Chapter 3

1201 Words
    Empat laki-laki berseragam putih abu-abu mengobrol tidak tentu arah. Candaan mereka memenuhi langit-langit kafe bernuangsa krem ini. Di jam sekolah seperti ini, mereka memilih membolos dan menghabiskan waktu di kafe yang menjadi tempat paling aman untuk nongkrong. Sepasang saudara kembar—Emo dan Eno—yang berkulit cokelat kehitaman tampak lebih mencolok. Giginya yang putih bersih adalah salah satu aset terpenting dari tubuh mereka. Bambang—atlet sepak takraw—merapikan rambut jenggernya.     Berbeda dengan ketiga temannya yang saling menghina, Ravin memilih menatap pintu masuk. Ia berharap Olly muncul dibalik pintu dan menyambutnya dengan senyuman manis. Seminggu berlalu semenjak kejadian memalukan di kafe ini, Ravin tidak lagi melihat Olly. Gadis itu hilang bagaikan ditelan bumi. Padahal, Ravin ingin sekali berkenalan dengan Olly.     “Vin, mata lo kenapa liat pintu terus?” Bambang bertanya sambil mengoleskan pomade di rambut agar jengger ayamnya semakin terlihat.     “Pengen ketemu cewek cantik yang kemaren kali.” Emo menyeletuk.     “Bulu onta kepatil cewek SMP!” Bambang berteriak sambil menunjuk-nunjuk Ravin. Jengger rambut berdiri kokoh di kepalanya.     “Lo beneran suka cewek itu, Vin? Masih SMP, loh. Gak malu lo?” Eno ikut mengkompori perdebatan di antara mereka.     “Emang kenapa kalo gue suka sama dia? Gak ada yang salah, kan? Lo juga gak rugi.” Ravin menyesap cappuccino yang ia pesan tadi. Setelah memicu keributan yang dahsyat, laki-laki itu akhirnya memilih cappuccino sebagai minumannya.     “a***y, bulu onta jatuh cinta!” Emo berteriak antusias. Sangking senangnya, cairan bening keluar dari mulutnya dan berubah menjadi meteor.     “Busyet! Muncrat, malih!” Ravin meraup mukanya yang basah karena air liur Emo.     Bambang menggeser kursinya menjauh dari Ravin. “Hiii! Jijik! Jauh-jauh lo dari gue, jangan sampe gue kena semburan naga juga!”     Melihat Bambang yang ketakutan, membuat Ravin tersenyum jahil. Ia menyembur yang berujung air ludahnya keluar ke mana-mana. Bambang semakin pontang-panting menghindari Ravin dan api ajaib yang menyembur dari congornya yang bau. Bukan hanya Bambang yang jijik, Emo dan Eno juga ngacir ke setiap sudut kafe. Mereka berlarian seperti menghindari api sungguhan. Tangan Bambang, Emo, dan Eno saling melayang-layang meraih apapun untuk dijadikan tameng agar terhindar dari tembakan maut Ravin. Lagi-lagi, kafe ini ribut karena ulah laki-laki berparas cina.     “RAVIN!” ***     Olly menatap sendu wanita paruh baya yang umurnya setengah abad lebih. Berbagai alat bantu pernapsan menempel di tubuh yang tidak berdaya itu. Seluruh kesedihan melingkupi dunia kecil Olly. Hatinya tidak henti melangitkan doa. Harapan dari semua harapan yang ia inginkan adalah melihat Monika kembali sembuh. Ia ingin melihat senyum tulus ibunya. Ia ingin merasakan usapan penuh kasih sayang ibunya. Ia ingin bersama Monika. Selamanya.     Sebuah air mata meluncur dari sudut matanya yang indah. Seminggu ini, Olly menghabisakan waktu di rumah sakit. Semenjak Monika menginap di ruangan serba putih ini, keadaannya semakin memburuk. Menarik napas saja terlihat sangat berat dan sulit, bagaimana jika berdiri? Olly yakin, Monika memerlukan tenaga yang banyak untuk melakukan itu.     “Bunda, cepat sembuh, ya? Olly kangen Bunda.” Gadis berambut panjang itu menggenggam tangan Monika. Cairan bening bergerumul di pelupuk mata Olly. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk terjatuh. “Bunda harus bertahan sampe Olly dewasa. Bunda harus liat Olly nikah dan membangun kelurga yang bahagia.”     Monika bergeming. Tidak ada pergerakan dan perkembangan. Olly tidak tahu kapan ibunya sadar dari koma.     d**a Olly terguncang hebat. Sesak semakin mendesak hatinya yang rapuh. Monika adalah sumber kehidupannya. Ia tidak tega melihat wanita yang melahirkannya terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit.     “Olly .. Olly .. sayang Bunda.” Tangisan Olly semakin kencang. Air bercucuran semakin deras membentuk sungai di pipinya. Pusat dunianya meredup. Suaranya semakin parau. “Bunda .. jangan pergi. Jangan tinggalin Olly sendirian. Bunda .. Olly mohon.”     Di balik pintu, Izza—kakak Olly—membekap mulutnya agar tidak bersuara. Tangisnya pecah seiring tangisan pilu adiknya. Menangis dalam diam dan tanpa suara adalah hal yang sangat sulit ia lakukan, namun, demi adiknya, ia harus melakukannya. Izza harus kuat untuk dirinya sendiri dan Olly. Izza ingat, Dokter Radhi mengatakan umur Monika tidak lama lagi. Tidak ada yang lebih berharga dari Monika dan Olly. Jika Tuhan berniat mengambil Monika, bagaimana ia mengarungi dunia yang keras ini? Bagaimana ia bertahan di depan Olly? Bagaimana ia menyakinkan adiknya bahwa semua akan baik-baik saja, padahal kenyataanya tidak begitu?     Tubuh Izza merosot di balik pintu. Tangisan Olly sayup-sayup terdengar menyakitkan. Seluruh pertahanan Izza hancur. Hatinya runtuh bersama sesak yang tidak kunjung hilang. Kenyataan menamparnya lebih kuat dan kencang.     “Tuhan .. jangan ambil Bunda.” Tangisan Izza semakin menjadi. ***     Izza berjalan lesu di lorong rumah sakit. Ia adalah seorang pengecut. Ia tidak berani bertemu Olly dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Air matanya mengalir tanpa hanti. Hatinya dihujam oleh ribuan pisau. Rasanya sakit.     Langkah Izza berhenti di taman rumah sakit. Ia mendongak. Langit malam begitu pekat dan gelap. Bintang bertaburan menghiasi langit. Melihat langit yang indah membuat Izza semakin sedih. Bahkan, langit malam enggan menemaninya bersedih. Rasanya tidak adil.     “Dunia itu kejam, ya? Saat kita bersedih, yang lain malah bahagia.”     Izza terkejut mendengar suara bariton memasuki indra pendengarannya. Ia buru-buru menghapus tangis dan menormalkan ekspresi wajahnya.     “Eh, Dokter Radhi .. maaf saya tidak menyadari kehadiran Dokter.” Izza berbalik dan tersenyum lebar. “Dokter gak pulang?”     Radhi menatap Izza lekat, kemudian menghembuskan napas kasar. Senyuman Izza indah, namun palsu. Senyuman itu menyimpan luka. Senyuman itu terasa menyakitkan. Radhi diam sejenak sebelum menghampiri Izza.     “Saya tadi berniat pulang, tapi gak jadi karena lihat kamu di sini.” Radhi melirik Izza sebentar, kemudian menatap ke arah lain.     “Eh .. “ Izza menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. “Maaf, Dok. Saya gak bermaksud membuat Dokter gak jadi pulang. Saya min—“     “Radhi. Panggil saya Radhi. Sebagai gantinya, saya akan panggil kamu Izza.”     Izza membuka mulut lebar. Ia  terpana melihat Radhi yang malam ini sangat tampan diterpa sinar rembulan. Ditambah lagi suara bariton Radhi yang seksi dan menggoda. Izza merasakan bunga-bunga bertebaran.     “Eh, iya, Dok—eh, Radhi .. “ Izza meringis menyadari dirinya salah tingkah.     Radhi tersenyum tipis. Izza lucu sekali ketika salah tingkah. Eh, sejak kapan ia tersenyum karena perempuan? Selama ini, Radhi jarang tersenyum. Ia hanya tersenyum di waktu tertentu. Ia tidak pernah tersenyum di depan perempuan. Sepertinya otak Radhi tidak beres.     “Soal Ibu Monika saya akan berusaha sebaik mungkin.”     Izza mengangguk paham. “Terima kasih, Radhi .. “ Izza berdiam sejenak. Matanya menatap langit. “Bunda itu seperti matahari di hidup saya. Jika Bunda tiada, maka hidup saya seperti langit malam.”     Radhi memperhatikan Izza. Perempuan di sampingnya terlihat sedih.     “Tapi .. jika Bunda kesakitan dengan kankernya, mau tidak mau, saya harus mengikhlaskannya. Benar, kan?” Izza tersenyum. “Lagipula, ketika dunia saya kehilangan matahari, ketika dunia saya berubah menjadi langit malam, saya tidak pernah khawatir karena malam pun memiliki bulan dan bintang. Sinar bulan dan bintang cukup membuat gelapnya malam tidak menyeramkan.”     Radhi menyimak ucapan Izza tanpa berniat menyela. Melalui cerita Izza, Radhi tahu perempuan itu mati-matian menahan tangis.     “Bulan itu adik saya dan bintang adalah orang-orang selalu mendukung saya. Mereka tidak kalah berharga dari matahari.” ucap Izza. “Tetap saja .. rasanya sulit mengikhlaskan Bunda.”     “Apapun yang terjadi, Tuhan memiliki rencana yang terbaik.” Radhi menatap Izza. “Bertahanlah sebentar, semua akan baik-baik saja.”     Tanpa sadar, Radhi mengusap pucuk kepala Izza. Mata Radhi dan Izza saling beradu beberapa detik.     “Eh, maaf .. saya lancang.” Radhi menyingkirkan tangannya dari kepala Izza. Keringat dingin muncul di dahinya.     Izza menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Wajahnya bersemu merah. Suhu tubuhnya meningkat drastis. Usapan Radhi membuat perasaannya merasakan sesuatu yang aneh.     “Saya kembali dulu, adik saya tidak baik ditinggal sendirian.” Izza berlari meninggalkan Radhi.     Setelah Izza tidak terlihat, Radhi menutup wajahnya karena malu. “Mengapa jantung saya berdegup kencang? Apakah saya terkena penyakit jantung? Setelah ini, saya harus konsultasi dengan dokter spesialis jantung.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD