Chapter 9

2158 Words
Arhan membuka pintu kantor ayahnya, Ari selalu lupa waktu jika sudah bergelut dengan berkas-berkas yang menurut Arhan adalah sampah. Ari mendongak sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya, "ada apa?" Arhan berjalan mendekati kursi di depan ayahnya, duduk menyaksikan Ari yang mengabaikannya. "Ada apa?" Ulang Ari merasakan Arhan menatap kearahnya. "Punya pacar" Ari langsung mendongak, "apa?" "Aku punya pacar" Ari terdiam menatap dalam anaknya, tangannya menutup map dan menurunkan kacamatanya. Memposisikan dirinya sebagai teman curhat bagi Arhan. "Aku takut" Ari tersenyum, "jadilah pria dewasa Arhan, jangan kalah sama rambut kamu yang melebihi telinga." "Kisah cintamu terakhir kali nggak berjalan mulus karena kamu yang egois sendiri. Dan emosian" Ari mengangguk pelan, "maaf gen ayah terlalu kuat" "Lalu langkah kamu selanjutnya mau apa? Bersikap kasar kah atau berubah lebih hangat? Ayah nggak mau liat kamu dipasang jarum lagi" Ari menggeleng kepalanya, putranya sungguh merasa sangat kehilangan hingga melakukan hal bodoh. "Dia harus terbiasa dengan sikapku. Aku nggak mau berubah demi dia, males banget" "Tapi dia bisa aja nyerah dan ninggalin kamu" Arhan terdiam mendengarnya, ya, Layla bisa pergi kapan saja saat kesabarannya habis dan Arhan tidak bisa memastikan respon apa yang akan dia tunjukan terhadapnya. "Siapa namanya?" "Layla" Ari mengangguk mengerti, "ajak dia ke sini" "Ngapain?" "Ya kenalin ke ayah dong Han, dimana otakmu?" Arhan mendengus kesal, "nggak mau, nanti ayah naksir" "He! Sembarangan, selera ayah sama kamu itu beda" "Iya lah! Harus!" Ari tersenyum hangat, tangannya menepuk tangan Arhan pelan. "Ayah tau kamu benci ibu tapi nggak seharusnya kamu benci semua cewek apa lagi dia pacar kamu" Arhan menunduk memainkan jempolnya menarik nafasnya dalam-dalam, tidak! Dia tidak bisa seperti ini. "Ayah tau kamu rapuh Han, jangan seperti ini. Ayah tau kamu kangen ibu kan?" "Maafin ayah yang nggak bisa pertahanin itu semua, maafin ayah. Ayah yakin Layla bisa membimbing kamu dengan baik. Kasih kepercayaan kepadanya dan jangan terlalu posessif nak" "Aku nggak mau dia deketan sama siapapun ayah. Aku nggak suka" Ayah menganggukan kepalanya, "mungkin Layla juga menyukai sikap itu, tapi ayah pesan jangan terlalu kasar dengannya apa lagi main fisik. Jangan pernah memukulnya, berikan ancaman aja nanti juga dia ngerti. Paham?" Arhan mengangguk, dia juga tidak mau Layla pergi begitu saja. Bagaimanapun, Arhan sudah menyayanginya dan dia tidak mau berjauhan dengannya. "Ayah mau nikah?" Ari terbatuk mendengar pertanyaan tiba-tiba dari anaknya, "Arhan?!" Arhan tertawa pelan lalu kembali datar, "aku nggak suka ada orang baru di rumah ini." Ari menghela nafasnya mengelus d**a, "ayah pikir kamu maksa ayah buat nikah lagi. Tenang aja, ayah nggak mau nikah kecuali terpaksa" "Maksudmu?! ayah bermain dengan wanita lain?!" Ari terdiam menatap Arhan dengan cengirannya yang menyebalkan menurut Arhan. "Ayah!" "Nggak, becanda" Ari tertawa melihatnya, dia tidak mungkin mengecewakan Arhan untuk kedua kalinya atau untuk kesekian kalinya. Sudah cukup baginya untuk menerima itu semua. Karena kesalahannya Arhan tidak lengkap karena tidak ada kehadiran seorang ibu. "Ayah" "Hmm?" "Tetap seperti ini." Arhan menundukan pandangannya, "aku nggak tau kapan aku akan berubah. Menjadi lebih baik akan menyenangkan tapi kalau berubah menjadi lebih buruk--" "Hei hei!" Ari beranjak dan menarik Arhan untuk dipeluknya, "Layla bisa membantumu nak. Percaya dengannya" Arhan mengangguk mengiyakan, Ari tersenyum. Mereka yang tidak mengenal Arhan pasti menilainya dengan buruk. Ari mengerti. "Bawa dia" Arhan kembali mengangguk, "kalau dia mau" "Pasti mau karena kamu memaksanya" Arhan lagi-lagi mengangguk, "benar" *** Layla berjalan diiringi tatapan yang selalu menusuk kearahnya, sudah terbiasa untuk belakangan ini karena dia adalah kekasih sang singa sekolah. "La!" Layla menengok dan menghentikan langkahnya menunggu langkah Windi yang mendekat, "tante Ara udah dateng?" Layla menggeleng menarik Windi untuk duduk di tempatnya, "gue belum dapet kabar dari dia lagi. Gue nggak punya nomornya" Windi mengangguk mengerti, "lo abis jalan ya?" "Iya, tadi kan jalan nggak lari" "Bukan itu maksud gue!" "Lah? Terus?" "Lo abis jalan sama Arhan" "Ooh lo tau darimana?" Windi mengangkat bahunya acuh, "semua orang tau tentang itu, dan lo tau Vira nggak suka lo jadi pacar Arhan" "Vira?" Windi mengangguk, "cewek yang berani deketin Arhan" "Oh gue inget. Biarin aja lah, semua orang punya hak buat nggak suka sesuatu." Windi menyenggol siku Layla melihat Arhan yang sudah ada di sekitar kelasnya. Kedatangannya membuat semua mata berpusat kearahnya. Masih dengan rambut gondrongnya dan juga rahangnya yang tajam. Arhan berjalan dengan keren, tangan kanannya menenteng kotak bekal dan tangan kirinya botol minum. "Makan!" Layla mengerjap begitu pula Windi yang sudah membuka mulutnya sedikit. Arhan memberikan Layla sarapan? Tidak salah? Sejak kapan? Arhan menatapnya datar, "makan." Ulangnya membuat Layla mengangguk pelan. Tangannya menahan Arhan ketika lelaki itu berbalik pergi. "Lo udah makan?" Arhan mengangguk singkat, "itu dari nenek." "Nenek?" "Pulang sekolah ikut gue." "Kemana?" "Nggak usah banyak tanya!" Sungut Arhan menghentakan tangannya dan berjalan menjauh. Layla hanya bisa menghela nafasnya, dia harus sabar menghadapi Arhan karena dia sudah diberi peringatan dari Arhan. Windi mengambil kotak bekalnya dan mengintip isinya, "nasi goreng" gumamnya. Layla menepak lengan Windi, "jangan ngintip, nanti mata lo timbilan!" Windi berdecih, "gue udah tau." Windi menyangga wajahnya menatap kearah Layla dengan sirat perhatian. "Lo seneng?" Layla menengok lalu mengangguk pelan, Windi ikut tersenyum tangannya menepuk kepala Layla. "Gapapa kalo lo seneng La, gue setuju aja lo sama Arhan. Meskipun kadang-kadang tuh cowok main tangan" "Gue nggak mau lo kayak dulu lagi. Murung nggak jelas, tiba-tiba nangis, terus ngunci diri di kamar. Gue nggak mau lihat lo seperti itu" gumam Windi sambil terus menatap ke arah Layla. Layla tersenyum, hatinya menghangat tangannya melebar dan memberikan Windi pelukannya, "gue beruntung punya sahabat kayak lo Win, makasih" Windi menepuk punggungnya pelan, "gue nggak bisa biarin sobat gue disakitin cowok b******k kayak Fairus. Setidaknya Arhan bisa jaga lo La" *** Arhan menarik tangan Layla pelan, genggamannya masih menyatu sedari kelas Layla. Lelaki ini menunggunya seperti pertama kali, mengejutkan Layla dan juga Windi. Semua mata mencuri pandang kearahnya, tidak diragukan lagi jika itu adalah tatapan tidak suka. Mungkin karena penampilannya yang b***k? Berbeda jauh dengan Arhan yang tinggi dan juga tampan. Terkadang Layla insecure dengan dirinya sendiri, tidak secantik perempuan lain namun Arhan memilih dirinya. Windi sering menasehatinya jika di dalam dirinya pasti ada kecantikan yang tidak bisa dilihat orang lain namun bisa dirasakan. Layla orang yang tenang dan juga dia bisa menjadi teman curhat yang enak diajak ngobrol. Sebenarnya Layla punya banyak teman, hanya saja Layla membatasi dirinya untuk menganggap mereka temannya. Tidak ada yang bisa dipercaya kecuali Windi. Orang yang tau seluk beluknya, masalah hidupnya. "Mau pesen apa?" Layla mendongak menanyakan menu apa yang akan dimakan Arhan, dia belum duduk dan sekalian memesan makanan. Arhan menariknya duduk membuat Layla mengerjap bingung, biasanya Arhan menyuruhnya untuk memesankan makanan meskipun dia tidak mau. "Kenapa?" Arhan menggeleng, tangannya kembali menggenggam Layla. Tidak mau berjauhan dengannya sejengkalpun. Yuda yang sudah memesankan makanan untuk ketiga orang itu menunjukan senyumannya. Arhan mengerjakan apa yang sudah dia ucapkan. Arhan harus dibekali pemikiran yang dewasa dan tentunya harus diterima oleh tempramennya. Yuda mengerti Arhan takut kehilangan seseorang lagi. Sangat takut, dan dia berhasil mempengaruhi tempramennya. Windi menusuk-nusuk lengan berototnya, "Arhan kerasukan?" tanya Windi ketika perhatian Yuda untuknya. Yuda mendengus geli, "emang kenapa?" "Kayaknya dia baik banget hari ini, ini juga udah dipesenin" "Gue yang pesen makanan" Windi menengok menatapnya lalu melihat ke piring miliknya, hanya nasi putih dan juga oreg goreng. Porsinya juga sangat pas untuknya. Windi kembali menatap Yuda yang sudah menyantap makanannya. Ah! Mungkin Yuda mengatakan menu biasa dari seorang Windi yang tidak suka sayur-sayuran dan juga tidak suka pedas. Mendapatkan pemikiran seperti itu membuat Windi mengangkat bahunya acuh. "Enak?" Tanya Yuda tiba-tiba. Windi menengok lalu mengangguk pelan tanpa mengucapkan kata. Yuda tersenyum, "lo nggak mau tau gimana gue tau porsi makan lo apa lagi lauk yang lo suka?" "Paling lo bilang ke bunda kantin tentang pesenan gue yang selalu itu-itu aja" jawabnya enteng dan dibalas gelengan Yuda. "Salah?" Yuda mengangguk, "gue nggak bilang kalo itu buat lo." "Gue cari tau sendiri makanan yang biasa lo makan di kantin dan apa yang bisa buat lo alergi. Dan gue punya jawabannya." Yuda menunjukan cengirannya, "lo gila?" "Gampang cari tau itu mah, tinggal nanya bunda kantin juga bisa kali" lanjut Windi menganggap enteng perjuangan Yuda yang tidak kepikiran untuk menanyakan ke bunda kantin. "Gue nggak nanya ke bunda kantin" "Terus? Nggak ada yang tau lagi selain dia" "Gue tanya ke Azzam" Windi langsung menengok dan melototkan matanya, "LO GILA?!" teriak Windi. Arhan dan Layla menengok begitu pula mereka yang duduk tidak jauh dari mereka, Windi menutup bibirnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Yuda membisikan sesuatu. "Lo gila?!" "Gue nggak gila. Dia kan sobat lo, nggak masalah lah kalo gue nanya ke dia kan" "Nggak ada adu tonjok kan?" "Nggak tenang aja, cuma tendangan doang" "Tendangan?! Doang?!" Yuda tersenyum tangannya mengarahkan sendok dari tangan Windi menuju ke arah mulutnya, menyuapinya, "gue juga suka menu makanan ini, jadi suapin gue." Windi mengernyitkan alisnya melirik semua orang yang juga mendengar ucapan Yuda namun berpura-pura b***k. Aaaa Meski ragu Windi menyuapi Yuda dengan pelan, matanya melirik Layla dan juga Arhan yang sedari tadi menyaksikannya. Windi menunjukan senyuman salah tingkahnya berbanding terbalik dengan Layla yang tersenyum menggoda Windi. "Yuda suka Windi?" Tanya Layla pelan menengok ke arah Arhan. Arhan menatapnya lembut membuat debaran di jantungnya meningkat, Layla senang dengan tatapan Arhan seperti ini. Arhan tidak menjawab, tangannya terangkat mengusap kepala Layla lembut. Ada apa dengan Arhan? Layla suka tapi merasa aneh juga. "Lepas kacamata lo" "Ha?" Arhan menarik kacamata Layla pelan lalu beralih menarik kunciran Layla, diacaknya pelan. Arhan melihat penampilannya lalu mengangguk. "Kita setara." "Ha?" Layla belum mengerti apa maksud ucapan Arhan, Arhan menunjuk Layla kepada mereka yang kini terpusat melihat ke arahnya. Windi tersenyum lebar, ini yang diinginkannya sejak dulu. Layla meneguk salivanya gugup kepalanya menunduk tidak percaya diri. Dia takut mereka akan mengejeknya. Arhan mengangkat dagunya, "kenapa? Lo itu cantik" Arhan tersenyum singkat, "percaya dirilah sedikit, lo cantik" Layla menatapnya ragu, dia tidak mungkin dengan cepat menerima penampilan barunya. Layla termasuk orang yang mudah terpengaruh atau sensitif, jika ada yang mengucapkan tidak suka dengan penampilannya maka dia akan terus menunduk atau menutupinya dengan masker. Tidak peduli Windi yang memaksanya untuk berani menghadapi mereka. Arhan menarik sudut bibir Layla menyuruhnya untuk tersenyum, "cantik" Layla tersenyum singkat membenarkan rambutnya yang tertiup angin, "lo bisa ngeliat tanpa kacamata kan?" Layla mengangguk, "lepas kacamata lo, gue nggak suka!" "Tapi--" Arhan kembali menatap ke depan membuat ucapan Layla terpotong dan hanya bisa menghela nafasnya saja. "Baiklah" Arhan hanya meliriknya. Arhan bermaksud baik untuk merubah penampilan Layla yang sedikit kuno. Dia menangkap bisikan disekitar mereka yang menilai Layla jelek dan membandingkan dirinya tidak pantas bersanding dengan Arhan. Dia tidak terima dengan hal itu, Layla itu cantik karena dia pernah melihat penampilan Layla tanpa kacamata dan juga rambutnya yang digerai. *** Layla menatap rumah besar ini dengan pandangan yang sedikit takjup. Arhan menarik tangannya pelan menuju ke dalam rumah. Mata Layla kembali menjelajahi isi ruangan besar ini, bulu kuduknya berdiri melihat koleksi wayang dan juga lukisan. Dia merasakan auranya berbeda namun tenang, Layla suka dengan auranya. "Nek" Layla menghentikan langkahnya melihat wanita paruh baya yang berjalan mendekatinya, senyuman tipis terlihat dari bibirnya. Nenek meneliti tampilan Layla, "ini pacar kamu?" Arhan mengangguk satu kali, "cantik yang ini daripada yang itu" celetuk nenek menarik Layla mendekat. Nenek mengusap kepala Layla dan tersenyum, "nenek menyukainya, kamu jangan main kasar sama dia!" Arhan mendengus kasar, "itu hak aku mau kasar atau nggak." Balasnya berjalan ke kamarnya. Nenek kembali menarik Layla untuk duduk, "maafin Arhan ya kalo dia pernah kasar sama kamu" "Iya nek" Lalu nenek mengajaknya mengobrol, nenek menyukai kesopanan Layla. Pembawaannya yang tenang dan juga dia menyukai kecantikan Layla. "Kamu cantik" Layla tertawa pelan, "nggak nek, saya nggak cantik sama sekali. Nenek yang cantik dengan bibir semerah cabai" Nenek tertawa mendengarnya, itu ucapan sarkastik tapi dengan tatapan polos Layla. "Apa yang kamu sukai dari Arhan?" Layla menatap mata nenek dengan bingung, apa yang dia sukai? "Ayo pulang." ajak Arhan langsung. "Eh tunggu! Tunggu!" cegah nenek "Nenek nggak ngizinin dia pulang Arhan" "Nek" "Diam! Nenek mau dia di sini." Arhan mendengus mendengarnya, matanya melirik Layla sebentar yang bingung harus melakukan apa. "Dia lagi nggak enak badan nek" Nenek memeriksa suhu tubuh Layla yang memang terlalu hangat untuk orang yang sehat. "Baiklah" Arhan langsung menggenggam tangan Layla dan menariknya tanpa berpamitan. "Layla pulang ya nek" pamit Layla meskipun dengan kaki yang melangkah. *** Layla menatap genggaman Arhan yang tidak ingin melepaskannya barang sedetikpun. Layla berpura-pura mau melepaskannya dan Arhan langsung mendelik tidak suka. "Jangan lepas." Layla hanya bisa tersenyum bahagia, untuk pertama kali dalam seumur hidup dia merasakan apa itu kehangatan dihatinya. Layla kembali mengangkat tangannya namun Arhan kembali berdecak kesal, "Layla" Layla tertawa pelan, "keringetan lho, lepas dulu" "Nggak!" "Oke" Lagi dan lagi Layla menahan senyumnya, tangannya selalu digenggam Arhan. "Nggak ganggu? Lo lagi nyetir Han" "Berisik!" "Bahaya ah!" Arhan langsung meminggirkan mobilnya kala Layla berhasil melepaskan genggaman itu. Tangannya menarik wajah Layla untuk mendekat. "Tangan lo milik gue." Ucapnya tajam. "Terserah gue mau apain tangan lo Layla, kalau gue ngerasa keganggu gue nggak bakal ngelakuin hal ini. Ngerti lo?" Layla meneguk salivanya lalu mengangguk pelan, ingatkan Layla jika kehangatan Arhan masih terselip dengan kesetanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD