Muti pun berfikir, bahwa ia tipernah menyangka jika ternyata Sandi jatuh hati kepadanya. Tetapi itulah kenyataanya. Dengan perasaan yang dilema antara masih memikirkan Dimas, Muti pun harus mengambil keputusan untuk Sandi.
dak
Walau dengan perasaan berat. Muti berusaha memberikan kesempatan kepada Sandi, karena Kebaikan dan keramahanyalah membuat Muti tidak tega akan mematahkan hatinya. Hati Muti yang telah patah karena seseorang yang ia harapkan kini telah menghilang dan tanpa kabar, Membuat Muti berfikir dan menerima ungkapan Cinta dari Sandi. Walau tanpa ada perasaan suka dihatinya, Muti akan berusaha untuk membuka hati untuk Sandi.
Bagi Mutia Sandi memang pantas untuk di cintai. Dan seiring berjalanya waktu Muti pun sedikit telah bisa membuka hati untuk Sandi. Dan setelah beberapa bulan dari Sandi mengungkapkan perasaanya kepada Muti, akhirnya Sandi pun meminta perwakilan dari orang tuanya untuk datang ke orang tua Muti untuk bertunangan dan segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.
Muti pun terlihat bahagia walau hingga saat ini sebenarnya hatinya belum bisa sepenuhnya mencintai Sandi. Tetapi paling tidak Sandi sangat mencintainya, dan ternyata Muti lebih memilih menikah dengan orang yang mencintai dirinya dari pada dengan orang yang ia cintai namun orang itu tidak memperdulikanya. Perasaanya yang hancur karena tidak ada kelanjutan (Kabar) dari Dimas, membuat Muti semakin berusaha membuka hati untuk Sandi.
Dan beberapa bulan dari pertunangan Muti dengan Sandi telah berlalu, kini acara akad nikah Muti dan Sandi serta resepsi pernikahanya telah tiba. Acara yang sakral dan banyak dihadiri oleh para tamu undangan baik dari rekan-rekan guru Muti dan juga rekan guru dari Sandi yang juga diiringi dengan alunan musik yang menggelegar, membuat suasana terlihat meriah dan syahdu.
Hingga akhirnya acara pernikahan Sandi dan Mutia terdengar di telinga Dimas. Ia sangat terkejut setelah mendengar kabar dari seorang teman yang memposting acara resepsi tersebut. Dan tanpa menunggu lama Dimas mengetahui kabar tersebut, ia pun terus bergegas mengambil izin untuk pergi keacara resepsi pernikahan Muti dan Sandi. Sekaligus Dimas pulang ke rumah ibundanya yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal orang tua Muti.
Dan dengan tidak terasa diperjalanan Dimas pun meneteskan air matanya. Sebagai pelampiasan rasa sakit yang teramat dalam dengan mendengar kabar bahwa wanita yang selama ini ia harapkan dan ia cintai kini telah menjadi milik orang lain. Sembari memutar gas motor besarnya, Dimas pun menyesal dengan penyesalan yang teramat dalam. Mengapa dahulu sewaktu ia akan dipindahkan tugas tidak mengungkapkan perasaanya terlebih dahulu ke Muti. Dan kini semua telah terlambat, Dimas merasa sia-sia dengan perjuangannya selama ini. gadis yang ia impikan hampir setiap saat, kini telah memilih laki-laki lain untuk menjadi mendamping hidupnya.
Dan setelah beberapa jam diperjalanan, tibalah Dimas di rumah sang ibunda, acara resepsi Muti dan Sandi telah hampir usai. Setelah beristirahat sejenak dan mengobrol dengan sang Ibunda Dimas pun terus bergegas menuju tempat atau lokasi resepsi Mutia, yaitu bertempat di halaman rumah Ibunda Muti. Disana Dimas melihat Muti sedang bersanding dengan Sandi lelaki yang berhasil memenangkan hati Muti dan kini telah menjadi suaminya. Dimas pun berusaha menahan perasaanya yang teramat sakit dan hancur itu. Karena semua yang terjadi itu bermula dari kesalahanya sendiri. Jadi Dimas pun berusaha untuk tidak memiliki rasa benci dan dendam terhadap Sandi maupun Muti.
Dan setelah Dimas tiba di halaman rumah Muti, ia pun terus menuju ke tempat pelaminan dimana Sandi dan Mutia sedang duduk berdua. Rasa bersalah, rasa penyesalan Dimas akhirnya tak terbendung sewaktu Dimas berada tepat didepan Mutia. Tanpa berfikir panjang Dimas pun menjulurkan tanganya untuk berjabat tangan dengan Mutia. Dan Muti pun juga menerima juluran tangan dari Dimas tersebut, orang yang telah membuatnya susah jatuh hati kepada Laki-laki lain, termasuk dengan suaminya sendiri yaitu Sandi. Kini orang itu berada tepat dihadapanya, perasaan terkejut dan tidak karuan pun dirasakan oleh Muti. Dan dengan seketika, Dimas memeluk Muti disamping suaminya.
Sandi pun terheran-heran melihat sosok Dimas yang dengan Tiba-tiba berani memeluk istrinya. Sandi pun mulai berfikir, "siapakah gerangan yang dengan seenaknya memeluk istri orang dengan penuh perasaan dan tanpa permisi terlebih dahulu?" Dan setelah selesai memeluk Muti Dimas pun melanjutkan berjabat tangan dengan Sandi dan memperkenalkan dirinya.
"Hai," Ucap Dimas ke Sandi sembari menyodorkan tanganya kepada Sandi. Dan Sandi pun menerimanya. Dengan Dimas memegang erat tangan Sandi, ia berkata kepada Sandi dengan suara yang pelan. "Selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia hingga akhir hayat, jaga Muti baik-baik dan jangan sakiti dia!" Sandi terkejut mendengar ucapan dari Dimas yang agak aneh menurutnya. Namun Sandi tidak merespon apapun tentang ucapan Dimas. Karena bagaimana pun, Sandi juga seorang yang berkepribadian baik, sebagaimana Dimas. Artinya, Sandi pun mempertimbangkan semua kata-kata yang akan ia ucapkan.
Dan setelah Dimas selesai berjabat tangan dan mengucapkan beberapa kalimat kepada Sandi, Dimas pun berpamitan pulang dan beranjak menuju ke pintu keluar area resepsi tersebut. Tetapi Sandi menahan Dimas untuk tidak keluar (Pulang) terlebih dahulu. "Tunggu!" ucap Sandi menghentikan langkah Dimas yang telah sampai di pintu keluar. Mendengar ucapan dari Sandi Dimas pun tersentak berhenti dan berbalik arah kesuara yang memanggilnya. "Duduklah sejenak kawan, walau aqu belum mengenalmu tetapi sepertinya istriku telah kenal baik terhadapmu!"
karena Sandi ingin mengetahui tentang Dimas yang sebenarnya adalah siapa? Mengapa Ia terlihat seperti telah kenal baik dengan Muti?
Dimas pun akhirnya kembali kearah pelaminan dan duduk di kursi yang letaknya dekat dengan Sandi dan Muti. Namun beberapa saat Dimas duduk, Sandi dan Mutia dipanggil oleh sang perias pengantin untuk masuk kedalam ruangan karena sang perias akan segera mengakhiri pekerjaanya. Muti dan Sandi pun permisi terlebih dahulu ke Dimas untuk masuk sebentar. Muti dan Sandi pun meminta Dimas untuk tetap berada ditempat karena setelah Sandi dan Muti selesai melepas pakaian pengantinnya mereka akan segera kembali dan ingin mengobrol bersama Dimas.
Lagi-lagi Dimas hanya bisa pasrah dan menerima permintaan sang kedua mempelai itu. Walau dengan hati yang amat tersayat karena wanita yang ia cintai bertahun-tahun lamanya ternyata tidak dapat ia miliki. Tetapi Dimas menahan semua kesakitan itu. Sebenarnya jiwa Dimas sangat rapuh jika mengenai urusan percintaanya. Tetapi ia telah bertekad untuk kuat demi menghadapi kesalahanya sendiri.
Setelah beberapa menit Muti dan Sandi melepas pakaian pengantinya, akhirnya mereka berdua kini terus beranjak keluar untuk menemui Dimas yang sedang duduk hanya seorang diri. "Hay," ucap Muti ke Dimas dengan kata-kata lembutnya. Namun Dimas hanya bisa membalas senyuman kepada Mutia dan juga Sandi.
Lalu mereka bertiga pun mengobrol dan bercerita satu sama lain. Dan ditengah-tengah obrolan Sandi dengan Dimas, Sandi pun berusaha bertanya tentang persahabatan Dimas dengan Mutia. Dimas pun menjawab apa adanya.
Bahwa ia adalah teman Muti sejak duduk di bangku SMA hingga bangku Universitas dan sampai ia menjadi seorang pendidik (Guru), tetapi karena waktu yang memisahkan mereka, akhirnya Dimas dan Mutia beberapa tahun ini terpisah bahkan hingga hilang kontak. Dimas pun juga bercerita bahwa tempo tahun yang lalu ia sempat kerampokan hanephone dan laptopnya sehingga ia kehilangan kontak Muti dan teman-teman yang lainya.
Oleh sebab itulah Dimas hingga kini ia hilang komunikasi dengan Muti. Sebenarnya Dimas pun sempat pulang kerumah Ibundanya dan bersilaturahmi ke tempat Muti. Namun sayangnya waktu itu Muti dan juga sang Ibu sedang tidak berada di rumah. Akhirnya Dimas pun pulang dengan tangan kosong. Dan baru kali ini Dimas bisa bertemu dengan Muti setelah berpisah sekian tahun lamanya.
Mendengar cerita dari Dimas Muti pun merasa bersalah terhadap dua laki-laki yang kini tengah duduk dihadapannya. Yaitu Sandi yang kini telah menjadi suaminya dan juga Dimas laki-laki yang telah membuat hatinya hampir terkunci untuk laki-laki lain. Jika saja Muti tau tentang kejadian yang sebenarnya terhadap Dimas, ia pasti tidak akan menerima Sandi masuk kedalam hatinya.
Tetapi apalah daya, kini Muti telah menjadi seorang istri, yang artinya ia pun harus siap menerima amanah dan tanggung jawab sebagai seorang istri terhadap suaminya. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Muti pun hanya bisa berpasrah dengan apa yang ada didepanya. Dengan wajah menunduk dan hati yang terluka, Muti pun mengucapkan kata-kata maaf kepada Dimas karena selama ini Muti telah banyak salah dan menyakiti Dimas.
Dimas pun tidak mau menerima ucapan maaf dari Muti, karena bagaimana pun Muti tidak bersalah terhadapnya. Dan ditengah-tengah pembicaraan Muti dengan Dimas Sandi pun bisa menyimpulkan bahwa diantara Muti dan Dimas mungkin pernah terlibat perasaan cinta yang rumit. Tetapi Sandi tidak memperpanjang pembicaraan itu, karena bagaimana pun Sandi lah pemenang dari urusan cinta mereka. Dan karena waktu telah mulai larut, Dimas akhirnya mengakhiri pembicaraanya. Akhir kata dari Dimas yaitu meminta maaf terhadap Muti dan berpelukan dengan Sandi lalu permisi untuk pulang dan kembali ke rumah sang Ibunda.
Satu tahun pun telah berlalu kini Muti dan Sandi telah memiliki momongan dari hasil pernikahanya, yaitu seorang anak laki-laki yang tampan berkulit putih, berbibir merah dan hidung yang mancung mirip sekali dengan Sandi. Pernikahan Sandi dan Mutia kini telah sempurna dengan hadirnya seorang anak yang lahir dari rahim Muti.
Tetapi sayangnya, kebahagiaan Sandi dan Muti tidak berlangsung lama, sang ibu yang tidak menyetujui hubungan Sandi dengan istrinya, ternyata mencari cara untuk bisa menarik anaknya kembali kepelukanya. Dan setelah buah hati Sandi dan Muti berumur genap satu tahun. Sandi pun membuat perayaan ulang tahun untuk anaknya dengan meriah. Sang Ibunda Sandi pun turut hadir dalam acara ulang tahun cucunya itu. Tetapi sayangnya Muti melihat raut muka Ibu mertuanya yang sepertinya tidak suka denganya.
Muti pun berusaha untuk mengintrosfeksi diri, barang kali ada yang salah dengan sikap Muti. Namun Muti tidak menemukan letak sesuatu (kesalahan) yang Ibu mertuanya tidak suka darinya. Namun Muti tidak mempermasalahkan semua itu. Dan setelah acara selesai Ibu Sandi pun meminta Sandi untuk mengantarkanya pulang ke rumah.
Sandi pun menuruti apa yang diperintahkan oleh sang ibunda. Dan karena Sandi adalah seorang pengabdi Negara, ia pun tidak mau semena-mena dengan tugasnya. Dengan arti Sandi tidak bisa menginap di rumah ibundanya. Dan Setelah Sandi sampai di rumah sang ibu, Sandi pun hanya istirahat sejenak dan terus melanjutkan perjalanan pulang kembali kerumah Muti. Dan setelah beberapa hari berada di rumah, ke esokan harinya Sandi mendapat kabar dari ibunya, bahwa ia harus segera pulang karena sang ibunda tengah sakit. Sandi pun tanpa berfikir panjang ia terus berunding dengan Muti untuk pulang kerumah sang Ibu. Muti pun menyetujui akan hal itu, bahkan Muti juga turut ikut pulang bersama sang suami ke tempat orang tua Sandi. Setelah mengambil izin Sandi dan Mutia pun terus bergegas berangkat ketempat sang ibunda.