Bab 2. Jatuh ke dalam Lubang yang Sama

1009 Words
Ryan mengejar Maya yang pergi bersama Mia putrinya. "Tunggu saya, Maya. Maksud kamu apa? Saya belum punya istri, saya belum menikah, Maya." Maya menatap Ryan dengan mata dingin. "O ya? Kamu pikir aku akan percaya lagi sama kamu? Tidak, Ryan!" Ryan mengambil napas dalam-dalam, berusaha memahami perasaan Maya. "Saya tahu saya salah, Maya. Tolong, dengarkan saya. Saya bisa jelaskan semuanya, tujuh tahun lalu saya--" Maya melangkah mundur, suaranya gemetar. "Cukup, Pak Ryan. Aku udah cukup mendengar kebohongan Anda," sela Maya, bahkan sebelum Ryan menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan. "Astaga, Maya!" decak Ryan merasa frustasi. "Sebenarnya kalian kenapa sih?" tanya Mia menatap wajah Maya dan Ryan secara bergantian. Maya menghela napas dalam-dalam dengan kedua mata terpejam lalu menatap wajah Mia. "Nggak ko, Sayang. Ibu gak apa-apa, kita pulang sekarang, ya," jawabnya hendak melangkah. Ryan meraih lalu menggenggam pergelangan tangan Maya memintanya untuk berhenti. "Tunggu saya, Maya. Saya belum selesai bicara sama kamu." Maya menepis kasar telapak tangan Ryan. "Lepasin aku, Pak Ryan. Aku mohon biarkan aku pergi." Suara Maya bergetar. Bola matanya memerah dan berair membuat Ryan terpaksa mengizinkannya pergi tanpa mendapatkan kejelasan. Maya melangkah meninggalkan Ryan bersama putrinya. Sudah cukup ia dibohongi dan dibodohi di masa lalu. Dirinya tidak ingin terjerumus ke dalam lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Meskipun tidak dapat dipungkiri, rasa itu masih ada meskipun cinta yang bersarang dihatinya dibalut dengan kebencian. "Aku gak akan pernah percaya lagi sama kamu, Ryan. Kamu pembohong. Aku benci sama kamu," batin Maya seraya menahan air matanya. Sementara Ryan hanya menatap kepergian mereka dengan perasaan pilu, matanya memandang sayu wajah Mia, hatinya seakan bergetar merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sebenarnya siapa ayah dari anak itu? "Saya akan mencari tau siapa Ayah biologisnya Mia. Jika kamu tetap bungkam seperti ini, maka saya tidak akan diam," gumam Ryan. *** Keesokan harinya, Maya tetap bekerja seperti biasa. Meskipun suasana kantor tempatnya bekerja terasa berbeda karena kehadiran Ryan sebagai atasan barunya membuatnya merasa tidak nyaman. Ya, meskipun mereka berada di ruangan kerja yang cukup jauh. Ruangan Ryan berada di lantai atas, sedangkan Maya berada di dapur khusus OB di mana dapur tersebut berada di area paling belakang gedung itu. Meskipun begitu, mereka masih bisa bertemu di manapun dan kapan pun karena pekerjaan sebagai OB tidak selamanya berada di dapur. Dengan mengenakan seragam berwarna biru muda, Maya baru saja memasuki dapur usai melakukan pekerjaan di luar. Doni, koordinator OB nampak berdiri menunggu kedatangannya. "May, tolong anterin kopi ke ruangan Direktur Utama," pinta Doni. "Baik, Pak Doni," jawab Maya hendak melakukan apa yang diperintahkan. Namun, wanita itu seketika menahan gerakan tangannya. "Tunggu, Pak Doni. Eu ... tadi Bapak minta aku anterin kopi ke ruangan Presdir? Maksudnya ruangan Pak Ryan, Direktur kita yang baru?" "Iya, May. Cepetan, ya. Pak Ryan udah nungguin soalnya," pinta Doni hendak melangkah meninggalkan dapur. "Tunggu, Pak Don." Pinta Maya. Doni sontak menahan langkah kakinya. "Ada apa lagi, Maya?" Maya menggaruk kepalanya sendiri seraya tersenyum cengengesan. "Eu ... bisa nggak yang nganterin kopi ke sananya yang lain aja? Itu, Pak. Aku masih ada perkejaan lain." "Gak bisa, May. Pak Ryan sendiri yang meminta kamu bawain kopi ke sana. Lagian, yang lain juga lagi pada sibuk." Maya menghela napas panjang, matanya terpejam. Mengapa Ryan memintanya membawakan kopi? Bukankah ada OB lain yang biasa melakukan itu? Ia merasa canggung berhadapan dengannya. Ryan adalah orang yang paling ingin ia hindari, tapi mustahil menolak perintah sang pemilik perusahaan. Maya terdiam, pikirannya melayang, mencari alasan untuk menghindari tugas tersebut. "May," sapa Doni seraya melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Maya. "Hah?" Maya terperanjat. "Ko malah ngelamun sih? Cepetan, nanti Pak Ryan marah lho." "Oh, i-iya, Pak. Ini aku mau bikinin kopinya sekarang juga," jawab Maya tergagap. *** Maya akhirnya tiba dilantai 10 tempat di mana ruangan Presdir berada dengan membawa nampan berisi secangkir kopi hitam. Wanita itu melangkah keluar dari dalam lift dengan perasaan gugup. Jantungnya berdetak kian kencang saat melihat ruangan bertuliskan Presiden Direktur terpampang berada di depan sana. Beruntung, sekretaris Ryan sedang berada di tempatnya. Maya tersenyum merasa lega, ia hanya perlu menitipkan kopi tersebut kepada sekretarisnya. "Siang, Mbak," sapa Maya ramah dan sopan. "Ini saya mau nganterin kopi pesanan Pak Ryan. Saya titip di sini aja, apa gimana?" "Oh, kamu pasti Maya, 'kan?" tanya sang sekretaris seraya menunjuk wajah Maya. "Iya, Mbak." "Masuk aja, May. Pak Ryan udah nungguin kamu di dalem." Maya bergeming dengan perasaan bingung. "Maksud Mbak apa, ya?" "Maksud saya, masuk dan bawa kopi itu sendiri kepada Pak Ryan. Beliau sendiri yang bilang kayak gitu sama saya, May." Sang sekretaris mengulangi perintahnya. Maya tersenyum hambar lalu berbalik dan berdiri tepat di depan pintu yang masih tertutup rapat. Kedua kakinya seketika gemetar, rasanya berat sekali untuk melangkah bahkan untuk sekedar mengetuk pintu saja rasanya enggan ia lakukan. Ia masih ragu untuk menghadap sang atasan. Dirinya pun tidak ingin Ryan kembali menanyakan prihal putrinya, Mia. "Ya Tuhan, semoga Ryan gak nanyain siapa Ayahnya Mia," batin Maya. "Masuk, May," pinta sekertaris seraya mengerutkan kening. Maya akhirnya mengetuk pintu lalu membukanya dengan perasaan gugup. Cangkir berisi kopi yang ia bawa bahkan turut gemetar karenanya. Kakinya melangkah memasuki ruangan. Perasaannya campur aduk sulit untuk diungkapkan. "Aku hanya perlu mengantarkan kopi ini, setelah itu pergi dari sini," batin Maya mencoba meyakinkan diri dan bersikap sewajar mungkin. "Siang, Pak Ryan," sapanya dengan canggung. Ryan yang tengah duduk di kursi kebesarannya seketika menoleh sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, Ryan menghela napas lega. Pria itu masih terlihat sama seperti saat mereka berpisah tujuh tahun yang lalu. Hanya saja, Ryan terlihat lebih dewasa dan berwibawa. Maya melangkah mendekati meja dengan wajah datar mencoba untuk bersikap biasa saja. "Ini kopi pesanan Anda, Pak Ryan!" ucap Maya seraya meletakan apa yang ia bawa di atas meja. "Saya permisi, Pak." Maya kembali berbalik dan hendak melangkah. "Tunggu, Maya," pinta Ryan membuat Maya sontak menahan langkah kakinya tanpa kembali memutar badan. "Mia, siapa Ayah dari anak itu? Saya udah lihat data pribadi kamu, Maya. Di sana tertulis kalau status kamu masih lajang alias belum menikah." Pertanyaan Ryan sukses membuat Maya terpaku. "Apa Mia beneran anak kamu, May?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD