Suasana begitu ramai, terlihat Layla yang bolak balik melayani semua pelanggan yang tiba-tiba membeludak.
Tidak biasa tempat ini ramai namun Layla bersyukur, semakin banyak pembeli semakin besar tip untuknya.
Ibu Kira menepuk bahu Layla, senyuman ibu Kira tidak lepas dari wajahnya dan di sampingnya sudah ada seseorang yang sangat ingin ibu Kira kenalkan dengan Layla.
"La, tolong layanin dia" ujarnya.
Layla menengok lalu melirik seseorang yang di bawa si pemilik rumah makan ini.
"Ehm-- saya lagi layanin bapak ini bu"
"Oh gapapa, biar yang lainnya aja" ujar si bapak.
Layla mengangguk dan mengikuti perintah bu Kira, bu Kira menyentuh bahu lelaki itu lalu meninggalkannya.
Layla mengambil piring dan melayaninya dengan baik.
"kamu masih sekolah?" tanya lelaki itu.
Layla menengok lalu kembali mengangguk, "mau makan apa?" tanya balik Layla mengabaikan pertanyaannya.
"Saya nggak mau makan, cuma mau ngobrol sama kamu"
"He?" Layla menengok sepenuhnya.
Layla menatapnya bingung, "kalau mau ngobrol nanti aja ya, warungnya lagi ramai soalnya." ucap Layla kembali menaruh piring yang sudah ada sesendok nasi itu.
Dia menggeleng menahan tangan Layla cepat, Layla terkejut langsung melepasnya.
"Maaf, saya nggak ganggu kamu kok. Saya keponakan ibu Kira" ucapnya mengenalkan dirinya.
Layla sedikit melebarkan matanya, lelaki itu merogoh saku celananya dan memberikan Layla permen.
"Saya liat kamu dari tadi, istirahatlah sebentar. Saya liat si Maryam baru datang"
Layla melirik semua orang yang sibuk dengan makanannya lalu kembali menatap dia, "saya nggak enakan sama ibu Kira, dia lagi ngelayanin masa saya ngobrol. Nanti aja ya kak, saya mau kerja dulu" ujar Layla akan meninggalkannya.
Lelaki itu kembali menahan tangannya, "kalo gitu layanin saya"
"Katanya nggak mau makan?"
"Dipikir-pikir lagi saya laper"
Layla hanya mengangguk mengambilkan makanan untuknya, "saya Niko"
Layla meliriknya, "saya Layla"
Niko menyangga dagunya menyaksikan ketelatenan Layla saat melayaninya.
Otaknya berputar dan membayangkan bagaimana jika Layla menjadi istrinya, tidak diragukan lagi bibirnya menyunggingkan senyuman.
Brak
Layla menengok begitu pula semua orang, Arhan datang dengan wajah merah padamnya.
"Arhan" panggil Layla pelan meninggalkan piring yang sudah ada isinya itu.
Arhan memberikan senyuman sinisnya menatap tajam Niko, "lo nggak bisa deketin pacar gue"
Niko berdiri melirik Layla yang sudah berdiri diantaranya menahan d**a Arhan.
"Han, kita keluar" ajaknya menarik tangan Arhan.
Arhan mengangguk pelan mengikuti tarikan Layla, bahunya menabrak tubuh Niko kasar.
"Kamu gapapa Ko?" tanya ibu Kira.
"Pacar Layla?" tanya ibu Kira lagi.
Niko mengangguk dan memberikan senyumannya.
"Kamu yakin mau deketin dia? Dia udah punya pacar nak,"
"Aku yakin bu, jangan khawatir. Bukannya Layla juga mantu idaman ibu?"
Ibu Kira terkekeh malu, "Kamu ngomong apa sih? Ibu jadi malu,"
Layla menyilang tangannya menatap galak Arhan, "lo kenapa ke sini Arhan? Gue lagi kerja"
"Gue nggak suka tatapan dia. Lo nggak sadar dia suka sama lo?!"
Layla menghela nafasnya melirik semua orang yang ada di dalam sana, celemeknya masih dia pakai.
Tangannya kembali menarik Arhan menjauhi tempat itu, "Arhan, gue nggak peduli dia suka gue atau nggak yang gue pikirin sekarang gue dapet banyak gaji buat makan dan sekolah"
"Jangan egois, gue juga butuh ruang buat diri gue sendiri. Gue nggak ngerespon dia sama sekali, ngertiin lah" jelas Layla menatapnya memohon.
Arhan melunakan wajahnya, "gue nggak suka milik gue dipandang cowo lain"
"Dia punya mata Arhan, ayolah!"
"Gue nggak bisa diem."
"Terus lo mau apa? Pantengin gue mulu gitu?"
Arhan mengangguk enteng, "lo gila?!"
Dia mengangkat bahunya acuh, "gue nggak suka lo diliatin banyak orang"
"Tapi--"
"Nggak ada bantahan"
"Han"
"Sana kerja lagi. Gue ngawasin lo dari depan sana"
Arhan menunjuk warung kopi di seberang jalan, "jangan macem-macem karena gue terus ngawasin lo." Peringat Arhan lalu melangkah pergi.
"Tunggu."
Arhan kembali ke tempatnya, "lo udah makan?"
Arhan terdiam mendengar pertanyaan itu, gadis ini selalu menanyakannya.
"Belum"
"Makan dulu, gue layanin."
Layla kembali menariknya masuk, Arhan tidak membantah mengikuti langkah pacarnya ini.
Arhan menatap tajam Niko yang sedang makan, lelaki dewasa itu menatapnya juga.
"Duduk! Jangan buat keributan!" Peringat Layla galak diangguki Arhan.
Layla menghela nafasnya lalu menengok ke arah ibu Kira yang sedari tadi menatap ke arahnya, "maaf bu, tadi sempet ganggu"
"Dia pacar kamu?"
Layla tersenyum tipis lalu mengangguk pelan, "sayang sekali, padahal ibu mau jomblangin kamu sama Niko"
"Ha?"
Ibu Kira menggeleng lalu menepuk bahu Layla pelan, "layanin dia dengan baik"
Layla mengangguk, "makasih bu"
***
"Makasih" ucap Layla setelah sampai di rumahnya.
Arhan menahan tangannya, "besok gue jemput"
Layla menggeleng menyentuh tangan Arhan yang mencekalnya, "Nggak usah, gue mau ke rumah nenek dulu"
"Gue antar"
Layla menatap mata Arhan, "gue nggak suka bantahan." ucap Arhan datar.
Layla mengangguk lesuh, "tapi harus berangkat pagi"
"Nggak masalah. Subuh gue udah di depan rumah lo"
"Nggak subuh juga kali, setengah enam pagian aja. Nggak jauh dari sini"
"Nanti telat, sarapan dulu"
"Jam lima aja deh ya, gue juga nyuci baju dulu"
Arhan mengangguk dan melepaskan tangannya, "tidur yang nyenyak, dan gue harap lo mimpiin gue"
"Ngarep banget" gumam Layla terdengar oleh Arhan.
Arhan menatapnya datar, "becanda" ujar Layla ketika melihat tatapan Arhan.
"Lo hati-hati. Jangan ngebut" lanjutnya.
Arhan mengangguk, tangannya terulur. Layla melihat uluran tangan itu, apa? Dia bingung sekarang.
"Uang bensin?"
Arhan menggeleng, "cium tangan, biar pacarannya berkah"
Layla tertawa pelan, "lo aneh-aneh aja" Layla menuruti permintaan Arhan untuk mencium tangannya.
"Berkah Allah"
Layla menatapnya, kenapa Arhan menjadi seperti ini?
"Gue masuk dulu" izin nya.
Arhan mengangguk, menurunkan kaca mobilnya lalu tersenyum melambaikan tangannya.
Layla mengangguk membalas senyuman Arhan. Ada yang aneh, Arhan bersikap lembut dan sedikit romantis?
Layla menggeleng kepalanya, lalu memasuki rumahnya. Ini sudah sangat larut dan besok dia harus ke rumah nenek karena nenek memintanya datang.
Layla tidak mau tinggal bersamanya karena neneknya sering mengucapkan k********r dan sering main tangan. Lebih baik dia tinggal seorang diri daripada tertekan batin.
***
Ibu Kira menghela nafasnya memperhatikan tubuh Niko yang kini berdiri di balkon rumah memandang langit malam. Ibu Kira tau Niko memikirkan Layla.
Ibu Kira mengusap bahunya, "apa yang kamu pikirkan nak?" tanya ibu Kira lembut.
Niko menghela nafasnya, "Aku nggak mau harus menyerah sebelum berjuang bu,"
Ibu Kira memberikan senyumannya, "kalau kamu serius dengannya, apapun yang terjadi kamu harus siap dan jangan menyerah. Walaupun hatimu merasa sakit suatu saat pasti itu akan tergantikan nak, entah itu karena orang lain ataupun Layla sendiri. Percaya sama semuanya nak dan terus istiqomah, Layla pasti bisa kamu miliki." ucap Ibu Kira memberikan semangat untuk putranya yang sedang jatuh cinta ini.
Niko terus bertanya semua tentang Layla, sejak Layla bekerja di sana Niko sudah tertarik untuk mengenalnya namun ternyata Layla sudah memiliki gandengan membuat hatinya bimbang. Apakah dia akan menyerah atau terus berjuang?