Maya terpaku tidak menjawab pertanyaan Ryan. Ia tidak tahu harus menjawab apa tentang Mia, buah cinta terlarang mereka. Rasanya tidak mungkin dirinya mengatakan kebenaran kepada Ryan. Perpisahan mereka sudah cukup lama, ia tidak yakin Ryan akan mempercayai ucapannya. Selain itu, mengatakan kejujuran kepada Ryan pun tidak akan merubah apapun karena mereka tidak mungkin bersatu mengingat perbedaan status sosial di antara keduanya.
Ryan berdiri tegak lalu melangkah menghampiri Maya. "Kenapa kamu diem aja, May? Apa benar Mia anak kamu? Jawab saya."
Maya menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan dengan kedua mata terpejam sebelum akhirnya berbalik dan menatap wajah Ryan dengan ekspresi wajah datar.
"Mia anakku, Pak. Puas?" jawabnya dingin.
"Tapi kamu belum menikah, May. Di data pribadi kamu jelas-jelas tertulis status kamu masih single."
Maya menatap tajam wajah Ryan. "Emangnya kenapa kalau aku masih single? Masalah buat Anda?"
"Tentu saja, May. Saya cuma pengen tau siapa Ayah anak itu?"
"Siapapun Ayah Mia, bukan urusan Anda, Pak Ryan. Jangan mentang-mentang Anda atasan aku di sini, Anda berhak tau kehidupan pribadi saya." Maya kembali berbalik dan hendak melangkah. Namun, Ryan seketika meraih telapak tangannya memintanya untuk berhenti.
"Tunggu dulu, May. Saya belum selesai bicara."
Maya sontak menepis kasar telapak tangan Ryan. "Apa lagi, Pak Ryan? Tak ada lagi yang perlu dibicarakan antara kita. Aku hanya ditugaskan buat nganterin pesanan Anda dan aku gak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan Anda. Permisi."
Maya hendak melangkah, tapi langkah kakinya seketika tertahan saat pintu ruangan tiba-tiba saja dibuka dari luar. Seorang wanita berparas cantik juga berpakaian seksi memasuki ruangan tersebut. Maya bergeming di tempatnya seraya menatap wajah wanita tersebut.
"Sayang, apa kamu sibuk?" tanya wanita itu seraya tersenyum lebar.
"Astaga, ngapain lagi si Astrid dateng ke sini? Makin salah paham, 'kan," batin Ryan merasa kesal.
Maya melangkah meninggalkan ruangan dengan wajah datar. Hatinya bagai ditusuk beribu-ribu pisau tajam. Mendengar wanita itu memanggil Ryan dengan sebutan sayang membuat Maya merasa kecewa. Ternyata dugaannya benar, Ryan sudah memiliki seorang istri. Satu sesalnya di sini, mengapa Ryan bersikap seolah pria itu masih memiliki perasaan terhadapnya seakan memberinya harapan palsu. Maya benar-benar meninggalkan ruangan dengan hati dan perasaan hancur.
"Dia siapa, Ryan?" tanya Astrid seraya menatap kepergian Maya dengan tatapan tidak suka.
"Dia cuma Office girl yang kerja di sini," jawab Ryan datar seraya berjalan menuju kursi kebesarannya.
"Ko tumben pegawai rendahan kayak dia ada di ruangan Direktur?" Astrid mengerutkan kening.
"Emangnya kenapa? Suka-suka saya dong." Ryan lagi-lagi bersikap dingin. "Ngomong-ngomong, ada apa kamu dateng ke sini? Saya lagi sibuk, Astrid."
Astrid tersenyum ringan seraya berbalik lalu berdiri tepat di depan meja. "Tante Sofia memintaku buat ke tempat pencetakan undangan, Ryan. Aku pengen kamu sendiri yang memilih desain undangan pernikahan kita."
Ryan mendengus kesal seraya mengusap wajahnya kasar. "Saya 'kan udah bilang, Astrid. Saya sibuk. Kamu pergi aja sendiri."
"Ya nggak bisa dong. Kalau aku sendiri yang pilih, takutnya kamu gak suka sama desain undangannya." Astrid melangkah mendekati Ryan. "Kita pilih pergi bersama, ya." Astrid melingkarkan telapak tangannya di bahu Ryan mesra.
Ryan menghela napas panjang seraya menurunkan lingkaran tangan Astrid. "Kamu gak denger saya bilang apa tadi? Saya sibuk, Astrid. Astaga!"
Astrid merasa kecewa. "Apa kamu mau mengundur pernikahan kita lagi, heuh? Udah keberapa kalinya kamu ngelakuin ini sama aku, Ryan? Kamu pengen aku ngadu sama Tante Sofia, hah?"
"Astrid!" seru Ryan seraya mengusap wajahnya kasar. "Kamu selalu mengancam saya kayak gini."
"Biarin aja, kamu emang harus diancam kayak gini, Ryan. Kamu pengen Tante Sofia terkena serangan jantung kayak waktu itu, hah?"
Ryan seketika bergeming seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Sofia sang ibu memang memiliki lemah jantung dan kelemahannya itu selalu saja dijadikan senjata oleh Astrid. Bertunangan dengan wanita itu pun karena terpaksa, Astrid yang merupakan seorang Dokter spesialis jantung sudah menyelamatkan nyawa ibunya dan menjadi Dokter pribadi yang selama ini merawat sang ibu.
"Kenapa kamu diem aja, Ryan? Kondisi Ibu kamu itu--"
"Oke, kita pergi sekarang, puas?" jawab Ryan dingin seraya melangkah ke arah pintu.
Astrid tersenyum senang lalu mengikuti pria itu dari belakang. "Tunggu aku, Ryan," pintanya lalu melingkarkan telapak tangannya di pergelangan tangan Ryan mesra.
Keduanya pun melangkah meninggalkan ruangan dengan ekspresi wajah berbeda. Astrid terlihat bahagia karena setelah bertunangan sekian lama, mereka akhirnya menentukan tanggal pernikahan dan akan segera melenggang ke pelaminan. Sementara Ryan, wajahnya nampak tertekan, pria itu sesekali mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling tempat yang ia lintasi berharap Maya tidak melihat kebersamaannya dengan Astrid.
Walau bagaimanapun, ia masih ingin menuntut kejelasan tentang siapa Ayah biologis gadis kecil bernama Mia. Mia memiliki usia yang sama persis seperti usia perpisahan mereka. Selain itu, Maya adalah cinta pertamanya. Wanita itu masih mendominasi di dalam hatinya dan rasa itu masih tersimpan rapat di lubuk hatinya yang paling dalam.
Astrid yang tengah melangkah bersama Ryan seketika memekik ketika seorang Office girl yang tengah menarik ember yang biasa digunakan untuk mengepal menabraknya membuat air yang berada di ember tersebut tumpah dan membasahi pakaian yang ia kenakan, sementara office girl yang tidak lain dan tidak bukan adalah Maya seketika terjatuh ke atas lantai bersama lap pel yang ia bawa.
"Argh! Apa-apaan ini, hah?" teriak Astrid seraya menatap pakaian yang ia kenakan.
Bukannya membantu Astrid yang tengah membersihkan pakaiannya yang basah, yang dilakukan oleh Ryan adalah berjongkok tepat di depan Maya dan mencoba membantu wanita itu untuk berdiri tegak membuat Astrid seketika merasa curiga.
"Kamu gak apa-apa, May?" tanya Ryan, meraih pergelangan tangan Maya hendak membantunya berdiri.
Maya menepis telapak tangan Ryan kasar dan berusaha untuk berdiri sendiri. "Aku gak apa-apa, Pak," jawabnya datar lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Astrid. "Maafin saya, Mbak. Saya gak sengaja menabrak Anda. Sekali lagi saya minta maaf."
Astrid yang merasa kesal karena pakaiannya basah ditambah sikap Ryan yang lebih memperdulikan pegawai yang ia anggap rendahan itu seketika melayangkan telapak tangannya ke udara lalu mendarat di wajah Maya membuat Ryan merasa terkejut tentu saja.
"Dasar pegawai rendahan gak tau diri!" bentak Astrid. Sementara Maya seketika memekik kesakitan.
Ryan membulatkan bola matanya merasa murka. "Apa-apaan kamu, Astrid? Hanya karena masalah sepele kayak gini kamu sampe nampar pegawai saya?"
Suasana kantor seketika terasa mencekam. Mereka bertiga benar-benar menjadi pusat perhatian, karyawan yang tengah melakukan pekerjaan mereka berbondong-bondong menuju tempat kejadian karena merasa penasaran dengan kegaduhan tersebut.
"Sepele? Sepele katamu?" tanya Astrid dengan wajah memerah menahan amarah. "Aku ini tunangan kamu, Ryan. Kenapa kamu lebih membela wanita ini dibandingkan aku, hah? Sebenarnya siapa dia? Apa kalian diam-diam main gila di belakang aku?"
Bersambung ....