"Tunangan? Jadi, wanita ini bukan istrinya Ryan? Terus undangan yang waktu itu dibawa sama orang tua Ryan, apa?" batin Maya seketika bertanya-tanya.
"Kami gak ada hubungan apa-apa, Mbak. Sekali lagi aku mohon maaf karena aku, pakaian Mbak jadi basah kayak gini," ujar Maya seraya menyeka pakaian berwarna merah yang dikenakan oleh Astrid mencoba untuk membersihkan kotoran yang menempel di sana.
"Jangan pegang-pegang, tangan kamu kotor. Bajuku bisa tambah kotor tau," decak Astrid seraya menghempaskan tubuh Maya kasar hingga wanita itu tersungkur di atas lantai. "Apa kamu tau berapa harga baju aku ini, hah? Gaji kamu sebulan aja gak bakalan cukup buat gantiin baju aku yang kotor gara-gara kamu."
Maya yang tersungkur dalam posisi duduk berusaha untuk berdiri tegak dengan kedua mata memerah. "Sekali lagi aku mohon maaf, aku beneran gak sengaja. Kalau Anda mau, aku bisa ganti baju Mbak sama yang baru."
"Ganti? Hahahaha! Pegawai rendahan kayak kamu mana sanggup beli baju mahal kayak gini!" bentak Astrid seraya tertawa nyaring. "Kamu tau berapa harga dress ini, hah? Harganya 15 juta. Emang kamu sanggup beli, hah?"
"Cukup, Astrid!" bentak Ryan penuh emosi. Ia benar-benar merasa malu karena aksi mereka menjadi tontonan karyawan yang bekerja di sana.
Ryan mengalihkan pandangan matanya kepada mereka yang tengah menyaksikan seraya saling berbisik membicarakan. "Liat apa kalian, hah? Bubar sekarang juga, atau kalian mau saya pecat, hah?"
Para karyawan pun segera membubarkan diri dan melanjutkan perkejaan mereka yang sempat tertunda. Mereka nampak saling berbisik membicarakan sikap kasar tunangan Ryan, tapi tidak sedikit pula yang membicarakan Maya yang dinilai menggoda atasan baru mereka.
Ryan menarik telapak tangan Astrid kasar lalu membawanya menjauh dari Maya. Astrid bahkan dibuat meringis kesakitan karena kuatnya cengkeraman tangan tunangannya itu. Sementara Maya hanya bisa memghela napas panjang dengan kedua mata berkaca-kaca. Wanita itu segera membersihkan lantai yang basah akibat air bekas ngepel lantai yang ia tumpahkan.
"Makannya jadi OB itu jangan kegatelan," decak salah satu karyawan wanita yang melintasi Maya seraya menatapnya tidak suka.
"Ya Tuhan," decak Maya menarik napas panjang.
***
Di lobi kantor, Astrid melepaskan lingkaran tangan Ryan kasar dengan perasaan kesal. "Lepasin aku, Ryan. Kamu apa-apaan sih? Sakit tau."
"Kamu tuh bikin malu saya, ya. Apa pantas kamu menampar Maya hanya gara-gara masalah sepele, hah?" bentak Ryan seraya menunjuk wajah Astrid.
"Kamu yang apa-apaan, Ryan. Kenapa kamu lebih membela dia dibandingkan aku, hah?" Astrid balas membentak tidak mau kalah.
"Ya karena dia karyawan saya, Astrid. Apa kamu gak malu diliatin sama karyawan lainnya tadi?"
"Terus, aku ini apa? Aku tunangan kamu, Ryan. Apa seorang pegawai rendahan lebih berarti buat kamu dibandingkan aku tunangan kamu sendiri?"
"Oke, kamu memang tunangan saya, tapi apa kamu lupa kalau saya terpaksa menerima pertunangan ini?"
Astrid menatap tajam wajah Ryan. Sorot mata pria itu terlihat sangat tajam, berbanding terbalik dengan tatapan matanya saat tunangannya itu menatap wajah Maya. Astrid semakin merasa curiga bahwasanya telah terjadi sesuatu antara Ryan dan Maya.
"Sebenarnya siapa si Maya itu, Ryan? Apa dia sengaja godain kamu?" tanya Astrid. "Atau level kamu udah turun? Kamu lebih suka sama cewek gak berpendidikan, begitu? Jangan malu-maluin aku dong, Ryan. Masa iya, aku spesial Dokter jantung mau bersaing sama OB rendahan kayak dia."
"Cukup, Astrid!" tegas Ryan penuh penekanan. "Kamu emang berpendidikan, tapi mulut kamu ini kayak orang yang gak pernah disekolahin. Saya udah gak mood, kamu pergi aja sendiri!"
Ryan meninggalkan Astrid di lobi kantor. Moodnya benar-benar hancur berantakan. Jangankan memilih undangan, melihat wajah Astrid saja sudah membuatnya malas. Astrid membulatkan bola matanya dengan mulut yang terbuka lebar merasa tidak percaya bahwa Ryan, tunangannya sendiri meninggalkannya sendirian hanya gara-gara OB yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya.
"Sial," umpatnya kesal. "Gara-gara si OB sialan itu aku jadi ribut sama Ryan. Awas aja, aku bakalan kasih perhitungan sama tu OB."
***
Sore hari tepatnya pukul 16.30, Maya baru saja selesai mengerjakan tugas terakhirnya dan bersiap untuk pulang. Wanita itu pun sudah berganti pakaian, celana jeans berwarna abu lengkap dengan t-shirt yang tersembunyi di balik jaket berwarna hitam nampak membalut tubuh langsingnya. Wanita itu melingkarkan tas miliknya di bahu sebelah kiri lalu melangkah keluar dari dapur tempatnya bekerja. Namun, Maya seketika menahan langkah kakinya saat melihat Ryan berjalan menghampiri.
"Astaga, mau ngapain lagi si Ryan ke sini," gumam Maya menghela napas panjang.
Wanita itu tidak memiliki pilihan lain lagi selain melanjutkan langkahnya dengan wajah datar hingga Ryan berhenti tepat di depannya.
"Kamu udah selesai kerja?" tanya Ryan menatap lekat wajah Maya.
"Selamat sore, Pak Ryan. Saya permisi," sapa Maya berhenti sejenak tepat di depan Ryan lalu melanjutkan langkahnya.
Ryan meraih telapak tangan Maya. "Tunggu, May," pintanya.
Maya segera melepaskan tautan tangan Ryan. "Lepasin saya, Pak. Jam kerjaku udah habis, aku mau pulang."
"Saya anterin kamu pulang, ya."
"Gak usah, aku bisa pulang sendiri." Maya melanjutkan langkahnya.
"Tujuh tahun yang lalu, kenapa kamu ninggalin saya gitu aja."
Maya sontak menahan langkah kakinya.
"Tujuh tahun yang lalu, di saat saya sedang membutuhkan kamu, kenapa kamu ninggalin saya, Maya? Apa kamu tau, saya--"
"Cukup!" sela Maya seraya memutar badan lalu kembali menatap wajah Ryan. "Jangan pernah membahas masa lalu, Pak. Sekarang, Anda atasan aku dan aku bawahan Anda. Jadi, jangan pernah membahas masa lalu di sini. Jangan sampai aku resign gara-gara Bapak karena aku masih punya seorang putri yang harus aku nafkahi," ancam Maya lalu benar-benar melanjutkan langkahnya yang sempat beberapa kali tertunda.
Ancaman wanita itu sukses membuat Ryan bergeming. Walau bagaimanapun, ia masih ingin berada dekat dengan Maya. Masih banyak yang ingin ia ketahui tentang mantan kekasihnya itu. Jika Maya sampai resign dari perusahaannya, maka ia harus mengubur keinginannya untuk mengetahui siapa ayah biologis dari anak bernama Mia.
"Gimana caranya agar saya bisa dekat lagi sama kamu, May? Sebenarnya apa yang terjadi sama kita tujuh tahun yang lalu? Kenapa kamu ninggalin saya saat saya mengalami kecelakaan?" batin Ryan menatap kepergian Maya dengan penuh tanda tanya.
Bersambung ....