti kan?” tegas Dokter Agnes sambil memberikan obat pada Jenna. Tangan Jenna dengan cepat menerima obat itu, lalu bangkit dan pamit meninggalkan ruangan Dokter Agnes.
Nyonya Alina yang sedang menunggu di mobil, melihat putrinya berjalan keluar dari balik pintu utama gedung. Jenna tersenyum pada ibunya.
“Ibu pergilah tanpaku, aku akan jalan-jalan sebentar,” katanya langsung pada Nyonya Alina begitu tiba di dekat mobil. Jenna langsung berlari menjauhi mobil ibunya sambil melambaikan tangan.
“Jenna,” teriak ibunya. Nyonya Alina yang terkejut, terlambat untuk mengejar Jenna yang sudah berlari cukup jauh. Jenna mendekatkan tangannya ke telinga, memberi tahu kalau ia akan menelpon Nyonya Alina nanti.
Cuaca yang tidak terlalu panas membuat Jenna ingin berjalan-jalan barang sebentar saja. Ia menuju taman kota yang ramai. Jenna berjalan pelan menyusuri jalanan yang sudah padat. Ia duduk di salah satu bangku taman. Mengamati siapapun yang lewat di hadapannya, lalu mengeluarkan ponsel. Mencoba mengabadikan setiap momen bahagia yang bisa dilihatnya pada wajah orang-orang yang berdatangan di taman.
Jenna mengarahkan ponselnya pada salah seorang pengunjung yang tidak jauh dari tempatnya. Seorang gadis yang usianya mungkin sekitar awal dua puluhan, dia mengenakan kacamata hitam dan ditemani seekor anjing putih yang setia duduk menemani majikannya.
“Its beautiful world, but you can’t see,” gumam Jenna pelan sambil menekan tombol take pada layar ponsel. Ia tersenyum ketika melihat hasil jepretan yang di ambilnya. Berharap gadis muda itu segera mendapatkan keajaiban, karena perjalanannya masih jauh.
Ketika ia terus mengusap layar ponsel, potret seorang pria membuat tangannya terhenti. Sudah lama ia tidak bertemu Kaysan. Jenna terakhir bertemu Kaysan ketika mereka sedang minum kopi di café pagi itu ditambah dengan Kaysan yang melihat betapa menyedihkannya Jenna pagi itu.
Jenna memperbesar foto Kaysan hingga wajah pria itu terpampang jelas di layar, potongan wajah tegas ketika ia tersenyum manis seperti di foto. Jenna kembali membayangkan pertemuan canggungnya dengan Kaysan.
“Dia tidak akan muncul di sini kan?” kata Jenna sambil mengedarkan pandangannya sejauh ia bisa memandang. Kaysan sangat pandai muncul tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Pria itu bisa saja datang dan menepuk pundak Jenna seperti yang biasa dilakukannya. Tapi Jenna tidak bisa melihat siapapun.
Tidak lama. Jenna mendengus tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. “Apa yang sedang kulakukan?” Ia kembali mengusap layar, namun wajah Kaysan masih terus muncul di layar ponselnya. “Aih, kenapa banyak sekali,” gerutu Jenna. Tangannya bergerak dengan cepat hingga akhirnya ia mematikan ponsel.
Entahlah apa yang dirasakannya saat itu. Sudah lama ia tidak penasaran dengan seseorang, dan itu adalah Kaysan, pria yang baru saja dikenalnya. Selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga mimpinya ditambah penyakit yang selalu mengekorinya.
“Apa yang baru saja kulakukan,” gumam Jenna sekali lagi menyadari tingkahnya yang tidak seperti biasa. Menyesali foto yang baru saja di lihatnya.
****
Tumpukan kertas, album portofolio dan layar komputer masih menyala di depannya.
“Mau ke café depan? Miss Lian ingin mentraktir kita makan, project Liar and Co berjalan lancar,” ajak Monic berbisik di sampingnya.
“Benarkah? Baguslah,” kata Jenna tidak tertarik.
Monic mengangguk. “Mereka bilang fotografernya bagus.”
“Oh ya? Sepertinya kita tidak bisa bekerja sama lagi,” balas Jenna tidak percaya dengan bualan Monic. Bagaimana tidak? Jenna pun sadar dengan tingkat kemampuannya. Ia hanya berharap semoga yang dikatakan monic menjadi kenyataan.
“Sungguh, aku tidak berbohong, tiada gunanya aku bohong padamu,” jelas Monic membenarkan ucapannya. “Ayo makan!” Kali ini monic menarik lengan Jenna agar bangkit dari kursi hidroliknya. Semua anggota timnya sudah berjalan duluan.
“Kau mau apa? Kudengar menu baru mereka enak,” tanya Monic yang diabaikan Jenna.
Gadis itu sibuk memperhatikan seluruh café. Dari semua orang yang mengisi bangku. Jenna hanya bisa melihat Olin yang bertugas di kasir. Ia tidak melihat Kaysan dimanapun. Kini matanya menatap tangga yang berada di sudut ruangan.
“Hei,” tegur Miss Lian. “Pesanlah yang kau mau, waktu istirahat kita tidak banyak,” kata Miss Lian yang melihat Jenna celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang.
Anggota timnya dan Miss Lian tidak tahu kalau Phos Café ini adalah milik pria yang telah menyelamatkan perusahaan mereka sepuluh hari lalu. Jenna tidak memberitahu mereka karena tidak ada yang bertanya. Selain itu, Kaysan memang jarang terlihat di café. Pertemuannya dengan Kaysan waktu itu murni sebuah kebetulan
“Ada yang bisa kubantu?” sapa Olin ramah ketika Jenna sudah sampai di depan Café.
“Caramel macchiato please,” pintanya. Jenna juga bingung kenapa ia memesan minuman itu di siang hari seperti ini.
Olin tersenyum seperti baru saja mendapatkan jackpot. Sepertinya ia mengingat sesuatu. “Bukankah kau yang waktu itu bertemu dengan Kaysan?” Olin bertanya tampak ragu.
Jenna mengangguk sambil tersenyum bingung. “Kaysan tidak di sini, dia tengah berada di Sydney,” celetuk Olin tiba-tiba.
Jenna mengangkat alisnya, ia tidak mengerti kenapa Olin mengatakan hal itu padanya. “Kau terlihat seperti mencari seseorang, dan kupikir kau mencarinya,” tambah Olin sambil menyerahkan Caramel Macchiato milik Jenna sambil cengengesan. “Selamat menikmati,” tutupnya sambil menunjukkan senyuman peling ramah.
Jenna berbalik. Wajahnya masih tampak bingung dan tersenyum simpul.
“Dia di Sydney? Sejak kapan?” gumam Jenna dalam hati. Ia merasa dirinya sudah ditinggalkan oleh Kaysan yang pergi tanpa pamit padanya. Sedangkan tidak ada kewajiban bagi Kaysan untuk mengabarinya. Mereka belum sedekat itu.
“Ah, sudahlah, kenapa aku jadi memikirkannya,” Jenna kembali membatin, menjawab sendiri tanda tanyanya dalam hati.
Jenna kembali ke meja tempat anggota tim dan Miss Lian berkumpul.
“Kenapa lama?” celetuk Monic yang sudah makan lebih dulu. “Jadinya aku makan duluan,” lanjutnya sambil menyuap
Jenna larut dalam topik pembicaraan siang itu hingga ia lupa dengan sesuatu yang mulai menjalari pikirannya.
****