Berprofesi ASN

1048 Words
Dimana beliau (Bapak Hanafi Irawan) ditempatkan tugas walau diberbagai penjuru desa pun selalu membawa harum atau baik untuk nama sekolah tersebut. Jadi banyak sekali rekan-rekan dari para guru yang merasa kehilangan akan sosok seorang kepala sekolah seperti ayahanda Muti yaitu bapak Hanafi Irawan M.p.d. Pesan terakhir dari ayah Mutiara yaitu bapak Hanafi Irawan sebelum menghadap illahi, ia menginginkan Muti dan semua anak-anaknya supaya saling menjaga satu sama lain. Terutama pesan itu ditujukan kepada anak sulungnya yaitu kakak pertama Mutia yang bernama Dandi. Kakak pertama Muti pun menyanggupi akan permintaan sang ayahanda tersebut sebelum beliau pergi menghadap illahi. Satu tahun pun telah berlalu dari kepergian ayah Muti hingga sekarang. Mutia perlahan mulai menata hidupnya karena saat ini ia harus hidup mandiri dan tanpa ada lagi sosok sang ayah disampingnya. Kini Muti memiliki kesamaan dengan Dimas, yaitu sama-sama telah kehilangan seorang ayah yang sangat mereka sayangi dan mereka banggakan. Mungkin kalau bagi Dimas telah terbiasa hidup hanya dengan satu orang tua saja. Tetapi bagi Muti semua ini suatu perjuangan baginya. Namun apalah daya, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya kematian. Muti pun berusaha bangkit dari kesedihanya dan mulai metata masa depanya. Karena bagaimana pun kini Muti harus bisa berdiri atas kakikinya sendiri, tanpa ada bantuan lagi dari sang ayah. Muti dan Dimas pun kini semakin terlihat kompak saja, satu dengan yang lainya dalam mendidik anak-anak dikelasnya. Hingga dikemudian hari Dimas mendapat surat perintah untuk dipindahkan tugas dilain daerah dan diangkat menjadi kepala sekolah disana. Dimas pun turut senang dan juga sedih menerima perintah tersebut. Karena disisi lain ia harus berpisah dengan sang ibunda tercinta dan juga Mutiara Hanafi, gadis yang mualsi ia cinatai. Namun disatu sisi ia mendapat kenaikan jabatan yaitu sebagai kepala sekolah. Yang artinya kesuksesannya pun kini mulai melonjak tinggi. Dan setelah berunding dengan ibundanya alhasil ibu Dimas pun memberikan izin kapada Dimas untuk pindah tugas dan pindah tempat tinggal juga. Sebenarnya hati kecil ibu Dimas merasa keberatan akan ditinggal oleh sang anak, karena melihat keadaanya yang saat ini sudah tidak bersuami. Dan artinya jika Dimas meninggalkan ibunya yang pasti Ibu Dimas pun akan tinggal dirumah seorang diri. Tetapi semua itu telah menjadi risiko dari cita-cita Dimas menjadi seorang ASN yang harus siap untuk dipindahkan tugas demi pengabdiannya terhadap negara. Jadi ibu Dimas harus rela mengalah demi untuk kesuksesan dan kemajuan karir anaknya. Dan kini diam-diam Dimas tengah mulai berani untuk memperlihatkan perasaanya ke Mutia, tetapi sangat disangkan Dimas belum mampu untuk mengungkapkan isi hatinya terhadap Muti. Dan hingga perpisahan itu terjadi Dimas pun belum juga memberitahukan tentang perasaanya ke Mutiara. Yang artinya Mutiara pun tidak mengetahui bahwa Dimas memiliki perasaan terhadapnya. Sebenarnya hati kecil Muti pun mulai berharap kepada Dimas. Namun sayangnya Dimas masih teguh dengan pendirianya, karena Dimas masih ingin menjalankan tugasnya terlebih dahulu baru setelah itu ia akan mengejar pujaan hatinya. Bulan demi bulan pun telah Dimas lalui menjabat sebagai seorang kepala sekolah disebuah sekolah dasar yang sangat jauh dari tempat tinggal orang tuanya itu. Dan Dimas tinggal hanya seorang diri disana disebuah kos kosan yang cukup nyaman untuk ditempati. Pada suatu hari tempat kosan Dimas kemasukan orang yang berakhlak buruk hingga hanpon dan laptop Dimas pun hilang (Ra'ib) dibawa oleh orang tersebut. Dan Waktu itu sedang berada di kamar mandi. Padahal semua pintu telah terkunci, tapi Tau-tau setelah ia selesai mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah, Tiba-tiba hanephone dan laptopnya sudah tidak ada. Dimas pun langsung duduk di kursi dan tubuhnya terasa lemas dengan seketika. Karena didalam laptop dan hanephone tersebut terdapat banyak File-file yang ia simpan disana. Termasuk Kenangan-kenangan bersama Muti sewaktu masih bersama dahulu. Kini semua itu telah hilang. Dengan hilangnya hanephone dan laptopnya, Dimas pun tidak bisa lagi berkomunikasi dengan Muti dan juga keluarganya. Akhirnya beberapa bulan dan bahkan tahun Dimas pun hilang kontak dengan Muti. Dan Muti pun kini mulai berfikir mengapa tidak ada kabar lagi dari Dimas. Hari-hari Muti bagaikan ada yang hilang dengan tanpa adanya kabar dan komunikasi dari Dimas. Kini rupa-rupanya Mutia ada yang mendekati yaitu bernama Sandi Permana. Dia adalah tenaga didik baru di Sekolah Dasar Negeri srindang wangi yang dimana Mutia juga mengajar disana. Sandi adalah seorang kepala sekolah yang dipindahkan tugas di sekolah dasar tersebut. Ia juga masih berstatus perjaka sebagaimana Dimas. Sandi mempunyai postur tubuh yang gagah perkasa dan disegani oleh banyak orang. Di sekolah dasar negeri srindang wangi tersebut Sandi pun turut merangkul kesemua Rekan-rekan didik yang lainya, guna untuk mempererat pertemanan diantara mereka, termasuk dengan Mutiara. Sejak pertama bertemu dan berkenalan dengan Muti Sandi pun merasakan ada getaran di hatinya. Sandi merasa Mutia berbeda dengan teman-teman wanita yang lainya. Dari situlah Sandi perlahan mendekati Muti untuk mengetahui lebih jauh tentang jati diri seorang Muti. Dan akhirnya Sandi tahu bahwa Mutia masih menyandang status gadis ( Girl). Sandi pun terlihat lebih semangat lagi untuk mendekati Mutia dan hingga Sandi tidak bisa jauh dan lepas dari Mutia. Karena Muti memang Benar-benar sosok gadis impian Sandi, dengan jabatanya sebagai kepala sekolah Sandi pun lebih mudah mengambil kesempatan untuk bertemu dan Berbincang-bincang dengan Muti. Akhirnya Sandi memberanikan diri untuk bermain ketempat Mutiara dan menemui orang tua Muti yaitu ibunda Muti. Dan Sandi pun Rupa-rupanya ia pintar sekali dalam mengambil hati orang tua Muti. Hingga Sandi pun mendapatkan tanggapan positip dan lampu hijau dari bunda Mutia. Dan setelah cukup lama Ibu Muti berbicara dengan Sandi, beliau pun mempersilahkan Sandi untuk mengobrol dengan anaknya yaitu Mutia. Ibu Muti yang telah tua itu berharap semoga anak bungsunya segera mendapatkan lelaki pilihan hatinya. Dan ternyata Muti pun mempunyai kecocokan dalam pola fikir dengan Sandi. Akhirnya dari kecocokan itu Sandi dan Mutia pun semakin sering bertemu mengobrol berdua baik urusan sekolah maupun hal-hal lainya. Kini dua tahun telah Sandi lalui bertugas menjabat sebagai kepala sekolah di SDN Srindang wangi. Ternyata ia Benar-benar merasa yakin akan perasaanya terhadap Mutia. Hingga pada suatu hari ditengah jam istirahat, Sandi pun berusaha mencari kesempatan ke Muti dengan mengajaknya pergi keluar untuk mengungkapkan perasaanya. Waktu yang singkat dan padat, disebuah rumah makan yang sederhana namun sangat nyaman tempatnya, karena disamping rumah tersebut terdapat Pohon-pohon yang besar dan sejuk. Disitulah Sandi menyatakan perasaanya ke Mutia. Dengan waktu yang cepat dan sedikit Sandi pun akhirnya berhasil dalam menyatakan perasaanya ke Muti. Namun anehnya walaupun Muti meresa ada kecocokan dengan Sandi dalam berfikir, tetapi Muti tidak merasa ada getaran cinta didalam hatinya untuk Sandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD