Bab 7

1486 Words
Bram sedang mencoba kamera pemberian papi-nya, minggu lalu. Ia baru tertarik memakainya, setelah papi memberitahu harganya. Padahal, awalnya itu Bram sama sekali tidak tertarik. Kamera itu ternyata cukup mahal, jadi sayang jika tidak dipakai. Bram kira,       Guntur akan iri melihat kamera barunya. Tapi, untung saja, Guntur tidak suka kamera. Dia hanya suka difoto. Jiwanya memang foto model sekali, ya?                 "Bro, say cheese!"                 Guntur menoleh, dan memberikan senyum terbaiknya. "Cheese."                 Setelah melihat hasilnya, Bram berdecak, "Kok tetap jelek, ya? Padahal ini kamera kualitasnya udah paling bagus."                 "Mungkin modelnya yang jelek, Bram." Arwin tiba-tiba datang, seperti hantu yang tidak diundang.                 Bram melirik Guntur. "Parah, Bro! Kata Arwin, lo jelek!"                 Arwin tertawa, namun ia terlihat panik saat Guntur melototinya tajam. "Peace, Bro. Gue cuma mencoba berkata jujur."                 "JUJUR?! Jadi, menurut lo, GUE JELEK? GITU?!" Guntur mendengus, dan jika ini film kartun, mungkin hidung Guntur sudah keluar asap.                 "Ya, gitu. Apalagi kalau lo sebelahan sama Bram. Tingkat kejelekan lo semakin bertambah..."                 "Heh! Gue sama Bram itu udah kayak saudara kembar! Lo jangan berusaha membuat gue iri sama kegantengan Bram, NGERTI?"                 Arwin mengangguk takut. "Ngerti. Ampun, Bang. Ampun."                 Bram tersenyum lebar dan berdiri, sambil bertepuk tangan. "Luar biasa! Akting kalian sangat amat ... standar. Guntur, lo harus lebih emosi lagi. Kalau perlu, tonjok aja Arwin!"                 "Gitu, ya? Oke, baiklah! Ayo, kita ulang!" Guntur mengepalkan tangannya, dan terlihat semakin bersemangat.                 "Dasar nggak waras." Arwin berdecih, dan kembali ke tempat duduknya.                 Bram dan Guntur melakukan high five, karena berhasil mengusir Arwin dengan cara mereka. Sebenarnya, mereka berdua sangat amat malas berteman dengan Arwin. Karena Arwin itu ... nggak jelas. Kadang datang, dan ngomel. Kadang datang, lalu ikutan tertawa. Kadang datang, lalu pergi sesuka hatinya. Seperti pemberi harapan palsu saja.                 Itulah sebabnya, Bram dan Guntur tidak menyukai Arwin. Lagipula, Arwin itu tidak terkenal. Untuk apa mereka berteman dengan butiran debu seperti Arwin?                 Tunggu, deh. Gue kan juga masih jadi butiran debu. Bu Sukma aja nggak inget nama gue...                 Bram benar. Dia juga masih butiran debu, tapi sebentar lagi, ia akan menjadi gumpalan debu! Ia akan terkenal, karena Bram sudah memiliki misi rahasia bersama Guntur.                 "Kapan kita mulai misi rahasia kita, Bro?" tanya Guntur serius, dan berbisik, agar Arwin tidak dengar dan tiba-tiba datang lagi.                 "Sebelum latihan band dimulai, kita harus menjalankan misi kita. Mengerti?" Bram juga ikut berbisik.                 "Lalu ... apa misi kalian berdua?"                 "Misi kami adalah... Wait, ARWIN?! Ngapain lo dateng lagi?!" Mata Guntur melebar, dan rasanya ia ingin menjambak rambut Arwin saat ini juga. Apa Arwin itu jin? Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul?! Ini tidak adil, Guntur juga mau memiliki kemampuan tiba-tiba muncul seperti Arwin.                 "Gila, ya. Masa iya gue sama Guntur harus telepati, biar lo nggak denger dan kepo?" Bram menghela napas beratnya. Sungguh berat hidupnya memiliki sahabat seperti Guntur. Jika ditambah Arwin, bisa-bisa umur Bram semakin berkurang, karena stress.                 Arwin hanya menyengir. "Mungkin benar, kalian harus mulai belajar untuk telepati."                 "Pergi kau, Arwin! Dasar kecoa terbang!" Guntur akhirnya berani mengusir Arwin dengan lebih tegas.                 "Baiklah, kutu loncat. Saya akan pergi..."                 Setelah Arwin pergi, Guntur langsung menatap Bram dengan penuh tanya.           "Emangnya gue mirip kutu loncat, ya? Kenapa dia nyebut gue begitu? Padahal gue jarang loncat-loncat. Ini nggak adil!"                 "Kalian berdua mending jadian, kayaknya cocok. Gue restuin, deh." Bram menepuk-nepuk bahu Guntur, masih dengan terkekeh geli.                 "Amit-amit, deh. Sori, di hati gue cuma ada bebeb Stella seorang..."                 Jleb.                 Walau sakit, tapi Bram berusahao terlihat ceria. "O-oke. Stella, ya? Semangat, Bro!"                 "Yoi! Lo dukung gue sama Stella, 'kan?"                 "IYA, LAH!"                 "Kalau gitu, mau bantu gue?"                 Bram mengernyit. "Bantu apa?"                 "Gue mau ngasih dia surat cinta, tapi gue nggak bisa buatnya. Bantuin, dong!"                 Bram menelan ludahnya. "Oke, deh. Sekarang?"                 "Iya! Mumpung free class, nih!"                 Bram mengeluarkan bukunya, dan pulpen. "Gue yang mikir dan nulis?"                 Guntur mengangguk. "Iya, dong. Gue nggak romantis, tulisan gue juga kayak ceker ayam."                 Bram lagi-lagi menghela napas. Baiklah, doakan surat cinta Bram bisa menyatukan Guntur dan Stella, ya... *** Saat jam istirahat, Stella berjalan menuju lokernya.                 Tapi, langkahnya terhenti saat melihat seorang lelaki sedang memasukkan sesuatu ke lokernya. "Bram ngapain, ya?"                 Stella menunggu Bram pergi, lalu ia pun berjalan cepat ke lokernya. Awalnya, Stella kira, ia salah lihat. Mungkin Bram memasukkan sesuatu ke loker orang lain. Tapi, ternyata, Bram benar-benar memasukkan sesuatu ke loker Stella.                 "Surat? Seriously?" Stella mengangkat satu alisnya. Ia sudah biasa menerima surat dari penggemar. Tapi, ia tidak menyangka, kalau Bram juga penggemarnya. "Cowok pendek itu sejak kapan jadi fans gue, deh? Kayaknya tiap ketemu, ngajakin ribut mulu."                 Stella membuka surat pemberian Bram itu, dan membacanya dalam hati.                 Dear, Stella...                 Gue sebenarnya bukan orang yang romantis. Ini pertama kalinya, gue membuat surat cinta. Sebelumnya, maaf. Karena gue terlalu pengecut untuk ngasih tau identitas gue...                 Tapi, kita sebenarnya saling kenal, gue rasa. Dan kali ini, gue mau nyatain perasaan gue yang sebenarnya...                 Stella, gue suka sama lo. Kira-kira, sejak kelas 10. Dan gue suka, awalnya karena lo itu galak. Sulit tersentuh, banyak cowok yang takut buat deketin lo. Tapi, dibalik sisi galak lo itu, lo ternyata cukup manis...                 Gue tau, lo nggak jahat. Gue nggak pernah sakit hati, setiap lo ngehina gue. Gue malah seneng! Karena itu membuat kita lebih dekat, iya kan?                 Stella, itu aja. Gue cuma mau jujur sama lo. Lo nggak perlu balas surat ini, karena gue yakin, lo pasti tau siapa penulis surat ini. Eh, gue kayaknya terlalu percaya diri.                 Semoga lo bisa membalas perasaan gue. Nggak usah buru-buru, tapi apa gue boleh lebih dekat dengan lo, Stell?                 From: your secret admirer                 "Idiot." Stella meremas surat itu, dan memasukkannya ke loker. Tadinya ingin dibuang, tapi ia sedikit berat utuk membuangnya.                 "Secret admirer? Bram, lo pasti bercanda. Ini sama sekali nggak lucu." Langkah kaki Stella terus melangkah ke kelas Bram dan Guntur.                 "Mana yang namanya Bram?" tanya Stella tegas saat memasuki kelas Bram.                 "Lagi di kantin, Stell. Sama Guntur!" jawab Arwin sedikit gugup. Lagi-lagi Arwin yang menjawab.                 "Oh." Stella keluar dari kelas Bram, dan berjalan menuju kantin. Sesampainya di kantin, Stella semakin geram karena melihat Bram tertawa bersama Guntur, Troy dan Disa.                 Stella menghampiri Bram, dan langsung menarik kerah seragam lelaki pendek itu. "Maksud lo apa?"                 Bram mengernyit bingung. "Maksud gue? Emang gue salah apa, Stell?"                 "Well, surat lo itu menggelikan. Kalau lo mau bercanda, jangan sama gue."                 Wajah Bram menegang. Ia mulai paham maksud Stella. "Menggelikan, ya? Kenapa menggelikan?"                 "Lo harusnya ngaca sebelum nulis surat sampah lo itu. Gue akan balas surat lo sekarang." Stella menghela napasnya, dan masih mencengkram kerah seragam Bram. "Gue nggak suka sama lo. Pertama, karena lo pendek. Gue tuh suka cowok yang lebih tinggi dari gue. Dan kita? Setara. Nggak banget. "Alasan kedua, karena lo aneh. Gue nggak suka sama lelucon lo, gue nggak suka sama sahabat baik lo, gue nggak suka lo ada di band. Intinya, JANGAN KEBANYAKAN MIMPI. Ngerti?"                 Bram mencengram tangan Stella. "Lo pikir, surat itu dari gue? Oke, emang gue yang nulis. Tapi--"                 "Jangan banyak alasan! Udah jelas, gue lihat lo masukin surat itu ke loker gue!"                 "Memang."                 "Terus?" Stella menaikkan satu alisnya.                 Bram bingung mau menjawab apa. Karena pada dasarnya, surat itu memang berasal dari lubuk hatinya serta tulisan tangannya. Tapi, ia kan hanya berniat membantu Guntur. Lagipula, Guntur setuju saat membaca surat buatan Bram. Katanya, itu benar mewakili perasaan Guntur. Bahkan, Guntur memuji Bram hebat!                 Tapi, kenapa Stella tidak suka? Dan kenapa dia malah membuat Bram malu seperti ini? Yasudahlah, daripada Guntur yang harus malu.                 "Oke. Kalau lo segitu nggak sukanya, sama gue. Fine. Berarti lo masih waras. Gue sama sekali nggak kecewa. Permisi..." Bram menepis tangan Stella, lalu ia berjalan menuju kelasnya.                 Stella terdiam. Kenapa reaksi Bram seperti itu?                 Saat Stella mau kembali ke kelasnya, ada yang memanggilnya lagi dengan keras.                 "Stella! Bram nggak salah. Dia cuma mau bantuin gue bikin surat cinta. Itu emang Bram yang nulis, tapi gue yang nyuruh. Itu sebenernya, perasaan gue, Stell." Guntur menunduk, sedikit takut.                 Stella lumayan terkejut. Tapi, entah kenapa, ia merasa biasa saja saat mengetahui fakta, surat iu ternyata dari Guntur. Karena sejak lama, Stella memang sudah tau kalau Guntur menyukainya. Jadi, wajar. Ia tidak semarah saat tau Bram yang mengirim surat cinta itu. Entah kenapa.                 "Oh, jadi bukan Bram?" tanya Stella menahan malu.                 "Bukan, dia malah dukung gue banget, Stell. Nggak mungkin dia suka sama lo..."                 Jawaban Guntur berhasil membuat harga diri Stella terasa diinjak-injak. "Oke, baguslah."                 Sebelum Stella bertambah malu, ia pun berjalan ke toilet. Ia harus menenangkan diri. Marah-marah itu melelahkan. Apalagi, jika marah pada orang yang salah. Sudah lelah, malu lagi!                 "Dasar Bram. Kenapa nggak bilang dari awal, kalau itu surat dari Guntur?!" Stella mendengus di depan kaca toilet. Ia melihat gadis cantik yang begitu memalukan.                 "Di sini lo rupanya. Ngapain? Lagi menyesali perbuatan lo tadi, ya?"                 Stella menoleh, ke seorang perempuan yang baru saja masuk ke dalam toilet. Ia bersandar di dinding dengan begitu santai.                 "Nggak usah ikut campur, Dis." Stella mencuci tangannya, dan pura-pura tidak memedulikan kehadiran Disa.                 "Tentu gue harus ikut campur. Bram adalah teman gue..."                 Teman? Sejak kapan?! Gue kira, teman Bram itu hanya Guntur...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD