Cemburu?

1259 Words
"Ngapain lo senyum-senyum?" Ana menopang dagu menatap menu-menu yang tadi ia pesan bersama Keenan dengan tatapan malas. Laki-laki itu tidak tahu apa, jika saat ini dirinya sedang dilanda rasa bosan yang amat sekali. Sudah hampir satu jam Ana hanya diam di sini melihat Keenan yang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Di menit kesepuluh perempuan itu masih mencoba untuk tetap baik-baik saja. Akan tetapi di menit-menit selanjutnya dia sudah tidak tahan lagi. Keenan menggelengkan kepalanya. Entah kenapa melihat sesuatu yang ia beli kemarin sekarang berada di leher Ana, membuat dia senang setengah mati. "Kalung lo bagus. Siapa yang beli?" tanya Keenan. "Elo! Puas?" Lagi, Keenan tertawa setelahnya. Semakin lama hubungannya dengan Ana semakin berjalan dengan baik, itu menurutnya. Walau kata-kata yang mereka ucapkan satu sama lain masih banyak yang terkadang memicu amarah, akan tetapi mereka masih bisa melanjutkannya dengan obrolan tanpa adanya baku hantam seperti saat mereka duduk di bangku SMA. "Terus fungsinya gue ada di sini sekarang untuk apa?" tanya Ana mulai habis kesabaran. Saat Keenan tiba-tiba datang menjemput Ana di minggu pagi yang cerah ini, perasaan Ana mulai tidak begitu baik. Harusnya dia lebih mendengarkan otak pintarnya dari pada hati kecilnya yang berharap, jika laki-laki itu akan bertindak normal dengan mengajaknya sekedar makan, menonton film, atau kegiatan yang lainnya yang akan menyenangkan. Karena ini masih hari ulang tahunnya. Otak pintar Ana memang tidak pernah salah. Setiba di restoran yang bernuansa hangat ini, ternyata tidak serta merta membuat hatinya juga ikut menghangat. Dia awalnya tersenyum cerah, secerah senyum Cika saat menerima gaji. Senyumnya lenyap begitu Keenan mengeluarkan laptop, berkas-berkas, lalu menggunakan kaca matanya. Hari minggu indahnya seketika menguap begitu saja. "Temenin gue di sini dulu, ya? Sambil makan lo juga bisa nonton drakor. Gue harus kerja, tetapi lo tahu sendiri mama selalu nyuruh gue ketemu sama lo. Kan sekalian juga, An," terang Keenan panjang lebar sambil masih sibuk dengan pekerjaannya. Mama Keenan memang selalu menunggu Keenan memberikan laporan mingguan tentang kedekatan laki-laki itu dengan Ana, padahal Keenan masih harus mengerjakan pekerjaannya. Dan ide brilian selalu muncul di kepala miliknya, saat dirinya sedang dilanda kebingungan. Menggabungkan acara laporan hariannya dan pekerjaannya bukan sesuatu yang buruk. Dia masih tetap bisa bekerja dan mamanya tidak akan mengancam menutup perusahaannya. Lebih bagus lagi, dia juga bisa memiliki waktu luang untuk berkencan dengan Sinta. Tentu saja tanpa ada gangguan termasuk dari mamanya. "Lo benar-benar ya, Keen! Kalau lo gak mau ketemu, ya jangan ganggu minggu gue," protes Ana. Tidak ... minggu pagi indahnya.... "Ayolah An bantu gue napa ... banyak yang harus gue kerjakan juga." Ana meniup poninya dengan sebal. Ia meminum lagi minuman ketiganya di sini. Kalau nanti perut miliknya sampai kembung, Keenan harus bertanggung jawab. Menghela napas Ana lalu mencoba mengamati Keenan yang saat ini tengah serius mengerjakan pekerjaannya. Saat sedang bekerja, laki-laki itu tampak terlihat seperti manusia normal pada umumnya. Apalagi dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. "Itu kaca mata benaran apa bohongan, Keen?" Ana belum pernah sama sekali melihat Keenan memakai kacamata sebelumnya, yang menurut dia terlihat agak cocok dengan laki-laki itu. "Benaranlah dodol!" Ana mencebikkan mulut lalu memegang lensa kacamata Keenan dengan telunjuknya. "Iya beneran ternyata. Gue kira itu kacamata gak ada lensanya?" Keenan hanya menggeleng dan melanjutkan pekerjaannya. Ana kembali mengamati Keenan. "Keen ... pipi lo itu sebenarnya kenapa?" Ana sudah tahu bekas luka itu sejak lama, tapi sampai sekarang pun dia belum juga tahu apa sebabnya. Dulu dia memang tidak mau tahu tentang apa saja yang berhubungan dengan Keenan. Walau pun sampai sekarang juga masih demikian. Akan tetapi sebagai tunangan, setidaknya Ana harus tahu juga dong ... hal yang setidaknya paling mendasar dari seorang Keenan. Selain sikap jeleknya tentu saja. "Luka ini?" Keenan menatap sekilas Ana lalu menunjuk pipi kirinya sebelum melanjutkan pekerjaannya. Ana pun mengangguk. "Gue dulu berantem sama sepupu gue ter--" "Hey ... lo Ana, kan?" Ana mendongak, dilihatnya di sana seseorang yang pernah menghiburnya tengah berdiri tersenyum ke arahnya. Dia Daren, laki-laki tampan yang sempat ia temui tempo hari saat ia dimasukkan dengan paksa ke dalam lift oleh Keenan. Sebab laki-laki itu takut jika pacarnya bakalan salah paham ketika melihatnya bersama dengan dirinya. Ana mengingat lagi betapa baiknya Daren. Menemani dan menghibur dirinya, tanpa meminta penjelasan kenapa saat itu dia sampai menangis. Laki-laki itu bahkan menunggui Ana sampai benar-benar berhenti menangis, padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal. "Daren, lo kenal Ana?" "Boleh gue duduk?" Ana mengangguk antusias walau di depannya seseorang tengah melotot tajam ke arahnya. "Ngapain lo malah duduk di sini?" Kali ini gantian Ana yang melotot mendengar pertanyaan ceplas-ceplos dari Keenan. Ternyata laki-laki itu sama saja, tidak dengan dirinya mau pun dengan orang lain. Mulutnya selalu saja terdengar sadis di telinga. Daren otomatis langsung tersenyum canggung. "Sorry ... gue ganggu, ya?" "Iyalah," ketus Keenan. Kali ini Ana tidak tinggal diam, ia menggeplak kepala Keenan karena saking sebalnya dengan laki-laki itu. "Jangan dengerin Ren, dia emang gak bisa dekat dengan manusia." "Kok lo bisa kenal dengan Ana?" Lagi, Keenan masih berusaha menanyakan sesuatu yang belum dijawab dari tadi oleh Daren. "Kalian?" Daren menunjuk Keenan dan Ana. Ana yang langsung tahu dengan apa yang dimaksud Daren, buru-buru menggoyangkan kedua tangannya. "Bukan ... kalau yang lo maksud gue ada hubungan dengan Keenan, lo salah besar." "Syukurlah." "Maksud lo?" tanya Keenan menatap Daren dengan sorot mata penuh intimidasi. Laki-laki itu lalu menyeringai ke arah Ana. "Lo takut amat ketahuan kalau kita tunangan, An?" Sialnya saat ini Ana sedang meminum sesuatu. Perempuan itu langsung tersedak mendengar penuturan dari Keenan. "Jadi, ini laki-laki yang buat lo menangis kemarin?" "Lo nangis, An?" "Iya waktu lo dorong Ana masuk ke dalam lift tempo hari. Gue ada di situ. Gak menyangka gue, lo ternyata bisa seperti itu." Daren mendekat. "Punya hubungan dengan dua wanita sekaligus," bisiknya. Keenan mengerjap ia langsung menoleh menatap Daren dengan penasaran. Kenapa laki-laki itu bisa tahu jika dia memiliki kekasih? Apakah Daren juga tahu, jika itu Sinta? Daren adalah asisten dari paman Keenan. Paman Keenan yang menjabat sebagai COO di perusahaan mereka. Walau sedikit banyak laki-laki itu sudah tahu tentang dirinya, akan tetapi dia tidak menyangka jika dia sampai mengetahui hubungannya dengan Sinta. Itu artinya akan gawat bagi Keenan, jika sampai Daren memberitahukannya kepada pamannya. Daren menarik ujung bibirnya. "Ok, gue cabut dulu, An ... kalau lo sampai nangis lagi gara-gara ini orang, lo bisa cerita sama gue." Daren beranjak dari duduknya. "Ingat An, gue bisa bantu apa pun," sambung laki-laki itu sembari mengedipkan satu matanya ke arah Ana. Ana tertawa, tetapi tidak dengan Keenan. Laki-laki itu masih menyipitkan mata walau Daren sudah berjalan menjauh. "Lo jangan dekat-dekat dengan manusia itu?" larang Keenan. Dia tidak akan pernah membiarkan Ana berhubungan dengan Daren. "Kenapa?" "Dia adalah manusia yang paling harus lo hindari di muka bumi ini," tutur Keenan lalu kembali laki-laki itu melanjutkan pekerjaannya, yang sempat tertunda gara-gara kedatangan Daren. "Lo cemburu?" Keenan tertawa dengan begitu menyebalkannya. Untuk apa juga dia harus cemburu? Cemburu? Dengan Ana? Itu sesuatu hal yang amat sangat konyol. "Bukannya lo yang harusnya gue hindari di muka bumi ini, Ken?" Tawa Keenan otomatis terhenti. Laki-laki itu lalu mendorong kening Ana dengan telunjuk kanannya. "Lo gak tahu An, mana seseorang yang harus lo hindari, mana yang harus lo dekati." Ana menggeleng. "Enggak ... gue tahu betul, lo adalah seseorang yang harusnya gue paling hindari di dunia ini. Tidak seharusnya kita dekat kayak gini, Keen. Gue takut, nantinya akan ada kesialan yang bakalan nimpa gue suatu saat nanti." Keenan menghentikan kegiatannya. Mendengar penuturan Ana baru saja, jujur membuat perasaan jadi tidak nyaman. Berusaha mengatur ekspresinya, kembali laki-laki itu menatap Ana. "An, lo tahu entah kenapa terkadang gue suka saat berada di dekat lo." "Hah ... apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD