Ajakan kencan

1423 Words
"Aku harus mencari pekerjaan, Anna. Aku ingin hidup mandiri,” ucapku pada Anna pagi itu di kampus. “Kenapa kau tiba-tiba ingin bekerja? Apa kau benar-benar serius dengan ucapanmu itu, Selena?” Anna menatapku heran, ia terlihat ragu dengan ucapanku. “Ya, tentu saja aku serius. Aku tak mau hidupku tergantung dengan ayah tiriku yang tak bermoral itu!” aku mengumpat dengan ekspresi wajah kesal. “Apa dia masih sering membawa wanita?” Anna bertanya penasaran. “Bahkan kini hampir setiap malam! Dan suara mereka seperti sengaja agar membuatku gila!” aku mengumpat kembali merasa emosi. “Baiklah, baiklah aku mengerti. Aku sendiri tak menyangka jika model sekelas Nickollas Stanley adalah seorang casanova, jika aku tak mendengar cerita langsung darimu,” ujar Anna. “Buat apa wajah rupawan tapi berakhlak buruk!” komentarku pedas. “Kita berpikir positif saja, Selena. Aku pernah mendengar jika setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk melampiaskan emosi dan rasa duka mereka. Mungkin ayah tirimu melakukannya karena dia merasa frustasi atas dukanya karena kehilangan seorang istri, yaitu ibumu sendiri,” Anna menganalisis. Aku mendengus, dan tersenyum sinis, “Berkencan dengan banyak wanita dan bercinta saat ibuku baru saja meninggal apa itu disebut duka, Anna?! Astaga, yang benar saja!” tukasku. “Yach, aku hanya mencoba berpikir dengan sudut pandang lain,” Anna menyahut dengan senyuman kaku. “Hey, kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya serius sekali,” tegur seseorang mengejutkanku dan Anna. “Edward?” panggilku cukup terkejut dengan kehadirannya, dengan gaya cueknya ia ikut duduk bersama dengan kami, masih di area lingkungan kampus. “Bolehkah aku bergabung? Aku tidak mengganggu kalian, kan?” Edward memamerkan senyum terbaiknya padaku. “Ah, tentu saja tidak! Justru kami senang kau ada di sini,” Anna menyahut cepat, ekspresi wajahnya begitu bersemangat, ia menunjukkan kode agar aku tidak menolak kehadiran Edward. “Kau tidak ada kelas?” aku bertanya sedikit basa-basi pada pria tampan yang merupakan salah satu idola di kampus kami. “Saat ini tidak, karena itu sambil menunggu kelasku, aku ingin bergabung dengan kalian. Kau tidak keberatan ‘kan, Selena?” pria bernama lengkap Edward Collins itu menyahut santai dan aku menjawabnya dengan anggukan. “Haduh, aku baru ingat! Sepertinya ada yang ketinggalan tadi di kampus! Aku tinggal sebentar ya, kalian berdua mengobrollah dengan santai.” Seperti dengan cepat membaca situasi Anna langsung beralasan pergi membuatku sedikit memprotes dengan sikapnya, yang seperti ingin memberikan banyak ruang agar aku dan Edward berbincang hanya berdua. “Dia memang selalu ceroboh!” gerutuku sedikit salah tingkah. Bagaimana tidak, pria yang kini duduk bersamaku ini adalah Edward Collins, seorang mahasiswa senior yang populer di kampusku ini. Tak hanya tampan, ia juga siswa yang cerdas dan dari golongan berada. Sudah berapa kali ia mencoba menyapaku, namun aku berusaha menghindarinya dengan alasan tidak ingin menjadi bahan gosip para mahasiswa di kampusku ini. “Aku senang akhirnya bisa mengobrol dengan nyaman seperti ini bersamamu, Selena Mclouis. Aku berharap kau juga tak merasa canggung saat bersama denganku hanya karena aku adalah seniormu di sini,” ucap Edward memulai. “Ah, ya. Maaf jika sikapku tidak bersahabat sebelumnya denganmu, Edward,” aku menyahut dengan senyuman canggung. “Tidak apa-apa, aku bisa mengerti itu,” balas Edward. Ia berdehem dan kemudian melanjutkan kembali ucapannya. “Hmm, begini. Aku tak mau basa-basi. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam, apakah kau mau? Tidak perlu buru-buru. Aku akan menunggumu sampai kau bisa. Jika kau sudah ada waktu untukku, kita bisa pergi bersama untuk makan malam, bagaimana? Apakah kau mau?” ajak Edward mengejutkanku. Cukup lama aku berpikir dalam kebimbangan hingga akhirnya aku pun menjawab, “Sepertinya malam ini aku bisa makan malam denganmu,” kataku pada pemuda yang berdiri tepat di hadapanku. Dia tersenyum simpul mendengar jawaban dariku, apalagi saat mata teduhnya yang menyorotkan kedamaian. Entah kenapa aku menyukai mata teduhnya. Walaupun selama ini aku tak pernah begitu memperhatikannya. “Malam ini? Kau yakin, Selena?” tanya Edward, dia mungkin menanyakan itu karena dia ingin diyakinkan, padahal aku memang sudah yakin bahwa aku setuju dengan ajakannya. Salah satu alasan terbesarku untuk menerima ajakannya adalah aku tidak mau melihat ayah tiriku yang selalu tidur dengan jal*ng yang berbeda setiap malamnya. “Tentu aku yakin, Edward. Apa kau ragu dengan jawabanku?” tanyaku padanya. “Well, aku merasa sedikit ragu dengan jawaban itu, tapi terima kasih sudah menjawabnya sesuai dengan harapanku,” ujarnya seperti tak berani menatap mataku secara langsung, tapi kenapa? “Apa yang membuatmu ragu, Edward?” tanyaku lagi padanya. Dia mengangkat pandangannya dan terlihat mencari-cari jawaban di atas kepalanya, seperti berharap dia mendapatkan jawaban terbaiknya. “Hmm ... Aku hanya tidak suka terlalu overthinking, aku pikir kau tidak akan mau menerima ajakanku,” ucapnya dengan suara lembut. Aku tersenyum mendengar pengakuannya bahwa dia terlalu overthinking tentangku. Ya, mungkin banyak yang akan overthinking tentangku, aku bisa memahaminya karena memang selama ini aku selalu menjaga jarak dengan siapa pun di kampus ini, selain hanya dengan Anna. “Hey, maaf kalian jadi menungguku di sini.” Anna tiba-tiba muncul dan memecahkan keheningan yang sempat ada di antara aku dan Edward. “Apakah kalian mau nonton? Aku dengar ada film yang bagus malam ini, tayang di bioskop. Bagaimana kalau kita nonton bersama?” kata Anna padaku, dia mengajak kami. “Sayangnya Anna, aku tidak bisa. Sebab malam ini aku ada janji dengan orang lain untuk jalan-jalan dan makan malam hari ini,” Edward berkata hati-hati. Anna menyipitkan matanya terlihat tidak yakin, “Wah, benarkah? Sepertinya ada yang akan berkencan malam ini.” Anna melirik sekilas seraya tersenyum penuh arti padaku, dan aku bisa menebak apa isi di dalam kepalanya sekarang. Mata Edward seketika mengarah padaku dan Anna langsung menoleh padaku, dia langsung bisa menebak siapa yang dimaksud oleh Edward. Ya, mulutnya menganga dan matanya sedikit bulat, dia seakan tidak percaya, dan aku hanya tersenyum padanya. “Well well, sepertinya akan ada kabar baik sebentar lagi.” Matanya membulat dan dia menganga besar, lalu tersenyum senang padaku dan Edward. “Ayolah Anna, jangan terlalu ....” aku tak sempat melanjutkan ucapanku karena Anna lebih dulu menyelanya. “Baiklah-baiklah, aku tahu itu,” Anna tak berhenti tersenyum membuatku menjadi semakin salah tingkah. … Aku baru saja selesai bersiap malam itu untuk pergi bersama Edward. Aku melangkah turun ke lantai bawah, dan tak aku temukan siapa pun di sana. Nickollas tak ada di rumah, pria menyebalkan itu pergi. Rumah besar ini yang awalnya hanya ditinggali aku dan Mom terasa sepi. Lebih tepatnya seperti tanpa kehidupan lagi. Aku kembali mengingat saat masih ada Mom bersamaku. Jika aku akan pergi Mom selalu mengingatku untuk menjaga diri dan sesekali menghubungiku, tapi sekarang tidak ada lagi yang menghubungiku lagi seperti sebelumnya, karena Mom sudah tidak bersamaku lagi. Yang ada hanyalah pria super model tidak tahu diri di rumah besar Mom. Di mataku dia adalah pria menyebalkan yang tak pantas untuk aku hormati. “Selena, kau tidak apa-apa pergi malam ini bersamaku?” tanya Edward saat dia datang untuk pertama kalinya menjemputku di rumah. “Tentu saja tidak apa-apa, Edward.” Aku tersenyum meyakinkan. Dia membuka pintu mobil. “Seperti yang dikatakan Anna, kita akan menonton, lalu makan malam, dan aku akan mengantarkanmu pulang, sebelum jam dua belas malam. Cinderella?” tutur Edward memamerkan senyum terbaiknya padaku. Aku menoleh dan tersenyum karena dia memanggilku dengan sebutan Cinderella. Itu cukup manis untuk sebuah permulaan. “Baik Pangeran, terima kasih. Aku akan senang hati menikmatinya,” jawabku. Edward mengangguk, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya. Kami pun menuju ke bioskop, menonton film terbaru di sana. Ini adalah pengalamanku menonton bioskop untuk pertama kali bersama dengan pria. Aku pikir ini akan menyenangkan, karena saat ini aku bersama seorang idola di kampusku yang banyak digilai para wanita di sana, tapi entah kenapa bagiku ini tidak terlalu menyenangkan. Perbincangan dengan Edward terlalu kaku, dan saat makan malam kami berbincang hal yang biasa saja. Menceritakan film yang sama sekali tidak begitu bagus. Tapi aku hargai usaha Edward yang berusaha membuat aku senang. “Aku antar kau pulang, Selena,” ucap Edward sambil membuka pintu mobil untukku saat kami selesai makan malam bersama. “Terima kasih untuk malamnya, Edward,” ucapku tulus. “Sama-sama. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Selena Mclouis,” ujarnya seraya tersenyum menghangatkan. Dan tak lama kemudian, kami sampai di rumahku, hanya sampai jam sebelas malam. Dan saat masuk aku tidak lagi menemukan suara aneh di kamar Nickollas dengan wanita jalangnya. Karena sekarang Nickollas berdiri di hadapanku tepat saat aku baru saja masuk ke dalam rumah. Tatapannya begitu tajam dan menusuk membuatku membeku seketika. Dengan sikapnya yang mengintimidasi, Nickollas berkata, “Siapa pria yang bersamamu tadi?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD