“Apa maksudmu menanyakan hal itu?” Aku mengernyit dan tak tahu apa maksudnya menanyakan itu padaku.
“Kau hanya menjawab pertanyaan simpel yang aku berikan padamu, Selena. Kenapa begitu sulit? Sekarang jawab siapa pria itu tadi?” tanyanya sekali lagi dengan nada penuh penekanan.
Aku merasa kesal dan bingung kenapa Nickollas harus menanyakan hal itu? Toh, dia hanya ayah tiri yang tidak berguna di hadapanku.
“Kau tak punya hak untuk bertanya hal itu padaku. Sekali pun aku pergi dan tidak pulang selama beberapa hari, kau tidak punya hak untuk tahu semua tentangku, ke mana aku pergi dan kenapa aku tidak pulang? Memang kau siapa, Tuan Ayah Tiri!” Aku mendongak menatap tubuhnya yang jangkung dan atletis. Dia dikenal sebagai super model tampan yang tiada saing. Siapa yang akan menyangka kalau dia begitu jahat dan kejam terhadap ibuku. Ingin sekali aku memukul dan memberikan dia satu tinju di wajahnya, biar pria di hadapanku ini tahu rasa.
“Well, anak tiriku yang kecil, jawab saja pertanyaan yang aku berikan, tidak usah bertele-tele seperti itu!” Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya dan berdiri tegak, terlihat siap menyergap jika aku tidak memberikan jawaban yang dia inginkan.
“Tidak!” Aku dengan tegas. Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang dia tanyakan padaku. Dia pun melangkah dengan lambat ke arahku. Aku mundur pelan, hingga tubuhku bersandar di tempat pintu rumah.
“Jangan mendekat!” Aku mendongak dan tubuhku terlalu kecil untuk melawan.
Dia menghentikan langkahnya tepat saat tubuhku bersandar di pintu. Dia dengan berani mengangkat tangannya dan menyentuh daguku, aku mengernyit dan tidak terima. Aku hentakkan wajahku pelan dan menjauhi jemarinya yang saat itu menyentuh daguku.
“Berani sekali kau menyentuhku!” umpatku kesal.
Dia malah menyunggingkan senyum seram yang membuatku ingin menamparnya, tanganku mengepal dan aku akan memukulinya jika dia tak menjatuhkan tangannya itu dari daguku.
“Dengar gadis kecil, anak tiriku yang manis. Aku tidak ingin kau pulang malam lagi, apalagi diantar oleh seorang pria asing yang tak aku ketahui siapa. Karena aku tidak mau jika kau bergaul sembarangan tanpa pengawasan!” Nickollas memperingati.
Ucapannya membingungkan, apa maksudnya? Sejak kapan ia peduli padaku seperti ini? Lucu sekali!
“Apa maksudmu mengatakan itu, kenapa mengatakan larangan padaku? Kenapa bersikap seolah-olah kau peduli?” Aku menatapnya tajam dan dia membalas tatapan tajam yang aku berikan.
“Aku diamanahkan oleh ibumu untuk menjagamu. Walau aku melakukan sesuatu yang tidak kau sukai, tetap saja aku akan menjagamu. Tidak hanya itu, kau tidak bisa memiliki pacar karena Ibumu melarangmu dan tak ingin membiarkanmu memiliki pacar sampai usaimu setidaknya dua puluh dua tahun. Kau harus ingat itu, Selena Mclouis!”
Aku mendengus kesal, entah kenapa dia terlihat begitu menyebalkan dengan sikap sok pedulinya sekarang. Dia bahkan dengan berani mengingat tentang Ibuku, padahal selama ini dia abai pada semuanya.
“Dan ya, aku ingin sampaikan, mulai besok kau jangan keluar rumah setelah pulang dari kampus, karena akan ada pesta kecil-kecilan di sini. Ingat, jangan membantah!”
…
Aku baru saja pulang dari kampus sore itu. Aku merasa tidak enak pada Edward yang tidak aku izinkan untuk mengantarku pulang dari kampus hari ini. Astaga, aku menganggap perkataan dari ayah tiriku secara serius, padahal aku sama sekali tak takut padanya, tapi kenapa aku harus mendengarkannya?
Sesampainya di rumah, di sana aku menemukan satu dari wanita Nickollas yang bernama Nola, ia terlihat angkuh dan sok memiliki rumah. Sedangkan beberapa orang lainnya yang tak aku kenal tampak sibuk melakukan persiapan. Aku mengabaikan mereka, dan tetap berjalan ke tangga yang menuju kamar tidurku. Tapi suara seseorang terdengar di telingaku.
“Lihat si gadis kecil itu, dia seolah tidak menganggap kita di sini.” Dia berkacak pinggang saat aku menoleh ke arahnya.
Aku melangkah lincah turun dari tangga dan berhenti tepat di hadapannya. Aku juga bisa melakukan apa yang dia lakukan, kacak pinggang dengan berani menatap wanita ramping yang sama sekali tidak seksi di mataku ini. Sikapnya itu begitu angkuh dan berlagak sok di depanku. Dia pikir dirinya siapa? Menganggap dirinya sangat cantik? Dasar jal*ng!
“Siapa kau untuk aku anggap? Memangnya kau orang penting? Orang penting seperti apa?” balasku dengan berani menatapnya tajam.
“Hei, sejak kapan si gadis kecil ini berani berkata seperti ini. Astaga, apa Ibumu tak pernah mengajarimu cara berbicara dengan orang yang lebih tua?”
“Jangan menyebut nama Ibuku! Kau berkacalah dengan dirimu itu! Apa kau sangat berharap mendapatkan uang dan kekayaanku dengan menjadi jalang Nickollas yang tidak tahu diri!” makiku emosi.
“Kau ... Kau berani sekali mengatakan itu padaku?!” Kedua mata wanita itu melotot merasa tak terima.
“Tentu aku berani! Siapa pun akan berani melawan wanita tidak tahu diri sepertimu!”
Plak!
Wanita itu menamparku, beraninya dia menamparku! Wajahku tersentak dan aku mengelus lembut pipi kananku.
“Nola!” Suara dari Nickollas terdengar dan dia berlari ke arah kami, “Nola apa yang kau lakukan padanya?” Nickollas terlihat kesal dengan aksi dari wanitanya itu.
“Kau membawa wanita tak tahu diri ini dan melarangku melakukan hal yang aku inginkan! Dasar kalian semua brengs*k!” Aku menatap ke arah Nickollas dengan tajam dan mengacungkan jari tengahku padanya. Lalu, aku berjalan dan pergi dengan mata berkaca-kaca. Merasa marah telah mendapatkan tamparan dari seorang perempuan tidak tahu diri.
Saat aku melangkah dan menjauh, aku masih mendengar suara Nickollas yang berkata, “Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa begitu kasar?! Aku membawamu ke sini bukan menjadi sok berani pada gadis itu!”
Aku mendengar ucapan itu dan aku berusaha mengabaikan kepedulian itu. Aku masuk ke dalam kamarku dan menangis terisak karena merasa marah, dan juga merindukan Mom. Ini pertama kalinya aku mendapatkan perbuatan buruk dari orang yang sangat buruk.
“Mom, hiks!” Aku terisak menangis menumpahkan segala emosi yang aku rasakan.
Hingga saat sore berganti malam, aku menengok ke arah jendela, mobil-mobil mewah sudah muncul dan masuk memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Hatiku merasa tergerak untuk mengikuti pestanya tapi aku tidak begitu yakin dengan itu. Aku bangkit lalu mencari gaun terbaikku, tanpa sengaja aku menemukan gaun kesukaan milik Mom yang membuatnya terlihat cantik setiap saat.
Aku menggunakan gaun warna merah itu, dan merasa membuat tubuhku tampak elegan. Aku pun bersiap-siap, merias wajahku dengan caraku sendiri. Aku melihat pantulan diriku di dalam cermin dan merasakan bahwa aku memang memiliki kemiripan dengan Mom yang cantik. Setelah selesai, aku keluar dari kamar, berjalan anggun dan berusaha menarik perhatian para tamu, dan memang benar adanya. Seseorang datang padaku dan berkata, “Ingin berdansa denganku, Nona Muda?”