Pertama kali Riska membuka matanya—sekelilingnya berwarna putih. Langit-langit, dinding, lantai dan bau obat menguar tajam membuatnya mual. Rumah sakit. Riska yakin berada di tempat yang ia benci selama ini. Bukan tanpa sebab, pernah lama berada di rumah sakit karena menyaksikan ibunya dan Aldi meregang nyawa membuatnya trauma. Ia tidak tahu dirinya bisa berada di sana, tetapi mendengar suara seseorang, memberinya jawaban. “Mbak, sudah sadar? Gimana? Masih sakit?” Suara lembut itu berasal dari samping ranjang. Dini, salah satu pekerjanya, duduk dengan raut wajah cemas. Pelan-pelan sekali Riska bangkit dan duduk bersandar setelah Dini memberi bantal di belakang punggung. “Ya,” jawabnya singkat dan melirik sebelah punggung tangannya sudah menempel jarum infus. Tidak hanya itu, di tubuhnya

