Kedua pasang kaki itu memasuki rumah sederhana namun mewah, Arhan datang tepat waktu bahkan lelaki itu sempat bersantai dulu di ruang tamu Layla.
"Nek"
Nenek yang sedang melipat bajunya menengok tersenyum singkat matanya melirik wajah datar Arhan yang sedang mengawasi sekitar.
"Sama siapa?" tanya nya penasaran.
"Temen."
Arhan menengok begitu saja mendengar ucapan Layla, "pacar."
"Iya pacar" koreksi Layla.
"Ada apa?" tanya Layla langsung pada intinya.
Nenek merogoh sesuatu dan dia memberikan Layla sepucuk surat berwarna merah muda.
Layla menerimanyan "Dari siapa?"
"Kamu bisa baca nanti. Siapa namanya?" tanya nenek masih penasaran.
"Arhan" Layla menyenggol sikunya menyuruhnya untuk bersalaman.
Arhan mengerti dan langsung menyalami nenek, "saya Arhan, pacar Layla"
Nenek mengangguk, "ya udah nek kita sekolah dulu"
Nenek mengangguk, matanya tidak lepas dari Arhan. Wanita tua ini tertarik dengannya.
***
Layla menghela nafasnya pelan melihat semua tatapan tajam tertuju kearahnya. Resiko jika berdekatan dengan Arhan, sekasar apapun Arhan tetap saja dia memiliki banyak penggemar. Seperti sekarang ini.
"Kenapa?" tanya Windi meliriknya.
Layla memperbaiki kacamatanya dan menggeleng merespon Windi, "gue denger lo berangkat bareng?" tanya Windi lagi.
Layla mengangguk, "secepet itu ya berita nyebar"
Windi mengangguk, "apa lagi ini Arhan. Dia kasar tapi juga ganteng"
Layla memicingkan matanya, "lo suka?"
Windi menggeleng, tangannya tidak berhenti memakan cemilan.
"Mending Yuda"
Layla mengangguk menyomot makanan di tangan Windi, "gue berasa jadi teroris, kemana-mana diliatin mulu. Apa gue cantik?"
Windi mengernyit aneh mendengarnya, tidak biasanya Layla berbicara seperti itu.
"Lo mau terlihat cantik?"
"Gue gini aja jadi pusat perhatian apa lagi kalo cantik"
"Ck, lo diliatin tajem bukan dipuji"
"Ya tetep aja kan mereka ngeliatin gue"
"Yaya terserah!"
Layla mengangguk pelan, "gue mau cerita"
"Apaan"
"Gue ke rumah nenek"
Windi menegakan tubuhnya mendengar hal itu, "mau ngapain? Nyuruh lo tinggal di sana lagi?"
Layla menggeleng, "gue ke sana bareng Arhan"
"What?!"
Layla mengangguk mengiyakan, "iya"
"Gila lo, udah seberapa deket?!"
Layla mengangkat bahunya, "gue nganggep dia pacar"
"What?!"
Layla membekap mulut Windi yang semakin kencang berseru, "jangan keras-keras juga kali!"
"Maaf-maaf, gue hanya kaget. Lo bener-bener La"
"Apa? Gue nggak boleh pacaran sama dia?"
"Bukan-- bukan gitu maksud gue. Gimana lo bisa naklukin Arhan njir! Gue pasti yakin, mereka lagi ngomongin lo yang nggak-nggak"
"Biarin lah, gue jadi famous mendadak"
"Gimana caranya?! Lo belum jawab!"
"Cara apaan?"
"Kenapa lo bisa mau sama dia? Bukan bukan! Maksud gue kenapa Arhan bisa sama lo La?! Secarakan cowok itu kasar dan lo pernah di cekik, gila lo! Gimana bisa jatuh cinta?!"
Layla menyembunyikan wajahnya mendengar ucapan Windi yang terdengar keras.
"La, jangan malu. Ngomong aja"
"Gue malu karena lo Win, liat sekitar lo."
Windi melirik semua siswa siswi yang menatap ke arahnya tajam, "apa?!" Sembur Windi.
"Galak banget lo" Layla tertawa pelan.
"La jawab pertanyaan gue! Gimana lo bisa naklukin tuh cowok?"
Layla mengangkat bahunya saja, "sabar."
Windi mengangguk-angguk mengerti, "Kalo gue jadi lo, gue nggak akan sabar La"
"Lo mah emosian, gimana mau sabar"
Windi menunjukan cengirannya, "bawaan"
Lalu keduanya tidak berbicara, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Oh iya! Gimana lo udah pikirin yang kemarin?" seru Layla mengingat sesuatu.
"Tentang apa?"
"Azzam"
Mata Windi melebar membekap mulut Layla yang asal nyablak.
"Dia punya pacar kali La, kita emang sahabatan aja nggak lebih. Sekali lagi lo bilang dia punya rasa sama gue, gue gibeng juga!"
Layla hanya menganggukan kepalanya, mulutnya masih dibekap Windi.
"Tau darimana dia punya pacar?"
Windi mengangkat bahunya, "dia sering curhat. Lagian lo pemikiran darimana kayak gitu, nggak logis banget"
"Lho? Logis lah! Secarakan lo sama dia itu udah sangat dekat, gue pikir lo sama dia ada rasa diantara persahabatan kalian. Seringnya tuh ya sahabatan antara cowok dan cewek itu nggak real, maksudnya salah satunya pasti punya rasa sama sahabatnya ini. Mungkin aja lo sama dia kan, mana gue tau"
Windi menggeleng tertawa pelan, "ogah gue jadian sama dia."
Layla mengangguk saja menanggapi, Windi menatap Layla lama. Matanya tersirat maksud yang mendalam.
"Lo yakin?"
"Apa?"
"Mencintai temperamen Arhan?"
Layla mengangguk pasti, "dia nggak sekasar itu Win"
Windi mengangguk masih menatap Layla, "lo kenapa sih? Kenapa natep gue kayak gitu?" tanya Layla tidak nyaman.
Windi menghela nafasnya, "mending jangan deh La. Gue ngerasa nggak enak kalo lo pacaran sama dia"
"Kenapa?"
"Dia itu banyak yang deketin La, gue takut lo jadi korban bullying. Gue nggak mau"
"Dan gue denger Arhan punya cewek lain di hatinya" lanjut Windi asal.
Layla tercenung, punya cewek lain tapi kenapa kemarin Arhan bilang dia orang pertama di hatinya? Apakah Arhan berbohong?
Windi menggenggam tangan Layla, "jangan terlalu jauh La, gue nggak mau liat lo nangis."
Layla tersenyum, "sejak kapan gue nangis gara-gara cowok?"
Windi mengangguk, "mungkin aja sekarang beda"
"Gue tetep Layla yang sama, orang yang sama Win. Lo nggak perlu khawatir, gue bisa jaga hati gue" ujar Layla meyakinkan.
"Lo ceroboh La! Gimana gue nggak khawatir? Lo juga terus kena PHP, lo terlalu percaya sama omongan cowok yang baru aja lo kenal."
"Lo mau ngulangin lagi kayak kemarin-kemarin? Sampe lo nggak mau sekolah? Iya?!"
Layla memilin jemarinya, mendengar omelan Windi membuatnya sadar. Dia sering tersakiti karena dia mudah percaya dan yang lebih berbahaya, dia mudah sayang.
"Intinya gue nggak akan bisa terima kalau lo disakiti sama tuh cowok!"
Layla lagi-lagi hanya mengangguk, Windi menghela nafasnya kasar. Dia jadi emosi karena sikap ceroboh sahabat nya ini yang terlalu baik sama semua orang tanpa memikirkan balasan apa yang akan mereka kasih.
Windi menengok ketika seseorang duduk di sampingnya dengan cepat.
"Ngapain?" tanya Windi melihat Yuda dengan air mineral nya.
"Duduk." jawabnya singkat.
Mata Windi memutar malas, "Gue nggak buta! Tumben lo nggak bareng Arhan? Lagi marahan?"
Yuda menengok menatapnya, "kita ini cowok bukan cewek yang gampang marahan kalau ada masalah kecil,"
Windi berdecih, "Gue tau lo sering marahan sama dia. Buktinya sekarang lo sendirian ke kantin,"
Yuda menyentil kening Windi, "dia lagi ada rapat sama OSIS, jangan sok tau"
Windi cemberut mengusap keningnya, "tumben lo mau duduk sama gue? Biasanya juga lo duduk sendirian kalau nggak sama Arhan,"
"Suka-suka gue lah."
Windi lagi-lagi dibuat kesal olehnya, Windi duduk menjauh dan memberikan jarak sedikit jauh dan mengode Layla mengikutinya.
"Mau kemana?" tanya Yuda mencekal tangan Windi.
"Suka-suka gue lah!" angkuh Windi mengibaskan rambut panjangnya dan menarik Layla pergi.
Yuda terkekeh pelan melihatnya pergi, gadis yang lucu dan juga berani. Yuda jatuh hati kepadanya entah sejak kapan.