bc

Membeli Rahim Sang Pemikat Hati

book_age18+
34
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
second chance
pregnant
boss
heir/heiress
drama
bxg
bold
brilliant
city
lies
like
intro-logo
Blurb

Di balik megahnya kediaman Wahyudono, Elsha Wirandani hanyalah seorang pelayan tak kasatmata. Sampai sebuah rahasia besar memaksanya menandatangani kontrak gila: menjual rahimnya kepada sang tuan muda, Sena Dewananda.

​Sena yang sedingin es bersumpah tidak akan pernah melibatkan hati. Namun, kepatuhan dan pesona misterius Elsha justru memicu obsesi gelap yang perlahan membakar batas di antara mereka.

​Ketika batas itu runtuh, Elsha memilih pergi. Namun bagi Sena, kontrak belum usai. Pelarian Elsha justru memancing sang miliarder untuk memburu dan mengunci kembali sang pemikat hati dalam sangkar emasnya.

​"Kontraknya hanya menjual rahim, tapi Sang Miliarder menuntut seluruh jiwaku."

chap-preview
Free preview
BAB 1
”Aku tidak sanggup lagi, Sena ... tolong aku.” ​Suara Safiya pecah di tengah luasnya ruang keluarga yang semula senyap. Di bawah pendar lampu gantung kristal yang megah, ia terduduk lemas di atas lantai marmer Italia yang dingin. Gaun tidur sutranya kusut, helaian rambut panjangnya berantakan membingkai wajah yang pucat, dan pecahan vas bunga antik berserakan di sekeliling tubuhnya. ​Sena Dewananda Wahyudono mematung di ambang pintu raksasa. Jas wol gelapnya masih terpasang rapi setelah belasan jam terjebak dalam rapat dewan komisaris yang menguras energi. Jemarinya baru saja hendak melonggarkan ikatan dasi ketika kekacauan itu menyambut kepulangannya. ​”Safiya?” Sena melangkah masuk secara perlahan. Sepasang matanya yang tajam menyapu seisi ruangan. “Apa yang terjadi di sini?” ​Safiya mengangkat wajahnya yang sembap. Mata yang biasanya memancarkan kelembutan itu kini merah dan basah. “Mama datang ke sini sore tadi, Sena. Dia ... dia mengucapkan hal-hal yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang ibu.” ​Sena menghela napas pendek. Rasa lelah yang bergelayut di pundaknya mendadak terasa dua kali lebih berat. “Apa lagi yang Mama katakan kali ini?” ​”Dia bilang aku mandul!” Safiya menjerit kecil, berusaha menelan isak tangis yang kembali mencekik tenggorokannya. “Dia bilang aku tidak pantas menjadi pendamping pria dari garis darah Wahyudono Group. Mama bahkan menegaskan kalau kamu bisa saja kehilangan posisi sebagai pewaris tunggal kalau pernikahan kita tidak kunjung menghasilkan anak. Dia menuntutmu, Sena ... dia menuntutmu untuk mencari wanita lain.” ​Sena memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik, mencoba menekan letupan amarah yang mulai merayap naik ke dadanya. “Safiya, kamu tahu sendiri bagaimana tabiat Mama. Beliau selalu berlebihan jika menyangkut masalah itu.” ​”Berlebihan?” Safiya tertawa getir, sebuah tawa sumbang yang terdengar menyakitkan di tengah keheningan malam. “Dia berdiri di sini dan memaki aku selama satu jam penuh. Satu jam, Sena! Di depan para pelayan, dia bilang aku hanya beban yang mencoreng nama baik keluarga. Dia bilang kamu harus—” ​”Cukup, Safiya.” Sena melangkah mendekat, memotong kalimat istrinya dengan nada suara yang turun menjadi sangat rendah dan dingin. “Aku tidak peduli dengan apa pun yang keluar dari mulut Mama.” ​Safiya menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tapi aku peduli! Kamu tidak tahu bagaimana kejamnya lingkaran keluarga ini bekerja di belakang layarmu. Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita kalau perutku tetap sekering ini, Sena!” ​Sena menurunkan tubuhnya, duduk di samping istrinya di atas lantai yang dingin. Ia mengulurkan tangan, mencoba meraih jemari Safiya yang gemetar. “Kita sudah membicarakan hal ini berulang kali. Kita akan mencari solusi lain bersama-sama.” ​”Solusi lain apa lagi?!” Safiya menarik tangannya dengan sentakan kasar, menggeser tubuhnya mundur. “Sudah lima tahun, Sena! Lima tahun aku mengonsumsi obat-obatan sialan itu, mendatangi lusinan dokter spesialis di Eropa, dan hasilnya selalu sama. Aku gagal! Mama tidak akan pernah berhenti menekan kita. Keluarga besar kita tidak akan tinggal diam. Kamu tidak akan pernah bisa hidup tenang selama aku menjadi istrimu!” ​”Safiya, tatap aku. Aku tidak pernah sekalipun menyalahkanmu atas kondisi ini.” ​”Tapi mereka semua menyalahkan aku!” Safiya menatap lurus ke dalam sepasang mata elang milik Sena. “Dan aku tidak bisa kehilangan kamu, Sena. Aku tidak akan sanggup hidup kalau mereka mendepakku dari rumah ini.” ​Sena melepaskan helaan napas panjang. “Kamu tidak akan kehilangan aku. Posisi kita tidak seonggok itu hingga bisa dihancurkan oleh rumor.” ​Safiya menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya yang ramping naik turun akibat gelombang tangis. “Kalau begitu ... tolong dengarkan aku kali ini.” ​Sena menyipitkan mata, gurat kecurigaan mulai merayap di keningnya. “Dengarkan apa?” ​Safiya menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dari dasar batinnya yang telah retak. Ia mendongak. “Aku punya solusi. Sebuah jalan keluar yang bisa menyelamatkan pernikahan kita, statusmu, dan juga harga diriku di depan ibumu.” ​Sena menegakkan posisi duduknya, insting tajamnya mendeteksi ada sesuatu yang tidak beres dari nada bicara istrinya. “Safiya, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?” ​”Aku sudah memikirkan ini selama berbulan-bulan, menimbangnya dari segala sisi hukum dan medis,” suara Safiya mendadak turun menjadi lirih. “Aku ingin kita menyewa rahim wanita lain.” ​Sena membeku. Seluruh otot di tubuh tegapnya menegang seketika. ​”Wanita itu yang akan mengandung anak kita,” lanjut Safiya dengan kalimat yang meluncur semakin cepat. “Dia yang akan melahirkan pewaris untuk keluarga Wahyudono. Dengan begitu, Mama akan berhenti mengusik kehidupan kita, kamu tidak akan pernah kehilangan takhtamu di korporasi, dan aku ... aku tidak perlu ketakutan kehilangan posisiku sebagai istri sahmu.” ​”Safiya.” Sena berdiri dengan sentakan tiba-tiba, menatap wanita di bawahnya dengan rahang yang mengetat keras. “Kamu sadar dengan apa yang baru saja lolos dari mulutmu? Kamu ingin aku menyentuh wanita lain?” ​Safiya menggelengkan kepalanya dengan panik, ikut bangkit berdiri meski kakinya masih tampak lemas. “Tidak! Tidak harus dengan cara menjijikkan seperti itu, Sena. Kita bisa melakukannya secara medis, melalui prosedur transfer embrio di klinik luar negeri. Atau ... kalau opsi medis itu memiliki risiko kegagalan yang tinggi menurut tim pengacara kita ... kamu bisa ... kamu bisa melakukannya secara langsung jika memang terpaksa ...” ​”Tidak.” Suara Sena tidak meninggi, namun suhunya merosot tajam hingga ke titik beku. “Aku tidak akan pernah melakukan tindakan serendah itu.” ​Safiya menjatuhkan dirinya kembali ke lantai, merangkak mendekat hingga jemarinya mampu mencengkeram pergelangan kaki pantofel Sena. “Tolong ... aku mohon padamu, Sena ... dengarkan penjelasanku dulu ...” ​”Safiya, bangun. Jangan bertingkah konyol dan menjatuhkan martabatmu,” Sena berusaha menarik kakinya, namun wanita itu justru mempererat cengkeramannya. ​”Aku sudah tidak memiliki pilihan lain!” teriak Safiya dengan suara pecah. “Mama menegaskan sore tadi kalau aku tidak berguna sebagai seorang istri! Beliau bahkan sudah menyiapkan daftar nama wanita muda dari kalangan mereka untuk dijodohkan denganmu segera setelah berhasil menceraikan kita! Sena ... demi Tuhan, aku tidak bisa kehilangan kamu!” ​Sena menatap wanita di bawahnya dengan gejolak emosi yang rumit. “Aku sudah bilang, kamu tidak akan kehilangan aku.” ​”Kalau begitu lakukan hal ini untuk mempertahankan kelangsungan hubungan kita!” Safiya mendongak dengan sepasang mata yang memancarkan permohonan mutlak. “Untuk pernikahan kita, Sena. Untuk nama besar keluarga yang kamu pimpin, dan untuk masa depanmu sendiri.” ​Sena menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak. Jawabanku tetap tidak.” ​Safiya perlahan menurunkan tangannya dari kaki Sena, membiarkan tubuhnya bersimpuh di antara pecahan porselen. “Aku sudah memilih orangnya, Sena ...” ​Sena kembali membeku di tempatnya berdiri. “Apa?” ​Safiya mengangkat wajahnya dengan sangat perlahan. “Aku sudah menemukan wanita yang tepat. Aku memilih ... pelayan kita sendiri.” ​Sena menatap istrinya lama, hingga keheningan di antara mereka terasa mencekik udara. “Safiya, kamu sudah benar-benar gila.” ​”Aku tidak gila, aku justru sangat waras!” Safiya membantah dengan cepat, matanya berbinar oleh sisa-sisa obsesi yang kelam. “Gasis itu baik. Dia polos, penurut, dan tidak akan pernah memiliki kekuatan sosial untuk menuntut apa pun dari keluarga kita setelah kontraknya selesai. Dia ... dia mau melakukan ini karena dia sangat membutuhkan uang dalam jumlah besar untuk membiayai operasi ibunya yang sedang sakit keras di kampung. Aku tahu dia akan setia pada dokumen hitam di atas putih yang kita tanda tangani.” ​”Safiya, kamu tidak bisa memperlakukan manusia lain seperti komoditas sewaan hanya untuk menyelesaikan masalah perkawinan kita—” ​”Tapi dia adalah opsi yang paling sempurna!” Safiya memotong kalimat suaminya dengan nada mendesak. “Dia tidak akan pernah mengganggu kehidupan domestik kita setelah anak itu lahir. Dia tidak akan menjadi ancaman bagi posisiku sebagai Nyonya Besar di rumah ini. Tugasnya hanya satu, Sena ... mengandung anakmu, lalu pergi.” ​Sena menghela napas panjang, mencoba menahan letupan amarah yang siap meledak di dalam dadanya. “Kamu benar-benar tidak tahu apa yang sedang kamu ucapkan, Safiya.” ​”Aku tahu persis apa yang kulakukan,” Safiya menatap suaminya dengan sepasang mata yang dipenuhi ketetapan hati yang gila. “Aku tahu kamu mencintaiku dan tidak akan pernah menceraikanku karena keinginanmu sendiri. Tapi aku juga tahu realitasnya, kamu tidak akan bisa melawan otoritas Mama dan dewan komisaris selamanya jika tidak ada ahli waris yang sah. Ini adalah satu-satunya cara agar kita semua selamat.” ​Sena melangkah maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka. “Dengan mengajukan transaksi menjijikkan ini, kamu sedang menjatuhkan harga dirimu sendiri sebagai seorang istri, Safiya.” ​”Aku tidak peduli lagi dengan harga diri sialan itu!” Safiya kembali maju, meraih ujung lengan jas Sena. “Aku hanya ingin mempertahankan suamiku. Aku hanya ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku sejak awal.” ​Sena menatapnya dengan pandangan mata yang menggelap. “Aku menikahimu karena aku memilihmu untuk berdiri di sampingku, bukan untuk menjadi peternak anak.” ​Safiya menggelengkan kepalanya dengan getir. “Cinta dan pilihanmu tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan keluarga ini, Sena.” ​”Safiya—” ​”Buka matamu dan dengarkan aku, Sena!” Safiya menarik napas panjang. “Aku sudah berbicara secara anonim dengan tim medis terbaik. Aku sudah menyiapkan semua klausul hukum yang aman untuk posisi kita. Kita sudah memikirkan semuanya dengan matang. Sekarang, kita hanya memerlukan satu hal untuk mengeksekusinya, wanita itu.” ​Sena mengerutkan keningnya, rahangnya mengetat hingga urat di lehernya terlihat jelas. “Siapa sebenarnya wanita yang kamu maksud?” ​Safiya menelen ludahnya dengan susah payah, menyebutkan satu nama yang selama ini hanya bergerak pelan di balik bayang-bayang paviliun belakang rumah mereka. “Elsha.” ​Sena terdiam seribu bahasa. Nama pelayan muda itu berdenging janggal di telinganya. ​”Dia masih sangat muda, polos, dan rahimnya pasti sehat,” Safiya melanjutkan dengan suara yang kembali melirih. “Dia tidak akan memiliki keberanian untuk menuntut apa-apa dari kita. Dia butuh uang untuk menyelamatkan nyawa ibunya, dan kita butuh rahimnya untuk menyelamatkan masa depan Wahyudono. Dia ... dia akan melakukan ini demi kita, Sena.” ​”Safiya, kamu tidak memiliki hak untuk meminta pengorbanan semacam itu dari seorang pelayan di rumah ini.” ​”Aku memiliki hak penuh sebagai majikannya!” Safiya menatap Sena dengan pandangan mata yang menuntut dukungan. “Dan kamu sebagai kepala keluarga ini, juga bisa memaksanya jika mau.” ​Sena menggelengkan kepalanya dengan keras, melepaskan tangan Safiya dari pakaiannya dengan gerakan yang dingin tanpa kompromi. “Jawabanku tetap tidak, Safiya. Jangan pernah sebut nama itu lagi di depanku.” ​Safiya menundukkan wajahnya ke atas lantai, bahunya kembali bergetar hebat. “Sena ... aku mohon padamu ... tolong selamatkan aku ...” ​”Safiya, dengarkan aku baik-baik,” Sena menundukkan tubuhnya, mencengkeram kedua bahu istrinya dengan kekuatan yang cukup besar untuk memaksa wanita itu menatap lurus ke matanya. “Aku menegaskan ini untuk terakhir kalinya. Aku menikahimu bukan untuk menjadikan rumah ini sebagai tempat penangkaran anak.” ​Safiya terbumkam seketika, cengkeraman tangan Sena di bahunya terasa begitu nyata. ​Sena menatapnya dengan sepasang mata yang sedingin es, rahangnya mengeras sempurna saat kalimat terakhirnya dilepaskan. “Dan aku tidak akan pernah menyentuh wanita lain, apa pun alasan yang kamu miliki.” ​Safiya hanya bisa menatap suaminya dengan mata yang kembali digenangi air mata, namun kali ini tidak ada lagi bantahan yang keluar dari bibirnya. Yang tersisa hanyalah tatapan kosong yang perlahan-lahan pecah menjadi ketakutan yang jauh lebih dalam di dasar batinnya. ​Sena bangkit berdiri, memalingkan wajahnya dari kekacauan di atas lantai. Ia berbalik dan melangkah meninggalkan ruang keluarga tanpa menoleh lagi, mengabaikan serpihan porselen yang hancur, isak tangis istrinya yang tertahan, dan keputusan gila yang baru saja melintasi takdir pernikahan mereka. ​

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
761.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
991.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.8K
bc

Not just, the Beta

read
352.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook