"Cik mau makan di sini yakin lo?"
Cika mengangguk sambil tersenyum.
Ana menatap ngeri tampilan dirinya. Sandal jepit, baju oblong, dan celana jeans pendek belel melekat di badannya. "Gue gembel Cik." Dia benar-benar tidak menyadari dandanan on point Cika sedari tadi. Ia kira Cika baru pulang dari suatu acara, sehingga wanita itu sampai memasang bulu mata karenanya. Kalau gini lebih mirip dia mengantar juragannya dari pada makan dengan teman.
"Gue pikir mau beli mie ayam doang. Gue cuma pakai celana sama kaos belel gini, kok gak bilang mau ke restoran ini?"
Begitu masuk Ana langsung mengamati suasana yang ada di dalam salah satu restoran mewah yang ada di Jakarta itu. Suasana yang sepi, pencahayaan yang tidak begitu sempurna, dan jendela besar yang ada di depannya entah kenapa malah membuat bulu kuduknya meremang. Pikirannya melantur ke mana-mana, karena dia memang setidak percaya itu dengan sahabatnya.
Cika menowel lengan Ana. "Duduk di sini," perintahnya.
Ana melirik sahabatnya takut-takut. "Lo gak lagi mau ngerjain gue, kan? Terakhir kali ngajak ke sini, lo nyuruh gue cuci piring."
Tempo hari sewaktu Ana sedang asyik-asyiknya rebahan, Cika mendadak mengajaknya keluar. Dia sempat GR, dikiranya dia bakalan ditraktir oleh sahabatnya itu. Eh ternyata begitu sampai di restoran ini boro-boro ditraktir, malahan yang ada dia diminta untuk membantunya untuk cuci piring. Katanya sih, menggantikan temannya yang kebetulan kerja di sini dan tidak bisa masuk kerja karena sakit. Kalau hal-hal melelahkah seperti itu, Cika selalu saja tidak pernah lupa dengan dirinya. Benar-benar saking baiknya sahabatnya itu.
Teman siapa yang repot juga siapa....
"Kan cari pahala gue bilang, An. Masih ingat aja lo ... bentar gue ke toilet dulu," pamit Cika buru-buru.
"Kali ini gue harus ngapain?"
Cika menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke pada Ana. "Lo gak perlu ngapa-ngapain udah ... duduk cantik aja di situ, gue ke toilet dulu bentar."
Walau ragu tetap Ana duduk juga. Sembari merapalkan doa agar kali ini tidak terjadi hal-hal yang aneh, dia juga mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk terhadap sahabatnya.
"Surpriseee!!!!"
Ana terlonjak, ia otomatis menoleh ke belakang sambil mengusap d**a saking kagetnya. Ia menatap satu per satu orang yang ada di sana dengan haru. Ada dua orang tuanya, adik, orang tua Keenan, dan juga teman-temannya yang lain.
Sebenarnya dia sama sekali tidak ingat jika hari ini adalah hari kelahirannya. Tetapi apa pun itu, ia tetap merasa bahagia mengetahui banyak orang-orang yang ternyata menyayangi dirinya.
Satu persatu memeluknya, mencium dan mengucapkan selamat kepadanya tak terkecuali orang tua Keenan.
"Selamat Sayang...," tukas orang tua Keenan sembari mengusap rambutnya dengan lembut.
"Makasih Tante," balas Ana.
"Panggil Mama, sebentar lagi kan kamu jadi mantu Mama."
Ana memaksakan senyumnya sambil membalas pelukan mama Keenan dengan penuh haru. Dia sangat mengapresiasi ketulusan orang tua Keenan yang sampai repot-repot bergabung merayakan ulang tahunnya, padahal dia tahu mereka tidak seluang itu. Walau pun begitu bukan berarti ia mengamini harapan dari mama Keenan. Bahkan di dalam hatinya ia malah berdoa agar kata-kata dari beliau tidak pernah menjadi kenyataan.
"Keenan ada meeting mendadak tadi, jadi gak bisa datang. Dia sudah memberi selamat belum?”
Boro-boro batin Ana. hari ini ulang tahunnya saja mungkin Keenan tidak mengetahuinya. Akan tetapi yang ia lakukan hanya tersenyum saja. Lagi pula, dia juga tidak berharap apa-apa dari laki-laki itu. Dia tidak masalah, bahkan jika Keenan melupakan namanya sekalipun.
"Tapi jangan khawatir sudah Mama marahi tadi si Keenannya. Masak lebih mentingin meeting dari pada kamu."
"Jangan gitu Ma gak enak sama Keenannya...," tukas Ana.
Lagi pula Ana pikir Keenan memang benar-benar sibuk. Menjadi CEO dan merangkap sebagai karyawan, juga tidak bisa dikatakan mudah.
Kadang rasa lelah yang dirasakan Keenan yang coba laki-laki itu sembunyikan bisa dengan mudah Ana ketahui. Walaupun setiap bertemu gaya laki-laki itu seperti orang paling kuat sedunia.
Dirinya jadi sebal begitu mengingat betapa nyinyir dan pedasnya mulut Keenan, jika berhadapan dengan dirinya.
Mama Keenan mengibaskan tangannya. "Keenan kalo kerja emang gitu suka lupa waktu, maklumin Keenan ya sayang."
Ana hanya tersenyum dan mengangguk. Lagi pula dia tidak berhak mencampuri hidup laki-laki itu terlalu jauh. Dirinya harus sadar diri, karena ia bukanlah siapa-siapa.
Hubungan mereka hanya sebatas perjodohan antara kedua orang tua mereka tidak lebih.
Keenan punya kehidupan dan cintanya sendiri begitu pula dengan Ana.
*
Ana terbengong menatap layar ponsel miliknya. Beberapa waktu yang lalu Keenan tiba-tiba menghubunginya. Dia penasaran untuk apa laki-laki itu menghubungi dirinya di tengah malam seperti ini?
Padahal Ana tadi bela-belain kabur dari pesta ulang tahunnya sendiri setelah ditahan orang-orang agar merayakannya sampai pergantian tanggal. Dia sebenarnya bukan seseorang yang suka dengan keramaian. Alih-alih merayakan ulang tahun dengan hingar-bingar dia lebih memilih rebahan saja seharian tanpa melakukan dan memikirkan apa-apa. Itu kado terindah menurutnya.
Ana kembali melihat layar ponselnya begitu ada satu pesan masuk dari Keenan.
Keenan
Gue di depan.
Ana selalu dibuat kaget oleh Keenan. Ia tidak pernah menduga jika musuh SMA-nya itu benar-benar serius datang ke rumahnya, karena ini sudah pukul satu malam. Dia sempat berpikir jika laki-laki itu hanya iseng seperti biasanya.
Ana berusaha tetap tenang, berusaha menetralkan debaran jantung yang entah kenapa jadi ikut berdebar karenanya.
Melangkahkan kakinya keluar rumah, Ana membuka pintu gerbang rumahnya seorang diri dengan begitu perlahan karena tidak tega jika harus membangunkan satpam yang telah terlelap di pos jaga.
Ia melongokkan kepala ke kanan lalu ke kiri dan akhirnya mendapati sosok yang dia kenali tengah berdiri tak jauh dari tempatnya. Keenan mendekat setelah melihat Ana.
Ana tersedak ludahnya sendiri begitu melihat tampilan dari Keenan.
"Uhuk ... huk...."
"Kenapa lo?" tanya Keenan yang entah kenapa nada suaranya selalu terdengar sumbang saat masuk ke dalam gendang telinga Ana.
Dengan tampang polos, Keenan mendekat mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat Ana lebih dekat. Akan tetapi, perempuan itu malah mendorong tubuhnya dengan kasar.
"Lo tuh yang kenapa, ini tuh sudah jam satu tahu! Lo mau mangkal atau gimana!"
Jangan sampai laki-laki itu menyadari jika Ana sekarang sedang gugup. Please deh malam-malam disuguhi pemandangan seperti ini tidak sehat untuk semua panca indra dan organ-organ di dalam tubuhnya.
Meskipun Ana tidak ada perasaan sama sekali terhadap Keenan, tetapi matanya tetap saja masih sangat normal. Dia juga suka dong melihat yang bening-bening.
Terlepas seberapa menyebalkannya Keenan, visualnya memang tidak bisa Ana pungkiri. Apakah baru saja ia telah mengakui ketampanan Keenan? Ya ... dia mengakuinya.
"Kenapa sih lo sama gue ngegas mulu, An?"
Kira-kira Keenan sendiri sadar gak ya kalau dirinya itu tampan? Ya pasti sadar orang anak itu PD-nya setengah mampus....
"Aaaaaan!!!!"
"Iya eh ... iya apa?"
"Lo kenapa sih?"
"Gu ... gue...," ucap Ana terbata. Ia kelimpungan. Benar, kan? Bahkan otak dan mulutnya sulit bekerja sama untuk menghasilkan kata-kata.
"Malah bengong!" Keenan mulai sebal juga. Makin hari bukannya makin baik, Ana malah semakin eror saja menurutnya.
"Gue mau ngasih ini." Diberikannya sebuah bingkisan untuk Ana. "Selamat ulang tahun maaf telat," ucapnya lalu. Akan tetapi, Ana masih terlihat berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Aaaaaaaaaaan!!!" teriak Keenan tepat di dekat telinga Ana. Refleks wanita itu memukul kepala laki-laki itu.
Keenan cemberut sambil mengusap kepalanya. "Lo benar-benar...," gerutunya.
"Heeheee ... maaf."
Wanita itu mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Keenan melipat tangannya di d**a. "Lo sakit ya?"
"Gue sehat," jawab Ana. Tumben laki-laki itu bertanya tentang keadaannya.
"Otak lo?" sambung Keenan. Telunjuk laki-laki itu diputar tepat di kepala miliknya.
Ana melotot. Bisa ya mulut pahit, tetapi muka tetap polos seperti itu? Lagian ini laki lemes banget mulutnya, saat digunakan untuk menghina dirinya.
"Enak aja lo bilang gue gila!" protes Ana.
Tentu saja Ana tidak terima. Dikatai gila oleh orang gila membuat harga dirinya turun seketika.
Keenan tersenyum ia menganggukkan kepala seolah memaklumi.
"Lo tuh ya makasih kek." Keenan mengambil tangan Ana lalu memberikan bingkisan yang ia bawa agar segera diterima oleh pemiliknya. "Selamat ulang tahun," ulangnya sekali lagi.
"Hehe maaf deeeh jangan marah...."
Sejak kapan Ana peduli dengan marah atau tidaknya laki-laki itu? Ia menggelengkan kepalanya. Eh lagian kenapa laki-laki itu yang harus marah? Harusnya dia yang marah karena dibilang gila, kan? Otaknya ini benar-benar.
"Lo gak bilang terima kasih, gitu?"
Keenan makin sebal saat ucapannya tidak juga direspons oleh Ana. Wanita itu bertingkah lebih aneh dari biasanya. Sekarang dia malah melihat musuh SMA-nya itu lagi-lagi kembali dalam mode bengong.
"Lo kenapa sih? Kalau malam gini emang eror lo jadi nambah, ya?" Keenan menjitak kepala Ana dengan gemas.
"Sembarangan!"
"Ya udah gue pulang."
"Makasih."
"Nah gitu dong, oke sama-sama."
Ana mengangguk. "Gitu doang?"
Keenan mengerutkan kedua alisnya. "Lo mau minta apa? Cium?" racaunya.
Menggerakkan sudut bibir ke atas, Keenan menunggu respons Ana atas pertanyaan asalnya.
"Resek lu!"
Keenan lalu tertawa. "An?"
"Hmmm ... eh ini apaan? Mahal gak? Awas kalau cuma permen, itu sih kesukaan elo bukan gue!"
"Ckckck nyesel gue ke sini."
Ngomong-ngomong dia ini orang sibuk lo ya ... dia saja ini tidak langsung pulang setelah selesai dengan urusan kantornya, melainkan bela-belain ke rumah kunyuk satu ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung. Selain mamanya juga yang marah-marah karena ia tidak segera menemui Ana. Eh malah, bertambah umur enggak malah makin sehat aja ini bocah.
"Hahahaa ... gitu aja ngambek!"
"Eh, An?"
"Hmm, apa?"
"Lo beneran gak mau minta cium?" Keenan menaik turunkan alisnya. Moodnya kembali naik saat ide mengerjai Ana tiba-tiba muncul. Ya, memang semenyenangkan ini menggoda Ana. "Ciuman perpisahan mungkin?" ucapnya genit.
"Ia mau sini...," balas Ana. Perempuan itu mendekat sambil mengatur wajahnya seserius mungkin. Dirinya penasaran apa yang akan dilakukan oleh bocah itu.
Keenan terlihat gelisah. Tadinya ia hanya ingin menggoda Ana, tanpa berniat mencium wanita ini sungguhan. Yang benar saja, malah dirinya sekarang yang kelimpungan.
"Hahahahaa ... gitu aja jiper kan lo! Lo pacaran emang ngapain aja sih, Keen? Gue mau cium aja wajah lo udah pucet gitu."
Keenan menggaruk tengkuknya kikuk. Kali ini ia tidak bisa membalas ejekan Ana. Sial.
"Ehm...."
"Kenapa telinga lo kok merah gitu? Lo malu, Keen?"
Sialan, dirinya benar-benar mati kutu dengan ulahnya sendiri. Ini sih namanya senjata makan tuan. "Gue mau pulang!"
Damn. Kenapa nada suaranya seperti cewek yang sedang merajuk sih?
"Hahahaaha!" Ana benar-benar puas kali ini. Berkat Keenan rasa grogi yang sempat hinggap dalam dirinya tadi langsung lenyap seketika.
"Gue pulang!" Laki-laki itu berjalan menjauh dari Ana.
"Ken ... Keenan!!!" panggil Ana masih sesekali tertawa.
"Apaaaaaa!!!" teriak Keenan tanpa menoleh. Dirinya tiba-tiba diserang rasa malu yang hampir tidak pernah ia rasakan.
"Mobil lo di sana ... lo kayaknya salah arah deh...," tunjuk Ana.
Mampus..
Keenan berbalik. Rasa malu yang tadinya hanya seratus persen bertambah menjadi beribu-ribu persen setelah mengetahui bahwa dirinya salah arah. Ternyata mobilnya berada sepuluh meter di belakang. Mukanya sepertinya merah sekali sekarang, apalagi melihat Ana sudah bersandar tepat di kap mobilnya.
Ana menatap Laki-laki itu jenaka. Ini hadiah ulang tahunnya yang sebenarnya. Kapan lagi dia bisa melihat seorang yang tidak pernah punya urat malu ini salah tingkah.
"Makasih sekali lagi," kata Ana. Kali ini ia tulus mengucapkannya.
Keenan meringis. "Ok ... orang ganteng permisi pulang dulu," pamitnya setelahnya.
Ana memutar bola matanya jengah. "Hati-hati!" Ana menutup mulutnya. Sejak kapan mereka bisa berbincang layaknya manusia normal seperti saat ini?
Laki-laki itu malah mengedipkan sebelah matanya genit sebelum benar-benar pergi. Segera Ana mendorong bahu Keenan agar cepat laki-laki itu memasuki mobilnya. Supaya cepat hilang dia dari penglihatannya.
Setiba di rumah, Keenan mengotak-atik ponsel miliknya. Memasuki galeri ponselnya ia tersenyum saat melihat sebuah gambar dari bidikan kamera yang tadi diam-diam diambilnya. Ana dengan piama tidurnya tengah mengintip dirinya dari balik gerbang rumahnya.
Keenan sepertinya sudah gila. Bisa-bisanya ia menyukai senyuman dari musuh bebuyutannya itu.
Keenan memejamkan mata, tetapi tiba-tiba malah teringat kejadian beberapa waktu yang lalu saat bertemu dengan Ana. Perempuan itu walau pun menyebalkan, herannya selalu membikin moodnya naik secara drastis.
Pandangan Keenan beralih pada sebuah aplikasi pesan yang ada di dalam ponsel pintar miliknya. Raut wajahnya berubah serius. Masih belum ada satu pun balasan pesan dari kekasihnya.
Keenan lagi-lagi mencoba untuk selalu berpikir positif. Mungkin saja Sinta kelelahan sehingga tidur lebih awal. Akhir-akhir ini memang kekasihnya itu sulit sekali untuk dihubungi. Mereka bahkan hanya bertemu saat mereka sedang berada di kantor.
Balik lagi Keenan masuk ke dalam galeri dan melihat foto Ana di sana. Ia mengernyit saat tiba-tiba jantungnya malah berpacu tidak seperti biasanya.
Keenan menempelkan tangan kanan pada dadanya. "Kenapa dia berdebar? Apa mungkin dirinya lapar?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
"Gue buat mie aja kali, ya?" katanya kemudian sambil bergegas menuju dapur.
Herannya walau Keenan sudah memakan mienya, tetap saja jantungnya masih tidak berhenti berdebar.
Ditutupinya layar ponsel miliknya yang masih menampilkan gambar wanita yang sekarang berstatus sebagai tunangannya itu, dengan telapak tangannya. Perlahan ia buka kembali, lalu tanpa sadar dua sudut bibirnya malah bergerak membentuk senyuman. Ini aneh ... benar-benar aneh....